KEMBALI LAGI, MENULIS LAGI

Minggu pertama Agustus sudah hampir habis, dan janji-janji yang pernah saya tulis di sini untuk rajin nge-blog juga akhirnya hanya berakhir bye-bye. Malas rasanya jadi hal pertama yang saya jatuhi sebagai kesalahan. Ada-ada aja sibuknya, ya inilah, ya itulah. Padahal kalau dipikir ulang lagi, setelah selesai ngantor, saya itu hanya diam di kamar sambil menonton drama korea atau series-series barat lainnya. Ada sih beberapa pekerjaan yang diselesaikan, tapi waktunya nggak terlalu lama.

Payah, kan? 

Ya gitu, saya kayaknya kecanduan untuk memberikan waktu istirahat buat diri sendiri.

Nggak tahu sejak kapan, nggak tahu kenapa begitu. 

Kalau boleh tebak-tebakan atau sok tahu sih, kayaknya karena saya merasa lelah. Atau mungkin juga karena saya terlanjur kecewa dengan beberapa hal, yang kemudian membuat saya malas untuk berjuang dan berusaha lagi. Atau.... mungkin karena 2020 buat saya penuh banget dengan penerimaan, yang sedikit banyak bikin saya menghela napas dengan kencang dan bikin saya geleng-geleng kepala. 

Tuh, kan! Karena menulis ini, saya baru ingat, jika ada satu kehilangan yang nampaknya harus saya tuangkan di blog ini. Semoga besok-besok saya tidak malas untuk menulisnya, semoga besok-besok saya sudah lebih ikhlas menerima. Karena ya, saya masih saja percaya, ketika saya sudah berhasil menuliskannya, itu berarti saya sudah bisa menerima. Dan kalau saya masih belum bisa menuliskannya, berarti saya belum benar-benar ikhlas melepas.

Mendekati akhir tahun, saya selalu punya siklus yang berulang. Untuk mempertanyakan kehadiran saya di dunia ini, untuk mempertanyakan kemauan saya sampai detik ini tuh apa.

Dan ya, beberapa hari ke belakang saya mencari dan terus mencari. Semacam ada yang hilang, tapi semuanya tetap ada. Semacam ada yang kurang, tapi kelihatannya sudah cukup. Semacam ada yang tidak bisa membuat saya hidup, tapi nyatanya saya masih diberi kesempatan untuk bernapas.

Lalu saya diam, beberapa malam bahkan saya tidur lewat dari pukul dua belas, dan hanya sibuk menatap layar ponsel yang menampilkan game. Kalau saya sudah memutuskan bermain game, ya sudah, saya tahu bahwa itulah saat di mana saya ingin mengerjakan banyak hal, tapi saya kebingungan untuk memulainya dari mana.

Sampai kemudian satu pertanyaan ada di kepala saya.

"Bell, kapan terakhir kali lo menulis untuk melepaskan?"

Pertanyaan itu yang akhirnya membawa saya kembali ke Tumblr; membaca tulisan-tulisan lama, membuka draft-draft tulisan di Tumblr, bahkan sempat stalking ke beberapa akun yang saya kenal dan sampai saat ini masih aktif menulis. Rasanya menyenangkan dan menenangkan, rasanya seperti ada yang disiram di hati saya. Perasaan hilang yang sempat membuat saya bingung, akhirnya pelan-pelan menemukan jawabannya. 

Berhari-hari saya pikirkan, berhari-hari saya tinjau ulang. Selama ini saya masih aktif menulis, di Instagram, di Twitter sesekali--bacotan itu termasuk nulis kan? di Wattpad, bahkan saya juga menulis naskah buku baru. Tapi anehnya saya selalu merasa kurang, saya selalu merasa belum lepas, dan tidak sebebas dulu.

Nah dari situ, saya akhirnya sadar, saya kehilangan media untuk menulis tanpa pikir panjang. 

Saya tidak pernah lagi menuliskan emosi saya, dalam bentuk prosa-prosa yang tak perlu semua orang mengerti. Saya tidak lagi menuliskan isi kepala saya, dengan bebas tanpa takut ini itu, seperti dulu waktu Tumblr masih jadi tempat paling nyaman. Lucu ya? Menulis kadang juga bisa menakutkan buat saya.

Dulu banget saya menulis ya sekadar menulis saja. Tanpa banyak mikir, tanpa berusaha menghadirkan perasaan ini itu, bahkan tanpa berusaha untuk hadir bagi orang lain. Dulu, menulis buat saya ya melepaskan.

Dan kayaknya, sekarang udah saatnya, untuk saya kembali lagi menjadi Stefani Bella yang seperti itu, di sini. Stefani Bella yang nggak perlu menjadi telinga dan teman bagi orang lain. Stefani Bella yang sepenuhnya ingin ada untuk dirinya sendiri. Biar besok nggak pernah merasa sendirian.

Nggak tahu juga nantinya blog ini akan berisi apa saja, tapi ya berhubung saya sudah membeli domainnya, sayang-sayang kan kalau dibiarkan menganggur aja? Jadi ya sudah, mari kembali fungsikan blog ini sebagai sarana untuk melepaskan.

Apa pun itu yang harus dilepaskan, akan saya tuliskan di sini.

Apa saja.

Apa pun.

Bahkan mungkin, hal-hal sederhana seperti mengantuk di meja kantor, enaknya makan pizza di siang tengah hari bolong, atau mungkin nikmatnya makan indomi di tengah malam sendirian.

Ya intinya saya ingin terus menulis, di sini, untuk waktu yang tak terbatas, untuk waktu yang lama.


Salam dan selamat datang. Terima kasih mau mengenal dan dikenal.



Share:

Konflik Cinta Beda Wilayah di Crash Landing on You [K-Drama Review]



“Sometimes, the wrong train takes you to the right station.”

Dulu, Descendants of The Sun berhasil memikat saya untuk kecanduan menonton K-Drama. Tapi kalau bicara di zaman sekarang ada yang bertanya. “rekomendasi drakor dong,” jawaban pertama yang kiranya akan diberikan sepertinya Crash Landing on You.

Kenapa?

Ya dengar-dengar sih, banyak orang yang semula tidak tertarik nonton K-Drama justru jadi kecanduan setelah menonton series satu ini.

Memang iya? Kenapa gitu?

Well, saya nggak akan memungkiri kalau CLOY memang sebagus itu untuk memikat hati. Mulai dari storyline yang menarik, chemistry pemain utama pun pendukung yang patut diacungi jempol kaki dan tangan, sinematografi yang aduhai, juga konflik dari ceritanya yang tidak dipaksakan.


Nggak, saya nggak akan bilang ada banyak pesan kehidupan yang bisa diambil dalam CLOY seperti halnya Chocolate. Namun untuk teman-teman yang sedang mencari tontonan dalam kategori santai, nggak perlu banyak mikir, tapi tetap bisa tertawa, tersenyum, mesem-mesem gemas, bahkan berlinang airmata, CLOY adalah juaranya~

CLOY sendiri dimulai dengan pertemuan seorang tentara Korea Utara (Ri Jeong-hyeok; Hyun Bin) dengan seorang pengusaha wanita asal Korea Selatan (Yoon Se-ri; Son Ye-jin) yang
mengalami kecelakan paralayang dan kebetulan sedang tersangkut di pohon dalam teritori Korea Utara.

Dari awal aja udah bisa menebak dong ya kalau akan ada kisah percintaan yang dibatasi wilayah?


Tapi jangan buru-buru menyangka CLOY akan bermenye-menye ria mengisahkan percintaan semata. Karena memasuki episode ketiga sampai dengan episode terakhir, teman-teman akan dibuat berdebar dan penasaran dengan rahasia-rahasia yang kemudian terungkap.


Sebenarnya CLOY sendiri menceritakan tentang misi memulangkan Yoon Se-ri ke Korea Selatan secara diam-diam. Tapi seribu tapi karena namanya manusia hidup kalau nggak punya musuh kurang afdol. Maka dimulailah drama-drama konflik lainnya bermunculan.

Adegan action yang penuh dengan tembak-menembak, belum lagi tentang rasa iri dan kekuasaan, kisruhnya hubungan keluarga, dan sederet hal lain yang membuat CLOY benar-benar seperti layaknya kehidupan sehari-hari.

Hal lain yang bikin saya jatuh cinta pada CLOY sebenarnya adalah aksen Korea Utara yang dipakai, pun penggambaran kehidupan kedua negara yang begitu dekat namun bertentangan ini. Rasanya miris, tapi gemas, tapi ya mau gimana lagi, toh itu pilihan yang dibuat oleh negara-negara tersebut. Ya meski semuanya, terlepas dari ketidaktahuan saya akan fakta apakah suasana dan kehidupan asli di Korea Utara memang benar mirip seperti yang ada pada CLOY atau tidak. Namun kalau saya baca dari beberapa artikel, kata si pembelot-pembelot Korea Utara sih mereka memang membenarkannya. Walau ya katanya sih, tidak semudah itu sebetulnya untuk keluar dari Korea Utara.


Nah jika bicara tentang tokoh, maka jangan lupakan chemistry antar tokoh utama dengan tokoh pendukung yang sukses membuat CLOY semakin betah untuk dinikmati. Saya rasa, saya nggak akan sebegitunya suka dan merekomendasikan CLOY jika tanpa mereka-mereka ini.







Selain kepandaian penulis skenario CLOY yang jago sekali bikin semua hal serba terhubung dan bisa aja menyambungkannya, hingga membuat penonton teriak, “ah elah sa ae lu,” CLOY ini juga kurang ajarnya berhasil menampilkan cameo-cameo dari jajaran bintang atas. Bahkan nggak tanggung-tanggung membangkitkan kembali ingatan kita akan drama-drama yang sudah pernah berjaya di masanya.

Saya juga nggak akan mungkin mengiyakan drama ini masuk genre komedi, jika tanpa prajurit-prajuritnya Kapten Ri yang konyolnya luar biasa bikin bahagia. Bahkan kalau ditanya hal apa yang bikin kangen setelah K-Drama ini berakhir, jawabannya adalah kangen liat akting dan kekocakan F4-nya CLOY ini.



Kalau bicara tentang K-Drama tapi tidak menyinggung soundtracknya tuh bagai sayur tanpa garam. Jadi, tepuk tangan paling meriah untuk mbak IU yang tiba-tiba muncul sebagai pengisi soundtrack, dan menambah panjang deret kecantikan lagu-lagu CLOY yang menyayat hati.


Serius, saya masih nggak mengerti dan nggak habis pikir dengan berapa banyak CLOY mengeluarkan biaya produksi dengan bintang yang bertabur, lokasi syuting yang sampai ke Swiss dan keberkelasan filmnya. Gokil sih! Makanya nggak heran dan nggak kaget, sewaktu akhirnya CLOY berhasil menggeser rating Goblin bahkan menyabet rating nomor dua tertinggi sepanjang sejarah K-Drama.



Bonus alasan lain yang membuatmu makin betah menonton CLOY adalah sinematografinya yang eyepleasing—selain tokoh utamanya sendiri udah eye pleasing banget sih hehe.

Jadi akhir kata, kalau kamu mau diajak naik rollercoaster sekaligus menambah pengetahuan akan Korut dan Korsel, plusss bahagia karena bisa ketawa dan nangis di saat bersama, silakan menyaksikan CLOY yang saya beri rate tinggi 9,8/10.

“Ke mana pun kamu pergi, bila ia sudah ditakdirkan untukmu, jalan Tuhan akan selalu ada untuk menyatukan yang terlihat tidak mungkin.” - Bella



Share:

Cukup itu Nggak Bisa Dipaksa

Heiho Maret!

Bulan ini sedang ingin memulai lagi rajin nulis blog ah, ya semoga nggak wacana. Semoga memang benar niatannya baik, jadi dimudahkan dan dimampukan sama Tuhan.

Oke, hari ini kayaknya mau cerita tentang sesuatu yang pernah gue bahas di Instagram. Sayangnya waktu itu nggak disimpan di highlight jadi banyak yang masih bertanya hal serupa. So, mending sekalian aja gue jadikan bahan blog, yegak?

Gini-gini, waktu itu ada yang DM:

"Kak Bel pernah suka sama orang tapi ngerasa minder nggak? Minder dalam banyak hal (lingkungan, gaya hidup, kerjaan, gelar, dsb.)"

Dan jawaban gue masih sama sampai sekarang. 

Iya pernah, dan iya sempat mengalami hal seperti itu.

To be honest ya, mungkin banyak orang yang melihat gue sekarang adalah tipikal perempuan yang totally positive, cuek banget sama strata, kasta dan segala rentetan penilaian kehidupan manusia lainnya. Ya mungkin memang itu gue yang sekarang. Setelah berbelas dan berpuluh tahun hidup, gue akhirnya bisa sampai di titik itu.

Tapi tenang, dulu gue juga pernah kok jadi orang yang insecure-nya luar biasa parah. Pernah merasa minder sama diri sendiri, penampilan, kehidupan, pergaulan, kerjaan, gelar, lingkungan, dan sederet hal lain yang memang bisa bikin minder. Ya pokoknya terus-terusan merasa malu dan hanya ingin mengurung diri di kamar. Manusiawi-lah ya merasa jiper tuh. 

Nggak hanya dulu sih, sampai sekarang juga masih pernah kok mengalami hal-hal seperti itu. Apalagi ketika self esteem-nya sedang rendah luar biasa, pun pressure dari luar juga sedang gila-gilanya. Alhasil terciptalah perasaan jiper dan minder itu. 

Lalu pertanyaan berikutnya, "Apakah perasaan gue yang sekarang itu masih berlangsung lama seperti dulu?"

Ya tentu saja saudara-saudara jawabannya sudah tidak. Alhamdulillah, ya~ 

Gimana bisa gitu? Mmmm, mungkin jawabannya karena kalau sekarang, gue sudah jauh lebih sadar diri dan sudah jauh lebih tahu bahwa nggak akan pernah ada yang menghargai gue, sebelum gue-nya sendiri yang mampu menghargai diri.

Bicara tentang perasaan minder. Kalian yang pernah nonton Crazy Rich Asians--eniwei ini rekomen lho filmnya buat yang merasa sedang minder karena kasta--ingat nggak sama kata-katanya Astrid?

Doi dalam dialognya bilang gini, "It's not my job to make you feel like a man. I can't make you something you're not."

Nah! Hal ini menurut gue nggak hanya berlaku untuk cowok atau cewek, keduanya berlaku hal serupa. Sederhananya begini, nggak ada seorang pun yang bisa ubah kita, kalau kitanya memang nggak mau berubah dan selalu bilang nggak bisa berubah.

Dude, udah ngertilah ya kalau masa lalu nggak bisa diubah? Udah tahu bangetlah kalau masa lalu itu sangat amat nggak bisa diubah dan diganti. Tapi untuk masa depan, kita masih punya kesempatan dan masih bisa mengusahakannya. 

Sebenarnya rasa minder gimana sih terbentuknya? Ya kalau menurut kesotoyan gue, rasa minder tuh ada ketika elo tahu bahwa memang lo punya kekurangan. Lo tahu kalau diri lo itu tidak bisa,  tidak mampu atau tidak punya apa yang dimiliki orang lain.

Terus kalau udah gitu, apakah rasa minder itu nggak bisa disudahi? 

Ya bisalah! Hal termudahnya adalah dengan elo mau untuk menerima kekurangan itu. Kalau elo nggak mau untuk terima, nggak mau untuk mengakui, dan malah sibuk berteriak nggak dihargai, nggak dianggap ada, nggak bisa menandingi, nggak mampu ini, nggak mungkin itu, dan sederet kata 'nggak' lainnya. Ya mohon maaf duluan aja kalau rasa minder itu nggak akan berakhir.

Tahu kenapa? Karena lo hanya sibuk nunjuk ke orang lain. Sibuk menyalahkan keadaan serta sibuk menyalahkan orang lain tanpa pernah mau koreksi diri sendiri. Padahal, bisa banget kalau mau koreksi diri dengan bertanya, "Kira-kiranya berjuangnya udah cukup belum ya? Usahanya udah cukup belum ya?"

Rachel Chu pernah bilang, "I'm not leaving because I'm scared, or because I think I'm not enough. Because maybe for the first time in my life, I know I am."

Giniloh sayang-sayang, menjadi sadar diri tuh perlu, tapi bukan berarti setelah itu diam berpangku tangan dan meratapi nasib. Ya kalau memang elo mau sama dia, usaha dong. Kalau sekarang udah usaha, tapi hasilnya masih nggak kelihatan, ya usaha lagi lebih keras. Berdoa dan berbuat baik jangan lupa.

Mungkin memang ada orang yang sejak lahir sudah 'kaya' tujuh turunan nggak habis-habis. Tapi kan dunia nggak hanya satu sisi aja. Di luar sana, ada juga yang terlahir dari keluarga sederhana bahkan kurang berkecukupan. Tapi apakah mereka terus-terusan gitu? Nggak kok. Ada yang akhirnya justru melejit dan sukses. Kan semuanya balik lagi, kita mau hidup seperti apa, tergantung dari usaha yang dilakukan.

Gue percaya kalau nggak semua orang memandang status. Tapi gue nggak munafik dan menutup mata juga kalau banyak orang masih menilai sesuatu dengan harga dan atau uang. Masih banyak orang yang memandang materi.

Tapi....gue ingat ada kalimat bijak yang pernah bilang, "We were buying things we actually loved, not things to show off."

Buat gue, nggak ada yang nggak bisa dilakukan dengan hubungan cinta beda kasta. Lain halnya dengan cinta beda agama. Kalau itu mah mentok banget kebingungan cari jalan keluar. Nah kalau kita bicara soal cinta beda kasta, kalem aja, semua masih bisa diusahakan, asal..... dua-duanya saling cinta dan mau usaha.

Misal nih, elo suka tapi dianya enggak. Ya percuma, sampai di titik mana pun pencapaian lo, baginya akan tetap nggak sepadan. Atau sampai di mana saja usaha yang sudah dilakukan, bagi dia dan bagi diri lo sendiri pasti semuanya nggak akan pernah cukup. Kenapa gitu? Karena keduanya nggak berjalan menuju hal yang sama, karena salah satunya nggak merasa perlu dan butuh untuk mempertahankan serta memperjuangkan. Masih ingat kan ya kalau berjuang dan bertahan itu butuh kata 'saling?'

Mungkin yang lagi-lagi harus diingat adalah mindset yang perlu diubah. Jangan sampai mindset lo dari awal terus-terusan hanya berputar di kalimat, "Gue kurang, gue nggak cukup, gue tuh nggak ini itu, gue blablablabla."

Kalau isi kepala kalian hanya berputar di situ terus, mau sampai gajah bisa bertelur pun lo nggak akan bisa menerima diri sendiri beserta kekurangannya. Berubah pun nggak akan mungkin bisa, karena kerjaan lo hanya denial terus-terusan, berpura-pura mampu dan kuat, serta terus-terusan membohongi diri sendiri. Coba deh dipikir, mau sampai kapan kayak gitu?

Jodoh nggak pernah ada yang tahu kapan datangnya, siapa orangnya, di mana bertemu dan akhirnya berlabuh. Nggak bisa buat diprediksi dari awal, semuanya itu udah dituliskan Tuhan dari sebelum elo napas di bumi ini. 

Jadi, kalau memang elo merasa dia the one, usahain aja terus-terusan, yakinkan diri sendiri untuk berubah--tapi jangan berubah buat orang lain, sadar berubah karena memang lo pengin untuk memantaskan diri dia pantas dapat versi terbaik dari lo. Usaha sampai lelah, usaha sampai bosan, usaha terus sampai nanti Tuhan sendiri yang bilang dia atau bukan dia orangnya.

Tahu nggak, hal yang nggak bisa berubah di dunia ini hanya ada dua; kamu jadi Tuhan dan kamu makan kepala sendiri.

Jadi temans, minder mah wajar, sadar diri perlu, tapi usaha juga butuh dilakukan dan dijalani.

Kalau hanya sekadar minder, sadar diri, nyalahin orang tapi nggak berusaha apa-apa. Melainkan hanya marah, kesal, kecewa, serta diam meratapi nasib, ya nggak akan ada yang berubah dari hidup kalian.  

Please ingat, gaya hidup bisa diubah kalau memang elo sudah bisa mencukupi segala kebutuhan. Asal jangan ngutang hanya untuk terlihat keren doang, ya gapapa sih hutang selama mampu untuk melunasi. Dan jangan juga bohong demi ubah gaya hidup seolah-olah memiliki tapi tidak memiliki. Please ingat, kerjaan bisa naik kelas dan pangkat, gelar bisa di-up kalau dananya ada. Wajah rupawan bisa dimiliki kalau kamu sanggup keluarin biaya. Well, kita bicara pakai logika aja deh, nggak semua kulit wajah bisa bersih hanya dibilas dengan air, kan?

Memang, semua butuh cuan pada akhirnya. Tapi ingat satu hal lagi, rejeki udah diatur Tuhan, tinggal elonya aja mau berusaha untuk ambil rejeki itu atau nggak. Selama kita berbuat baik dan tidak menghambat rejeki orang, apalagi berbuat jahat dan menusuk orang, gue rasa semua hal akan bisa berjalan baik dan dimampukan oleh Tuhan. 

Ah ya, satu yang perlu diingat juga, merasa cukup adalah sebaik-sebaiknya rasa menerima yang membuatmu tenang dan bahagia.

"Tapi Kak Bel, kalo posisi Kak Bel jadi orang yang disuka sama seseorang tapi orang itu suka minder karena Kak Bel penulis, punya wawasan luas tentang beberapa hal, dsb, gimana?"

Well, selama gue napas masih butuh oksigen, selama gue masih butuh makan dan minum untuk bertahan hidup, dan selama gue masih manusia. Gue rasa, gue nggak ada bedanya sama orang lain.

Jujur, gue nggak bisa mengubah mindset siapa pun kalau dia sendiri nggak mau mengubah itu. Karena yang ada, kalau dipaksa untuk berubah, nanti sampai ibaratnya kami bersama pun, pikiran-pikiran merasa kurang itu terus yang akan jadi masalah. Karena dia berubah bukan karena inginnya, tapi sebab paksaan dari gue.

Jadi andai, gue memang sudah menerima dia apa adanya, semestinya sih itu udah cukup untuk membuat dia percaya diri bahwa dia sudah sangat gue hargai hadirnya. Tapi, kalau udah dipilih pun dia masih aja tetap insecure, ya itu udah bukan tanggung jawab gue lagi untuk membuat dia merasa cukup. Orangnya sendiri yang mau begitu, gue bisa apa coba?

Sederhananya aja, berarti bukan dia orang yang akan berjuang dengan gue dan mau memperjuangkan kami dengan tujuan yang sama. Bikin gampang aja kayak gitu, capek kalau harus mikir andai-andai kebanyakan mah, realistis juga kan sekarang perlu, toh? 

So, semoga yang saling mencintai lekas dijadikan satu, semoga yang sedang berusaha lekas tercapai, semoga yang sedang kelelahan lekas usai dan bangkit. 

Aku sayang kamu, kamu sayang dirimu, Tuhan juga sayang kamu. 

Salam sayang banyak-banyak untuk kalian,


Share:

Berjuang dan Bertahan Hidup Bersama Chocolate [K-Drama Review]



Tahun 2019 kemarin banyak banget hal yang membuat rasanya lelah tidak berkesudahan. Tapi bersyukurnya, saya menemukan salah satu drama yang bisa mengawali tahun 2020 ini dengan tambahan semangat.

Chocolate.

Drama yang sampai saat ini masih sanggup membuat saya ngilu kalau dengar soundtrack-nya. 

Lalu apakah ceritanya seluar biasa itu?

Hem, buat saya storyline-nya sendiri sebetulnya terbilang cukup lambat, namun sangat amat bisa dinikmati dengan linangan airmata. Kenapa? Ya karena drama ini nggak hanya memfokuskan diri pada tokoh dan karakter utamanya aja. Dengan kata lain, setiap karakter yang ada, meski hanya muncul di satu episode pun, semuanya punya cerita yang disinggung dan diangkat dengan menarik.

Fiuh.

Ya selaiknya setiap manusia yang datang dan pergi di hidup kita. Semuanya membawa cerita, semuanya membawa beban dan masalah masing-masing, yang nggak selalu kita tahu dan beberapa nggak pernah kita sangka mereka alami.




Meaningful, heartwarming, beautiful, heartbreaking, moodbreaker yet moodmaker. Duh kayaknya nggak hanya satu kata yang bisa menggambarkan drama ini.

Buat beberapa orang mungkin Chocolate disebut melodrama, tapi buat saya dia lebih pantas menyandang gelar healing drama. Sebab di drama ini ada banyak sekali pelajaran yang didapat tentang hidup dan mati, ketakutan untuk bertindak, trauma masa kecil, dendam, amarah, persaingan, penantian dan juga tentang rindu yang tidak mungkin bisa bertemu.

Semua hal yang begitu dekat dengan kita namun nggak mudah untuk diceritakan, mampu dirangkum apik oleh Chocolate. Dan rasanya wajar kalau di tiap episodenya ada satu dua hal yang bikin kita tersentuh bahkan menangis.

Drama yang diperankan oleh Yoo Kye Sang dan Ha Ji Won ini memang penuh dengan chemistry yang kuat antar keduanya. Belum lagi, karakter LK dan CY bisa begitu hidup diperankan oleh keduanya, karakter yang menyakitkan namun juga menyembuhkan di saat yang sama.

Lee Kang (Yoo Kye Sang), seorang dokter bedah saraf yang terpaksa menjadi dokter karena kehidupannya yang berubah seketika. Kebayang nggak sih, sejak kecil dia dibesarkan oleh ibunya di Wando—diceritakan sebagai desa nelayan—dan punya mimpi untuk jadi chef dan meneruskan rumah makan yang dikelola ibunya. Tapi tiba-tiba, dengan seenak jidat nenek dari mendiang ayahnya datang dan nyuruh mereka pindah ke Seoul. Bahkan ditambah dengan beban bahwa Lee Kang akan bersaing dengan Lee Joon—sepupunya—untuk menjadi penerus perusaahan.


Belum selesai kesedihannya karena harus pindah, Lee Kang harus berjuang dan bertahan hidup sendirian tanpa ibunya, yang meninggal karena mall yang runtuh. Apa tidak kurang bercanda hidup memberikan Lee Kang hadiah sedih yang bertubi-tubi?

Oh wait, nggak hanya itu, bahkan neneknya nggak bersedia untuk mencari dan menemukan jasad ibunya. Tahu kenapa? Karena sebetulnya sejak awal neneknya nggak setuju kalau ayah Lee Kang menikah dengan ibunya yang notabene adalah anak dari asisten rumah tangga mereka.

Hidup yang sekejam itu harus dijalani Lee Kang sendirian tanpa siapa-siapa di sisinya—ada sih satu sahabatnya yang kalau kalian tonton, kisahnya juga akan berakhir sama ngilunya dengan Lee Kang. Jujur, saya pribadi merasa Lee Kang teramat keren karena berhasil dan bersedia bertahan hidup sejauh dan seberat itu. Cobaan demi cobaan dia lewati bahkan saat dia harus dikirim sebagai tim medis di zona perang. Dan berarkhir dengan dia yang tidak lagi mampu melakukan operasi dan harus dipindahkan ke sanatorium.

Sementara Moon Cha Young (Ha Ji Won), ialah seorang koki professional yang ketika kecil dipaksa ibunya untuk jadi idol. Banyak larangan dan nggak bisa hidup sebagaimana anak kecil di masanya, Lalu out of nowhere kita digiring pada kenyataan dia ditinggal oleh ibunya yang gila materi di mall, lalu jengjeng dia juga tertimbun di mall yang runtuh sama kayak ibunya Lee Kang.




Moon Cha Young harus menjalani hidupnya sendiri tanpa orang tua, berjuang sendiri dalam beragam pertanyaan di kepalanya, mengalami trauma akibat reruntuhan sampai-sampai di setiap hari ulang tahunnya—hari di mana dia ditinggal—dia akan selalu sakit dan traumanya sering berulang. Di saat semua sudah bisa dia lalui dengan baik, tiba-tiba dengan rusuhnya adiknya datang dan menimbulkan banyak masalah yang harus dia selesaikan. Plus ditambah satu lagi luka kalau dia harus kehilangan kemampuannya untuk menghidu dan mencecap rasa makanan.

See? Terima kasih sekali drama ini begitu kejam pada pemeran utamanya :))) Ada banyak cobaan datang silih berganti dan mereka tetap harus bertahan karena memang belum waktunya untuk berpulang.




Chocolate memang tidak menyajikan wajah-wajah pemeran utama dan pendukung yang akan dipuja dan digilai. Bahkan sejak awal kita tahu bahwa cerita yang diangkat lumayan berbeda dari drama kebanyakan, jadi terkesan bahwa mereka sama sekali tidak mengejar rating boombastis. But yeah, all the crew and all the cast sanggup membuat kita mengenyampingkan semua itu dan hanyut dalam kisahnya semata.

Chocolate berhasil mengaduk emosi penontonnya, bahkan sepertinya masih cukup banyak yang rindu dan belum sepenuhnya move on dari drama yang sudah berakhir ini. Kalau ditanya soal sinematografi, ya udahlah ya, kita nggak hanya akan dimanjakan dengan setting Korea aja, tapi juga negara dan tempat-tempat lain yang sangat eye pleasing.

Satu scene menjelang episode akhir yang berhasil membuat saya menghela banyak sekali napas tuh sebenernya scene saat Lee Kang, mengingatkan kita bahwa bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini ada tuh udah lebih dari cukup. Daripada terus mempermasalahkan masalah yang datang, atau sibuk berharap ini itu dengan segudang obsesi tanpa henti.


Well, buat saya yang masih anak bawang sebagai penikmat K-Drama. Chocolate sanggup menyentuh hati saya dengan luar biasa. Selain banyak menguras airmata dan hela napas menyesakkan namun melegakan. Drama ini membawa banyak sekali pengalaman hidup bahwa kita sebagai manusia memang akhirnya hanya bisa berjuang dan terus bertahan.

Meski nggak semua hal akan jadi sama, meski banyak andai yang bisa diucap, hidup nyatanya nggak akan pernah sama dan nggak akan bisa berhenti barang sejenak walau kita mengemis meminta. Jadi, untuk siapa pun yang berada di titik terujung dalam hidupnya, mungkin kalian bisa coba nonton drama ini.

Akhir kata dari saya, terima kasih untuk semua yang pernah singgah dan membersamai. Juga terima kasih untuk diri sendiri, karena masih mau berjalan, berjuang, dan bertahan sampai dengan saat ini. 

Semoga di hari esok, kita masih percaya bahwa yang direlakan dan diikhlaskan akan kembali dalam wujud berkali lipat kebaikan yang tak terduga.



Untuk Chocolate, saya berani beri nilai: 9.8/10



Share:

Keinginan Menyerah



Kota yang sama yang membuatku tegak berdiri
Kota yang sama yang membuatku merasa sepi

Tahu kan ya penggalan lirik lagu di atas punya siapa?

Iya, itu dari lagu Jakarta-Jakarta milik Mas Kunto—yang semoganya bisa live mendengar beliyo di tahun ini—lagu yang nggak sengaja keputar di pagi ini.

Pagi di bulan November yang kembali berhasil dilalui setelah badai menerpa. Apalah, sok puitis banget hehe. Setiap dengar lagu ini, saya selalu merasa punya kekuatan untuk tetap bertahan hidup meski lagi-lagi harus menyeret langkah.

Tenang, saya nggak akan pernah bilang Jakarta lebih baik dari kota lain, atau Jakarta lebih buruk dari kota lain. Buat saya setiap kota punya masalahnya, individu di dalamnya juga punya beban dan perjuangannya sendiri-sendiri. Jadi ya, setiap kota akan selalu punya sisi terbaik dan terburuknya.

Namun mungkin buat saya pribadi, karena ya saya jauh lebih lama tinggal di Jakarta, jadilah kota ini punya sisi magis yang luar biasa sering bikin saya pengen nangis. Mulai dari ramainya yang nggak pernah rehat, perjuangannya yang udah kayak kejar-kejaran sama entah apa, belum lagi sederet keresahan lain yang timbul karena gaya hidup yang luar biasa bikin sesak.

Pernah nggak sih kalian ngerasa capek yang ya udah capek aja, gatau penyebabnya apa, tapi tahu bahwa lelah udah merundung pundak dengan terlalu?

Kalau pernah, saya penasaran rasanya kayak apa? Mirip nggak kayak yang sering saya rasakan? Atau mungkin rasanya tuh kayak orang mau tenggelam, nggak?

Tadi pagi, sewaktu lagi siap-siap ke kantor, saya keinget satu waktu di mana saya udah hampir tenggelam. Ini maksudnya tenggelam yang beneran tenggelam di kolam renang lho ya hehe.

Rasanya gimana? Nggak enak, panik, takut.

Karena waktu itu, saya udah usaha minta tolong dan melambai-lambai, tapi nggak ada yang lihat. Padahal life guardnya ada, tapi tetap aja di saat itu nggak ada satu orang pun yang sadar kalau saya lagi butuh bantuan. Terus kalau sekarang diingat-ingat lagi, aneh juga kenapa saat itu saya bisa hampir tenggelam, padahal saya bisa berenang, ya walau nggak jago-jago amat, setidaknya bukan gaya batu yang pasrah tenggelam gitu ajalah pokoknya.

Terus gimana bisa selamat? Saya lupa jelasnya gimana, tapi saya ingat ada tangan yang bantu saya sedikit mengapung lalu dituntun buat ke pinggir. Saya nggak inget banyak kecuali kata-kata dia yang bilang, “Kram ya? Gapapa, mungkin tadi kurang pemanasan aja.” 

Lalu ya udah dia pergi tanpa sempat saya ucapin makasih. Karena sumpah saat itu saya kaget dan nggak bisa mikir sama sekali. Kosong yang sebenar-benarnya kosong. Dan terakhir kali sebelum diselamatin, saya sempet mikir udah waktunya kali ya. Udah cukup juga berjuangnya minta bantuan, tapi nggak ada yang ngeliat. Mungkin saya memang harus pergi sendirian. Pasrah aja deh, karena kalau memang udah saatnya berpulang, ya saya nggak bisa apa-apa.

Dan pagi ini saya teringat kalau saya pernah ada di titik perasaan seperti itu. Bahkan mungkin, saya masih sering mengulang perasaan itu ketika semua hal dirasa sia-sia. Ketika menemui kata gagal, ketika merasa dunia nggak pernah mengerti dan mau untuk berpihak.

Ajaib ya, dunia tuh senang banget ngasih ingat kita dengan kejadian yang udah lampau lewat macem-macem cara, hanya untuk memastikan bahwa kita pernah mengalami dan kita sanggup melewati.

Jadi ceritanya, kemarin sempat saya ingin pasrah, sepasrahnya hidup untuk akhirnya mengakhiri semuanya yang dirasa ya udahlah sia-sia. Dan ya, kata percuma itu berputar terus-terusan di kepala. Bahkan belum cukup hanya di kepala, akhirnya semua kata percuma itu kembali dilontarkan di hadapan saya. Merasa dipojokkan, merasa disalahkan, merasa nggak bisa pernah dimengerti di saat semua yang saya lakukan selama ini adalah upaya untuk mengerti.

Ya manusia mah memang gitu, selalu akan berakhir dengan merasa lebih super dari yang lain. Mengaku lebih cinta daripada yang lain, mengaku lebih suka dari yang lain, mengaku lebih berjuang dari yang lain, dan sederet pengakuan lain yang akan mengintimidasi lengkap dengan sederet bukti pembenaran.

Gapapa sih, wajar. Lalu kemudian, pagi ini saya diingatkan lagi dengan kejadian waktu hampir tenggelam dulu, dan akhirnya saya berpikir ulang dengan kejadian itu.

Saya jadi merasa, mungkin memang kita harus selalu punya waktu untuk sendiri, terlepas dari benar tidaknya kita sendirian. Mungkin memang kita selalu akan berjuang sendirian, terlepas dari ada atau tidaknya orang di sebelah. Mungkin, memang lagi-lagi kita yang harus lebih punya kekuatan bangkit, terlepas dari ada tidaknya tekanan dan semangat dari sekitar.

Mungkin, mungkin memang kita akan selalu merasa sendirian meski sebenarnya kita nggak benar-benar sendiri. Karena dari sejak lahir hingga nanti selesai pun, kita tetap akan mempertanggungjawabkannya sendirian.

Kalau boleh mengutip salah satu dialog di Kdrama Extraordinary You; Hidup adalah penderitaan.

Mau nggak mau saya setuju dengan kalimat itu, karena ya memang hidup isinya berjuang, berjuang, berjuang, dan terakhirnya bertahan. Mungkin itu juga yang sedang Tuhan ingetin ke saya di pagi hari tadi.

Bisa jadi saya sudah lelah, bisa jadi saya sedang merasa ingin menyerah, dan merasa lebih baik tenggelam saja. Tapi di akhir dari semua rasa itu saya harus ingat lagi kalau sekuat apa pun keinginan saya untuk menjadi selesai, kalau Tuhan masih bilang belum, ya tandanya saya harus cari cara untuk tetap bertahan. Entah dengan cara seperti apa, bahkan mau sampai ubah kaki jadi kepala bahkan  kepala jadi kaki sekalipun, intinya Tuhan bilang masih harus berjuang lagi.
Dan lagi-lagi, pertanyaan yang akan selalu kembali menghampiri di saat saya sudah mau menyerah masih akan tetap sama.


Kalau bukan kamu, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Nggak pernah ada orang yang benar-benar mengerti diri kita dengan baik, selain diri sendiri. Nggak pernah ada orang yang benar-benar ingin tetap ada tanpa rasa lelah, selain diri sendiri. Nggak akan ada orang yang sepenuhnya tulus mengulurkan tangan, kalau kita nggak teriak minta tolong dengan sekuat tenaga. Dan ya, nggak akan pernah ada yang mau bantu kita, kalau diri sendiri nggak mau untuk dibantu dan bangkit lagi.

Selamat hari-hari menjelang November berakhir temans!

Mungkin hari ini jauh lebih berat dari kemarin, tapi percaya aja, kita masih bisa melalui segalanya sendiri meski pulang nggak pernah mudah. Karena mereka—yang selalu ada di sebelah,  bisa jadi masih menunggu kita untuk kembali. Walau kelihatannya nggak ada, walau seringnya dianggap nggak ada.





Share:

Melabeli Diri dengan Status

Memulai Oktober dengan pertanyaan,

 Asli ini tuh udah hampir jelang akhir tahun? Setahun ini ngapain aja mohon maaf.”


Saya sadar ada begitu banyak wacana, banyak harapan, banyak banget hal yang kayaknya sebatas di kepala tapi eksekusinya memble. Ya gapapa sih sebenarnya, toh manusia memang sukanya begitu. Tapi balik lagi, ketika melihat sekitar kok rasanya sayang banget ya udah menyia-nyiakan banyak waktu dengan hal yang entah apa.

Mau mengutuk diri sendiri rasanya nggak tega. Karena pasti saya punya segudang alasan yang membuat saya mau nggak mau akhirnya memaafkan diri sendiri. Sebel? Nggak juga. Ya udah aja gitu rasanya. 
 


Namun sesungguhnya menjelang akhir tahun gini, saya akan selalu diliputi dengan perasaan insekyur yang kelewat nggak penting. At least buat saya sebenarnya sih nggak penting, tapi mungkin buat orang tua, saudara, atau mungkin mereka yang selintas kenal—tetangga, teman kantor, teman main—menjadi sebuah hal yang cukup penting. 

Tentang status. 

Nggak bisa dipungkiri, setiap pergantian tahun pasti umur juga akan berganti. Dan ya, pertanyaan pun mau tidak mau akan bergeser menjadi lebih banyak kata, “Kapan?” 

Dan pertanyaan yang paling sering diajukan tentu saja, “Kapan menikah?” 

Sesuatu yang menurut saya sangat pribadi dan tidak sepantasnya ditanyakan oleh mereka-mereka yang selintas kenal. Bahkan kadang, saya juga merasa orang tua tidak selaiknya menanyakan hal tersebut kepada anak-anaknya, terlebih memaksakan keinginan mereka untuk kita menyegerakan hal sakral tersebut. 

Well, saya paham betul bahwa menikah berarti meneruskan garis keturunan. Salah satu yang mungkin dicemaskan orang tua ketika anaknya tak kunjung menikah. Katanya sih, takut bila nanti mereka tiada, anaknya tidak ada yang menjaga dan mengurus lagi. 

Padahal menurut saya, tanggung jawab atas diri sendiri adalah perlu. Sehingga tidak sampai memberatkan bahkan merepotkan orang lain. Tapi sudahlah, mari kesampingkan salah satu alasan tersebut, karena saya sebetulnya sedang ingin merenung perihal apa pentingnya status untuk diri sendiri. Bukan berdasarkan anggapan dan penilaian orang lain akan kebutuhan kita. 

Selama dua dekade saya hidup, seingat saya deretan mantan saya itu tidak banyak. Masih bisa dihitung dengan satu tangan bahkan. Iya, semoga saya tidak salah. Tapi kalau urusan dekat dengan siapa hingga dikira jalin asmara, itu sih beda lagi ya. Nah, selama beberapa kali jalin kisah bersama itu juga, saya sebetulnya tidak menemukan perbedaan berarti dengan saya ketika sedang sendiri. 


Saya masih senang jalan ke sana sini sendiri, sehingga tidak perlu bergantung apalagi menaruh harap dan berujung kecewa. Saya masih tidak bisa memperhatikan atau diperhatikan secara berlebihan dengan pesan-pesan yang sejatinya template belaka. Semisal pertanyaan, udah makan? Udah salat? 

Dan sederet pertanyaan yang seharusnya nggak perlu ditanyakan pun, saya pasti sudah mengerjakannya. Lha wong itu semua kebutuhan dan kewajiban, kan? 

Pernah saya berpikir mungkin komunikasi saya yang salah. Saya yang seharusnya membiasakan diri untuk menerima perhatian seperti itu. Tapi lagi-lagi, saya bertanya ke diri sendiri, apakah seseorang katakanlah pacar memang bertugas sebagai alarm pengingat? Tidakkah semestinya, ada hal lain yang lebih perlu dimiliki oleh mereka yang memutuskan bersama? 

Bicara tentang pasangan, buat saya pribadi, seseorang itu harus bisa diajak komunikasi apa saja. Karena toh, tujuan akhirnya sendiri untuk menua bersama. Lalu bagaimana mungkin sanggup terus bersama, bila komunikasi saja tak bisa dibangun baik? 

Ya nggak melulu harus yang bisa diajak diskusi hal berat, namun juga bisa diajak bicara tentang sesuatu hal yang nggak penting bagi orang lain. Tapi sejatinya, bisa begitu melegakan ketika dibicarakan dengan pasangan. 

Dibanding dengan pertanyaan kontrol makan, salat, dsb, saya lebih suka ketika ada seseorang yang bertanya hal sepele seperti, macet nggak tadi di jalan? Hari ini ada kejadian lucu apa? Atau juga, ia yang menceritakan tentang kegiatannya dalam satu hari tersebut. Susah ya? Mungkin bisa jadi itu juga penyebab track record saya dalam menjalin hubungan tidak banyak. 

Balik lagi pada hal yang mengganggu saya belakangan ini; Sebenarnya seberapa pentingkah status pacaran hingga menikah bagi seseorang? 

Sampai detik ini jujur saya masih belum dapatkan jawaban pastinya. Untuk jawaban-jawaban berkaitan dengan agama kiranya bolehlah disingkirkan dulu. Karena logika kadang nggak melulu bisa dicekoki dengan sesuatu yang agamis. Tapi bukan berarti dengan begitu saya dibilang tidak percaya Tuhan dan ajaran dalam kitabNya. 

Ya pokoknya buat saya sekarang, semua masih abu-abu, dan saya merasa belum laik bersama dengan seseorang karena belum bisa membahagiakan diri sendiri. Saya tidak pernah ingin sampai menaruh beban pada seseorang untuk bisa membahagiakan saya, di saat saya sendiri belum tahu definisi bahagia itu apa. 

Being single is a high. 

Pernah saya bilang gitu, pernah juga saya baca mengenai hal tersebut. Dan nyatanya hal tersebut memang benar. Nggak ada yang salah ketika kita memilih untuk sendiri. Karena nyatanya banyak banget hal yang bisa kita lakukan untuk mengenal, memahami dan menambah kualitas diri. 

Pun nggak juga ada yang salah ketika seseorang memilih untuk berpasangan dan nggak sedikit kadang yang terkesan tergesa-gesa memutuskan bersama meski baru kenal satu dua hari. Toh saya juga sadar, bahwa manusia nggak bisa hidup sendiri, dan mungkin beberapa hal lebih mudah dijalani ketika dua kepala punya tujuan serupa.

Tapi ya, urusan jodoh kan sama misterinya dengan kematian, mungkin saja saat ini saya terus merasa sangsi atau bahkan terkesan tidak peduli dan anti pada status, serta pada hubungan berpasangan. Tapi siapa kira, bisa jadi setelah ini saya justru sudah sepenuhnya yakin untuk berlabuh, karena ternyata sudah bertemu dengan dia yang dirasa ‘tepat’. 

Nggak hanya tepat menurut Tuhan, tapi dengan legowonya juga tepat dan bisa diterima oleh saya. Duh postingan ini kayaknya jadi banyak banget dan ngalor-ngidul. Tapi biarlah, saya juga sudah sepertinya sudah rindu untuk mengunggah tulisan-tulisan yang nggak harus selalu berkaitan dengan buku.

Dan kayaknya sih, saya sampai pada satu titik kesimpulan. Bahwa mungkin, saya yang belum siap menjalin hubungan. Bahwa mungkin, standar saya yang terlalu tinggi atas seseorang. Bahwa mungkin, saya yang memang belum nyaman berlabel status ini itu. Bahwa ternyata, urgensi saya pada pasangan bahkan pernikahan belum tiba di titik yang menjadi konsentrasi saat ini.

Eh bentar deh saya jadi penasaran, apa jangan-jangan sebenarnya status bagi beberapa orang juga hanya sebatas ada untuk mengurangi pertanyaan kapan, ya?




Share: