Blooming in April, Falling in Love with Fireworks.

Kalau ditanya apa hal paling menyebalkan di saat pandemi, mungkin jawabannya adalah kaki yang terpaksa harus diam di rumah. Nggak bisa jalan ke sana-sini. Nggak bisa pergi ke sana-sini. Nggak bisa melancong ke beragam tempat yang katanya sih, sudah masuk di dalam daftar perjalanan yang harus dilakukan sebelum usia sampai di kepala tiga. Masih jauh sih ya, tapi kalau urusannya sama waktu mah semua serba cepat, benar tidak?

Well, pandemi memang banyak kurangnya. Tapi ternyata, selama pandemi ini pula saya berhasil menemukan hal-hal baru yang semula nggak pernah diketahui—karena alasan nggak ada waktu. Pandemi membuat saya mau tidak mau mencari celah untuk memanfaatkan waktu-waktu kosong, agar setidaknya otak bisa tetap diasah dan terus miliki pengetahuan yang tiada berujung.

Dan ya! Semenjak pandemi ini tentu banyak banget manusia-manusia yang mulai terjun ke dalam Korean drama. Bener, nggak?

Senang sih, karena akhirnya perlahan semakin banyak yang tahu kenapa Korean drama bisa sebegitunya memikat hati. Eits tapi tunggu dulu, selain terhanyut di dalam drama-dramanya, saya mau saranin juga untuk mencoba Korean variety show.

Karena kenapa?

Karena Korean variety show tuh sebegitunya bisa menaikkan mood yang tadinya jungkir balik berada di posisi paling bawah. Mengocok perut dengan hantaman tawa, sudah pasti. Menampilkan sinematografi yang luar biasa, juga nggak perlu diragukan. Nah sekarang ditambah lagi dengan pengetahuan yang juga disisipkan di dalamnya. Jadi kayak peribahasa, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Salah satu Korean variety show yang selalu saya ikuti setiap minggunya tidak lain dan tidak bukan adalah 2 Days 1 Night—yang saat ini sudah memasuki musim ke-4. Dan salah satu episode yang berkesan adalah episode 69 yang baru dirilis dua minggu lalu. Yap, awal April, di mana bertepatan dengan dimulainya musim semi di Korea.

Jalur Bunga Cherry Blossom Seomjingang.
sumber gambar: visitkorea.or.id

Musim yang terlalu indah untuk dilewatkan. Bahkan nih ya, musim semi adalah musim yang paling padat oleh pengunjung. Jadi, bagi kalian yang mau ke Korea di saat musim semi, mulailah menyiapkan akomodasi dari jauh-jauh hari.

Anyway, bicara soal musim semi, apa sih hal paling menyenangkan yang ingin dilihat selain melihat bunga sakura—iya selain di Jepang kita juga bisa melihatnya di Korea?

Kalau saya sih ya, jawaban jujurnya adalah melihat pelbagai macam festival khas musim semi.

In my humble opinion ya, kalau makanan tuh bisa dicari. Kayak di Indonesia aja deh, ketupat tuh nggak hanya di bulan Ramadan, kan? Ya logikanya, menurut kesoktahuan saya, makanan di Korea pun begitu. Mungkin bisa didapatkan, tapi susah, mungkin bisa untuk dicari, tapi ya memang kudu effort. Tapiiiiii, setidaknya nggak se-effort kalau mengadakan sebuah festival, kan?

Kayak, ya nggak mungkin aja gitu festival yang diadakannya cuma sekali dalam setahun, masa iya diadakan ulang hanya karena tiba-tiba kamu datang. Iya, nggak? Bener, dong logikanya begitu hehe.

So, karena itulah gue rajin-rajin mencari informasi apa sih festival-festival menarik musim semi di Korea. Banyak banget artikel yang membahas soal ini—nanti kalau ada waktu luang lagi, saya akan ceritakan juga. Kalau baca artikel atau blog lain kan pasti beda dengan baca blog gaya saya, toh?—tapi di antara banyaknya bahasan festival musim semi itu, ada satu festival yang saya nggak nemu artikelnya dengan lebih banyak.

Dan beruntungnya…

Variety show kesayangan aka 2 Days 1 Night justru membahas hal tersebut di episode ke-69!

What a coincidence banget nggak sih?

Dan ya…saya bahagia dan excited banget untuk menontonnya.

Nah, ini dia sedikit jurnal yang sudah saya buat untuk merangkum episode spesial tersebut.

sumber gambar: potret journal milik pribadi

sumber gambar: potret journal milik pribadi

Di episode ke-69 ini, 2D1N membahas festival kembang api tradisional atau yang biasa disebut dengan Nakhwa Nori. Festival yang juga merupakan aset budaya tidak berwujud korea selatan yang ke-33. 

Lalu, apa sih festival Nakhwa Nori itu?

sumber gambar: german.visitkorea.or.kr

Nakhwa Nori atau falling flowers adalah festival kembang api yang sudah ada sejak era pertengahan Joseon. Kebetulan, versi Nakhwa Nori di Haman ini adalah versi Nakhwa Nori yang pertama. Festival ini diselenggarakan di atas kolam yang terletak di depan Mujinjeong--Gazebo di era Joseon. Ya kurang lebih sudah sekitar 400 tahun festival ini terus dijaga kelestariannya oleh warga desa Goehang. Bahkan warga di desa ini pun sudah punya hak paten dalam pembuatan tongkat nakhwa-nya.

Nakhwa Nori sendiri dibuat dari tongkat yang berisikan bubuk arang.

Cara pembuatannya gimana?

Beruntunglah bagi kalian yang menyaksikan 2D1N, karena kalian bisa diajarkan langsung mengenai cara pembuatannya. Tapi buat yang belum menyaksikan, maka saya rangkum saja di sini, ya~

Sebelum masuk ke cara pembuatannya, perlu diketahui jika pembuatan tongkat nakhwa ini harus dilakukan oleh 2 (dua) orang; satu orang untuk memegang agar hanjinya tidak terlepas, satunya lagi untuk meratakan bubuk arang yang akan disebar di atas hanjinya. Bahan yang dibutuhkan adalah bubuk arang (yang diproses sendiri oleh warga di desa Goehang), hanji, kain katun, kawat, dan juga tali jerami.

1. Bubuk arang disebar secara merata di atas hanji
2. Setelah disebar merata, tutupi atau lapisi bubuk arang tersebut dengan kain katun--bagian bawah kain katun usahakan dibuat lebih menjulur karena akan digunakan sebagai sumbu
3. Lalu lipat hanji menjadi dua, dan putar ke arah berlawanan
4. Buat satu tongkat lagi, baru gabungkan kedua tongkat tersebut dengan cara dipilin
5. Ikat menggunakan tali jerami di sepanjang tongkat agar bubuk arangnya tidak jatuh berceceran
6. Jangan lupa pasang kawat di ujung atas tongkat nakhwa untuk mengaitkannya ketika nanti akan digantung di atas kolam. Ah ya! Kalian juga bisa menaruh kertas harapan di atasnya.

Kertas harapan?

Yap, kertas harapan. Kertas yang bisa kamu isikan dengan doa dan harapanmu yang ingin terwujud di tahun ini. Karena memang, tujuan dari diadakannya Nakhwa Nori ini, selain untuk melestarikan budaya juga untuk mendoakan kota dan berharap agar hasil panen menjadi bagus.

Dan karena semua prosesnya masih dikerjakan manual oleh warga di desa Goehang, maka proses pembuatan hingga pemasangan kurang lebih 3000 tongkat nakhwa ini memakan waktu sekitar 2 (dua) bulan. 

Luar biasa banget nggak, sih?

Bahkan nggak hanya proses pembuatan dan pemasangannya aja yang manual. Proses menyalakannya pun juga dilakukan manual dengan menggunakan obor yang dibawa dengan rakit. Jadi ya benar-benar dinyalakan satu persatu dari petang hingga malam hari. 

sumber gambar: instagram @kbs_unicorn

Indah banget kan, ya? Kebayang dong gimana kalau kita bisa melihat langsung keindahannya.

Saya rasa, festival nakhwa nori di Haman ini wajib masuk ke dalam bucket list untuk menikmati musim semi di Korea. Karena sayang banget kalau kita sampai melewatkannya. 

Bayangkan saja, begitu dinyalakan tongkat nakhwa yang dilapisi oleh bubuk arang tersebut akan memercikkan cahaya, lalu jatuh beterbangan seperti kelopak bunga yang berguguran. Itu kenapa festival ini disebut Nakhwa Nori atau Falling Flowers. 

Eh tapi dibakarnya di atas kolam, memangnya nggak merusak ekosistem kolamnya, ya?

Tenang saja, bubuk arang ini organik dan sangat ramah lingkungan. Justru katanya nih, bubuk arang yang jatuh ke dalam air bukannya mencemari, melainkan justru bisa memurnikan air di kolam tersebut.

sumber gambar: instagram @kbs_unicorn

Saran saya sih, kalau kamu mau melihat liputan lengkapnya, sila langsung menyaksikannya di episode ke-69 variety show 2 Days 1 Night. Nonton di mana? Gampang banget! Kamu sudah bisa menontonnya secara lengkap dengan subtitle berbahasa Indonesia di aplikasi Viu.

Ah pokoknya, terima kasih lho 2 Days 1 Night, sudah mengajak saya berkeliling dan merasakan indahnya Haman. Bahkan kenal dengan budaya tradisional Nakhwa Nori yang terus dilestarikan hingga sekarang. 

See, meski Indonesia tidak memiliki musim semi, nyatanya kita masih bisa tetap menikmati dan belajar mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan musim semi melalui acara-acara seperti ini!

Semoga pandemi lekas usai dan kita segera bisa merasakan indahnya musim semi di Korea!

Salam,
Bella.

Share:

Overload = Kelebihan Memori

Memori ponsel penuh, memori komputer penuh, memori harddisk penuh, bahkan memori di kepala juga sepertinya penuh. Ah manusia, sedikit aja diberi ruang, seketika itu juga langsung diisi sampai nggak sadar kalau udah penuh.

Ada yang pernah begitu juga?

Padahal ya kalau mau dicek ulang, isinya tuh mirip dan bahkan ada yang sama. Faedahnya apa coba disimpan terus, sampai memenuhi semua ruang memori. Heran banget.

Iya herannya sama diri sendiri.

Karena kayaknya gue masih suka banget memenuhi ruang memori dengan hal-hal yang sama dan berulang. Dengan hal-hal yang harusnya sih nggak usah disimpan lagi. Karena ya buat apa? Karena katanya kan hidup masih harus ditingkatkan dari hari ke hari. Lah kalau yang lama masih ada, gimana caranya hal baru bisa mengisi hari? Eyak~

Nggak gitu. Gini maksudnya tuh, semakin hari semakin ke sini gue jadi sadar, kalau kita manusia yang punya banyak dosa dan khilaf ini, emang susah banget ya untuk mengikhlaskan dan melepaskan sesuatu. Apalagi kalau sesuatu itu berhubungan dengan memori, apalagi kalau sesuatu itu punya nilai yang katanya nggak bisa dinilai pakai uang.

Duh, hidup. Ribet banget emang kalau udah ngomongin memori masa lalu.

Bolak-balik gue sering banget bilang ke sobat-sobat yang curhat atau cerita di @hujan_mimpi atau @stfbl, kalau hidup tuh pelajaran untuk melepaskan, selalu. Dengan kata lain ya hidup tuh nggak berhak diinvasi sama masa lalu. Dengan kata lain, semua hal punya masa kadaluarsanya.

Terima atau nggak terima, ya kenyataan yang ada memang begitu.

Lo nggak bisa menggenggam sesuatu atau seseorang, selamanya. Lo nggak bisa merasakan hal yang sama, selamanya. Lo nggak bisa ada di satu titik yang sama, selamanya.

Tapi…melepaskan itu nggak gampang, menghapus dan mengenyahkan memori juga nggak gampang.

Ya iya, itu juga gue tahu.

Tapi yang nggak gampang itu bukan berarti nggak bisa, kan?

Nggak gampang, karena kitanya yang nggak mau. Nggak gampang, karena kitanya yang nggak ikhlas. Nggak gampang, karena kitanya yang malas berusaha dan berjuang lebih. Nggak gampang, karena kitanya yang terus kasih alasan dan rasa kepercayaan diri berlebih sama yakin—yang padahal kalau mau sedikit buka mata, Tuhan udah bilang bukan dan tidak.

Hhh, nggak usah bohong bilang nggak bisa, karena semua itu bisa diusahakan dan bisa terjadi kalau memang kitanya mau.

Lo niat, lo mau, ya udah itu mah pasti bisa.

Memang nggak mudah dan nggak sebentar, soalnya kita manusia. Bukan Doraemon yang punya kantong ajaib. Bukan juga Nirmala yang punya tongkat sihir.

Yang bikin malas untuk mengosongkan ruang memori tuh apa sih sebenarnya?

Coba diinget-inget lagi.

Jawaban paling utama muncul adalah waktunya nggak ada.

Padahal kalau nonton dan stlaking-in crush atau mantan, waktu sebanyak 24 jam itu pasti dirasa kurang. Ya iyalah kurang, gimana nggak kurang kalau lo beranggapan hal itu menyenangkan. Yang bikin heran adalah stalking crush atau mantan itu kan sesuatu yang menyakitkan—tapi anehnya, tanpa sadar lo malah merasa bahwa itu adalah kegiatan menyenangkan yang harus selalu dilakukan setiap hari.

Lucu, kan?

Oke-oke mulai ke mana-mana emang bacot gue. Tapi ya udahlah ya.

Gue memang gampang banget nulis hal acak, di saat isi kepala udah overload.

Tapi tenang, sobat. Ini bukan kepenuhan karena memori masa lalu. Kepenuhan kali ini karena gue yang baru menyadari bahwa Maret sudah tiba di penghujung, dan sebentar lagi sudah memasuki bulan April, terus puasa, terus tiba-tiba Desember.

Dih apa-apaan banget, kan?

Kemarin kayaknya nggak sanggup memasuki tahun 2021, eh ndilalah-nya sekarang udah hampir tiba pada pertengahan tahun. Oalah Gusti, hidup mengapa terasa begitu cepat namun juga lama di saat bersamaan sih?

Jadi, dalam tiga bulan terakhir apa saja perubahan baik yang sudah dilakukan atau mungkin sedang dijalani?

Kalau gue sih jawabannya gampang, nih mulai ngisi blog adalah salah satu upaya membaikkan diri dan meningkatkan kualitas hidup. Hehehe!

Salam cinta bertumpah-tumpah,



Share:

Blyfe Update 2021: Moving On Is Never Been Easy

 

Sebagai janji pada diri sendiri yang sudah sering kali diingkari—terpujilah elo dengan omong kosong lo, Bell—mari perkenankan hari ini sedikit berbacoti ria entah dalam rangka apa. Mungkin dalam rangka isi kekosongan aja. Sok kosong padahal deadline di depan mata nggak pernah dipeduliin. Hahaha. Oke oke.

Jadi, sesuai judulnya; Moving On.

Gue ingin sedikit bercerita tentang perjalanan berpindah yang memang nggak pernah mudah. Dalam hal apa pun sih sebenarnya, tapi tenang, kali ini bukan tentang perasaan. Kenapa nggak soal perasaan? Karena udah lama rasanya kekeringan melanda. Cieilah. Skip aja, Chingu!

Iya, akhir tahun menjelang awal tahun gue disibukkan dengan pindahan.

Dan itu melelahkan. Sungguh-sungguh melelahkan.

Sampai-sampai gue bilang gini ke Nyokap, “Ma, nggak bisa apa ya ini barang-barang di tring langsung pindah tempat dan rapi lagi?”

Karena di antara semua hal melelahkan di rumah, yang bikin males adalah lo packing rapi barang-barang, terus udahannya ditata lagi. Nah itu yang bikin capek. Itu yang bikin pindahan jadi terasa double kill.

Lalu setelah dipikir-pikir, memang urusan berpindah tuh nggak pernah mudah, ya?

Ada sesuatu yang harus lo buang, agar tidak memberatkan. Ada sesuatu yang harus lo pilih dan pilah, penting atau nggaknya untuk kemudian dipertahankan. Ada sesuatu yang harus lo rapikan dan kelompokkan, agar kemudian lebih muda dicari dan ditemukan.

Hati juga kayak gitu nggak, sih?

Masa lalu deng. Kalau hati mah selalu gitu-gitu aja. Memori dan kenangan bersama seseorang yang seringnya harus dianalogikan seperti itu juga.

Nggak semuanya bisa dibawa ke tempat baru, karena nanti penuh. Nggak semuanya bisa dipertahankan untuk dibawa ke tempat baru, karena ternyata memang sudah usang dan waktunya pensiun. Nggak semuanya bisa dibawa bersama, karena ternyata lo udah nggak lagi merasa itu cocok dan penting.

See?

Kita pandai menilai kalau itu soal barang, tapi nggak kunjung pinter-pinter kalau urusannya soal manusia dan perasaan. Ya nggak masalah sih, lagian hidup meminta kita untuk terus-terusan belajar, apalagi soal melepaskan dan mengenali diri sendiri.

Dari awal tahun sampai detik gue menuliskan ini, gue masih dalam masa transisi untuk membiasakan diri. Selain pindahannya yang bikin ngomel-ngomel, ternyata mengganti kebiasaan juga cukup merepotkan.

Jujur, kalau urusan soal mengganti tujuan hidup gue kayaknya udah khatam di level tinggi. Tapi kalau urusan mengganti kebiasaan—yang harusnya sih ya levelnya lebih cetek—gue malah nggak khatam-khatam. Nggak tahu juga kenapa, tapi kayaknya sih ini perkara nyaman.

Duh, nyaman dibawa-bawa tuh emang susah.

Segala yang lucu-lucu jadi lewat kalau nyaman udah ditempel di kening. Benar atau betul?

Menyamankan diri untuk berada di semua hal yang baru tuh nggak pernah bisa singkat. Tapi sayangnya, di zaman sekarang ini semuanya dituntut serba cepat. Bahkan kayaknya dari awal tahun, gue masih belum punya ruang  untuk napas yang cukup banyak. Ya setidaknya untuk sedikit merasa tenang. Well, mungkin itu juga yang bikin agak kewalahan untuk bisa cepat menyesuaikan diri.

Heran, hidup makin ke sini kok ya makin rumit. Tapi anehnya, otak gue lebih kalem menyikapi semuanya. Kalau dianalogikan tuh kayak gue merasa, ya udah pelan-pelan aja, bisa sekarang Alhamdulillah, nggak bisa sekarang besok dicoba lagi.

Iya gue diburu-buru waktu. Iya gue dikejar-kejar banyak kepentingan dan penyelesaian. Tapi, iya di saat itu juga gue merasa kalau hidup nggak semestinya dibikin berat dengan cepat-cepat. Karena yang ada justru lupa untuk menikmati apa yang sedang ada. Oke, gue kayaknya mulai melebar ke mana-mana.

Tapi intinya sih, gue lagi-lagi disadarkan oleh keadaan dan kenyataan, jika memang betul banyak hal dalam hidup yang nggak bisa dengan mudah untuk berganti dan diganti. Semuanya butuh proses, semuanya butuh waktu, semuanya butuh disusun ulang, bahkan semuanya butuh untuk berpindah—dalam hal apa pun.

So, yeah!

Selamat datang lagi di kehidupan yang baru.

Untuk 2021 yang sudah hampir memasuki penghujung Maret, terima kasih sudah mengajarkan jika berpindah tidak pernah mudah dan butuh waktu, tapi sebenarnya bisa untuk dilalui dan dinikmati.



Share:

Semua Manusia Punya Masalah Tapi It's Okay, That's Love [K-Drama Review]

"Does it make you happy to aggravate and poke fun at someone else's pain?" - Dong Min

sumber gambar: twitter

Reaksi pertama saya sesudah menyelesaikan K-Drama ini adalah bengong.

Iya bengong. 

Karena segitunya bikin perasaan campur aduk, tapi lega, tapi kaget, tapi nggak menyangka, tapi oke memang hidup tuh seperti itu.

Iya, hidup memang seperti itu.

Ada banyak hal yang kita nggak pernah tahu, tapi ternyata sedang kita alami. Ada banyak hal yang kiranya kita sudah mahir dan kuasai, tapi ternyata kita gagal menghadapinya dan berujung dengan kita yang terus menyangkalnya. And yeah, semuanya dirangkum dengan baik dalam K-Drama ini. 

Poster-poster yang bertebaran di dunia maya pasti soal chemstry kedua tokoh--yang memang nggak diragukan--tapi sungguhlah, kalau sudah nyebur untuk menonton K-Drama ini, romantis-romantisnya justru nggak terasa apa-apa. Bukan karena nggak bagus, bukan karena kurang dapat feel-nya. Tapi memang karena fokus yang semulanya berpikir K-Drama ini akan penuh romantisme, justru fokusnya bergeser pada kesehatan dan penyembuhan kedua tokoh utamanya. Bahkan tokoh pendampingnya juga ikut-ikutan bikin penasaran bagaimana mereka bisa mengurai ketakutannya, traumanya, bahkan gangguan kesehatannya.

sumber gambar: twitter

Saya selalu suka jika K-Drama yang ada mengambil tema medical. Alasannya selain membuat isi kepala berpikir, dan pengetahuan bertambah, juga karena saya sangat amat suka dengan kemampuan dari seluruh tim produksi untuk membuat hal tersebut jadi dekat dan familiar dengan penonton. Nggak seketika memaksa belajar, tapi justru membuat saya pun penonton lain jadi menyadari, bahwa apa yang tidak kita ketahui dan tidak kita sadari itu bukan berarti tidak ada. Ada tapi mungkin ditolak, ada tapi mungkin disangkal, ada tapi mungkin memang tidak pernah diketahui.

Well, K-Drama ini akan jadi salah satu tontonan favorit saya dari drama-drama yang sudah pernah saya tonton. Bahkan kalau disuruh mengulang pun saya nggak akan bosan. 

sumber gambar: twitter

It's Okay, That's Love tidak hanya berpusat pada kisah cinta dan sentuhan komedi semata. Karena di dalamnya ada banyak sekali hal yang dekat dengan kita, serta dialami oleh diri sendiri, pun oleh orang terdekat. Kenapa saya bilang gitu?

Soalnya, kalau mau jujur-jujuran, pernah nggak sih kalian nggak punya masalah dalam hidup? Sehari aja, pernah nggak merasa hidup bebas tanpa masalah? Jarang, kan? Justru untuk beberapa orang cenderung nggak ada. Dan ya, semuanya diperlihatkan dengan baik di drama ini.

Nggak peduli sekeren apa hidupmu di mata orang lain. Nggak peduli sebaik apa kamu sudah melalui hidup. Nggak peduli sehebat apa impian dan cita-citamu bisa tercapai. Yang namanya masalah bisa datang begitu aja. Yang namanya gangguan pada kesehatan mental pun raga juga bisa datang tanpa permisi.

sumber gambar: twitter

sumber gambar: twitter

Dan ya, kadang kita malu untuk mengakui bahwa kita punya masalah itu. Kadang kita justru nggak peduli apakah itu benar ada atau tidak. Kita nggak peduli, apakah itu berpengaruh untuk kesehatan atau nggak. Yang kita peduliin cuma satu, gimana caranya jadi sempurna dan menunjukkan versi terbaik dari diri. Kita hanya ingin dilihat luar biasa baik-baik saja, padahal kita lupa, nggak ada seorang pun yang benar peduli apakah kita sempurna atau nggak. Mereka cuma lihat sekali, tahu sekali, ingat sekali, lalu kalau kamu nggak ada di lintasan hidupnya, ya udah selesai. Besok-besok mereka nggak ingat dan nggak akan peduli lagi. 

sumber gambar: twitter

Saya nggak perlu memuji akting para pemain K-Drama ini. Saya juga nggak perlu memuji sinematografi atau hal-hal lainnya. Karena sesempurna apa pun pujian saya, semuanya akan jadi bias begitu tiba pada plot dan alur cerita yang begitu solid. Karena bagi saya, It's Okay, That's Love nggak perlu dipuji secara berlebihan, untuk jadi sempurna. Justru dari ketidaksempurnaannya itulah kita belajar untuk setidaknya merasa utuh dalam satu momen di hidup.

Intinya sih saya cuma mau bilang, selamat bertemu dengan cinta yang memberikan banyak kekurangan juga penerimaan. Selamat bertemu dan berkenalan dengan luka diri. Selamat menjalin banyak cerita dalam upaya perkenalan dengan diri sendiri.

Baiklah, tidak perlu panjang-panjang, karena saya memang akan memberikan rate tinggi untuk K-Drama ini, yaitu 9,5/10.

"Cinta ada bukan untuk memperdebatkan benar dan salah. Tapi cinta ada untuk menguatkan, meski masalah tak pernah usai selama perjalanan." - Stefani Bella



Share:

how's life?

so, how's your life?
for me, it's so so~

februari, setelah sekian lama tidak mampir menulis di sini. dan ya, hari ini tiba-tiba saja rindu dan ingin kembali memulai cerita di blog. gapapa kan. ya? manusia tapi kan memang begitu, datang dan pergi sesuka hati. tapi mari upayakan semoga bisa konsisten kali ini. karena domain terus diperpanjang dan mengeluarkan cuan, jadi gaboleh dong cuannya sia-sia hehe :)))

well, tahun 2020 sudah berlalu. gila sih, karena kalau diingat-ingat lagi ada banyak perjuangan, tekanan, batin yang berteriak, dan sederet rasa ingin menyerah yang hampir dialami setiap manusia. ngaku aja deh, benar atau betul?

pandemi bikin banyak isi kepala jadi berputar di hal yang jelek. pandemi bikin jarak jadi semakin menjauhkan, walau beberapa juga jadi mendekatkan. pandemi ada positif negatifnya sih. lo dituntut kreatif meski harus di rumah. lo dituntut produktif dan nggak jadi pemalas, meski sekadar di rumah aja. ya banyaklah pastinya penyesuaian hidup selama pandemi--tidak terkecuali orang-orang yang nggak biasa pakai masker, sekarang bisa seharian penuh berkegiatan dengan masker. 

kemarin, saat mendapati kenyataan bahwa 2020 akan berakhir, rasanya perasaan yang ada berubah jadi kekhawatiran paling besar bagi banyak orang, eh ndilalahnya, kita sekarang justru sudah sampai di penghujung akhir februari. see? terbukti kan kalau hidup tetap berputar, meski kita merasa lelah. kalau perjuangan masih harus diupayakan, meski berulang-ulang mau menyerah.

beuh cakep. omongan gue bisa banget emang mendadak jadi kuotable kalau udah mulai menikmati tulisan dan bacotan. 

nah tahun ini, nggak banyak harapan yang gue panjatkan. selain doa untuk selalu dimampukan, disehatkan, dan dikuatkan menghadapi apa pun takdir dan pilihan hidup. karena rasanya, menjadi cukup adalah goals terbesar untuk bisa dicapai. cause when you feel enough, everything's gonna be simple.

dan gue sangat amat paham bahwa itu nggak mudah, bahkan melelahkan. tapi namanya manusia, udah dikasih kesempatan hidup, ya kudu dimanfaatkan untuk mencoba. seperti prinsip teman-teman kpop dan fangirl di luar sana. lebih baik menyesal karena beli, daripada menyesal nggak beli. nah buat hidup juga berlaku hal yang sama, lebih baik menyesal karena gagal setelah mencoba, daripada menyesal karena nggak pernah sekali saja mencoba.

sebab kesotoyan dan iseng coba-coba itulah di awal tahun kemarin, out of nowhere gue tiba-tiba aja ikut pemilihan sahabat korea. what the...... dadakan tahu bulat banget nggak sih?

kayak yang nggak pernah banget gue membayangkan akan cinta dengan korean things. kayak nggak pernah aja ada di bayangan gue untuk ikut-ikut ini itu, secara yakan, bella tuh anaknya malu-malu kucing, tapi kalau udah kenal ya malu-maluin. eh ini malahan ikut, dan tadaaaa kepilih.

jadi apa itu sahabat korea? nanti gue ceritain kalau gue sudah mulai menjalani dunia di dalamnya. kalau sekarang tuh masih tahu sekilas aja. 

terus beberapa waktu belakangan ini gue juga mulai merasa bosan dengan kehidupan di instagram. alhasil gue hanya bolak-balik buka tutup, unggah apa yang mau diunggah, interaksi malah lebih banyak di akun pribadi, bukan lagi di janpi. dan ya, gue kesal kalau seperti itu. gue kesal karena gue udah sayang janpi sampai ke ubun-ubun, tapi kok malah jadi bosan ada di dalamnya.

so, gue akhirnya memutuskan untuk mengubah wajah dan tampilan janpi. entah nantinya akan diterima atau tidak, tapi gue berusaha untuk menyamankan diri berada di sana. karena lagi-lagi, kalau gue nggak nyaman, nggak mungkin banyak hal baik bisa tersampaikan seperti seharusnya. dan ya, mendadak jadi keidean aja, mau menambahkan banyak informasi yang bervariatif di janpi. 

tujuannya sih sama, agar supaya, tidak hanya jadi ruang curhat dan galau. tapi juga bisa jadi teman di semua suasana. yaelah berasa tagline iklan produk sebelah haha. 

janpi ke depannya tetap ingin jadi tempat yang sama. tempat di mana lo bisa bercerita panjang kali lebar kali tinggi. tempat di mana gue sebebas dan seadanya mengabarkan dan mengenalkan karya-karya gue. tempat di mana bisa jadi sumber bacaan yang nggak menjemukan dengan beragam cerita gue. kenapa cerita? ya karena gue memang doyan bercerita.

mungkin beberapa teman ada yang bingung, kenapa sih harus ada dua akun @hujan_mimpi dan @stfbl ???

alasannya sesederhana. lo nggak perlu kenal siapa manusia yang menghidupkan janpi. lo hanya perlu tahu di sana ada teman lo yang bernama janpi yang siap dengar cerita lo, pun menyuarakan cerita atau perasaan terpendam lo, pun janpi yang berkarya dan bercerita. 

sedangkan di stfbl, lo boleh kenalan sama gue. tahu tentang keseharian gue. tahu tentang kehidupan gue. tahu tentang isi kepala gue. tahu tentang apa yang gue makan, gue pakai, gue tonton, gue dengar, atau mungkin semua cerita di balik layar janpi. ya stfbl adalah gue dengan sebenar-benarnya stefani bella sebagai manusia.

ya udah intinya gitu aja. cuma mau ngecek kabar aja sih. secara sudah hampir memasuki maret. dan juga sekalian mau mengusir sarang laba-laba yang hinggap di blog ini. kedepannya semoga semakin banyak ulasan buku, ulasan drama korea, ulasan ini itu, bahkan cerita-cerita dan isi kepala gue yang bisa tersampaikan di sini.

so, mari sudahi tulisan panjang ini. terima kasih sudah bersedia membaca. maaf kalau hanya menyita waktu, tapi nggaklah ya, hidup harus diisi oleh kegiatan biar nggak gabut dan leyeh-leyeh aja. selamat menikmati brunch time. selamat berpuasa juga untuk yang menjalankan.

salam sayang selalu dan terus-terusan,
your only one,



Share:

Have I ever tried that hard before?

Paginya pagi di bulan Oktober yang sudah masuk pertengahan.

Gila nggak sih? Tahun ini tuh jadi tahun paling susah untuk dilewati tapi nyatanya kita udah hampir sampai di penghujung tahun. 

Well, sebelum gue mulai berceloteh, gue hanya ingin mengingatkan jika unggahan kali ini sepenuhnya akan berisi hal-hal nggak penting. Jadi kalau mau di-skip, silakan. Kasihan waktu lo habis untuk baca sepatah dua patah kalimat gue yang very emotionally-unstable ini.

"Have I ever tried that hard before?"

Kalimat itu mendadak berputar seharian di kepala gue sejak tadi malam hingga pagi tadi. Pemicu atau alasannya apa? Karena ada sebuah pertanyaan yang masuk di question box gue yang intinya dia berkeluh, "jika hidup teramat susah untuk dijalani. Usaha udah mati-matian, tapi zonk yang didapat. Sedangkan orang lain yang nggak melakukan usaha semati-matian dia, tapi hasilnya selalu lebih dari ekspektasi."

Jujur gue diam.

Diam karena gue lebih banyak mikirin kalimat itu dibanding mikirin jawaban penenang untuk membalas curhatannya. Karena lagi-lagi, hidup emang seenggak adil itu, kan?

Ada orang yang sampai terkantuk-kantuk berusaha mati-matian, bahkan keringat bercucuran, tapi hasil yang didapat nggak seberapa. Di lain sisi, dda juga orang yang iseng-iseng, eh tapi hasilnya nggak kira-kira. Bahkan mengalahkan mereka yang usahanya udah sampai di batas ingin menyerah.

Okelah kalau ada banyak kalimat bijak yang bilang, usaha tiap orang berbeda-beda. Okelah kalau ada banyak manusia bijak yang bilang, syukuri apa yang udah ada di hidupmu kali ini, nggak usah ngebanding-bandingin dengan kehidupan orang lain. Dan sederet kalimat bijak nan syahdu lainnya.

Iya kalimat-kalimat itu benar. Iya kalimat-kalimat itu nggak salah. Tapi kalau kita mungkin dihadapkan pada kenyataan yang nggak sesuai dengan kalimat itu, yakin deh, nggak semua orang bisa berpikir sebaik dan sebijak itu. Karena coy, emang susah untuk terus berpikiran positif. Benar, nggak?

Kasarnya nih, setiap orang yang ada di titik terendahnya akan selalu bertanya, "kapan giliran gue? mau sabar sampai kapan lagi? mesti usaha selama apa lagi?"

Semakin kita memikirkan hal tersebut, semakin stres juga isi kepala kita karena memang nggak ada jawaban pasti untuk tanya itu. Karena nyatanya memang ucapan bijak tersebut benar, tapi kita juga nggak bisa memungkiri jika kita juga inginkan keadilan. 

Hhhhh.

Jujur-jujuran nih ya, gue juga beberapa kali masih mikir gitu kok. Namanya juga masih manusia, ngeluh, sedih, mikir negatif mah wajar. Asal nggak dipelihara terus-terusan, dan berlanjut sampai bikin dunia kita makin nyusruk.

Sungguhlah, gue nggak pernah memahami cara kerja semesta, yang kadang memang membuat sebagian orang yang sudah terpuruk jadi semakin terpuruk. Nggak bisa bohong dan menutup mata juga kalau hidup memang sesulit dan sekeras itu. Ada manusia yang udah kerja keras, tapi hidupnya masih gitu-gitu aja. Ada juga manusia yang licik dan nggak bersikap baik sama orang lain, tapi hidupnya lancar dan teramat bahagia. Bukan hanya terlihat di luar, tapi memang nyatanya sebahagia itu.

Mungkin memang iya, kita sebagai manusia diciptakan untuk tahan banting. Bolak-balik jatuh bangun, bolak-balik menyerah, dan harus bolak-balik usaha untuk membaik lagi. Sendirian. Nggak bisa ramai-ramai, karena isi kepala kita nggak akan bisa dipengaruhi siapa pun. Apalagi ketika lagi jelek, rasa-rasanya semua omongan orang juga hanya omong kosong. Nggak bisa dicerna, dan akan selalu mental ke luar. Benar nggak?

Sering banget gue dengar ada banyak orang yang mengeluh, "kenapa harus gue? kenapa harus gue yang capek? kenapa gue udah ibadah dan usaha, tapi tetap aja hasilnya nihil? kenapa gue udah bersikap baik, tapi tetap aja gue yang kecewa?"

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus berulang bagi mereka yang berteriak dunia nggak adil. Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu bukan lagi hal yang aneh untuk diajukan oleh mereka-mereka yang terus-terusan merasa dihajar semesta. Walau gue sebenarnya yakin, ada banyak hal di hidupnya yang masih bisa disyukuri. Tapi mari kita bicara dari hati ke hati, lo pasti tahu kan gimana rasanya manusia yang udah ingin menyerah, dan hanya punya 10% kesempatan di hidupnya, tapi kesempatan itu hilang juga dan nggak pernah menunjukkan titik terang?

Ya gitu, hidup memang susah. Hidup memang keras dan kadang nggak adil.

But man, this is life. 

The real life.

Yang nggak semua orang bisa mencapai impiannya. Yang nggak semua orang bisa ada di atas. Yang nggak semua orang perlu usaha keras. Yang nggak semua orang bisa hidup dengan nyaman.

Hidup ya kayak gini. Nggak mudah, nggak gampang. Nggak jahat, tapi nggak juga bisa dibilang baik. 

Hidup tuh keras, tapi elo harus lebih keras.

Hidup tuh jahat, dan mungkin elo harus lebih jahat--tapi bukan ke manusia lain, ngeri juga karma yakan.

Hidup tuh memuakkan, tapi ya telan aja sampai semua rasa jadi nggak lagi punya rasa.

Hidup tuh bikin capek, dan mungkin elo memang salah satu yang dipilih Tuhan buat ngerasain semua capek itu.


Life is hard,
but, have i ever tried that hard before?

 

Share:

KEMBALI LAGI, MENULIS LAGI

Minggu pertama Agustus sudah hampir habis, dan janji-janji yang pernah saya tulis di sini untuk rajin nge-blog juga akhirnya hanya berakhir bye-bye. Malas rasanya jadi hal pertama yang saya jatuhi sebagai kesalahan. Ada-ada aja sibuknya, ya inilah, ya itulah. Padahal kalau dipikir ulang lagi, setelah selesai ngantor, saya itu hanya diam di kamar sambil menonton drama korea atau series-series barat lainnya. Ada sih beberapa pekerjaan yang diselesaikan, tapi waktunya nggak terlalu lama.

Payah, kan? 

Ya gitu, saya kayaknya kecanduan untuk memberikan waktu istirahat buat diri sendiri.

Nggak tahu sejak kapan, nggak tahu kenapa begitu. 

Kalau boleh tebak-tebakan atau sok tahu sih, kayaknya karena saya merasa lelah. Atau mungkin juga karena saya terlanjur kecewa dengan beberapa hal, yang kemudian membuat saya malas untuk berjuang dan berusaha lagi. Atau.... mungkin karena 2020 buat saya penuh banget dengan penerimaan, yang sedikit banyak bikin saya menghela napas dengan kencang dan bikin saya geleng-geleng kepala. 

Tuh, kan! Karena menulis ini, saya baru ingat, jika ada satu kehilangan yang nampaknya harus saya tuangkan di blog ini. Semoga besok-besok saya tidak malas untuk menulisnya, semoga besok-besok saya sudah lebih ikhlas menerima. Karena ya, saya masih saja percaya, ketika saya sudah berhasil menuliskannya, itu berarti saya sudah bisa menerima. Dan kalau saya masih belum bisa menuliskannya, berarti saya belum benar-benar ikhlas melepas.

Mendekati akhir tahun, saya selalu punya siklus yang berulang. Untuk mempertanyakan kehadiran saya di dunia ini, untuk mempertanyakan kemauan saya sampai detik ini tuh apa.

Dan ya, beberapa hari ke belakang saya mencari dan terus mencari. Semacam ada yang hilang, tapi semuanya tetap ada. Semacam ada yang kurang, tapi kelihatannya sudah cukup. Semacam ada yang tidak bisa membuat saya hidup, tapi nyatanya saya masih diberi kesempatan untuk bernapas.

Lalu saya diam, beberapa malam bahkan saya tidur lewat dari pukul dua belas, dan hanya sibuk menatap layar ponsel yang menampilkan game. Kalau saya sudah memutuskan bermain game, ya sudah, saya tahu bahwa itulah saat di mana saya ingin mengerjakan banyak hal, tapi saya kebingungan untuk memulainya dari mana.

Sampai kemudian satu pertanyaan ada di kepala saya.

"Bell, kapan terakhir kali lo menulis untuk melepaskan?"

Pertanyaan itu yang akhirnya membawa saya kembali ke Tumblr; membaca tulisan-tulisan lama, membuka draft-draft tulisan di Tumblr, bahkan sempat stalking ke beberapa akun yang saya kenal dan sampai saat ini masih aktif menulis. Rasanya menyenangkan dan menenangkan, rasanya seperti ada yang disiram di hati saya. Perasaan hilang yang sempat membuat saya bingung, akhirnya pelan-pelan menemukan jawabannya. 

Berhari-hari saya pikirkan, berhari-hari saya tinjau ulang. Selama ini saya masih aktif menulis, di Instagram, di Twitter sesekali--bacotan itu termasuk nulis kan? di Wattpad, bahkan saya juga menulis naskah buku baru. Tapi anehnya saya selalu merasa kurang, saya selalu merasa belum lepas, dan tidak sebebas dulu.

Nah dari situ, saya akhirnya sadar, saya kehilangan media untuk menulis tanpa pikir panjang. 

Saya tidak pernah lagi menuliskan emosi saya, dalam bentuk prosa-prosa yang tak perlu semua orang mengerti. Saya tidak lagi menuliskan isi kepala saya, dengan bebas tanpa takut ini itu, seperti dulu waktu Tumblr masih jadi tempat paling nyaman. Lucu ya? Menulis kadang juga bisa menakutkan buat saya.

Dulu banget saya menulis ya sekadar menulis saja. Tanpa banyak mikir, tanpa berusaha menghadirkan perasaan ini itu, bahkan tanpa berusaha untuk hadir bagi orang lain. Dulu, menulis buat saya ya melepaskan.

Dan kayaknya, sekarang udah saatnya, untuk saya kembali lagi menjadi Stefani Bella yang seperti itu, di sini. Stefani Bella yang nggak perlu menjadi telinga dan teman bagi orang lain. Stefani Bella yang sepenuhnya ingin ada untuk dirinya sendiri. Biar besok nggak pernah merasa sendirian.

Nggak tahu juga nantinya blog ini akan berisi apa saja, tapi ya berhubung saya sudah membeli domainnya, sayang-sayang kan kalau dibiarkan menganggur aja? Jadi ya sudah, mari kembali fungsikan blog ini sebagai sarana untuk melepaskan.

Apa pun itu yang harus dilepaskan, akan saya tuliskan di sini.

Apa saja.

Apa pun.

Bahkan mungkin, hal-hal sederhana seperti mengantuk di meja kantor, enaknya makan pizza di siang tengah hari bolong, atau mungkin nikmatnya makan indomi di tengah malam sendirian.

Ya intinya saya ingin terus menulis, di sini, untuk waktu yang tak terbatas, untuk waktu yang lama.


Salam dan selamat datang. Terima kasih mau mengenal dan dikenal.



Share: