Ibukota yang Pindah ke Surabaya


*peringatan dini, tulisan berikut hanya  sebuah catatan perjalanan yang ingin diabadikan.

21 Januari 2017

Hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu selama beberapa bulan lalu. Masih jelas teringat bagaimana waktu-waktu yang dilalui sebelum keberangkatan; beli tiket tengah malam, sibuk atur jadwal dengan teman seperjalanan, nyari alternatif untuk bisa dapet tiket semurah mungkin, nentuin waktu berangkat yang ternyata nggak pernah semudah membalikkan telapak tangan dan sibuk mikir alasan apa untuk dapat izin dari kantor.

Ya, keriuhan untuk sebuah perjalanan yang mungkin terlalu singkat. Tapi tak apa, perjalanan, sesingkat apa pun adalah hal yang harus dihargai dan berakhir dengan pemaknaan. Ke mana kita? Yap, seperti judul tulisan ini. Surabaya!

Jika beberapa waktu lalu saya pernah bercerita tentang perjalanan Bandung dan Yogyakarta, yang di dalamnya selalu ditemani dengan orang-orang yang saya temui di tumblr, kali ini pun masih sama—menuju Surabaya lebih tepatnya Probolinggo, untuk menghadiri acara bahagia salah dua pengguna tumblr dan lagi-lagi teman seperjalanan pun adalah pengguna tumblr.

04.15 wib, Tangerang

“Udah mau jalan nih aku”
“Bel aku udah di tol”

“Bae-bae bel”
“Bliss satu, tas satu. Done”

Rentetan chat dari Kak Lim lah yang mengawali hari Sabtu kala itu. Sabtu harusnya mah kerja, eh ini udah di jalanan ke bandara. Sekali-kali nggak pusing dengan kerjaan boleh, kan Ehehe. Yak seperti yang saya bilang di awal tulisan, bahwa perjalanan ini ditemani dengan kakak yang ditemukan di tumblr, Kak Lim, dia yang pada akhirnya menemani saya melakukan perjalanan kali ini.

Harus diakui Kak Lim adalah partner perjalanan yang menyenangkan—nggak pernah ngeluh, nggak manja dan selalu bisa menghidupkan suasana. Tapi manusia mah nggak ada yang nggak ngeselin, termasuk Kak Lim, orang mah ditanya serius jawabnya nggak pernah serius.

“Kau di mana sih, Kak?”
“Kepo kamu! Aku kedinginan, pengin pipis, sayang nggak ada yang jual pelukan.”
“Dikata kepo. Auk amat hih. Aku ingin memeluk dingin.”
“Dingin gabisa dipeluk. Eh bisa deng kalo doi namanya dingin. Keren kali ya nama anak dingin. Colder. Panggilannya Col.”
“Coldy aja.”
“Nah, baru mau bilang coldy. Anak nanya kenapa coldy. Dulu bapakmu itu dingin. Sedingin es sama ibu.”
“Ngakak hih. Serius kau di mana sih kak?”
“Kepo kamu! Posisi di mana? Atas? Bawah?”

Begitulah sedikit chat nggak jelas di pagi yang terlalu pagi. Oke kembali ke perjalanan, di tiket sih tulisannya berangkat jam 6, ya manusia hanya bisa berencana, tapi ngaret mah masih masuk dalam perencanaan yakan.

Singkat cerita, 07.50 wib sudah sampai Juanda, yey!

Tipikal orang Indonesia kebanyakan; nggak pernah sabaran, nggak bisa kalau nggak buru-buru. Baru juga landing udah buru-buru ambil barang bawaan.  Antrian di depan aja belum jalan, udah mulai berdiri.  Eh baru juga awal perjalanan udah ngeluh aja haha. Skip~

“Ini Jakarta ya, Bel?”
“Hahaha iya kayaknya, Kak. Nggak ada bedanya ya”

Ibukotanya pindah! Satu kata yang terbersit ketika melongok ke jendela pesawat. Selain sinar mentari yang mentereng, bandaranya udah mirip kayak CGK.  Saya dan Kak Lim memang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya jadi sudah iyakan saja.

Sampai di Juanda, nggak langsung naik damri, tapi keliling dulu nyari titipan calon mempelai wanita; dunkin dan beard papa. Baru kali ini nemu orang mau nikah nitipnya macem-macem, terlebih makanan. Gapapa, yang mau nikah mah bebas, iyain aja. Di saat lagi nyari itulah, kegelisahan mulai menyerang Kak Lim, karena eh karena Kak Lim nerima telpon dari kerjaannya. Lyfe, niatnya liburan tapi kerja mah emang tetap mengikuti. Pukpuk Kak Lim!

Bersambung ke cerita berikutnya di sini

No comments

Post a Comment

© Hujan Mimpi
NA