Boko, Senja dan Cinta yang Tak Sampai


Selamat menjalani hari terakhir di bulan November! Cie udah Desember, udah wangi liburan nih kayaknya. Baiklah, kalo boleh jujur saat ini saya sedang terlalu penuh dengan energi setelah mendengar banyak kisah dari teman-teman terkait urusan keluarga. Yoi, di akun yang baru itu lho~ Promo terus ya, Bell ck!

Iya kepenuhan, karena saya percaya kalo energi itu nggak pernah habis sebenarnya, dia hanya berganti dan atau berubah jadi hal lainnya. Salah duanya emosi dan rasa lelah. Istirahat dan ruang jadi salah satu hal yang kemudian dibutuhin untuk mengembalikan lelah dan menetralkan emosi. Harusnya saya juga kayak gitu sekarang. Tapi ya gimana, saya merasa kegiatan mendengar dan didengar harus seimbang. 

Itu kenapa sekarang nekat nge-post dan lagipula ini juga sebagai pembuka dan ucapan, 

"Selamat Berkunjung ke Rumah Tulisanku yang Baru."

Anggap aja rumah sendiri, nyaman-nyamanin aja buat berkunjung ke sini, sampe jadi sayang juga gapapa. Asal jangan minta tanggung jawab kalo nanti udah kepincut hatinya. Nanti saya kewalahan terus dianggap php lagi *eh ini kenapa jadi curhat ya~

Jadi, setelah insiden blokir Tumblr yang mengakibatkan kegiatan menulis rasanya berkurang kecuali deadline naskah. Saya terus mencari gimana caranya menulis lebih produktif lagi, hingga sampai pada keputusan ya udahlah sekalian aja bikin rumah baru. Dan inilah hasilnya, maaf masih banyak kurang tapi semoga tetep bikin betah!

Oke pembukanya kepanjangan, jadi langsung masuk aja ke cerita. Saya lagi ingin cerita salah satu momen di Jogja yang mengantar saya ke pemahaman baru lainnya. Gila ya, hidup tuh emang nggak akan berenti ngasih kita pelajaran kalo kitanya juga mau terbuka dan sedikit lebih merendah.

Boko jadi salah satu tujuan saya untuk menikmati senja di Jogja. Padahal nggak tau gimana cara ke sana dan siapa yang akan nemenin. Pun dari pagi mau nyewa motor semua rental bilang udah nggak bisa. Saya udah seberserah itu untuk kembali gagal menikmati senja di Boko. Untuk ngehibur diri saya cari alternatif lain, nikmatin senja di Parkir Abu Bakar Ali yang di Malioboro itu juga kayaknya nggak masalah. Jangan dikasihanin, ini namanya nggak memaksakan apa yang memang nggak bisa terlaksana.

Tapi Tuhan mah baik, saya percaya dia mewujudkan kebaikannya lewat Kak Indi dan temannya yang rela ngasih pinjeman motor karena nggak bisa ikut jadi penunjuk jalan. Ya emang dasar karena niat ke Jogjanya bukan untuk liburan, jadilah kita bener-bener harus berangkat ke Boko berdua doang. Hanya berbekal GPS dan motor pinjeman, sama satu lagi, keberanian buat tersesat haha.



Ternyata jalan menuju ke sananya baik pergi dan pulang nggak susah-susah banget. Nggak kayak review-review orang-orang di blog yang bilang ini itu. Dan kebetulan saya masih lumayan sedikit ingat daerah di mana saya pernah menghabiskan masa SMP itu~

Sampailah di Boko dengan matahari yang sangat apik dan prediksi bahwa senjanya akan menawan. Pas sampai di atas, ya taulah yaa, udah banyak banget pencari momen yang siap dengan kamera, tripod, dan outfit yang head to toe udah lebih dari sempurna. Tapi namanya juga harapan dan ekspektasi, yang ditunggu-tunggu ternyata nggak dateng secantik yang ada di bayangan. Pun yang ditangkap kamera nggak bisa sesempurna apa yang dilihat langsung.


Kadang gitu, ada beberapa hal yang memang hanya untuk direkam ingatan dan nggak bisa sepenuhnya diabadikan dalam gambar. Foto yang jadi pembuka tulisan ini pun didapat kebetulan (nggak deng, emang dasar tangannya Kak Indi diberkahi Tuhan) dengan saya yang duduk malas-malasan ngeliatin orang yang begitu ramai cari momen terbaiknya. Nggak terlalu banyak usaha, tapi bisa menggambarkan kesimpulan dari apa yang akan jadi inti dari tulisan ini.

Cinta juga gitu kan, ya? Yang kita usaha perjuangin mati-matian malah bertepuk sebelah tangan, dan nggak bisa untuk dipertahanin. Tapi pas lagi berserah dan fokusnya nggak di situ, entah gimana Tuhan malah izinin kita ketemu sama si The One itu. Kadang hidup sepenuh misteri itu, nggak bisa ditebak tapi penuh dengan perencanaan.

Kalo mau lihat fokusnya dari berapa rencana yang berjalan sesuai keinginan dan berapa yang nggak terlaksana, hidup kita cuma akan gloomy aja sepanjang waktu. Sedih mah nggak pa-pa, nikmatin aja, toh nggak akan selamanya. Hanya, nggak usah sampe berlarut, sayang waktu dan sayang kesempatan lain yang bisa dibuat.

Terus bicara tentang cinta yang nggak sampe, saya lupa berapa kali pernah mengalaminya. Yaelah santai dong, masih manusia yang kerap patah akutuh. Kalo dulu sih rasanya dunia runtuh, bawaannya sedih mulu, dan terus bertanya kenapa dan kenapa. Sampe akhirnya saya ada di titik di mana saya percaya, Tuhan itu nggak pernah ngasih patah tanpa ada pesan. Nggak pernah ngasih sedih kalo nggak ada maksud dan tujuannya.

Kemarin, di Boko saya belajar bahwa apa yang kita tunggu dan duga akan seindah harapan, bisa dengan sangat untuk kemudian patah dan nggak berjalan sesuai bayangan. Mau itu mimpi, mau itu tujuan, mau itu kehidupan dan juga pasangan. Karena ya ada banyak faktor yang melatar belakanginya. Entah orang lain, entah keadaan, entah kesempatan, atau apa pun faktor-faktor lainnya. Tapi, terlepas dari apa pun itu faktornya semua sudah diatur kadarnya sama Tuhan.

Mungkin bagi kita kurang, tapi menurut Tuhan udah cukup. Mungkin bagi kita ingin rasa cinta yang berbalas, tapi bisa jadi kata Tuhan tunggu dulu karena bukan sekarang saatnya. Mungkin buat kita, dia yang terbaik, tapi bisa jadi bagi Tuhan kita belum sepenuhnya selesai dengan urusan diri, makanya harus berakhir dengan dipendam dulu saja rasanya.

Dan sekarang saya makin percaya, pilihan itu memang kita yang tentukan, tapi keputusan untuk akhirnya menentukan memang Tuhan yang menggerakkan. Jadi, nikmati ya kalo memang sekarang lagi merasakan cinta yang tak sampai. Gapapa, Tuhan tau kamu butuhnya apa, bukan kamu inginnya apa.


Kayak saya di foto ini. Sebenarnya saya pengin banget bisa foto ala-ala di tengah kayak tuh seleb-seleb hits (nggak biar apa-apa sih, cuma ingin tau sensasinya aja) tapi malah berujung dan diberi kesempatan dapet foto seindah ini tanpa harus berebut momen dengan yang lain. Dan ya ini yang memang saya butuh untuk kemudian bisa berbagi cerita sama kalian. Nah, misalkan apa yang saya ingin terwujud, kayaknya cerita ini nggak akan ada dan hanya berakhir dengan ke-aesthetic-an di feeds semata.

Udah ah, selamat bertamu, ada beribu peluk dan isi kepala bahkan keseharian yang mungkin kamu temukan di sini. Tapi tenang, itu juga bukan sepenuhnya saya. Karena saya yang sebenarnya hanya ada di hadapan Tuhan hehehehe :)







Share:

Bongkar Ulang Isi Hati dalam Dear Zindagi [Movie Review]


Director: Gauri Shinde
Writer: Gauri Shinde
Casts: Alia Bhatt, Shah Rukh Khan, Kunal Kapoor, etc
Genres: Drama, Romance  

Wah kacau sih, gatau harus gimana ngegambarin film ini. Sebenarnya udah lama banget nonton Dear Zindagi tapi baru sempat ngulasnnya sekarang. Ancur banget bagusnya, dari segi cerita pun sinematografinya. Duh, maaf nggak bisa biasa aja untuk rekomendasiin film ini buat kalian.

Film india itu nggak selamanya identik dengan nari di bawah pohon, atau nyanyi-nyanyi doang kok. Serius! Banyak film yang bagus dan cukup untuk menampar kesadaran. Salah satunya film ini. Fyi saya suka film India dan nggak malu untuk mengakuinya, kalem, jadi santai aja ya~

Meski genrenya drama, tapi jauh-jauh dari pikiran bahwa film ini akan menye-menye atau bikin menguras air mata karena sedih galau-galau. Karena yang saya rasa sepanjang nonton film ini lebih ke pengalaman dan perjalanan untuk menyembuhkan diri sendiri. Padahal yang lagi diterapi itu si Alia Bhatt, tapi saya sebagai penonton juga ngerasain hal serupa. Kan kan parah banget kecenya huhu. Gauri, thank you for this beautiful story, seriously!

Saya bahas dari jalinan ceritanya dulu yang berawal dari seorang perempuan yang punya banyak ambisi dan mimpi tapi dikelilingi hal negatif dan respon negatif dari keluarga dan lingkungannya. I know that feeling, that's why i love this movie sooooo much. Nggak ada kesan dipaksakan, justru film ini sangat amat alami dan jujur banget untuk pengungkapan alurnya. Mulai dari soal pasangan, ketakutan, kekhawatiran, patah hati sampe ke hal-hal lainnya termasuk masa kanak-kanak.



Secara nggak langsung film ini ngajak kita buat membongkar ulang isi hati dan semua kegelisahan sampe ke akar-akar biar dapet permasalahan dan tau cara menyelesaikannya. Biar kita bisa say hi to life again. Gila nggak? Padahal kita hanya sebagai penonton yang dengerin dialog antara Alia dan SRK tapi udah berasa tamparannya.

Buat saya nggak ada kesan lambat atau buru-buru dalam menggulirkan keseluruhan cerita di film ini. Saya betah-betah aja nonton sambil ngegali isi kepala, bahkan saat udah nyampe ending rasanya bener-bener pecah dan semelegakan itu sampe gamau filmnya berakhir. Saya rasa, banyak orang yang akan jadi berubah cara pandangnya tentang hidup, tujuan, relationship dan perjalanan setelah menelaah semua dialog di film ini.



Tema umum yang diambil sebenarnya sederhana, tapi ya mana ada sih hidup yang sesederhana itu?  Terlepas dari semua sinematografi, latar, kostum dan segala printilan lainnya yang bener-bener cantik. Film ini nggak akan bernyawa, kalo Alia Bhatt nggak sebegitu kerennya mengeluarkan semua kemampuannya untuk me"nyata"kan karakter Kaira. Dan untuk SRK nggak mau komentar apa-apa lah ya, karena alasan awal saya nonton Dear Zindagi ya emang karena dia, dan yaaa dia kembali dengan aktingnya yang super!~~



Udah ah, nanti jadi kebanyakan basa-basi. Overall, kalian harus sih nonton film ini. Terus abis itu cerita ke saya gimana pengalamannya. Karena, saya gabisa nggak ngasih angka 9.5/10 untuk film ini! Huhu, i can't handle my feelings.



Share:

Me-/Di-, Kecewa, -kan



Plant an expectation; reap a disappointment -Elizabeth Gilbert, Committed-

Mungkin kamu melakukan sesuatu hal dengan tujuan baik, tapi belum tentu diterima sebagai hal yang baik juga oleh orang lain. Mungkin niatmu melakukan sesuatu hal adalah A, tapi orang lain bisa menganggapnya dengan A pula, atau B hingga bahkan Z. Sebab setiap manusia memiliki pola pikirnya masing-masing yang tak akan sama satu dengan lainnya. 


See? Apa yang kamu lihat tak selamanya seperti yang tampak. Apa yang kamu dengar tak selamanya seperti apa yang terucap. Yang nyata saja tak bisa dengan gamblang kamu pahami maksudnya, apalagi dengan hal-hal yang memiliki tersirat, bukan?


Bicara perihal kecewa, sadarkah kamu bahwa orang-orang yang paling berpeluang mengecewakanmu adalah orang-orang yang sangat amat kamu kenal, begitu juga sebaliknya. Mengapa katamu? Begini, harapanmu muncul--entah kamu sadari atau tidak--ketika kamu sudah cukup dekat dengan seseorang.

Dengan kamu mengenalnya kamu merasa sudah cukup tahu bagaimana sifat dan sikapnya, bagaimana dia kepadamu, dan bagaimana dia bisa memenuhi apa-apa saja yang kamu utarakan padanya; ekspektasi dan harapan. Dan dengan begitu harapan tercipta tanpa tedeng aling-aling, ekspektasi membumbung hingga ke langit. Hingga lupa menjejak, hingga lupa memberikan batas toleransi.

Kamu ingat kan, bahwa manusia memiliki kesempatan yang cukup besar untuk mengecewakan atau bahkan dikecewakan? 

Mungkin beberapa dari kita sering sekali merasakan kecewa. Bahkan menimbulkan trauma dan luka atas kecewa itu sendiri. Hingga akhirnya terlalu lelah untuk sekadar bertegur sapa. Terlalu letih jika harus bertatap muka. Atau bisa jadi air mata mengalir begitu saja jika ada yang berkaitan atau membuat kamu ingat dengan kejadian lampau. Ketika segala rasa bahagia, ketika segala hal-hal menyenangkan yang pernah dilalui bersama terkalahkan oleh setitik kecewa yang terjadi-entah disengaja maupun tidak. Pada intinya, kecewa menutupi segalanya.

Tidak ada yang lebih bersalah ketika kata kecewa terlontar. Setiap yang mengecewakan atau yang merasa dikecewakan memiliki porsi salahnya masing-masing. Kecewa ada karena yang merasa dikecewakan menaruh harapan dan ekspektasi berlebih kepada yang mengecewakan. Hingga fokusnya hanya pada hal itu saja-pada harapan yang inginnya bisa sesuai. Lalu lupa dengan rasa sayang yang sebelumnya tercurah begitu besar. Lupa dengan setiap detik waktu yang pernah bergulir dengan keceriaan. Dan yang tersisa hanya kejelekan-kejelekan yang sebetulnya tak perlu dibesar-besarkan. 

Kecewa hadir pada mereka yang disebut mengecewakan karena ada janji yang mungkin luput dari ingatan. Ada perkataan yang terlontar tanpa pernah terpikirkan akibatnya beberapa saat kemudian. Kecewa bukan hanya terjadi dengan orang lain, kecewa juga bisa dengan diri sendiri. Dan sering kali orang-orang yang merasa kecewa dengan dirinya sendiri, lupa pada apa-apa saja yang pernah mereka lakukan untuk dirinya. Yang menjadi fokusnya hanyalah tidak mampu memenuhi angan dan mimpinya pada saat itu. 

Kamu harus ingat, manusia itu makhluk dinamis-akan selalu ada yang berubah, sadar ataupun tidak

Lalu apakah kecewa salah? Apakah manusia tak boleh untuk kecewa? Tentu saja kecewa tidak salah, tentu saja kecewa itu boleh, menurut saya kecewa itu manusiawi. Kecewa adalah reaksi atas aksi yang tidak sesuai dengan harapan. Dan kamu harus lebih dari sekadar ingat,

Having a broken heart. It means we have tried for something -Elizabeth Gilbert, Eat Pray Love-

Setidaknya dengan merasa kecewa, merasa terluka, merasa sedih, kita tahu kita sudah melakukan sesuatu hal. Kita tahu kita sudah bergerak, meski tak sesuai dengan harapan. Lalu apa yang salah? Apa yang tidak diperbolehkan? Merasa kecewa yang berlebihanlah yang tidak diperbolehkan. Terlebih jika rasa kecewa membuatmu enggan untuk kembali melangkah, membuatmu terkungkung dengan penyesalan dan kesedihan semata, tentu itu yang salah.

Dulu sekali saya pernah menulis bahwa bisa saja orang yang melukai kita adalah orang yang bisa menyembuhkan luka kita juga. Who knows? Jika kecewamu tercipta karena orang lain ataupun karena dirimu sendiri. Saya hanya mampu berkata, berdamailah dan mulailah memaafkan dirimu sendiri. Semoga sesudahnya, kamu bisa memaafkan kecewa yang tercipta karena orang lain. Dan mulailah untuk melepaskan segala rasa kecewa, sakit maupun luka yang pernah tercipta. Semoga setelahnya kamu mampu untuk berdamai dan menerima segala rasa, apa pun itu.

Beberapa hal memang tak bisa kita ketahui sebab maupun asal muasalnya. Dan yang bisa kita lakukan hanya perlu menerima apa-apa saja yang sudah, telah dan akan terjadi. Kamu hidup bersama harapanmu, bersama harapan yang harus memiliki batas. Bersama harapan yang sepenuhnya hanya bergantung kepada Tuhan, bukan pada ekspektasimu atau bahkan pada orang lain. 

Seperti kata Bruce Lee, “I’m not in this world to live up to your expectations and you’re not in this world to live up to mine.” 

Selalu ingat bahwa apa yang terjadi pada dirimu saat ini, baik sedih maupun bahagia adalah skenario terbaik dari Tuhan untuk hidupmu. Selamat melepaskan rasa kecewa-baik dikecewakan maupun mengecewakan. Teruslah menjadi pribadi yang lebih kuat dari hari kemarin, teruslah menjadi pribadi yang bisa memetik pelajaran dari setiap kesalahan di perjalanan, karena You Only Live Once :)))
Share:

Nggak Semua Hal Menjadi Baik Kalau Diulang, When We First Met [Movie Review]

Director: Ari Sandel
Writer: John Whittington
Casts: Adam Devine, Alexandra Daddario, Shelley Henning
Genre: Romance, Comedy, Fantasy

Sebenarnya nggak ada rencana mau nonton film ini, hanya bermodalkan iseng aja karena butuh hiburan dan kebetulan genrenya Romcom.

Ceritanya sendiri berkisah tentang seorang pria yang jatuh cinta sama sahabatnya sendiri--yang kebetulan akan segera bertunangan. Baik, kisah klise yaaa teman-teman. Lalu di balik semua keputusasaannya mempertanyakan kenapa bukan dia aja, kenapa ini dan kenapa itu. Dia berkesempatan untuk balik lagi ke masa lalu dan mengubah apa yang bisa diubah.

Entah dari perkenalan, dari caranya memperlakukan si sahabat dan sebagainya. Intinya mengubah situasi sampai si sahabat ini bisa melihat dia lebih dari sekadar teman aja. Komedinya di beberapa bagian bikin mikir, nggak  bisa yang langsung pecah ketawa. Meski ya, beruntungnya ada bagian yang bisa bikin ngakak. 

Sebetulnya film ini cukup bisa dieksekusi dengan baik, hanya saja sewaktu Noah time traveling ada bagian-bagiannya yang kurang rapi dan harusnya bisa untuk dipoles lagi. Karakternya sendiri lekat banget dengan kita. Apalagi buat kalian-kalian yang merasakan apa yang dirasa si Noah, keras kepalanya mah dapet banget!

Tapi di atas semua kekurangannya itu, pesan yang ingin disampaikan tuh sampai dengan amat baik. Nggak percaya? Gih nonton deh. Sekalian saya mau bilang, sebesar apa pun kita ingin dan bisa mengulang apa yang pernah terjadi sehingga bisa mengubah akhir cerita agar lebih baik. Maka, sebesar itu juga kemungkinan akhir cerita nggak lebih baik dan lebih indah dari apa yang saat ini dirasakan. 

Selamat menonton film di angka 7/10 ini!


Share:

There's Always a Reason, On Your Wedding Day [Movie Review]

Director: Lee Seok Geun
Writer: 
Lee Seok Geun
Casts: Bo Young Park, Young Kwang Kim, Jae Rim Song, etc
Genre: Romance


Mau nonton kisah cinta yang realistis? Bukan yang ftv, bukan yang selalu happy ending karena hidup nggak selamanya bahagia doang. Mau lihat sesuatu yang mungkin dekat banget dengan kehidupanmu atau bahkan kisah cintamu? Coba deh tonton film ini!

Saya nggak akan banyak cerita tentang film ini apalagi ending-nya. Karena ya, dari story line nya aja udah ketebak akan seperti apa dan bagaimana alurnya. Tapi ya dasar Korea, penggambaran detailnya dan hal yang semula cheesy banget kalau dilihat di ftv, nah di mereka tuh enggak gitu jadinya. Tetap bisa classy walau sebenarnya di ftv udah sering banget kita lihat dan kita rutuki.

Keseluruhannya manis, lucu, bikin senyum-senyum, sedikit menampar, tapi juga akan bikin sesak dan mungkin bikin nangis. Yaaa sebanyak ekspresi dalam kehidupan, sebanyak itu juga semuanya menyatu di film ini. Tenang, film ini nggak hanya akan bahas cinta kok. Karena masih ada bahasan tentang mimpi, perjuangan dan kegagalan untuk menggapainya.

Ada beberapa hal yang sampai detik ini masih melekat di saya. Salah satunya adalah pelajaran bahwa, "Nggak ada orang yang datang ke hidup kita tanpa memberikan pelajaran apa-apa. Nggak ada kejadian yang terjadi tanpa punya maksud dan tujuan. Apa-apa yang dikira terbaik, belum tentu selamanya memberi kebaikan. Begitu juga sebaliknya, tergantung mau lihat dari sisi yang mana."

Intinya gitu deh, saking nggak ngerti lagi mau bilang apa karena yaudahlah yaaa cepet nonton aja. Biar lega sedikit kalau memang butuh sedikit tamparan manis yang bikin menetes haru. Dan baiklah, karena udah dibikin nggak nangis tapi lebih dari sekadar sesak sama film ini, maka ada hadiah angka 8/10 !


Share:

More Than Love, A Star is Born [Movie Review]

Director: Bradley Cooper
Writers: Eric Roth, Bradley Cooper, Will Fetters (screenplay by), William A, Robert Carson (based on story by)
Casts: Lady Gaga, Bradley Cooper, Sam Elliot, etc

Genres: Drama, Music, Romance

Maybe, this is the best movie i've ever seen this year!

Setelah penantian panjang untuk rilisnya. Sengaja pakai nggak nonton trailer apalagi ulasan yang sudah lebih dulu nonton. Karena sebegitunya nggak mau naruh ekspektasi apa-apa. Dan begitu ada kesempatan nonton, baiklah, breathtaking sekali saudara-saudara. Heartbreaking juga tapi dibalut dengan keindahan. Kayak gimana tuh? Ya pokoknya nonton aja huhu.

Mengutip kata-katanya Lady Gaga, "You just need one person to believe in you." Gue sangat amat sepakat hal itu terbukti di film ini. Duh ini gimana, mau ngulas aja masih emosyenel. Baiklah mari kembali lagi ke lantai dansa *ehgmn

ASIB sampai detik ini masih benar-benar terbayang semua adegannya kalau kembali memutar soundtrack-nya. Gila sih, sebegitunya membekas. Musiknya aja udah seindah itu, dan sekhusus itu dibuatnya. Itu baru musik, belum waktu dinyanyiin dan penghayatan lagu di filmnya. Se-powerful itu dan nggak ngerti lagi deh kenapa suara Bradley Cooper pun keren padahal doi bukan penyanyi.


Jangan tanya soal chemistry kedua tokoh utamanya karena semua adegannya terasa alami banget bahkan sampai menusuk ke hati. Kalau ada yang bilang ini timeless love story ya memang benar. Karena, biarpun udah di re-make berkali-kali, film ini akan tetap petjah!

Cinta memang masih jadi bahasan utama, tapi di samping itu ada juga tentang perjuangan, tekanan, mimpi, kesempatan, sakit hati bahkan depresi. Pokoknya film ini penuh dengan ragam komponen kehidupan yang dikemas padat tapi tidak membosankan. 

Visualnya gimana? Ya gitu, bikin merinding selama nonton. Bahkan pas di awal aja udah berasa nonton konser langsung. Semuanya terlalu indah buat dilewatkan, padahal hanya senja di Arizona aja udah bikin remuk dan penuh rasa. 

Nggak ngerti lagi sih, mungkin ini subjektif tapi serius, ASIB benar-benar sayang kalau dilewatkan. Alurnya memang nggak meletup dan kaya plot twist, tapi karena alur yang mengalun itu juga kita jadi terhanyut bahkan lupa udah terbawa perasaan sampai akhirnya nggak sadar udah nangis.  

Sudahlah, mending nonton aja. Dan buat gue rasanya, hanya ada angka 9.5/10 untuk film ini!

Share:

Terlarut tapi Bukan Berlarut


Hanya sekadar ingin bertanya, pernahkah terlintas di benak kalian untuk sekedar menghentikan hari? Bukan cuma detik waktu, tapi sehari penuh sebab terlalu penuh saja rasanya. Terlebih ketika seluruh orang-orang yang dipercaya mulai menghilang, satu demi satu. Tak ada yang tersisa, sama sekali. Dan akhirnya kepercayaan diri mulai mengikis.

Saat ini yang tersisa tinggal pena di atas kertas. Masih tak tahu mau menulis apa. Sedikit rumit dengan perkara yang tersisa. Akhirnya hanya menyalakan laptop dan mulai tenggelam dalam beberapa kejadian. Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu di sebuah cafe yang kerap ramai bila sore menjelang. Duduk saja diam membaca buku. Melepaskan seluruh alat komunikasi yang terlalu sering digenggam. Ingin membunuh waktu tapi nampaknya aku yang sedang dibunuh oleh waktu.

Di tengah-tengah ramai yang teramat nyata. Sudut mata saya terpaku pada anak kecil–mungkin usianya sekitar 5 tahun–yang sedang asik berceloteh dengan ayahnya. Binar matanya tak mampu disembunyikan. Dia sedang bahagia, teramat sangat. Mungkin menceritakan hal apa saja yang dia alami di sekolah, pikir saya. Senyum saya mengembang tapi perlahan memudar. Ada yang menyentak di relung hati. saya memalingkan muka, enggan untuk sekadar menoleh lagi. Bukan tak turut bahagia, tapi entah mengapa ada yang diam-diam membuat nyeri.

Bagaimana rasanya bercerita dengan riang seperti itu? Bagaimana rasanya jatuh cinta pada lelaki pertama yang kamu temui di muka bumi? Bagaimana rasanya memiliki kenangan atas masa kanak-kanak yang tak perlu banyak pikiran untuk memahami? Di tengah beragam pertanyaan yang menyambangi kepala, ada yang tertahan di sudut mata. Ingin jatuh, tapi ego terlanjur menjadi juara.

Saya rindu, merindukan hal lalu yang tak pernah saya rasakan. Saya tersenyum getir, menertawai diri sendiri, bagaimana bisa rindu jika merasakan saja tidak. Kerap kali berpikir untuk tidak melakukan hal yang sama bila kelak menjadi orang tua, tapi tetap saja manusia hanya bisa berencana, penentu sepenuhnya adalah Dia.

Bila ingin, bisa saja saya murka dengan segala kesedihan yang datangnya bertubi-tubi. Dengan segala semesta yang seolah berkonspirasi membuat saya iri setengah mati. Tak memiliki orang tua yang utuh. Tak tahu rasanya disayang dan memiliki sayang yang seperti anak kecil tadi. Kekecewaan yang kadang dipendam seorang diri, rasa iri yang diam-diam kerap menghantui atau bahkan hal lainnya yang susah untuk dijelaskan. 

Tapi untuk apa marah atas apa yang sudah tergariskan? Untuk apa membuang energi dengan menyimpan amarah serta dengki berkepanjangan? Saya tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Bukan munafik, hanya saja memang rasanya tak perlu menyalahkan siapa atau apa. Sebab yang sudah digariskan oleh-Nya tetap akan terjadi meski sekuat apa pun kamu mencegahnya.

Lalu kembali dibuat bertanya, apa yang paling menyedihkan dari sebuah kehilangan sebab kepergian? Apa yang paling membuat rindu dari sebuah kepunyaan tapi tak pernah tergenggam sempurna? Jadi apa yang paling menyedihkan dan sesekali membuat rindu? Orangnya? Memori kenangan akannya? Atau waktu yang berlalu saat dia masih ada di sekitar? Atau bahkan kesempatan yang seharusnya ada tapi tak pernah diwujudkan?

Atas sebuah kehilangan sebab kepergian akan selalu hadir rindu yang tak berkesudahan. Tentang orangnya, tentang momen kebersamaan, atau juga tentang sebuah kebiasaan, dan bisa jadi tentang hal-hal yang belum pernah terjadi tapi terlalu sering diinginkan terjadi.  Perihal mengikhlaskan adalah kewajiban yang memang sudah sepantasnya untuk dilakukan. Sebab apa? Kita terlahir sendiri, memilih jalan kehidupan dan serangkaian pilihan di dalamnya atas alasan diri sendiri (meski pihak luar tak mungkin tak memengaruhi), dan pada akhirnya muara dari segalanya adalah kita kembali kepada-Nya pun sendirian dan pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan pun hanya seorang diri.

Kehilangan boleh dihargai dengan kesedihan, jika dan hanya jika ada batas waktu yang kamu tetapkan untuk sedih itu sendiri. Jika bahagia saja tak selamanya, maka begitu juga dengan duka yang sedang dirasa. Sedihmu bukan selamanya, dia datang sesekali, jika kamu mengijinkannya menyelimuti harimu. Tapi perihal mengikhlaskan sudah ada kewajiban yang tak bisa ditanggalkan akannya.

Remember the time you thought you never could survive? You did, and you can do it again - Margret

Untuk mengakhiri segala kisah yang tertulis ini saya hanya ingin berkata satu hal, boleh sesekali terlarut tapi jangan sampai berlarut. Sebab hari esok masih butuh untuk dinikmati dengan bahagia! Selamat membaik bersama :)

nb : tak usah diambil pusing dengan menerka-nerka ini kisahku atau bukan, sebab kau tahu, apa pun bisa kujadikan aku dalam sebuah tulisan.


Share:

Crazy Rich Asians, Love Will Find a Way [Movie Review]

Director: Jon M. Chu
Writers: Peter Chiarelli, Adele Lim (screenplay by)., Kevin Kwang (based on the novel by)
Stars: Contance Wu, Henry Golding, Michelle Yeoh, Gemma Chan, Awkwafina, etc
Genre: Romance Comedy

CRA menurut gue pribadi sudah cukup berhasil membisualisasikan novelnya. Enggak, gue nggak bicara tentang penggambaran detail yang di buku. Karena ya kalau urusan itu mah tahu sendiri, gausah ekspektasi akan sedetail yang di buku pokoknya. Because who can? Film dan buku tentu saja beda banget untuk bicara soal waktu. Durasi untuk film yang kelamaan bisa bikin elo bosan untuk diem duduk doang di bioskop. Sedangkan kalau di buku kan masih bisa dicicil baca besok lagi atau kalau udah mood lagi. Lagian, selama story line-nya masih sama kayak di buku itu masih wajar-wajar aja, imho ya~

Memang agak sedikit tipikal sinetron-sinetron gitu untuk ceritanya. Orang yang super duper kaya, jatuh cinta sama seseorang yang ekonominya tidak sepadan. Alur dan ending-nya mah pasti udah ketahuan dong ya? Eh spoiler nggak? Nggaklah ya, tenang, untuk urusan ketawa, nangis, senyum bahkan adegan-adegan yang breathtaking-nya nggak akan gue ceritain, biar kalian nonton sendiri aja hehe XD

Cinematography-nya gimana? Huahhhhh, bikin pengin liburan ke Singapore langsung rasanya. Angle pengambilan gambar dan color display-nya udah lebih dari sekadar eye catching. Apalagi sewaktu di pulau... ya baiklah, berkemas aja yuk langsung, lupakan perihal kerjaan haha.


Terus karakternya gimana? Buat gue, dua pemeran utama dan pemeran lainnya sukses menebarkan pesona mereka masing-masing dan semakin menguatkan karakter yang tertulis di dalam buku. Apalagi akting si Michelle Yeoh. Idola!!! Doi nggak perlu banyak dialog, tapi matanya udah lebih dari bicara (mau tahu gimana orang bisa lihat semua diri kita dari mata doang? Perhatiin deh akting doi, matanya bicara, and you will know it.) Dia tuh... tegas tapi rapuh, menindas tapi sebenarnya tertekan. Belum lagi si Gemma Chan, pembawaannya dan semua gesture dia akan sangat menarik perhatian untuk kita menantikan sekuel filmnya. Dannnnnn, Awkwafna beserta seluruh keluarganya berhasil membuat film ini menjadi genre romcom. Kalau nggak ada mereka mah, ya udah lewat itu comedy. 

Sejujurnya bocoran untuk sekuel yang hadir seusai film malah menurunkan sensasi seusai nangis-nangis haru menjelang ending. Jadi mending nggak usah ditungguin, tapi kalau mau kepo ya silakan aja hehe. Overall, film ini sangat rekomendasi untuk ditonton. Apalagi setelah ini, yakinlah bahwa standar pria dan wanita Asia benar-benar akan bergeser mirip kayak si Henry Golding dan Constance Wu. Iyain aja udah, setelah demam Jo, Kavinsky-Lara Jean, sekarang demam Nick-Rachel, baik :))))

Karena belum sepenuhnya move on dari TATBILB jadi angka 8.5/10 untuk film ini~






Share:

To All the Boys I've Loved Before [Movie Review]

Director: Susan Johnson
Writers: Sofia Alvarez (screenplay by), Jenny Han (based on novel by)
Stars: Lana Condor, Noah Centino, Janel Parrish

Isi kepala lagi nggak asyik? Kerjaan nggak kunjung selesai? Pun waktu berlibur belum ada dan males untuk keluar rumah? Nah kalau lagi kayak gitu, gue sih nyaranin buat nonton film ini aja. Drama romance comedy satu ini tuh cukup amat menyenangkan untuk dinikmati! Ini serius, karena elo nggak perlu mikir konflik dan segala printilan misteri yang belum selesai~

Film ini emang diadaptasi dari novel yang berjudul serupa. Yang mana bagi pembacanya pasti tahu banget kalau nggak semua adegan di novel bisa divisualisasikan dalam filmnya. Kalau di film memang ada kesan sedikit terburu-buru, tapi buat gue yang udah baca trilogi novelnya sih merasa fine-fine aja.

Karena, balik lagi si film ini udah cukup padat merangkum semua yang ada di buku. Ya tahu sendirilah ya, kalau semua bagian di buku dimasukin ke film, akan sepanjang apa itu durasinya. Kasian juga sih, belum lagi malah akan terkesan bertele-tele.

Cerita cinta masa remaja sih tema umumnya. Tapi tunggu dulu, ini nggak cheesy kok, karena gue pun akan males liat film romance yang kadar kemanisannya suka bikin diabetes. Meski ya, pastinya pasar terbanyak film ini adalah perempuan. Padahal menurut gue sih, ini bisa banget kok dikonsumsi oleh pria. Secara, drama TATBILB ini jauh dari unsur menye-menye romantis yang akan bikin elo bilang, "Anjisss apaan sih?" atau "Dih nggak logis banget, mana bisa kayak gitu kalo seumuran mereka."

Kavinsky (si tokoh utama pria) buat gue berhasil menjadi semenggemaskan itu. Dia berhasil ngebawa keluar karakter di dalam novel dan malah melampaui khayalan pembaca sewaktu sekadar baca novel doang. Pun Lara Jean, ya yaudahlah yaaa dia adalah perempuan pada umumnya yang sedang mengalami masa-masa pubertasnya.

Overall, ini kisah percintaan yang manis dan terasa pas untuk umur segitu. Wajar pada usia tokoh-tokoh yang sedang dimainkan. Mesem sewajarnya dan sealami mungkin. Nggak ada kesan dipaksakan pun nggak penuh akan konflik bertele-tele sampai ke keluarga, orang tua, dan semesta yang jauh lebih kompleks. Premisnya buat gue kepegang banget.

Karena TATBILB termasuk romance comedy, tentunya ada jokes-nya juga, dan itu sukses bikin ketawa. Menyegarkan pokoknya, itu stress-stress bisalah sedikit menyingkir. Sedangkan kalau mau bicara soal color grading dan cinematography-nya udahlah ya cuma bisa bilang love it!

Gue nggak mau spoiler apa-apa tapi intinya, ada angka 9/10 untuk film ini!!!


Share:

Make a Move



Pergantian adalah hal yang tidak pernah bisa kita hindari. Siang jadi malam. Malam jadi siang. Bahkan pertumbuhan rambut atau kuku selalu ada tiap detiknya walau hanya beberapa mili atau bahkan satuan yang jauh lebih kecil lagi.

Mungkin beberapa dari kita sering kali mengeluh ketika ada perubahan drastis yang terjadi tanpa kita inginkan. Contoh singkat yang paling sering dirasakan adalah ketika seseorang yang begitu dekat dengan kita kemudian menjadi jauh. Lalu akhirnya timbul beragam asumsi dalam kepala dan berujung dengan membandingkan segala laku di hari kemarin dan hari ini.

Kadang, seseorang berubah bukan karena ingin menjauhi atau meninggalkan. Tapi memang siklus adanya demikian. Entah karena tuntutan kesibukan yang semakin padat atau memang karena ada hal-hal lain yang secara tidak sengaja membuatnya berubah. Who knows? Yang pasti berubah itu sudah mutlak.

Memang, yang paling terlihat adalah ketika perubahan itu menyangkut perubahan pada orang terdekat kita. Then, what should I do? Apa yang harus aku lakukan kemudian, setelah menanggapi hal-hal yang berubah -entah pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Acapkali hal itu yang berputar-putar di benak. Dan membuat kita seringkali merenung untuk waktu yang tak singkat.

Bukan merenung untuk bergerak, melainkan merenungi apa kesalahan yang telah dibuat, apa hal-hal yang dilakukan hingga membuat perubahan yang tidak diingini seperti itu. Tak ada salahnya memang jika kita kembali memutar sedikit memori ke belakang untuk mencari tahu apa yang salah. Tapi yang sedikit harus dibenahi adalah ketika merenung tersebut kita tak seharusnya menyita waktu terlalu banyak hingga nyaris lupa untuk melakukan perubahan yang mendukung kehidupan kita agar tetap berada di lintasan. Dan lalu akhirnya menyebabkan kesedihan yang berlarut-larut merajai hari kita. Padahal kita tahu bahwa sedih yang berlarut-larut itu tidak pernah baik.

”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” QS. Ali Imran: 139

Begini, ketika ada satu kebiasaan yang berubah tentu akan mempengaruhi segala aspek lainnya juga. Hal itu sudah pasti tentunya, sebab kita ingat bahwa ada sebab akibat pada satu kejadian. Beberapa yang tidak siap akan adanya sebuah perubahan yang tidak pernah disangka sebelumnya tentu akan diselimuti rasa kecewa yang teramat sangat. Hingga mempengaruhi rutinitas sehari-hari yang dilakukan. Terus berupaya mencari jawaban tapi tak kunjung menemukan jawaban.

Bila dilihat sebenarnya segala aspek kehidupannya baik-baik saja tapi entah kenapa hampa saja menjalani segala kegiatan. Dan akhirnya berujung pada kesedihan yang mendalam dan lalu segala pikiran-pikiran negatif menghampiri. Misalnya saja merasa sudah melakukan segala daya upaya agar bisa menjadi sukses tapi hasilnya masih saja tak pernah tampak. Melakukan segala kegiatan agar bisa mendekatkan pada mimpi-mimpi yang dimiliki tapi selalu saja ada yang menggagalkan.

Segala bentuk kekesalan, kemarahan dan ke-tidak terima-an diri, selalu saja hadir menyusup di tengah segala hal-hal negatif yang berkecamuk di benak. Hingga akhirnya membuat kita justru terjebak untuk melakukan penyiksaan terhadap diri sendiri yang berujung pada rasa benci pada diri sendiri atau orang lain yang menyebabkan suatu perubahan itu.

Padahal kita tahu bahwa semakin sering kita melabeli diri kita tidak bisa melakukan ini itu, diri kita salah akan hal ini itu justru akan membuat alam bawah sadar kita merekam stimulus yang ada tersebut dan membuatnya terus ada hingga hari-hari ke depan. Aku pernah membaca bahwa 80% perilaku kita berdasarkan pikiran bawah sadar, yang mana pikiran bawah sadar sendiri terjadi setelah melewati proses yang berulang tadi. Ketika kita merasa gagal dan menyalahkan diri kita sendiri, sudah barang tentu pikiran kita menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain yang menjadi bukti pembenaran bahwa kita memang benar salah.

Logis memang, tapi tetap saja itu merupakan pembenaran yang salah. Kenapa? Karena ya itu tadi, kita bukan akan muncul ke permukaan dan melakukan hal-hal yang lebih baik namun justru semakin tenggelam pada kesedihan dan gelombang keputusasaan. Mungkin, ada yang harus dibenahi selain niat untuk jauh lebih baik. Mungkin benar jika ternyata ke-iman-an kita lah yang belum cukup baik. Iman yang kumaksud di sini adalah iman yang tak tampak, yang kasat mata, namun harus diyakini. Iman yang memenuhi syarat, Diyakini dengan hati; Diucapkan dengan lisan; Diamalkan dengan perbuatan.

Maka, berhentilah untuk menghabiskan waktumu hanya dengan memikirkan kesalahan apa yang telah diperbuat atau membanding-bandingkan hari ini dengan hari kemarin. Berhenti mencari media-media pembenaran yang semakin membuatmu terus berkubang dengan kesedihan dan membuatmu semakin dalam tenggelam pada keterpurukan. 

Kamu harus ingat bahwa perubahan itu mutlak ada, entah semakin mendekatkan dengan mimpi atau menjauhkanmu dengan mimpi. Entah menjauhkanmu dengan orang-orang di sekitarmu atau bahkan mendekatkanmu dengan mereka-mereka yang sebelumnya tidak pernah kamu sangka akan bisa menjadi dekat. Bukan hanya ingat bahwa perubahan mutlak ada, tapi kamu harus lebih ingat bahwa apa yang Tuhan berikan di hidupmu memang itulah yang kamu butuhkan dan yang terbaik untukmu.

Hampa yang mungkin hadir ketika ada perubahan yang menyapa atau ada banyak kegagalan yang dirasakan adalah hampa yang bersifat relatif-bisa diukur oleh dirimu sendiri. Hampa berdasarkan upaya-upaya kita mengejar sesuatu yang kita harapkan bisa dilihat oleh orang lain tapi membuat kita lalai memaknai hal-hal mutlak yang terjadi berdasarkan kehendak-Nya.

Perubahan akan selalu ada, entah ke arah yang tak baik atau ke arah yang jauh lebih baik. Yakinkan dirimu agar segala bentuk perubahan yang terjadi di hidupmu adalah perubahan yang menuju kebaikan mutlak yang hakiki. Apa yang kamu inginkan hanya akan tetap menjadi mimpi yang menggantung bila kamu tak segera memutuskan untuk bergerak dan beranjak menggapainya. Yang hadir akan terus berganti, entah cepat atau lambat. Bukan bagaimana kita menyesali yang sudah lewat, tapi bagaimana kita memaknai sebuah pertemuan dan mengambil hikmah dari setiap perubahan yang terjadi kemudian. 

Jadi tunggu apalagi, let’s make a move, cause You Only Live Once :))


Share:

Last But Not Least



Probolinggo, 22 Januari 2017

Bangun udah, nyiapin baju udah, tapi males untuk mandi sampai harus suit dulu. Andai bisa nggal mandi mah enak banget kali ya. Maka dengan sisa-sisa keikhlasan, akhirnya mandi juga. Setelahnya, mulailah bereksperimen untuk dandan. Kali kedua dandan sendiri setelah wisuda kemarin, jadi yaaa sebisa dan seadanya saja haha. Si mbak-mbak manten udah nitip pesen dari jauh-jauh hari supaya live tweets dan ngerekam semua kejadian tapi karena satu dan lain hal, akhirnya tidak terlaksana dengan sempurna permintaan tersebut. Yang penting sudah sah, intinya itu!

Sayang beribu sayang, udah mampir ke jatim tapi engga bisa ketemu pasukan kitajatim. Tapi masih Alhamdulillah bisa ketemu Julsss, ya setidaknya sudah nyetor muka, biar engga dikira fake si janpi ini, eh.

Sampailah pada saat-saat yang nggak pernah disuka; pamit pulang. Me, engga mungkin banget kalau nggak mellow apalagi nangis. Alhamdulillah banget bisa mengantarkan onty ke gerbang pernikahan, setelah tau sedikit galau-galaunya dulu, dan segala keribetan menjelang pernikahan. Katakanlah saya orang yang selalu mellow ketika berhubungan dengan perpisahan, sedihnya kadang bisa sampai berlarut-larut. Tapi kali ini nggak, justru saya bisa untuk terlihat sewajar dan sangat amat biasa, bahkan masih bisa ketawa lepas.

Sepanjang perjalanan pulang ke Surabaya, saat Kaklim dan Kak Naqib tidur, saya nggak bisa untuk nggak mikir apa yang sudah saya dapat selama perjalanan ini. Apa yang menyebabkan saya bisa untuk sebiasa ini menghadapi perpisahan.

Well, ketika seseorang menikah maka suka tidak suka akan selalu ada perubahan yang terjadi. Entah dari kebiasaan, pola komunikasi dan hal-hal lainnya. Itu adalah satu dari sekian hal yang akan terjadi apabila kita cukup dekat dengan seseorang. Tapi demikianlah hidup, akan selalu ada yang beranjak serta akan ada yang kemudian bertandang. 

Hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa, ketika seseorang bergerak meninggalkan kita—dengan ataupun tanpa alasan—maka waktu mereka memang sudah habis untuk berbagi kisah dengan kita. Meski waktunya usai, bukan berarti segala ceritanya usai begitu saja, sebab mungkin di suatu waktu di masa depan kita akan kembali bertemu dan kembali membuat cerita.

Maka, kesedihan yang hadir saat perpisahan sudah seharusnya diubah menjadi sebuah ucapan selamat datang kepada hal baru yang menanti untuk dibukakan pintu.

Surabaya, 13.00 wib

Setelah mampir makan, akhirnya sampailah di kostannya Kak Naqib. Niat awalnya mau kulineran di Surabaya, tapiiiii setelah melihat kocek yang sudah sekarat—ya gimana nggak sekarat kalo cuma bawa uwang 250ribu dan belanja oleh-oleh segala, nggak ngerti kenapa pinter banget perencanaan keuangannya teh—dan kebetulan hujan, akhirnya diputuskanlah untuk berghibah saja di kostan. Liburan penuh dosa astagfirullah haha. Enggak hanya ghibah kok, tapi juga memikirkan mau ke mana dan gimana cara untuk bisa melakukan perjalanan berikutnya lagi.

Setelah makan tahu telur (elah makan lagi) akhirnya tiba saatnya untuk beneran pulang ke Jakarta. Mulai dari nggak ngerti jalan, driver ubernya ngajak ngomong tentang jalanan Surabaya dan tarif uber yang langsung berubah semua menambah kesyahduan perjalanan pulang.

Setelah selesai check-in, pas masuk ruang tunggu kaget dengan jumlah manusia yang banyak banget. Delayed, sampai Jakarta jam berapa coba. Cobaan mah emang selalu ada, tapi kayak bahagia yang selalu gandengan sama sedih, cobaan juga selalu berkaitan dengan berkah.

Berkahnya adalah bisa mendengar dan melihat lebih banyak—mulai dari cerita Kaklim, curi dengar serta liat perilaku orang-orang di bandara, sampai dengan ngobrol sama bapak-bapak asli Kupang yang udah nunggu dari jam setengah 7 sampai jam setengah 9 belum ada kabar apa-apa tentang penerbangannya.  

Untuk jam 9 malam, Juanda yang sudah mulai terbilang dingin mulai bikin cacing-cacing di perut bunyi, padahal semua kedai-kedai makanan dan minuman sudah tutup. Ruang tunggu juga udah mulai sepi, sebab penerbangan ke Kupang sudah mulai boarding, jadi tersisalah hanya manusia-manusia yang ingin ke Jakarta.

Dan yap, perhatian saya lagi-lagi tertumpu dengan koper-koper besar yang dibawa masuk ke kabin pesawat. Koper besar please, iya tahu mungkin aja nggak ada isinya, mungkin aja emang hanya untuk jaga-jaga. Tapi, suka nggak habis pikir aja, kenapa manusia bisa seegois itu untuk bawa barang banyak meski kadang berakhir dengan barang-barang itu nggak akan dipakai.

Padahal ketika kita bisa melonggarkan bawaan, pergerakan kita akan lebih nyaman. Padahal ketika kita bisa dan terbiasa untuk memilah mana yang perlu dibawa dan nggak, kita juga akan terbiasa untuk memilah mana yang baik dan perlu untuk kita melanjutkan kehidupan. Saya, sering kali juga suka bawa barang-barang yang nggak diperlukan, hanya karena mikir ah nanti bisa gini gini gini dan gitu. Tapi, saya belajar banyak sebelum berangkat, bahwa saya perlu untuk menyisihkan ruang kosong untuk nanti bisa membawa pulang sesuatu dari Surabaya—entah di tas, entah di kepala.

Singkat cerita sudah di pesawat dan sudah hampir setengah perjalanan, tiba-tiba tanda sabuk pengaman dinyalakan lagi. Akhirnya saya mengerti kenapa bisa terjadi delayed, sebab ternyata cuaca buruk. Guncangan di pesawat jangan ditanyakan lagi. Dan untuk kali ke-sekian saya kembali berpikir dan membandingkan pesawat dengan kereta.

Bagaimana kereta selalu bisa membuat saya terhubung dengan orang yang mengenal saya, sebab tidak perlu khawatir akan ada system navigasi yang terganggu. Bagaimana kereta bisa membuat saya memiliki kesempatan bertukar cerita dengan strangers lebih banyak, sebab waktunya yang tak dipangkas hingga tak mungkin waktu dihabiskan hanya dengan duduk diam membaca atau tidur terlelap. Bagaimana kereta bisa membuat orang-orang yang menanti kedatangan saya tidak perlu khawatir, sebab masih sanggup dikabari apa-apa saja yang mengganggu laju perjalanan.

Mungkin, itu sedikit dari banyak alasan kenapa jika masih ada banyak waktu yang saya miliki dan sebuah perjalanan masih bisa dicapai dengan kereta, saya akan memilih menggunakan kereta . Sebab lagi-lagi, ada banyak investasi untuk memahami beragam hal di sekitar ketika saya menggunakan kereta.

00.00 wib, Bandara Soetta

Masih nggak habis pikir udah di Jakarta lagi, masih nggak nyangka ternyata saya begitu rindu dengan rumah. Mungkin memang benar, bahwa saya butuh pergi untuk selalu mengerti apa itu kembali ke rumah. Mungkin memang benar jika saya harus sering melakukan perjalanan untuk tahu seperti apa rindu untuk kembali pada zona nyaman.

Inginnya nggak masuk kerja, tapi inget masih punya tanggung jawab ehehehe. Dannnn hal yang menutup perjalanan ini semakin gembira adalah masuk kantor di hari Senin jam setengah 10. Tiap hari weh begituuuuu~~~

Untuk menutup seluruh kisah ini, saya hanya ingin mengingatkan kepada diri saya sendiri atau mungkin kepada orang-orang yang mau meluangkan membaca tulisan ini, bahwa we just need to stay away for a moment to get back home (Life Traveler, Windy A)


Share:

Live Like a Probolinggoers


Hujan udah berhenti, udah tidur pula, Kak Naqiba belum juga dateng. Dan parahnya doi bilang, “kan engga minta ditungguin”, senyumin aja udah hmmm. Karena sudah hampir sore dan dua keluarga mau ngumpul untuk makan malam, akhirnya saya dan Kak Lim memutuskan untuk segera pergi keluar. Sok banget tahu jalan, padahal cuma berbekal google maps, eh tapi pede tuh harus kalau memang mau live like a Probolinggoers.

Pemberhentian berikutnya adalah RM. Sumber Hidup, rumah makan yang terkenal dengan es krimnya yang enak itu. Hal pertama yang bikin ketawa adalah kelewatan tempatnya sampai harus muter-muter buat balik lagi. Yang kedua, disangka mau ngehadirin acara nikahan dan dikasih tahu kalau menu Chinesenya udah pada abis, mentang-mentang yang nyetir Kak Lim haha. Dan yang ketiga, karena disuruh parkir di tengah-tengah jalanan. Sampai sekarang masih gagal paham asli, nggak ada polisi dan nggak ada yang protes juga dengan parkir yang mengambil lahan untuk berkendara itu. Kebayang aja kalau di Jakarta parkir kayak gitu, mobil udah diderek kali ya, eh.

Niatnya sih mau ke Beejay, tapi karena sunsetnya sudah lewat maka beralih muter-muter Probolinggo. Mulai dari mampir ke minimarket cuma buat beli air mineral, nanya toko oleh-oleh di mana, sampai akhirnya muterin alun-alun Probolinggo dua kali hanya karena toko oleh-oleh nggak ketemu dan memang mau nge-igstories.

Hal yang menyenangkan selama keliling itu adalah ketemu masyarakat sekitar yang ramah, nggak ketemu macet dan yang paling penting Probolinggo itu kota kecil yang hanya punya satu KFC bisa begitu mudah dihapal jalanannya. Kalau kata Onty Indrak mah lurus aja lurus nggak ada belok-belok. Probolinggo di malam hari itu sunyi dan jalanannya masih kurang penerangan. Jadi, nggak perlu ngebut!

Akhirnya setelah kehabisan uwang haha. Kembalilah ke rumah sang empunya acara. For the first time, ketemu Kak Naqiba. Di luar ekspektasi sih, Kak Naqib tidak seperti apa yang selama ini dikhawatirkan grup hesemeleh itu. Permasalahan berikutnya yang terjadi adalah keinginan untuk videocall tapi sinyal nggak memadai. Yang berakhir dengan saya yang harus merelakan kuota habis hanya dalam waktu semalam untuk tethering, makanya gengsss pake dong te*ko*sel.

Dikira udah malem banget, eh ternyata masih jam 9. Entah cuma perasaan saya aja atau nggak, di Probolinggo itu, waktu nggak bisa banget untuk diperkirakan. Yang dikira udah malem banget, ternyata masih sore, yang dikira masih pagi banget, ternyata udah siang. Mungkin salah satu faktornya karena di sana masih sepi dan minim sinyal (?)

Setelah beres-beres untuk pulang besok dan termenung ngeliat kenapa bawaan jadi banyak, ada yang nyeletuk pengen yang kriuk-kriuk. Maka diputuskanlah untuk delivery K*C. Eh baru juga mau nelpon, yang punya rumah nawarin untuk makan malem. Makaaaaaa, berakhirlah kami di dapur dan ribet milih mau makan apa. Karena mikir si mbak manten udah tidur, yaudah aja gitu makan sambil ngobrol dan nyantai, berasa rumah sendiri, eh tiba-tiba,

“Loh arek-arek, kalian makan di mana?”

Dan tadaaaaaa, Onty, shock mendapati kami makan beralaskan lantai dan di dapur.

“Heh, kalian loh tak tungguin, tak kira makan di kamar. Kok ya malah ndlosor di sini. Astagfirullah haha. Duh rek, tamu-tamuku ki loh, kokyo ngene temen.”

Mau ketawa, tapi harus ditahan karena kalau sampai keselek, pedesnya itu soto dan rawon akan bikin tenggorokan sakit berhari-hari. Karena emang nggak tahu mau makan di mana—secara semua tempat penuh makanan buat besok, dan nggak mungkin untuk makan di kamar, maka kami memutuskan untuk makan di dapur saja. Toh dapurnya bersih dan kami nggak mempermasalahkan jika harus duduk di lantai. Maka berakhirlah kami makan di dapur, ini kudu diingat sepanjang hayat sih!

“Loh kenapa toh? Lagian sampeyan dikira wes lelap malah ke sini lagi tuh ya ngapain”

“Aku loh nungguin kalian di kamar, tapi kok nggak ada, yo aku bingung kalian makan di mana. Eh malah di sini”

Emang mental ibu-ibu yang bertanggung jawab kali ya, habis makan yo beresin dapur dan nyuci piring. Tapi lebih tepatnya mental tamu yang tahu diri kayaknya sih. Masuk kamar lagi, dikira udahan gitu istirahat, eh masih aja diskusi mau mesen k*c. Bolak-balik nelpon tapi nggak jadi-jadi, dan memang kayaknya nggak direstuin semesta buat makan lagi, delivery-nya sudah tutup. Maka berakhirlah hari dengan tidur~

Cerita selanjutnya di sini


Share:

Jalan-Jalan ke Probolinggo



Juanda, 08.24 wib

Jadi dengan berbekal pengetahuan dari sang empunya acara, bahwa kami harus lanjut ke Terminal Purabaya atau yang biasa dikenal dengan Bungurasih. Lanjutlah kami naik Damri dengan muka-muka sok tahu jalan.

Buat yang mau tahu tarif Damri dari Juanda ke Bungurasih itu 25.000 (macem travel blogger ngasih tau tarif, bolehlah ya siapa tahu gitu ada yang mau ke Surabaya yekan)

“Macet. Kayaknya kita disasarin sama pilotnya. Ini mah sama aja kayak Jakarta”

Yak! Di Damri pm-an sama Kak Lim karena duduknya yang jauh-jauhan. Bener aja, Surabaya emang 11-12 sama Jakarta. Panas, lebih panas deng, padat merayap, macet, dan penat. Setidaknya saya dan kaklim sepakat dengan hal itu.

Sumpah buat yang pertama kali ke Bungurasih, kalian harus tahu arah tujuan, mau naik apa, ber-ac atau ekonomi, intinya harus paham betul. Terlebih ketika kalian nggak bareng sama orang yang bener-bener asli Surabaya atau minimal tahu jalan. Karena kalau nggak, kalian akan ditarik-tarik sama kernet-kernet yang jumlahnya bejibun itu. Jujur saya kaget ngeliat jumlah kernet yang banyak itu, entah karena saya yang katro atau karena memang di Jakarta nggak pernah nemu terminal yang kayak gitu, intinya saya agak sedikit nggak percaya dengan mata kepala sendiri haha.

Saran sih kalau mau lebih gampang lagi, mending nunggu di depan aja sampai busnya lewat, nggak perlu masuk ke dalam terminalnya.

Oke lanjut, dari Bungurasih ke Terminal Bayuangga Probolinggo kalau naik Patas AC itu 30.000 (2017) tapi kalo naik yang biasa itu 20.000 (2017). Selain AC yang bikin beda, sensasinya sih yang bikin beda. Mulai dari pengamen sampai dengan anak sekolah yang naiknya serombongan.

Mungkin karena efek tidur yang cuma berapa jam, baru setengah perjalanan udah mulai ngantuk. Bawaannya cuma pengin tidur, karena mungkin udah kecapekan ngoceh juga kali ya. Tapi tenang nggak tidur kok, ya gimana atuh, ada lagi aja yang diobrolin sama Kak Lim.

Mulai dari bahas agama, bahas klepon yang ternyata dari Pasuruan, bahas seragam sekolah dan masa-masa SMP SMA, sampai bahas sopir bus yang nyetirnya berasa punya nyawa 9. Ini yang paling seru dari perjalanan, bisa ngobrolin beragam hal, mulai dari yang sifatnya personal dan nggak jarang melebar dan meluas ke mana-mana.

Probolinggo, 12.10 wib

Akhirnya setelah 2 jam perjalanan bisa juga nyelonjorin (re: meluruskan) kaki. Sembari nunggu dijemput sama mbak mantennya, saya dan Kak Lim memilih duduk di bawah pohon daripada harus di ruang tunggu. Anginnya enak banget soalnya, mendung pula.

Akhirnya setelah hampir 1 tahun nggak ketemu sama Onty Indrak, untuk kali kedua bisa ketemu lagi di hari itu. Terakhir ketemu itu di bulan Februari pas gathering di Yogyakarta, dan sekarang ketemunya pas doi mau nikah. Nabung rindunya cukup lama ternyata.

Singkatnya, hampir jam 1 siang, sampailah di rumah onty. Sesudah makan, mendaratlah kami bertiga di kasur. Niatnya sih mau langsung pergi keluar sama Kak Lim, tapi keinget mau nungguin Kakak Naqiba dan kebetulan hujan, yasudah leyeh-leyeh jadi pilihan utama. Nikmat tidur mana yang kau dustakan~

Cerita selanjutnya di sini



Share:

Ibukota yang Pindah ke Surabaya


*peringatan dini, tulisan berikut hanya  sebuah catatan perjalanan yang ingin diabadikan.

21 Januari 2017

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu selama beberapa bulan lalu. Masih jelas teringat bagaimana waktu-waktu yang dilalui sebelum keberangkatan; beli tiket tengah malam, sibuk atur jadwal dengan teman seperjalanan, nyari alternatif untuk bisa dapet tiket semurah mungkin, nentuin waktu berangkat yang ternyata nggak pernah semudah membalikkan telapak tangan dan sibuk mikir alasan apa untuk dapat izin dari kantor.

Ya, keriuhan untuk sebuah perjalanan yang mungkin terlalu singkat. Tapi tak apa, perjalanan, sesingkat apa pun adalah hal yang harus dihargai dan berakhir dengan pemaknaan. Ke mana kita? Yap, seperti judul tulisan ini. Surabaya!

Jika beberapa waktu lalu saya pernah bercerita tentang perjalanan Bandung dan Yogyakarta, yang di dalamnya selalu ditemani dengan orang-orang yang saya temui di tumblr, kali ini pun masih sama—menuju Surabaya lebih tepatnya Probolinggo, untuk menghadiri acara bahagia salah dua pengguna tumblr dan lagi-lagi teman seperjalanan pun adalah pengguna tumblr.

04.15 wib, Tangerang

“Udah mau jalan nih aku”
“Bel aku udah di tol”

“Bae-bae bel”
“Bliss satu, tas satu. Done”

Rentetan chat dari Kak Lim lah yang mengawali hari Sabtu kala itu. Sabtu harusnya mah kerja, eh ini udah di jalanan ke bandara. Sekali-kali nggak pusing dengan kerjaan boleh, kan Ehehe. Yak seperti yang saya bilang di awal tulisan, bahwa perjalanan ini ditemani dengan kakak yang ditemukan di tumblr, Kak Lim, dia yang pada akhirnya menemani saya melakukan perjalanan kali ini.

Harus diakui Kak Lim adalah partner perjalanan yang menyenangkan—nggak pernah ngeluh, nggak manja dan selalu bisa menghidupkan suasana. Tapi manusia mah nggak ada yang nggak ngeselin, termasuk Kak Lim, orang mah ditanya serius jawabnya nggak pernah serius.

“Kau di mana sih, Kak?”
“Kepo kamu! Aku kedinginan, pengin pipis, sayang nggak ada yang jual pelukan.”
“Dikata kepo. Auk amat hih. Aku ingin memeluk dingin.”
“Dingin gabisa dipeluk. Eh bisa deng kalo doi namanya dingin. Keren kali ya nama anak dingin. Colder. Panggilannya Col.”
“Coldy aja.”
“Nah, baru mau bilang coldy. Anak nanya kenapa coldy. Dulu bapakmu itu dingin. Sedingin es sama ibu.”
“Ngakak hih. Serius kau di mana sih kak?”
“Kepo kamu! Posisi di mana? Atas? Bawah?”

Begitulah sedikit chat nggak jelas di pagi yang terlalu pagi. Oke kembali ke perjalanan, di tiket sih tulisannya berangkat jam 6, ya manusia hanya bisa berencana, tapi ngaret mah masih masuk dalam perencanaan yakan.

Singkat cerita, 07.50 wib sudah sampai Juanda, yey!

Tipikal orang Indonesia kebanyakan; nggak pernah sabaran, nggak bisa kalau nggak buru-buru. Baru juga landing udah buru-buru ambil barang bawaan.  Antrian di depan aja belum jalan, udah mulai berdiri.  Eh baru juga awal perjalanan udah ngeluh aja haha. Skip~

“Ini Jakarta ya, Bel?”
“Hahaha iya kayaknya, Kak. Nggak ada bedanya ya”

Ibukotanya pindah! Satu kata yang terbersit ketika melongok ke jendela pesawat. Selain sinar mentari yang mentereng, bandaranya udah mirip kayak CGK.  Saya dan Kak Lim memang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya jadi sudah iyakan saja.

Sampai di Juanda, nggak langsung naik damri, tapi keliling dulu nyari titipan calon mempelai wanita; dunkin dan beard papa. Baru kali ini nemu orang mau nikah nitipnya macem-macem, terlebih makanan. Gapapa, yang mau nikah mah bebas, iyain aja. Di saat lagi nyari itulah, kegelisahan mulai menyerang Kak Lim, karena eh karena Kak Lim nerima telpon dari kerjaannya. Lyfe, niatnya liburan tapi kerja mah emang tetap mengikuti. Pukpuk Kak Lim!

Bersambung ke cerita berikutnya di sini

Share:

Sweet Escape Part 4 || See You Again

Kalem, ini postingan terakhir tentang Jogjaan. Udah hari ke-3 soalnya. Singkat banget ya :(

Pagi yang luar biasa berat banget buat gue jalanin. Karena apa? Bentar lagi pisah dan balik ke kotanya masing-masing. Gue males kalo harus ketemu dan ujungnya begini. Tapi ya gimana lagi dong, emang harusnya gitu kan pft. Ketemu dan lalu pisah. Karena ya emang nggak ada yang benar-benar menetap kan? Pada akhirnya emang akan pisah juga, entah karena kondisi atau emang mesti kembali ke Sang Pencipta.

Well, stop mellow. Gue ceritain dulu pagi yang aduhai banget. Gue bangun di kasur sendirian haha. Onty lagi mau siap-siap shalat subuh. Yang di situ gue sadar adalah gue di kamar cuma berdua doang sama Onty. Padahal semalem gue inget banget, roommate gue abis dari jalan-jalan ke Alkid mereka itu balik ke kamar ganti baju. Dan ternyata ganti baju doang. Again, gue kembali berbicara dengan mereka di saat kondisi gue sadar dan nggak. Itu gue baru nyadar pas paginya haha.

Karena yang lain belum pada bangun, eh udah deng beberapa. Gue, Onty, dan Mas Fah memutuskan untuk cari sarapan. Beli sarapan Gudeg di daerah Lembah UGM situ. Makan pagi gue kali ini beda, gue seneng, soalnya punya temen. Biasanya sendirian kalo lagi di Jakarta haha.

Setibanya gue di homestay ternyata yang lain lenyap. Mereka ke SunMor. Ealah padahal gue lagi mau jadi rentenir nagih-nagih duit yang belum lunas. Haha. Beberapa masih tinggal dan masih santai tidur sih emang. Tapi sisanya ya itu tadi, lagi berleha-leha di SunMor cari sarapan. Dan nampaknya mereka lupa bahwa kita perlu check-out.

Yaudahlah gue menghabiskan waktu menunggu mereka dengan doing something nothing. Serius gatau ngapain. Duduk di bawah merhatiin anak lakik yang lagi pada packing. Still ngebacot gue udah paling nomer satu dan akhirnya gue balik ke atas lagi cuma buat makan oleh-oleh dari Onty haha. Sampe akhirnya yang dari SunMor udah pada balik dan mereka packing. Gue yang emang dasarnya pagi itu mau jadi emak-emak tukang nagih langsung masuk ke semua kamar cuma buat nagih duit. Padahal gue nggak kenal-kenal banget sama mereka semua tapi udah seenak jidat aja nagihin duit :(

Kelar semua packing dan urusan bayar-bayar rampung. Terus dilanjut berkumpul semua di ruang tengah dan Abang ngasih sepatah dua patah kata. Kita langsung berangkat lagi ke Pasar Beringharjo untuk nyari oleh-oleh dan ke Wijilan buat sarapan sekaligus makan siang sebelum pulang.




Pulang ya? Iya pulang haha. Gue kali ini engga banyak omong. Entah, lebih irit ngomong aja kayaknya. Walaupun tetep aja sih kalo urusan ngecengin orang mah lanjut. Haha. Bahkan gue sempet iseng nyapa mereka dengan buka kaca mobil dan teriak sekenceng-kencengnya beberapa temen-temen KITA yang ternyata naik becak buat ke Wijilan.

Di saat yang lain sibuk belanja oleh-oleh gue gatau mau ngapain, jadi yaudah gue ikut muter-muter aja. Mau beli oleh-oleh apaan lagi coba. Bakpia gue sudah ada tanpa harus gue cari, haha. Dan mendaratlah akhirnya di Gudeg Yu Djum. Setengah hati rasanya gue makan dan agak terkejut ngeliat jam udah mepet banget sama jam berangkat kereta.




Awalnya kita nungguin Ka Rere, Bang Dhesna dan Ryan yang emang kepisah sama gue, Abang dan Ka Delim. Mereka nemenin Ka Re beli haha centhong dan segala macem barang buat souvenir, you know what I mean.

Gue, ngira perpisahan udah di Yu Djum aja, gausah segala KITA JABAR nganter KITA JABO ke Stasiun. Karena apa, gue cuma gamau nangis gitu aja. Beneran deh. Eh ternyata mereka ikut nganter. Yaudah, udah fix feeling engga enak. Pasti gue nangis. Pasti, tapi gatau kapannya aja. Haha.

Jam udah mepet banget mau pulang dan 3 orang tadi belum juga muncul. Hem, kebiasaan JABO mah gitu, kalo engga mepet ya bukan JABO namanya. Akhirnya gue, Ka Delim dan Abang memutuskan untuk naik duluan. Tiket 3 orang tadi kita titipin sama yang masih setia menunggu. Gue paling gasuka moment ini asli. 

Ketika gue harus salam-salaman, cipika cipiki dan peluk-pelukan sama beberapa orang karena harus pulang. Bisa ilangin gue aja engga? Tapi mau gamau yaitu tadi, gue harus melewatinya. Bahkan gue ga meluk Teh Dew karena apa? Karena gamau makin nangis. Eh pas udah jalan Teh Dew manggil "Kamu gamau meluk aku?" Ah teteh, dirimu harus tau gimana aku sok kuat nahan rasa yang gatau namanya apa. Mau gamau nah meluk. Iya meluk, abis itu kabur langsung nyusul abang dan Ka Delim. 

Sampe di kereta, tinggal 10 menit lagi 3 orang yang tadi akhirnya dateng juga. Dan Ka Rere berhasil bikin gue mau ngakak. Ya bayangin aja bawaan dia bertambah jadi nggg ... haha skip sudah.


Gue masih fokus sama hp, alih-alih mau menghilangkan hawa sendu, malah jadi makin-makin. Mau gamau nutup muka dengan jaket dan menghabiskan 20 menit perjalanan dengan nangis haha. Dan begitu buka jaket, Ka Rere langsung nawarin macem-macem sampe akhirnya gue ngakak. Tumbenan ae gitu tiba-tiba ditawarin bantal, makan sama apa gitu gue lupa haha.

20160221_1762

Sunset di kereta yang nggak pernah bisa bohong selalu indah, dan seringkali ngingetin gue bahwa semuanya itu sementara.

Gue tenggelam bareng sama mereka lagi, ngobrolin semua kenangan selama di Jogja. Mulai dari seneng, sedih sampe gosip romantisme-romantisme haha. Dan yap, perjalanan pulang jauh lebih cepet dari perjalanan pergi. Kita sampe lagi di Jakarta itu jam setengah 12 malem. Dan mereka seharusnya bisa langsung pulang, harus banget nungguin gue dulu yang mau dijemput. Terima kasih loh kalian! Aku bahagia kenal kalian dan berada bersama selama 16 jam perjalanan dengan obrolan yang sangat intim. Me lafya guys 




Dan di penghujung tulisan ini gue cuma mau bilang. Gue gatau tadi abis cerita apa. Gue gatau ada yang kelewat atau nggak. Gue gatau gimana lagi ngegambarin bahagia yang gue rasain di umur belasan gue ini. 

Terima kasih untuk 3D2N nya yang super petjah! Terima kasih untuk waktu dan segalanya yang udah dikasih ke gue. Terima kasih untuk semuanya. Apa pun itu apa pun! Gue nggak nyangka yang awalnya ini emang cuma niat gue doang yang ngajak abang liburan ke Jogja setelah abis liburan bulan Desember ke Bandung. Terus emang awalnya ada niatan Mei itu mau ke Jogja bareng selir-selir abang. Malah akhirnya maju jadi bulan Februari. Dan kerennya lagi, Gath dadakan dibuat dalam kurun waktu 7 hari, engga sempurna memang masih banyak kurang ini itu. Tapi sungguh, gue sangat amat bahagia. Karena kalian mimpi gue dan salah satu resolusi gue di tahun ini tercapai!

Dan yap, gue cuma mau bilang. Gue udah jatuh cinta sedalam itu sama kalian semua. Sama Keluarga Besar KITA di Regional mana pun. Me lafya guys! Semoga lain waktu ada kesempatan ketemu KITA REGIONAL JATIM, KALIMANTAN, SULAWESI, dan SUMATERA. Semoga Tuhan dan semesta merestui.

... kalo di awal gue bilang ceritanya dimulai, di akhir gue akan bilang ceritanya berakhir. Tapi ceritanya masih bersambung ke beragam perjalanan lainnya lagi :))


Share: