Al Fine. [ track 16C ]

Writer's POV

Perempuan yang sore ini mengenakan rok semata kaki berwarna coklat, juga kemeja katun dengan warna senada itu masih duduk menatap layar ponselnya, ketika sosok lelaki yang memintanya menunggu hadir di hadapannya. "Yuk!"

Rasi baru saja berdiri dan hendak mengulas senyum, ketika ia melihat seorang perempuan berdiri tepat di belakang Utara. Mengetahui arah pandang Rasi, Utara lekas menarik tangannya, "Eh ya kenalin dulu ini Kemarau, Ras." Lelaki yang miliki lesung di pipinya itu tersenyum, "Nah lo Kem, ini Rasi."

"Summer, bukan Kemarau, ini orang emang suka aneh-aneh aja."

"Rasi," jawab Rasi singkat seraya menyambut jabatan tangan dari perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Summer itu.

Utara masih mengulas senyum dengan sebelah tangan yang kini berada di belakang pundak Rasi, "Kita anter dia balik dulu, ya, Ras. Kamu parkir mobilnya di basement, 'kan?"

Hanya anggukan yang kemudian Rasi berikan sebagai jawaban. Meski di benaknya muncul beragam pertanyaan atas sikap Utara, dan juga hubungan kedua anak manusia yang kini berjalan bersisian di hadapannya.

Ketiganya memasuki lift tanpa percakapan yang berarti, bahkan hingga tiba di parkiran pun hanya ada hening yang menyapa. Walau sempat ada pertanyaan dari bibir Utara yang menanyakan karcis parkir pada Rasi, yang juga menunjukkan lokasi mobilnya berada.

Melihat Summer yang hendak membuka pintu depan, Utara lekas menahannya. "Siapa yang suruh lo duduk depan, Kem? Belakang dih!"

Summer mencebikkan bibirnya tanda protes, "Biasanya juga di depan, kenapa jadi di belakang?"

Enggan mendengar perseteruan, Rasi memilih menengahi mereka. "Aku aja yang di belakang."

Sadar ada yang berbeda dari nada bicara Rasi, Utara hanya sanggup mengernyitkan keningnya. Tanpa mengindahkan Summer yang sudah menjulurkan lidah kepada Utara, dan bergegas naik ke dalam mobil.

Mobil yang Utara kendarai baru saja keluar dari basement ketika Summer kemudian menghadap ke belakang, menatap Rasi yang sejak tadi hanya diam tanpa suara. "Eh tadi namanya Rasi, ya?" Rasi menganggukkan kepala, "Jangan mau disuruh-suruh sama Utara, Ras. Masa perempuan yang disuruh nganterin mobilnya sih."

"Gapapa kok," Rasi menjawab ucapannya dengan senyuman.

Summer menggeleng, lalu mencubit pelan lengan kiri Utara. "Lo juga, Ut. Emang nggak kasihan temen lo harus jauh-jauh anterin mobil ke sini?"

Utara lekas menatap Rasi dari rear-view mirror sambil menyunggingkan smirk andalannya, "Dih siapa yang bilang dia temen gue?"

"Terus apa?"

Bibir Utara baru saja hendak menjawab tanya Summer, namun Rasi mendahuluinya dengan pernyataan yang membuat Utara lagi-lagi menatap perempuan itu dengan sebelah alis yang terangkat. "Saya temen adiknya Utara."

"Oh temennya Utari? Berarti dia senior lo dong, Ras?" Summer lagi-lagi bertanya sambil menunjuk Utara, yang kemudian kembali dijawab Rasi dengan anggukan. "Jangan semena-mena dong lo sama junior, Ut."

"Apaan deh? Senior-junior nggak ada di kampus gue."

"Iya deh bapak ketua bem yang menjaga keadilan seluruh mahasiswa. Percaya gue sama lo!"

Bila perasaan manusia bisa digambarkan sebagai air di lautan, mungkin sudah bisa ditebak pula bila saat ini air laut itu tengah bergejolak hebat di dalam dada Rasi. Hari ini, rentetan kejutan yang diterimanya membuat ia terus mempertanyakan kedekatan Utara dengan perempuan bernama Summer, yang ternyata miliki nama panggilan kesayangan dari lelakinya itu.

Bahkan ucapan Summer barusan justru membuat perasaannya tak jua membaik. Sebab sepertinya, sudah banyak yang perempuan itu ketahui tentang kekasihnya. Mulai dari jabatan Utara sewaktu di kampus dulu, bahkan sampai dengan nama Utari pun terlontar dari bibirnya.

Semesta mungkin sedang ingin menguji debar jantung, hingga seluruh sel-sel keterkejutan di tubuh Rasi ketika kekasihnya lagi-lagi terlibat percakapan yang akrab dengan Summer. Yang mau tak mau juga membuat Rasi harus menajamkan telinga, tapi mati-matian menahan jengah karena tak bisa ikut ke dalam percakapan itu.

"Eh Ut, lo udah coba nasi goreng kambing yang di Roxy itu belum sih? Katanya ngalahin nasgorkambonsir loh."

Utara menolehkan kepalanya pada Summer, "Masa?"

"Iyaaaa, temen-temen gue bilang gitu. Kapan-kapan nyobain yuk, udah lama deh lo nggak ngajak gue kulineran lagi."

Kali ini Rasi terang-terangan menatap Utara, setelah menggeser duduknya agar sejajar dengan bangku Summer. Yang ditatap sepertinya tidak tahu, sebab ia kini justru terlihat tertarik menanggapi Summer. "Lo bilang katanya mau diet."

"Yaelah diet itu bukan berarti nggak makan, porsinya aja dikurangin, terus olahraganya makin dikencengin."

"Bisa aja lo ngelesnya!"

"Kayak lo nggak jago ngeles aja. Gue 'kan belajarnya dari lo, Ut."

Utara tertawa, namun manik matanya ia fokuskan menatap Rasi yang kini sibuk memainkan jemarinya di atas ponsel. Tanpa sedikit pun terlihat tertarik untuk berada di antara obrolannya dengan Summer.

Sadar dengan sikap Rasi yang seolah tak nyaman, Utara mencari topik yang sekiranya bisa memancing kekasihnya itu bersuara. "Ini lama-lama beneran tua di jalan deh gue rasa. Macetnya nggak ada obat banget."

Summer terkekeh, sementara Utara melihat Rasi sudah mengangkat wajahnya dan ikut menatap jalanan yang padat merayap. "Makanya, Ut, lo harus bersyukur tiap hari gue temenin pulang, jadi lumayan lo nggak bosen ngadepin macet."

Tepat usai ucapan itu disuarakan, Utara memejamkan mata menyadari kesalahan obrolannya. Rasi yang tadi hanya menatap jalanan, kini kembali mengalihkan pandangannya pada Summer dan Utara bergantian. 

Tepat ketika pandangannya beralih menatap rear-view mirror, detik itu juga Rasi sadar bila sejak tadi Utara memperhatikan pandangannya. Tak perlu waktu lama untuk memutus tatapan di antara keduanya, suara notifikasi di ponsel Rasi membuatnya lekas menunduk, dan terbebas dari tatap Utara yang menyelidik. 


Seulas senyum terukir di bibir Rasi yang tengah menahan tawanya, melihat foto yang dikirimkan oleh Javaskara.


Bertepatan dengan Rasi yang menekan tombol send untuk pesan yang ia ketikkan, ponselnya berbunyi menampilkan panggilan masuk dari Javaskara, yang lekas ia tolak sebab tak ingin percakapan teleponnya menjadi fokus Utara dan juga Summer. Pun sebetulnya, kondisi Rasi saat ini tengah membuatnya malas untuk berbicara.

Enggan menerima panggilannya diabaikan, Javaskara kembali menelepon dan membuat Rasi lekas menolaknya lagi. Lalu dengan cepat mengetikkan pesan untuk Javaskara.


Sepertinya memang seorang Javaskara diciptakan untuk melanggar semua aturan yang ada. Buktinya saja kini ponsel Rasi kembali bersuara, sebab panggilannya yang lagi-lagi datang, meski sudah berulang kali ditolak.

Summer yang sejak tadi menyadari dering ponsel Rasi pun kini menolehkan kepalanya, "Angkat aja, Ras, siapa tahu penting."

Rasi menggeleng, seraya menatap Utara yang sejak tadi masih tak lepas memandanginya dari rear-view mirror. "Nggak kok, ini nggak penting-penting amat," balas Rasi sembari mengubah gawainya menjadi mode senyap.

Utara memacu kendaraannya sedikit lebih cepat, untuk urai semua rasa tak nyaman yang pelan-pelan menggerogoti dirinya. Mulai dari diamnya Rasi, berisiknya Summer yang bisa jadi membuat Rasi salah paham, sampai dengan Rasi yang sejak tadi terlihat amat fokus menatap ponselnya diikuti dengan ulasan senyum dan tawa yang tertahan.

Mobil yang diisi oleh ketiganya kini tiba di salah satu bangunan megah yang menjulang tinggi, membuat Rasi menolehkan kepalanya keluar, sementara Summer melepas seatbelt-nya seraya tersenyum cerah pada Utara. 

"Thanks ya, Utara ganteng. Hari ini gausah salim deh ya, malu anjir sama temen lo." Rasi berpura menulikan telinganya, "Rasi, gue duluan ya! Nice to know you." Summer mengakhiri salam perpisahannya dengan lambaian tangan pada Rasi yang juga tengah tersenyum. 

Usai Summer menghilang dari pandangan, Utara menolehkan kepalanya ke belakang, "Ini aku jadi supir aja nih? Kamu nggak pindah ke depan, sayang?"

Rasi melirik Utara sekilas sebelum turun untuk mengisi kosong di bangku depan. Belum sempat mobil dilajukan, ponsel Rasi kembali menyala, dengan nama yang tak asing sudah tertangkap jelas di mata Utara

"Angkat aja, Ras. Siapa tahu penting."

Mau tak mau Rasi pun mengangkat panggilan tersebut, "Halo."

"Bener-bener ya lo! Gue dateng, lo nggak ada. Gue teleponin di-reject mulu."

"Berisik soalnya."

"Dih ngeselin. Ini gimana nih gulali sama es krimnya? Udah ribet-ribet nyari nih gue."

Rasi menghela napasnya, "Nggak ada yang minta, Jav."

"Ya emang, tapi ini tuh ucapan terima kasih gue karena kemarin lo dengerin gue curhat elah. Masa ini gue bawa balik lagi sih? Sayang amat."

"Ya kalau nggak mau makan sendiri, bagiin aja sama yang di kantor, Jav."

"'Kan gue belinya buat lo."

Rasi memutar kedua bola matanya, "Please deh, nggak usah dibikin ribet. Lo juga kebiasaan banget lagian suka tiba-tiba gitu."

Suara tawa Javaskara terdengar begitu renyah di ujung panggilan, membuat Utara juga menoleh dengan sebelah alis yang terangkat. "Biar seru. Biar hidup lo nggak kayak manual book, Ras."

"Udah ah bawel, gue matiin, bye," tutup Rasi begitu saja dengan panggilan di antara keduanya.

Sesungguhnya Rasi masih enggan untuk berbicara, sebab ia masih terjebak pada pikirannya sendiri akan Utara dan Summer tadi. Hingga ia memilih untuk menanggapi Javaskara seadanya, lalu kembali menatap jalanan tanpa sedikit pun menoleh pada Utara, yang sejak tadi masih menunggunya bersuara.

Utara berdeham, "Siapa tuh, Ras?"

Rasi melirik Utara, lalu menjawab singkat. "Temen."

"Ohh, ya iya sih ya, temenmu 'kan banyak. Lupa aku, Ras." Ada nada sindiran yang diisyaratkan oleh Utara di antara ucapannya. Rasi mengetahui itu, namun ia memilih bungkam agar hawa canggung tak semakin terasa di antara mereka.

Untuk kali ini, keduanya sama-sama dibuat kesal dengan sikap masing-masing. Rasi dengan rasa kesalnya pada Utara yang terlihat begitu dekat dan akrab pada Summer, sedang Utara pada Rasi dengan Java yang sering kali namanya hadir di antara mereka.

Dua anak manusia yang tengah memangku ego masing-masing itu masih tetap bertahan dalam diam, hingga Utara tiba dan menghentikan mobilnya tepat di lobby Terracota. "Aku nggak mampir deh, ya."

Seberkas keterkejutan berkilat di mata Rasi, namun dengan cepat perempuan itu enyahkan agar tak tampak di mata Utara. Lekas Rasi mencangklong tasnya di pundak, lalu membuka pintu mobil. "Makasih ya, Dit."

Hanya satu itu yang Rasi sampaikan sebelum ia benar-benar turun dan beranjak dari hadapan Utara, tanpa sedikit pun menoleh. Seperti kebiasaan yang biasa dilakukannya ketika Utara hanya berkesempatan mengantarkannya di lobby.

Kaget dengan respon yang diberikan Rasi membuat Utara hanya membuang napasnya kesal. Lalu dengan cepat memacu kendaraannya berlalu, dan kembali membelah jalanan yang sudah digantungi awan-awan hitam pekat. Sepekat perasaannya yang kini dipenuhi amarah dan juga rasa kesal.

***

Rasi Alfa Karina tak pernah biarkan tangisnya pecah di depan siapa pun. Selain tak ingin bila harus tunjukkan sisi lemahnya, ia juga enggan untuk jelaskan alasan di balik tangisnya yang kadang hadir hanya sebab kesal yang merajai kepalanya. Sama seperti hari ini.

Tepat ketika kakinya menginjakkan kaki di lantai 19 sebulir airmata itu mengalir di pipinya. Rasa kesal yang ditahannya sejak di kantor Utara, akhirnya tumpah melalui airmata yang erat-erat ia sembunyikan. Bahunya bergetar menandakan isakan yang akan segera hadir.

Rasi mempercepat langkah menuju unit tempat tinggalnya, namun kakinya terhenti tepat ketika tangannya menggenggam kenop pintu. Kilas balik sikap dan ucapan Utara yang begitu dingin padanya di lobby tadi, membuatnya setengah mati memeluk kesal sendirian.

Ia tak pernah menyangka Utara akan membiarkannya pergi begitu saja, tanpa penjelasan apa-apa. Rasi bahkan tak pernah menyangka akan kembali saksikan kedekatan Utara dengan orang lain, seperti dulu ia sering lihat kedekatan itu usai jarak tercipta di antara mereka.

Rasi tertunduk lemas, ia lelah dengan semua hal yang hari ini seharusnya diisi oleh tawa dan rasa senang. Satu tarikan napas Rasi ambil dari mulut, sebelum ia keluarkan kunci pintu. Rasi mendorong pintu yang kini sudah terbuka untuk masuk, dan membenamkan diri dengan derai tangis juga suara hujan yang sepertinya mulai membasahi bumi.

Belum sempat Rasi menutup pintu, satu dorongan kuat menahan tangannya, membuat pintu yang semula sudah akan tertutup kembali terbuka lebar. Utara berdiri di sana, tatapannya lekat menatap Rasi yang sejak tadi menangis tertahan. Tanpa basa-basi bahkan belum sempat Utara mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu sudah lebih dulu menghambur ke dalam pelukan Utara.

Kedua tangan Utara yang semula masih berada di samping tubuhnya, kini sudah mendekap tubuh Rasi, "Loh kamu kenapa?" tanyanya sembari memaksa untuk mengangkat wajah Rasi, namun Rasi hanya menggeleng dan kembali membenamkan wajahnya pada dada Utara.

Cukup lama Utara membiarkan mereka berada di posisi tersebut, tanpa menutup pintu apartemen, hingga ia menyadari kemejanya kini sudah mulai terasa basah. Utara menarik napasnya, "Sssttt, aku tutup pintunya dulu, Ras. Nggak enak nanti ada yang denger, dikiranya aku nyakitin kamu."

Rasi masih bergeming, membuat Utara akhirnya melangkah masuk masih dengan Rasi yang berada di pelukannya. Sebelah tangannya kembali mengelus rambut Rasi, setelah ia berhasil menutup pintu dengan susah payah.

Utara menatap bahu Rasi yang bergetar di pelukannya. Berulang-ulang ia menggelengkan kepala melihat sikap kekasihnya. Rasi dengan isi kepalanya yang terus tersimpan rapi, sudah selaiknya kotak Pandora yang tak seorang pun bisa paham, bila tak benar-benar bersedia mengenalinya. Satu-satunya hal yang sejak dulu bahkan hingga nanti masih akan terus Utara usahakan.

Tadinya Utara memang berniat untuk kembali ke rumah, namun belum sempat ia menjauh dari apartemen, hatinya sudah lebih dulu memilih untuk kembali karena tak tenang meninggalkan Rasi dengan sikap yang sedingin itu. 

Sejujurnya sejak memilih kembali tadi, Utara berulang kali meragu bahkan merutuki diri keputusannya yang dirasa salah. Namun kini, setelah melihat Rasi yang tengah menangis di pelukannya, membuat Utara percaya bahwa pilihan hatinya tak pernah salah. Ia justru bersyukur sudah memilih kembali, sehingga bisa menemani Rasi dengan semua perasaan dan pikirannya yang saat ini juga pasti sama kacaunya dengan Utara.

Lama Utara membiarkan Rasi menangis sambil terus ia tenangkan dengan usapan di punggungnya. Hingga kemudian puan itu menarik diri dan menyeka airmatanya, lalu menatap lurus pada kedua manik mata Utara. "Udah puas nangisnya, Ras? Atau mau nangis lagi? Hm."

Rasi menggelengkan kepala, sementara Utara sedikit mengulas senyum, lalu mengacak rambut kekasihnya itu sebab gemas. Utara melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil gelas dan menuangkan air mineral ke dalamnya. "Nih, minum dulu. Airnya udah aku baca-bacain, biar habis minum, kamu bisa cerita."

Tanpa jawaban, Rasi lekas meminum air mineral itu dengan sekali teguk. Disekanya air yang sempat meleleh di ujung bibirnya, lalu menatap lekat pada Utara yang kembali mengajukan tanya padanya. "Kamu tadi tuh nangis kayak gitu kenapa, Ras?"

"Kesel!"

Utara tertawa mendengar ucapan Rasi, "Sama siapa? Aku? Kemarau? Atau karena kamu duduk di belakang? Kamu kesel kenapa, sayang?"

Rasi tetap diam dengan kedua tangan yang kini memegang ujung gelas dan memainkannya. Utara mengambil gelas itu, lalu mengenggam jemari Rasi untuk meminta fokus sang puan hanya pada dirinya. "Kamu kesel karena harus repot-repot ke kantor aku? Iya? Siapa yang nyuruh kamu ke kantor aku? Fajar, ya? Padahal aku tadi tuh udah bilang, nanti pulangnya aku aja yang ambil, eh ma—"

"Kamu!" Rasi melepaskan jemari Utara lalu memalingkan wajah dari lelaki itu.

"Aku? Kenapa aku?"

"Nggak nyadar? Ngaca sana, Dit!"

"Ganteng sih, Ras, kalau aku ngaca," canda Utara yang kembali memancing kekesalan Rasi.

Malas menanggapi Utara yang tengah menahan tawa membuat Rasi lekas berdiri, namun lebih dulu ditahan Utara yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Kamu kalau misalnya kesel, bilang keselnya kenapa. Jangan suruh aku nebak-nebak alasannya apa. Ya walaupun mungkin aku tahu, tapi aku penginnya kamu yang ngomong, Ras. Jelasin kenapanya, belajar buat ngomong, belajar buat terbuka sama aku."

Rasi masih menunduk dan enggan menatap Utara, membuat sang tuan yang sejak tadi berusaha mengurai kesal miliknya itu akhirnya memegang dagu Rasi lembut, dan membuat perempuannya itu menatap dwinetranya. "Kenapa sih? Kamu kesel karena aku tuh kenapa? Beneran karena aku apa karena Kemarau?"

Kali ini Rasi berdecak kesal usai dengar nama panggilan yang Utara sebutkan untuk teman kantor kekasihnya itu. "Terus aja, terusin manggilnya pake Kemarau Kemarau. Nama dia beneran Kemarau atau Summer sih?" tanya Rasi dengan raut kesalnya, sembari melepas paksa genggaman Utara yang sontak disambut oleh lelaki itu dengan gelak tawa yang cukup kencang.

"Jiah ini tuh maksudnya kamu cemburu?"

"Apaan sih?"

Utara mengunci Rasi dengan mendekatkan dirinya dan meletakkan tangannya pada meja di belakang Rasi. "Cemburu, 'kan?"

"Bukannya aku emang harus cemburu, ya? Apalagi aku baru tahu kalau ternyata selama ini, pacar aku nih malah nganterin perempuan lain mulu setiap pulang kerja."

Ada tekanan yang Rasi ucapkan di tiap kata yang dilontarkan, membuat Utara lagi-lagi harus menatap gemas, dan juga semakin tertarik untuk menggoda Rasi dengan gurauannya. "Apa, Ras? Coba ulangin?"

"Apa? Kamu nganterin dia mulu, 'kan?"

"Bukan, yang sebelum itu."

"Apaan? Aku emang harusnya cemburu?"

Utara menggeleng dan menegakkan tubuhnya, kedua tangannya kini membungkus pipi Rasi, "Bukan sayang, bukan yang itu. Yang setelah itu. Tadi kamu nyebut aku siapanya kamu?"

Sadar dengar kata yang dimaksud Utara membuat Rasi hanya diam untuk tutupi salah tingkahnya, namun sayangnya rona merah jambu di pipinya sukses membuat Utara kembali tergelak. 

"Cie salting," sindir Utara dengan kedua tangan yang kini tengah memegang perutnya yang sakit akibat tawa tanpa jeda. "Jadi aku tuh emang udah dianggep pacar, ya, Ras? Bukannya tadi kamu ngakunya temen adik aku?"

Rasi beranjak menuju kulkas untuk mengambil jus jeruk dingin yang ia harap bisa meredakan kekesalannya. "Hebat ya, Dit. Dia tahu banyak banget soal kamu. Dia tahu nama adik kamu siapa, tahu aku junior kamu, tahu kamu ketua BEM. Terus dia tahu apaan lagi, Dit? Udah tahu sejauh mana, Dit?"

Utara belum menjelaskan apa-apa, Rasi lebih dulu berseloroh kembali. "Oh aku lupa, jadi ini yang dimaksud Abian? Yang kamu sering ajak ke acara keluargamu itu tuh dia?"

Satu tegukan air mineral yang sedang Utara coba telan hampir kembali ia keluarkan, karena terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Rasi. "Nggak gitu, Ras. Aku tuh..."

"Apa? Aku apa? Bener dia, 'kan? Coba sekarang aku tanya, bener dia bukan?"

"Ya iya emang dia."

"Ya udah case closed."

"Kok ya udah?"

"Aku mau mandi aja, udah gerah," langkah Rasi yang ingin menjauh dari Utara, lekas dimanfaatkan oleh Utara untuk meraih tangan sang puan, lalu menariknya untuk berdiri di hadapan Utara. "Belum selesai, Ras. Jangan kebiasaan kayak gitu. Ini tuh harus diselesaiin dulu."

"Ya apa yang mau diselesaiin sih?"

"Pertama, kamu cemburu. Iya atau nggak?"

Rasi diam, namun tak mengalihkan pandangannya dari Utara.

"Oke kamu diem berarti jawabannya iya. Kedua, cemburunya karena aku panggil Summer itu Kemarau? Well, iya ini aku yang salah, walau itu bukan panggilan kesayangan sih, tapi karena emang males pakai bahasa inggris. Toh yang lain juga manggilnya gitu."

"Ketiga, karena kamu duduk di belakang. Jadi kamu ngira kamu nggak aku anggep, ya? Seingetku tadi aku udah suruh Summer pindah, tapi kamu bilang gapapa. Oke tetep aku yang salah. Aku minta maaf. Keempat, karena dia aku ajak ke acara keluarga? Oke aku akuin emang iya, tapi itu sebelum ada kamu, sayang. I have no idea. Daripada ribet direcokin sama keluargaku."

"Kelima, karena dia aku sering jalan sama dia dan aku sering anter dia? Nggak ih, itu bohong. Nggak sering, tapi beberapa kali aja, kulineran juga itu ya pas random aja dulu. Lagian dia tuh punya mobil juga, sayang. Dianya aja itu yang lebay ngomong sering. Kamu tuh di belakang diem-diem merhatiin itu, 'kan? Jangan kira aku nggak lihatin kamu ya. Terus apa lagi? Aku salah karena pas kamu pindah ke depan kita jadi diem-dieman? Oke itu aku akuin aku salah sih emang. Salah banget malah."

Rasi masih diam, namun kali ini bukan sebab malas menanggapi. Melainkan karena ia tertegun dengan Utara, yang berhasil mengurai semua rasa kesal yang tadi hanya ia simpan sendiri. Gadis itu tak pernah menyangka Utara begitu piawai membaca dirinya.

"Aku salah apalagi, sayang? OH! Terakhir nih terakhir, gara-gara aku nggak mampir ya tadi? Bener nggak? Kalau dipikir-pikir, aku nggak salah-salah amat, Ras. Toh tadi kamu bukannya nahan, malah langsung turun, tapi oke itu aku yang salah sih tetep. Walau akhirnya aku nggak mungkin bisa langsung pulang sih. So, udah berapa tuh, tujuh ya? Oke masih kurang nggak? Kalau masih coba sebutin, Ras."

Utara berdiri dari tempat duduknya, memangkas jarak yang tadi sempat memisahkan keduanya seraya mengenggam erat jemari Rasi dan tak melepas tatap dari kekasihnya. "Sebutin aku salah di mana lagi, Ras. Ada lagi hm? Apalagi coba apalagi salahnya aku?"

Dengan debar jantung yang berpacu dan bercampur dengan rasa kesal, Rasi refleks mendorong Utara menjauh. Ia berlari menuju kamarnya dan meninggalkan Utara yang kini hanya tertawa dengan bebas. Rasi yang kini sudah berada di kamar, samar mendengar teriakan Utara yang kembali menggodanya. "Oh kamu kalau cemburu tuh gini, ya? Gemes tahu, Ras!"

***

Rasi keluar dari kamar dengan handuk yang melilit di rambutnya. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, namun tak menemukan Utara sama sekali. Bahkan balkon yang kadang menjadi tempat favorit Utara pun masih tertutup rapat, tak menunjukkan kehadiran lelaki itu.

Beberapa kantong makanan masih terbungkus rapi terlihat di kitchen island, membuat Rasi yang semula sudah ingin berbicara baik dengan Utara justru kembali kesal karena Utara pulang tanpa berpamitan padanya.

Rasi baru saja akan membuka bungkus makanan di hadapannya, ketika suara pintu terbuka membuatnya menoleh dan mendapati Utara yang kembali dengan satu kantong belanja di tangannya. "Loh kok muka kamunya ditekuk gitu, Ras? Kenapa, sayang?"

"Kamu dari mana?"

"Beli es krim, sayangku. Kenapa? Kamu kira aku pulang, ya? Nggak bakal aku pulang kalau belum peluk sama cium kamu, Ras. Enak aja! Ngurang-ngurangi kebahagiaan aku itu namanya."

Rasi berdecak sebal mendengar ucapan Utara, sementara Utara hanya tertawa setelah memasukkan dua kotak es krim dan juga membawa satu bungkus es krim mochi strawberry ke hadapan Rasi. "Nih buat kamu, biar adem hati kamunya, biar nggak cemburu-cemburu lagi." Rasi hanya mencebik sebal mendengarnya, membuat Utara beranjak ke belakang Rasi untuk mendekap kekasihnya itu dengan erat.

"Mulai besok aku nggak anter dia lagi, oke? Janji nih aku."

Helaan napas dari bibir Rasi akhirnya lolos. Ia membuka bungkus es krim yang dia bawa Utara. "Ya gapapa, Dit, kalau kamu mau anter dia. Aku nggak akan larang kamu juga. Aku tuh nggak mau jadi pacar yang posesif ke kamu."

"Aku sih gapapa diposesifin, Ras. Tapi..." Utara menggantung kalimatnya, membuat Rasi menoleh dan menatap Utara bingung. "Tapi kamu udah ngaku beneran kalau aku pacar kamu, Ras?"

"Ya emang kita pacaran 'kan, Dit?"

"Pacaran sih, tapi aku nggak diakuin. Sedih nggak sih, Ras?"

Rasi lekas melepas pelukan Utara, dan memutar badannya untuk menghadap Utara. Sinar mata perempuan itu mengisyaratkan rasa khawatir yang juga tak coba ia tutupi. "Dit..."

Sadar dengan salah pada ucap yang tadi dia lontarkan, Utara lekas mencubit ujung hidung bangir Rasi, lalu mengulas tawa kecilnya setelah melihat jejak es krim di sudut bibir Rasi. "Apa sih? Kok panik kamunya? Aku cuma ngomong doang, Ras. No bad intentions, sayang. Beneran cuma ngomong doang, nggak ada maksud apa-apa. Kamunya jangan sampe kepikiran, ya."

Rasi masih menatap lekat pada Utara, ia mencari celah untuk mengetahui apakah lelaki itu tengah berbohong, atau seluruh ucapannya adalah benar yang berasal dari hatinya. Satu kecup ringan berhasil Utara curi dari bibir Rasi, membuat lengkung senyum mau tak mau tergambar di wajah Rasi, "Udah nggak usah dipikirin, aku bercanda, sayang. Mending kita makan dulu, yuk. Keburu makanannya dingin, nanti nggak enak, Ras."

Sekali lagi Rasi memeluk Utara sebelum menganggukkan kepalanya. Tepat ketika keduanya sudah berada di kursi masing-masing, ponsel Rasi berbunyi dan menampilkan satu panggilan video yang berasal dari Javaskara. 


Nama yang terlihat dengan jelas di mata keduanya itu, membuat Rasi kini menatap Utara sembari menggigit ujung bibirnya, cemas dan takut bila saat ini gantian Utara yang menjadi kesal.

Utara berdeham. Lelaki itu tak mengalihkan pandangannya dari Rasi yang kini duduk di depannya, "Kalau sekarang, gantian aku yang cemburu boleh?" Rasi menegakkan tubuhnya, dan hendak mengambil ponsel yang terus berdering itu, namun sayangnya tangan Rasi kalah cepat dengan pergerakan Utara.

Dengan senyum yang terkembang di bibirnya Utara lagi-lagi menatap lekat pada Rasi, seraya menyodorkan ponsel itu pada juwitanya. "Mau aku yang angkat atau kamu yang angkat? Atau, gimana kalau kita berdua aja yang angkat? Mumpung video call nih, biar dia tahu kalau kamu lagi sama aku."




Share:

Al Fine. [ track 16B ]

 Rasi's POV

Saya lupa kapan terakhir kali bersikap impulsive seperti sekarang ini. Karena seingat saya, kata 'kejutan' tak pernah punya pengalaman indah untuk saya. Tapi entah ada angin apa, petang ini tiba-tiba saja saya berinisiatif untuk memberikan kejutan itu pada Utara. Pada seseorang yang belakangan ini mampu membuat senyum saya merekah tak berkesudahan.

"Selamat sore, Bu. Ada yang bisa dibantu?"

Saya menganggukkan kepala, lalu tersenyum menatap perempuan dengan blazer hitam dan kemeja putih yang menyambut saya. "Sore mbak, saya Rasi mau ketemu Aditya Wira Utara, bisa? IT Department."

"Saya coba infokan dulu ya, Bu. Sementara itu, boleh diisi dulu buku tamunya, ya, Bu." Ia menerangkan sembari menyodorkan sebuah buku besar di hadapan.

Sementara jemari saya masih menuliskan informasi di atas buku tersebut, si perempuan yang menyambut saya tadi sudah meletakkan gagang teleponnya, lalu tersenyum menatap saya kembali. "Ibu, kebetulan Bapak Utara sedang ada meeting di luar, Bu. Mungkin Ibu mau titip pesan atau ibu bersedia menunggu dulu?"

"Oh kalau gitu saya nunggu aja, deh, Mbak. Terima kasih, ya."

"Iya sama-sama, Bu."

Saya melangkahkan kaki menuju deretan sofa yang ditata begitu apik untuk dijadikan tempat menunggu, persis di samping pintu masuk utama kantor ini. Jemari saya menekan nomor telepon Utara yang sudah saya hafal betul di keluar kepala. 

Hanya butuh dua nada panggilan, dan ia sudah menyapa saya dengan suara rendahnya. "Halo, Ras. Ada apa, sayang?"

"Dit, kamu sekarang lagi di mana?" tanya saya sembari sembunyikan senyum.

"Baru balik meeting nih. Kenapa?"

"Lembur atau pulang tenggo?"

"Hari ini harusnya sih tenggo. Nanti begitu sampe, aku pastiin dulu, ya."

"Oh ya udah, kalau gi—" Belum sempat saya menyelesaikan kalimat, seorang wanita tengah berlari sembari meneriakkan namanya. "Utara!"

Pandangannya mengarah pada satu titik di dekat pintu masuk, yang juga membuat saya menolehkan kepala. Baru saya ingin melambaikan tangan, suara Utara di ujung telepon lebih dulu terdengar di telinga. "Talk to you later ya, Ras."

"Iya."

Saya menatap ponsel, lalu kembali menatap sosoknya yang saat ini tengah menyampirkan lengan kanan di pundak wanita yang tadi meneriakkan namanya. Keduanya terlihat amat akrab, membuat saya yang sejak tadi ingin memberitahu kehadiran saya pada Utara pun mengurungkan niat.

"Mbak, saya titip kunci mobil ini aja untuk Bapak Utara ya," saya memilih untuk menitipkan kunci mobil Utara pada resepsionis yang kini menampilkan ekspresi herannya. Mungkin ia bertanya-tanya, mengapa saya tak menyerahkan kunci itu langsung kepada orangnya. Padahal seseorang yang saya tunggu itu, baru saja berlalu.

Benar 'kan apa yang tadi saya bilang? Saya tak pernah akrab bahkan berteman baik dengan yang namanya 'kejutan' ya setidaknya kali ini hal itu terbukti lagi, hari ini.


***


Utara's POV

"Tenggo, 'kan?" pertanyaan dari Summer membuat gue tertawa menatapnya, sebab tahu ada maksud dari ucapannya itu.

"Kayaknya sih iya."

"Pulang nebeng berarti."

Gue kali ini mengacak rambutnya sambil menggeleng, "Yah sayangnya gue nggak bawa mobil."

"Lah terus tadi pagi lo berangkatnya gimana?"

"Ojol ada, Neng."

"Iya juga sih ya, hehehe."

Summer masih tertawa seraya memegang tengkuknya, membuat sebagian isi kepala gue melayang pada perkenalan pertama gue pada perempuan satu ini. Belum sempat gue melangkah lebih jauh untuk menuju lift, ponsel gue kembali berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.


Lekas gue membelalakkan mata, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar setelah membaca pesan Rasi. Tepat sebelum gue melakukan panggilan, sosoknya terlihat di ambang pintu utama, dan membuat gue sontak meneriakkan namanya diiringi dengan senyum terkejut. "Ras!"

Usai meminta Summer menunggu sebentar, gue berlari menuju perempuan kesayangan gue yang kini menatap lurus ke arah gue, setelah sebelumnya sempat mampir pada resepsionis yang dengan segera menyodorkan kunci mobil.

"Kamu kenapa nggak bilang kalau ke sini sih, sayang?"

Dua tangan gue sudah mengusap lengannya, seraya menatap intens padanya. Sumpah demi apa pun, gue nggak pernah terbersit pikiran dia akan mampir ke kantor gue. Andai ini bukan di kantor, dan andai nggak ada banyak orang yang berlalu lalang di sekitar kami, gue pasti sudah lebih dulu mengecup dan membawanya dalam pelukan.

God! Rasi, kamu bener-bener nguji iman aku banget buat nggak loncat kegirangan.

"Surprise mungkin," balasnya singkat dengan wajah tanpa ekspresi apa pun.

"Kalau surprise harusnya langsung dikasih tahu ke aku dong, sayang," refleks gue mengusap pipi kanannya, namun Rasi lekas menyingkirkan tangan gue.

Backstreet era masih berjaya ternyata, padahal gue mau pamerin Rasi ke temen-temen gue.

"Jauh banget nggak sih kamu ke sini? Kasihan kamunya, sayang. Lagian tumben ini kamu bisa pulang cepet? You okay?"

Rasi belum sempat menjawab, namun teriakkan Summer membuat gue menoleh ke belakang, "Ut, buruan!"

"Bentar," balas gue seadanya lalu kembali menatap Rasi, dan membawa jemarinya untuk kembali genggam kunci mobil gue. "Sayang, aku ke atas dulu bentar, ya. Nanti kita pulang bareng, nggak boleh ke mana-mana kamunya! Nih kunci mobilku, aku pastiin aku tenggo." 

Share:

Al Fine. [ track 16A ]

track 16 - p.s. i love you
sekali-sekali cemburu


Utara's POV

Kadang gue suka mikir, pacaran tuh gunanya apa sih? Like...ya iya pengenalan, tapi kalau selama ini udah kenal terus makin kenal lagi, kenal apanya? Bakal bosan nggak nantinya? Kalau iya bosan, gimana nanti kalau mau sampai ke jenjang yang lebih serius? Yang setiap hari bangun tidur bahkan sampai tutup mata, lihatnya dia lagi dia lagi dia terus.

Well, kalau boleh jujur gue nggak pernah bosan sama Rasi. Gue bahkan mau untuk lakuin apa pun hal di dunia ini, ya yang gue bisa dan mampu, just to make sure she knows how much i love her. 

Karena sumpah demi apa pun, i'm in love with her so bad, so freaking bad. Sampai kadang gue nggak tahu gimana membahasakannya dan nunjukkinnya ke dia. Saking gue beneran sesayang itu, secinta itu, dan iya sebucin itu kalau kata orang-orang mah.

Dan karena itu juga, gue nggak pernah kepikiran, gimana kalau suatu saat dia bosan sama gue? Gimana kalau suatu saat dia nggak merasa kenal gue? Atau gimana kalau dia minta putus? 

Karena worst case di otak gue cuma satu, gimana gue jalanin hari-hari gue lagi kalau dia nggak ada di dunia. Bukan gue nggak bisa hidup tanpa dia, tapi gue nggak bisa bayangin dia nggak ada di bagian hidup gue. Dan itu beneran sucks, sumpah kayak, gue nggak mau kehilangan lagi setelah bunda dan adik.

And that 'pret' feeling selalu menghantui gue tiap kali mau pamitan pulang sama dia. God, apa gue harus ajak nikah aja biar nggak usah pamit pulang? Tapi masalahnya nikah nggak segampang modal ajakan dan yakin doang elah.

"Aku pulang dulu ya, Ras."

Dara di depan gue ini mengangguk sambil memamerkan senyum ayunya. "Hati-hati, nanti kabarin aku kalau udah sampe, ya." Tangan gue yang sedang mengelus rambutnya, diambil untuk kemudian digenggam. "Gausah ngebut, Dit."

"Iya, sayang. Eh, Ras."

"Hm?"

Udah gue bilang 'kan kalau gue nggak akan bosan sama dia. Meski harus setiap hari ketemu, meski pacaran gue sama dia cuma stay di apart atau cuddle atau movie time, dan paling mentok ya kulineran dan makan doang di mobil. 

Tapi jujur, gue kadang kepikiran, gue takut dia yang ngerasa nggak mengenal gue lebih jauh. Gue nggak mau sampai dia merasa nggak worth it, merasa bosan, atau merasa insecure sama hubungan ini.

"Hei, kamu mau ngomong apa tadi?" pertanyaannya sontak membuat gue tersenyum, sembari menyelipkan surai hitam legamnya di balik telinga.

"Aku punya ide biar kita makin bisa kenal satu sama lain, Ras."

Hanya satu yang bisa gue usahakan untuk membuat dia merasa nyaman, seenggaknya gue akan melakukan apa pun yang bikin dia merasa tetap hidup sama hubungan kita. Sama hubungan yang masih seumur jagung ini.

"Emang ini belum kenal, ya?"

"Ih nggak gitu!"

Rasi tertawa, kali ini tawanya benar-benar renyah di telinga gue. "Hahaha ide apa, Dit?"

"Tiap malem, gimana kalau masing-masing kita ajuin pertanyaan tentang satu sama lain? By chat aja, biar kita bisa mikir juga hahaha."

"Kok kayaknya susah sampe perlu mikir? Emang bikin pertanyaannya soal ujian, Dit?"

"Nggak gitu, sayang. Ya yang kamu kepo aja atau aku penasaran gitu. Ya pokoknya yang masing-masing kita nggak tahu, not a basic one kayak makanan favorit, ada alergi atau nggak. Kalau itu sih dari dulu juga aku udah hafal," terang gue padanya yang disambut dengan kekehan dan juga anggukan.

"Oke, boleh."

"Bener, ya?"

"Ya masa bohong, Dit. Kayaknya seru!"

Gue menangkup kedua pipinya gemas, sembari mendekatkan hidung gue pada hidungnya, "Pacaran sama aku emang seru nggak sih? Biar kamu nggak punya kesempatan ngerasa bosen, Ras."

Ia tertawa sembari mencubit pelan sisi kiri perut gue, "Gombal! Ya udah sana balik, nanti kemaleman, kamu keburu ngantuk."

"Iya sayang, aku balik. Kamu kunci pintu, tutup jendela. Kalau ada yang ngetok jendela, berarti bukan manusia. Soalnya ini tinggi, yakali ada manusia manjat, Ras."

Kali ini kekehannya yang masih tersisa sudah resmi pudar, berganti dengan jemarinya yang kembali ingin menepuk lengan gue, namun lebih dulu gue tangkap untuk membawanya dalam genggaman. "Kamu jangan nakut-nakutin, Aditya."

"Fyi aja, kamu jauh lebih pemberani dari aku sih, Ras."

Dia tertawa. 

Rasi gue tertawa lebih kencang dengan sebelah tangan yang ia letakkan di mulut, untuk tutupi gelaknya yang amat bisa mengisi lorong kosong apartemen. Membuat gue serta merta kembali merengkuhnya dalam pelukan, sebelum berikan satu kecupan singkat di kening, dan benar-benar berpamitan pulang kepadanya.

Setidaknya, malam ini, gue ingin akhiri hari ini dengan tawa dari bibirnya. Juga lengkung senyum di kedua bola matanya.


***


Utara's POV

"Lho kok balik?"

Jangankan Rasi, gue aja terkejut dengan keberadaan gue yang saat ini kembali ada di apartemennya. "Nggak boleh?"

"Nggak gitu, Dit. Maksudku ada apa? Ada yang ketinggalan? Atau apa?"

Raut panik Rasi nggak sedikit pun membuat kecantikannya pudar. Gue berani sumpah, kalau ini gue teriakkan lantang-lantang, dia akan bilang gue berlebihan. Padahal dia nggak tahu aja, mereka yang dengar pasti akan sepakat sepenuhnya sama ucapan gue.

"Mobilku nggak bisa nyala, sayang. Aku nggak tahu kenapa," balas gue seraya membelai rambutnya, berusaha menenangkan.

"Kok bisa? Terus gimana? Mau pakai mobilku aja?"

"Harusnya aku ditawarin buat nginep aja nggak sih?" Gue merebahkan punggung di atas sofa, sembari mengeluarkan ponsel mencari satu nama di deretan kontak, masih dengan menatapnya sekilas.

"Tahu nggak? Setiap kali kamu nginep itu aku kasian sama kamunya, Dit. Aku tuh nggak enak lihat kamu tidur di sofa, badanmu pasti sakit, 'kan? Aku sih gapapa kamu nginep, tapi kamunya yang kasian."

Refleks gue meletakkan ponsel di samping sofa, lalu menarik dia yang masih berdiri di hadapan ke dalam pelukan. "Haha, iya sayang, aku tahu. Sini kamu sini duduk deket aku aja ah, lumayan bisa meluk lagi."

"Kamu sekarang mau ngapain?"

"Ini aku mau telpon Fajar dulu. Nanti aku titip kunci mobilku sama kamu, ya. Biar besok dia aja yang urus."

Rasi yang sejak tadi meletakkan kepalanya di bahu gue, kini beralih menatap gue sambil mengerjapkan matanya. "Kamu beneran mau nginep, Dit?"

"Enggak, sayang," kini gue yang tersenyum sambil mencubit pelan hidungnya. "Aku pulang kok, lagian baju kerja sama laptop aku 'kan di rumah. Ribet kalau pagi-pagi harus balik dulu, terus baru ke kantor, nggak efektif."

"Naik mobilku aja, ya?"

Sontak gue menatapnya lekat sambil menautkan kedua alis, "Gausah, aku naik ojol aja, sayang."

"Biar lebih aman naik mobilku aja, Dit."

Gue kembali menggeleng, seraya merengkuhnya kembali. "Nggak usah, kamu aja yang pake, biar besok kamunya nggak ribet. Untung kemarin kamu bawa mobil ke apart, jadi besok kamu aman, sayang." Rasi menatap gue dengan binar khawatir di matanya. "I'm okay, Ras. Kamu gapapa 'kan kalau besok berangkat dan pulang sendiri dulu?"

"Ya gapapa, Dit."

Damn!

Gue tuh mau bersumpah kalau wanita yang namanya Rasi Alfa Karina ini, nggak boleh banget manggil nama gue dengan jarak sedekat ini. Karena bukannya fokus menelepon Fajar, gue malah tergoda buat mendekap dan menciumnya berkali-kali. Ya anggap aja ini akumulasi dari sekian tahun penantian gue buat bersama dengan dia. Iya gapapa, gue mengada-ada mungkin kelihatannya, tapi serius ini pengakuan paling jujur dari lubuk hati gue.

Kembali gue mengacak rambutnya yang dibalas oleh cemberut di bibir. "Bentar ya, sayang, aku telpon Fajar dulu."







Utara's POV

Isi kepala gue baru akan memaki Fajar dengan sikapnya yang seenak jidat, ketika Rasi sudah lebih dulu menyapa gue dengan pertanyaannya. "Gimana kata Fajar, Dit?"

Gue tersenyum, "Besok dia ke sini, sayang. Nanti kuncinya titip di kamu atau resepsionis aja bisa, 'kan?"

"Bisa kok, Dit."

"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu. Kali ini beneran," sambung gue sambil berdiri dan mengecup puncak kepalanya.

"Kamu beneran nggak mau pake mobilku aja?"

"Beneran, sayang." Gue mengusap lembut pipinya, sambil menatapnya lekat. "Udah ah, aku mau balik beneran, kalau ngobrol mulu yang ada makin nggak mau balik akunya."

Ting! Ting!

Tawa gue sontak meledak melihat pesan Fajar kini memenuhi layar ponsel. "Tuh Fajar udah bawel nyuruh pulang. Katanya nggak boleh pacaran terus," terang gue pada Rasi yang ternyata memicu keterkejutan pada sorot matanya.

Kali ini gue kembali mengusap pelan pipinya, sembari menenangkan ia dari seluruh curiga di sudut kepalanya. "Nggak, sayang. Fajar nggak tahu, dia cuma iseng ngeledekin aku aja."

Hela napas Rasi terdengar samar di telinga gue, yang kemudian diikuti oleh gigitan yang dia buat di bibir bawahnya. Gue tahu ada cemas yang sedang coba dia kalahkan, tapi di sisi lain gue juga paham bahwa ini semua sebetulnya tidak mudah untuk gue jalani.

Nggak gampang untuk membuat mulut gue terkunci rapat, bahkan gue terang-terangan dilarang untuk membanggakan dia di depan sahabat pun teman-teman gue. Nggak gampang untuk berpura gue masih single, padahal sebetulnya ada juwita cantik yang jelas-jelas sudah jadi permasuri di hati gue.

Tapi gue bisa apa bila perempuan gue ini belum usai dengan rasa cemasnya? Bisa apa gue selain belajar memahami perasaan dan juga pikirannya? Gue nggak mau jadi egois, tapi sesekali gue ingin untuk egois mengatakan pada dunia, bahwa her happiness is my forever happiness. Because she's mine, because she's my girlfriend.

Rasi mengulas senyumannya dan mengantarkan gue kembali menuju daun pintu, yang kini sudah setengah terbuka, "Kamu hati-hati, ya. Kalau udah sampai kabarin aku."

"Perlu aku kasih tahu juga nopol ojol-nya? Atau sekalian aku live location sama kamu?"

Kali ini ia mengangguk mantap, membuat gue mau tak mau tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan di mata gue. "Hahaha, ya ampun, Ras Ras. Iya iya, ya udah, aku pulang, ya. I love you."

"Nggak usah pakai too ya, Dit?"

Gue mengangguk lalu memeluknya sekali lagi, setelah menghujaninya dengan banyak kecupan di bibir dan juga pipinya yang kini merona sebab sikap gue. 

Share: