Lay Low~



Selamat siang di hari yang banyak dihabiskan orang-orang untuk belanja online!

Akhir tahun sudah tinggal menghitung hari tapi rasanya masih banyak hal yang mendadak buru-buru dikejar untuk rampung. Saya sebenarnya belum berencana update sesuatu di sini. Tapi berhubung satu deadline yang semula diperkirakan akan rampung di akhir bulan sudah disetorkan kemarin. Jadilah saya punya sedikit kelonggaran di kepala (meski nggak lama, karena paginya langsung bikin heboh diri sendiri lagi hehe)

Deadline saya nggak lain ya naskah, tungguin aja, wangi-wanginya akan ada di tahun depan! Kalem, siapin tabungan untuk bulan penuh cinta nanti pokoknya. Tahun belum berganti tapi rasanya kalender 2019 sudah hampir habis buat saya.

Kenapa? Karena kalau boleh jujur mungkin tahun depan akan jadi tahun di mana saya kembali rajin menerbitkan buku (bismillah, semoga aja sanggup dan ada yang bersedia menerbitkan haha.) Anggaplah sebagai aksi balas dendam saya setelah di tahun 2018 kebanyakan leha-leha dan hanya menghasilkan Elegi Renjana semata. Meski memang, proyek lain di balik itu Alhamdulillah-nya lebih dari cukup. 

Akhir tahun ini seharusnya dalam prediksi saya ada satu judul lagi yang bisa dikeluarkan. Tapi tahu lah ya manusia hanya bisa berencana, sisanya tergantung rencana di kepala-kepala manusia lainnya pun juga izin-Nya. Alhasil judul tersebut kembali ditunda, hingga entah kapan~

Adakah saya punya target menulis? Sebenarnya nggak ada, toh buat saya menulis adalah kegiatan menyalurkan hobi. Hitung-hitung menyembuhkan diri sendiri juga dengan melihat lewat sudut pandang yang lain. Meski nggak ada target menulis, kadang saya merasa bersalah aja kalau doing nothing di antara sela kegiatan sehari-hari. Karena buat saya, usia 20an itu masih amat bisa untuk dimaksimalkan kinerjanya. Jadi sungguhlah, sedih rasanya kalau waktu hanya habis untuk leyeh-leyeh.

Saya mau cerita salah satu lagu yang akhir-akhir ini selalu berhasil ngebuat saya lebih sering bilang, "yaudahlah ya."

Judul lagunya sama kayak postingan ini; Lay Low yang dinyanyiin sama Benjamin dan Conro. Sebenernya 'yaudahlah' yang saya maksud itu lebih kepada menerima apa yang sudah seharusnya terjadi dan nggak ambil pusing lagi dengan hal-hal tersebut.

Where we can lay low

Where we can get high
Where we can run away, we can go today
We can leave the world behind
So honey, let's go
Let's do what we lust
Do all the things that we've been dreaming of

Mungkin liriknya nggak pas-pas banget untuk menggambarkan apa yang saya rasa. Tapi musiknya setidaknya bisa  menggambarkan ke temen-temen, ketenangan yang saya dapat saat muter lagu ini menjelang tidur dengan temaram lampu kamar. Plis kebayang kan ya? Hehe.

Entah kenapa makin ke sini saya ngerasa ada banyak banget hal di masa lalu yang sering bikin kita ngerasa males untuk ngelangkah lagi bahkan melangkah lebih jauh. Entah ketakutan untuk merasakan hal tak enak yang serupa, entah juga karena merasa bahwa ya buat apa sih dilakuin lagi kalau ujungnya sama-sama aja.

Saya juga sempet berpikiran begitu, beberapa kali, terlebih ketika ada banyak hal yang membuat saya kecewa bahkan ngerasa hopeless. Tapi saya percaya kalau itu semua proses yang memang harus dijalani, sampai nanti akhirnya akan ketemu momen untuk sadar bahwa ya buat apa sih ngerasa gitu terus. Momen di mana, kita akan tahu apa sih yang dicari dan apa yang dibutuh. 

Tapi itu nanti, saat momen ketakutan dan momen ter-gloomy sepanjang sejarah hidup udah berlalu dan membawa kita ke sebuah titik balik untuk lebih mengenal diri sendiri. Yang ujungnya adalah kesimpulan bahwa hidup pilihannya hanya satu, tapi cara untuk milihnya ada dua; menerima atau lari karena terus menolak.

Eh bentar deh, makin berat ya bahasan tulisan ini kalau dilanjutin, saya belum siap kalau harus nulis berat-berat. Jadi udahan aja deh! Tapi sebelum itu saya mau bilang, kadang kita tuh terlalu nyaman ada di lingkungan itu-itu aja sampai lupa untuk kenal dan cari tahu apa maunya diri. Oleh karenanya, sering-sering kasih jeda dari sekitar. Bukan untuk menarik diri, hanya saja lebih ke kembali memahami apa maunya hati dan untuk apa hidup masih dijalani :)

No comments

Post a Comment

© Hujan Mimpi
NA