Boko, Senja dan Cinta yang Tak Sampai

November 30, 2018


Selamat menjalani hari terakhir di bulan November! Cie udah Desember, udah wangi liburan nih kayaknya. Baiklah, kalo boleh jujur saat ini saya sedang terlalu penuh dengan energi setelah mendengar banyak kisah dari teman-teman terkait urusan keluarga. Yoi, di akun yang baru itu lho~ Promo terus ya, Bell ck!

Iya kepenuhan, karena saya percaya kalo energi itu nggak pernah habis sebenarnya, dia hanya berganti dan atau berubah jadi hal lainnya. Salah duanya emosi dan rasa lelah. Istirahat dan ruang jadi salah satu hal yang kemudian dibutuhin untuk mengembalikan lelah dan menetralkan emosi. Harusnya saya juga kayak gitu sekarang. Tapi ya gimana, saya merasa kegiatan mendengar dan didengar harus seimbang. 

Itu kenapa sekarang nekat nge-post dan lagipula ini juga sebagai pembuka dan ucapan, 

"Selamat Berkunjung ke Rumah Tulisanku yang Baru."

Anggap aja rumah sendiri, nyaman-nyamanin aja buat berkunjung ke sini, sampe jadi sayang juga gapapa. Asal jangan minta tanggung jawab kalo nanti udah kepincut hatinya. Nanti saya kewalahan terus dianggap php lagi *eh ini kenapa jadi curhat ya~

Jadi, setelah insiden blokir Tumblr yang mengakibatkan kegiatan menulis rasanya berkurang kecuali deadline naskah. Saya terus mencari gimana caranya menulis lebih produktif lagi, hingga sampai pada keputusan ya udahlah sekalian aja bikin rumah baru. Dan inilah hasilnya, maaf masih banyak kurang tapi semoga tetep bikin betah!

Oke pembukanya kepanjangan, jadi langsung masuk aja ke cerita. Saya lagi ingin cerita salah satu momen di Jogja yang mengantar saya ke pemahaman baru lainnya. Gila ya, hidup tuh emang nggak akan berenti ngasih kita pelajaran kalo kitanya juga mau terbuka dan sedikit lebih merendah.

Boko jadi salah satu tujuan saya untuk menikmati senja di Jogja. Padahal nggak tau gimana cara ke sana dan siapa yang akan nemenin. Pun dari pagi mau nyewa motor semua rental bilang udah nggak bisa. Saya udah seberserah itu untuk kembali gagal menikmati senja di Boko. Untuk ngehibur diri saya cari alternatif lain, nikmatin senja di Parkir Abu Bakar Ali yang di Malioboro itu juga kayaknya nggak masalah. Jangan dikasihanin, ini namanya nggak memaksakan apa yang memang nggak bisa terlaksana.

Tapi Tuhan mah baik, saya percaya dia mewujudkan kebaikannya lewat Kak Indi dan temannya yang rela ngasih pinjeman motor karena nggak bisa ikut jadi penunjuk jalan. Ya emang dasar karena niat ke Jogjanya bukan untuk liburan, jadilah kita bener-bener harus berangkat ke Boko berdua doang. Hanya berbekal GPS dan motor pinjeman, sama satu lagi, keberanian buat tersesat haha.



Ternyata jalan menuju ke sananya baik pergi dan pulang nggak susah-susah banget. Nggak kayak review-review orang-orang di blog yang bilang ini itu. Dan kebetulan saya masih lumayan sedikit ingat daerah di mana saya pernah menghabiskan masa SMP itu~

Sampailah di Boko dengan matahari yang sangat apik dan prediksi bahwa senjanya akan menawan. Pas sampai di atas, ya taulah yaa, udah banyak banget pencari momen yang siap dengan kamera, tripod, dan outfit yang head to toe udah lebih dari sempurna. Tapi namanya juga harapan dan ekspektasi, yang ditunggu-tunggu ternyata nggak dateng secantik yang ada di bayangan. Pun yang ditangkap kamera nggak bisa sesempurna apa yang dilihat langsung.


Kadang gitu, ada beberapa hal yang memang hanya untuk direkam ingatan dan nggak bisa sepenuhnya diabadikan dalam gambar. Foto yang jadi pembuka tulisan ini pun didapat kebetulan (nggak deng, emang dasar tangannya Kak Indi diberkahi Tuhan) dengan saya yang duduk malas-malasan ngeliatin orang yang begitu ramai cari momen terbaiknya. Nggak terlalu banyak usaha, tapi bisa menggambarkan kesimpulan dari apa yang akan jadi inti dari tulisan ini.

Cinta juga gitu kan, ya? Yang kita usaha perjuangin mati-matian malah bertepuk sebelah tangan, dan nggak bisa untuk dipertahanin. Tapi pas lagi berserah dan fokusnya nggak di situ, entah gimana Tuhan malah izinin kita ketemu sama si The One itu. Kadang hidup sepenuh misteri itu, nggak bisa ditebak tapi penuh dengan perencanaan.

Kalo mau lihat fokusnya dari berapa rencana yang berjalan sesuai keinginan dan berapa yang nggak terlaksana, hidup kita cuma akan gloomy aja sepanjang waktu. Sedih mah nggak pa-pa, nikmatin aja, toh nggak akan selamanya. Hanya, nggak usah sampe berlarut, sayang waktu dan sayang kesempatan lain yang bisa dibuat.

Terus bicara tentang cinta yang nggak sampe, saya lupa berapa kali pernah mengalaminya. Yaelah santai dong, masih manusia yang kerap patah akutuh. Kalo dulu sih rasanya dunia runtuh, bawaannya sedih mulu, dan terus bertanya kenapa dan kenapa. Sampe akhirnya saya ada di titik di mana saya percaya, Tuhan itu nggak pernah ngasih patah tanpa ada pesan. Nggak pernah ngasih sedih kalo nggak ada maksud dan tujuannya.

Kemarin, di Boko saya belajar bahwa apa yang kita tunggu dan duga akan seindah harapan, bisa dengan sangat untuk kemudian patah dan nggak berjalan sesuai bayangan. Mau itu mimpi, mau itu tujuan, mau itu kehidupan dan juga pasangan. Karena ya ada banyak faktor yang melatar belakanginya. Entah orang lain, entah keadaan, entah kesempatan, atau apa pun faktor-faktor lainnya. Tapi, terlepas dari apa pun itu faktornya semua sudah diatur kadarnya sama Tuhan.

Mungkin bagi kita kurang, tapi menurut Tuhan udah cukup. Mungkin bagi kita ingin rasa cinta yang berbalas, tapi bisa jadi kata Tuhan tunggu dulu karena bukan sekarang saatnya. Mungkin buat kita, dia yang terbaik, tapi bisa jadi bagi Tuhan kita belum sepenuhnya selesai dengan urusan diri, makanya harus berakhir dengan dipendam dulu saja rasanya.

Dan sekarang saya makin percaya, pilihan itu memang kita yang tentukan, tapi keputusan untuk akhirnya menentukan memang Tuhan yang menggerakkan. Jadi, nikmati ya kalo memang sekarang lagi merasakan cinta yang tak sampai. Gapapa, Tuhan tau kamu butuhnya apa, bukan kamu inginnya apa.


Kayak saya di foto ini. Sebenarnya saya pengin banget bisa foto ala-ala di tengah kayak tuh seleb-seleb hits (nggak biar apa-apa sih, cuma ingin tau sensasinya aja) tapi malah berujung dan diberi kesempatan dapet foto seindah ini tanpa harus berebut momen dengan yang lain. Dan ya ini yang memang saya butuh untuk kemudian bisa berbagi cerita sama kalian. Nah, misalkan apa yang saya ingin terwujud, kayaknya cerita ini nggak akan ada dan hanya berakhir dengan ke-aesthetic-an di feeds semata.

Udah ah, selamat bertamu, ada beribu peluk dan isi kepala bahkan keseharian yang mungkin kamu temukan di sini. Tapi tenang, itu juga bukan sepenuhnya saya. Karena saya yang sebenarnya hanya ada di hadapan Tuhan hehehehe :)







You Might Also Like

7 comments

  1. Kak bela selalu membukaaa pikiran aku �� Peluuk kak bell

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awwww, kamu selalu baik dan nemenin tiap tulisanku bertumbuh. Terima kasih banyak ya!❤️

      Delete
  2. Peluk jauh dari Kediri untuk Kak Bella����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuohhh peluk virtual dari Tangerang! Semoga kapan-kapan kita bisa bertemu yaa! ❤️

      Delete

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella