Me-/Di-, Kecewa, -kan

November 29, 2018



Plant an expectation; reap a disappointment -Elizabeth Gilbert, Committed-

Mungkin kamu melakukan sesuatu hal dengan tujuan baik, tapi belum tentu diterima sebagai hal yang baik juga oleh orang lain. Mungkin niatmu melakukan sesuatu hal adalah A, tapi orang lain bisa menganggapnya dengan A pula, atau B hingga bahkan Z. Sebab setiap manusia memiliki pola pikirnya masing-masing yang tak akan sama satu dengan lainnya. 


See? Apa yang kamu lihat tak selamanya seperti yang tampak. Apa yang kamu dengar tak selamanya seperti apa yang terucap. Yang nyata saja tak bisa dengan gamblang kamu pahami maksudnya, apalagi dengan hal-hal yang memiliki tersirat, bukan?


Bicara perihal kecewa, sadarkah kamu bahwa orang-orang yang paling berpeluang mengecewakanmu adalah orang-orang yang sangat amat kamu kenal, begitu juga sebaliknya. Mengapa katamu? Begini, harapanmu muncul--entah kamu sadari atau tidak--ketika kamu sudah cukup dekat dengan seseorang.

Dengan kamu mengenalnya kamu merasa sudah cukup tahu bagaimana sifat dan sikapnya, bagaimana dia kepadamu, dan bagaimana dia bisa memenuhi apa-apa saja yang kamu utarakan padanya; ekspektasi dan harapan. Dan dengan begitu harapan tercipta tanpa tedeng aling-aling, ekspektasi membumbung hingga ke langit. Hingga lupa menjejak, hingga lupa memberikan batas toleransi.

Kamu ingat kan, bahwa manusia memiliki kesempatan yang cukup besar untuk mengecewakan atau bahkan dikecewakan? 

Mungkin beberapa dari kita sering sekali merasakan kecewa. Bahkan menimbulkan trauma dan luka atas kecewa itu sendiri. Hingga akhirnya terlalu lelah untuk sekadar bertegur sapa. Terlalu letih jika harus bertatap muka. Atau bisa jadi air mata mengalir begitu saja jika ada yang berkaitan atau membuat kamu ingat dengan kejadian lampau. Ketika segala rasa bahagia, ketika segala hal-hal menyenangkan yang pernah dilalui bersama terkalahkan oleh setitik kecewa yang terjadi-entah disengaja maupun tidak. Pada intinya, kecewa menutupi segalanya.

Tidak ada yang lebih bersalah ketika kata kecewa terlontar. Setiap yang mengecewakan atau yang merasa dikecewakan memiliki porsi salahnya masing-masing. Kecewa ada karena yang merasa dikecewakan menaruh harapan dan ekspektasi berlebih kepada yang mengecewakan. Hingga fokusnya hanya pada hal itu saja-pada harapan yang inginnya bisa sesuai. Lalu lupa dengan rasa sayang yang sebelumnya tercurah begitu besar. Lupa dengan setiap detik waktu yang pernah bergulir dengan keceriaan. Dan yang tersisa hanya kejelekan-kejelekan yang sebetulnya tak perlu dibesar-besarkan. 

Kecewa hadir pada mereka yang disebut mengecewakan karena ada janji yang mungkin luput dari ingatan. Ada perkataan yang terlontar tanpa pernah terpikirkan akibatnya beberapa saat kemudian. Kecewa bukan hanya terjadi dengan orang lain, kecewa juga bisa dengan diri sendiri. Dan sering kali orang-orang yang merasa kecewa dengan dirinya sendiri, lupa pada apa-apa saja yang pernah mereka lakukan untuk dirinya. Yang menjadi fokusnya hanyalah tidak mampu memenuhi angan dan mimpinya pada saat itu. 

Kamu harus ingat, manusia itu makhluk dinamis-akan selalu ada yang berubah, sadar ataupun tidak

Lalu apakah kecewa salah? Apakah manusia tak boleh untuk kecewa? Tentu saja kecewa tidak salah, tentu saja kecewa itu boleh, menurut saya kecewa itu manusiawi. Kecewa adalah reaksi atas aksi yang tidak sesuai dengan harapan. Dan kamu harus lebih dari sekadar ingat,

Having a broken heart. It means we have tried for something -Elizabeth Gilbert, Eat Pray Love-

Setidaknya dengan merasa kecewa, merasa terluka, merasa sedih, kita tahu kita sudah melakukan sesuatu hal. Kita tahu kita sudah bergerak, meski tak sesuai dengan harapan. Lalu apa yang salah? Apa yang tidak diperbolehkan? Merasa kecewa yang berlebihanlah yang tidak diperbolehkan. Terlebih jika rasa kecewa membuatmu enggan untuk kembali melangkah, membuatmu terkungkung dengan penyesalan dan kesedihan semata, tentu itu yang salah.

Dulu sekali saya pernah menulis bahwa bisa saja orang yang melukai kita adalah orang yang bisa menyembuhkan luka kita juga. Who knows? Jika kecewamu tercipta karena orang lain ataupun karena dirimu sendiri. Saya hanya mampu berkata, berdamailah dan mulailah memaafkan dirimu sendiri. Semoga sesudahnya, kamu bisa memaafkan kecewa yang tercipta karena orang lain. Dan mulailah untuk melepaskan segala rasa kecewa, sakit maupun luka yang pernah tercipta. Semoga setelahnya kamu mampu untuk berdamai dan menerima segala rasa, apa pun itu.

Beberapa hal memang tak bisa kita ketahui sebab maupun asal muasalnya. Dan yang bisa kita lakukan hanya perlu menerima apa-apa saja yang sudah, telah dan akan terjadi. Kamu hidup bersama harapanmu, bersama harapan yang harus memiliki batas. Bersama harapan yang sepenuhnya hanya bergantung kepada Tuhan, bukan pada ekspektasimu atau bahkan pada orang lain. 

Seperti kata Bruce Lee, “I’m not in this world to live up to your expectations and you’re not in this world to live up to mine.” 

Selalu ingat bahwa apa yang terjadi pada dirimu saat ini, baik sedih maupun bahagia adalah skenario terbaik dari Tuhan untuk hidupmu. Selamat melepaskan rasa kecewa-baik dikecewakan maupun mengecewakan. Teruslah menjadi pribadi yang lebih kuat dari hari kemarin, teruslah menjadi pribadi yang bisa memetik pelajaran dari setiap kesalahan di perjalanan, karena You Only Live Once :)))

You Might Also Like

0 comments

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella