Make a Move

November 24, 2018



Pergantian adalah hal yang tidak pernah bisa kita hindari. Siang jadi malam. Malam jadi siang. Bahkan pertumbuhan rambut atau kuku selalu ada tiap detiknya walau hanya beberapa mili atau bahkan satuan yang jauh lebih kecil lagi.

Mungkin beberapa dari kita sering kali mengeluh ketika ada perubahan drastis yang terjadi tanpa kita inginkan. Contoh singkat yang paling sering dirasakan adalah ketika seseorang yang begitu dekat dengan kita kemudian menjadi jauh. Lalu akhirnya timbul beragam asumsi dalam kepala dan berujung dengan membandingkan segala laku di hari kemarin dan hari ini.

Kadang, seseorang berubah bukan karena ingin menjauhi atau meninggalkan. Tapi memang siklus adanya demikian. Entah karena tuntutan kesibukan yang semakin padat atau memang karena ada hal-hal lain yang secara tidak sengaja membuatnya berubah. Who knows? Yang pasti berubah itu sudah mutlak.

Memang, yang paling terlihat adalah ketika perubahan itu menyangkut perubahan pada orang terdekat kita. Then, what should I do? Apa yang harus aku lakukan kemudian, setelah menanggapi hal-hal yang berubah -entah pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Acapkali hal itu yang berputar-putar di benak. Dan membuat kita seringkali merenung untuk waktu yang tak singkat.

Bukan merenung untuk bergerak, melainkan merenungi apa kesalahan yang telah dibuat, apa hal-hal yang dilakukan hingga membuat perubahan yang tidak diingini seperti itu. Tak ada salahnya memang jika kita kembali memutar sedikit memori ke belakang untuk mencari tahu apa yang salah. Tapi yang sedikit harus dibenahi adalah ketika merenung tersebut kita tak seharusnya menyita waktu terlalu banyak hingga nyaris lupa untuk melakukan perubahan yang mendukung kehidupan kita agar tetap berada di lintasan. Dan lalu akhirnya menyebabkan kesedihan yang berlarut-larut merajai hari kita. Padahal kita tahu bahwa sedih yang berlarut-larut itu tidak pernah baik.

”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” QS. Ali Imran: 139

Begini, ketika ada satu kebiasaan yang berubah tentu akan mempengaruhi segala aspek lainnya juga. Hal itu sudah pasti tentunya, sebab kita ingat bahwa ada sebab akibat pada satu kejadian. Beberapa yang tidak siap akan adanya sebuah perubahan yang tidak pernah disangka sebelumnya tentu akan diselimuti rasa kecewa yang teramat sangat. Hingga mempengaruhi rutinitas sehari-hari yang dilakukan. Terus berupaya mencari jawaban tapi tak kunjung menemukan jawaban.

Bila dilihat sebenarnya segala aspek kehidupannya baik-baik saja tapi entah kenapa hampa saja menjalani segala kegiatan. Dan akhirnya berujung pada kesedihan yang mendalam dan lalu segala pikiran-pikiran negatif menghampiri. Misalnya saja merasa sudah melakukan segala daya upaya agar bisa menjadi sukses tapi hasilnya masih saja tak pernah tampak. Melakukan segala kegiatan agar bisa mendekatkan pada mimpi-mimpi yang dimiliki tapi selalu saja ada yang menggagalkan.

Segala bentuk kekesalan, kemarahan dan ke-tidak terima-an diri, selalu saja hadir menyusup di tengah segala hal-hal negatif yang berkecamuk di benak. Hingga akhirnya membuat kita justru terjebak untuk melakukan penyiksaan terhadap diri sendiri yang berujung pada rasa benci pada diri sendiri atau orang lain yang menyebabkan suatu perubahan itu.

Padahal kita tahu bahwa semakin sering kita melabeli diri kita tidak bisa melakukan ini itu, diri kita salah akan hal ini itu justru akan membuat alam bawah sadar kita merekam stimulus yang ada tersebut dan membuatnya terus ada hingga hari-hari ke depan. Aku pernah membaca bahwa 80% perilaku kita berdasarkan pikiran bawah sadar, yang mana pikiran bawah sadar sendiri terjadi setelah melewati proses yang berulang tadi. Ketika kita merasa gagal dan menyalahkan diri kita sendiri, sudah barang tentu pikiran kita menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain yang menjadi bukti pembenaran bahwa kita memang benar salah.

Logis memang, tapi tetap saja itu merupakan pembenaran yang salah. Kenapa? Karena ya itu tadi, kita bukan akan muncul ke permukaan dan melakukan hal-hal yang lebih baik namun justru semakin tenggelam pada kesedihan dan gelombang keputusasaan. Mungkin, ada yang harus dibenahi selain niat untuk jauh lebih baik. Mungkin benar jika ternyata ke-iman-an kita lah yang belum cukup baik. Iman yang kumaksud di sini adalah iman yang tak tampak, yang kasat mata, namun harus diyakini. Iman yang memenuhi syarat, Diyakini dengan hati; Diucapkan dengan lisan; Diamalkan dengan perbuatan.

Maka, berhentilah untuk menghabiskan waktumu hanya dengan memikirkan kesalahan apa yang telah diperbuat atau membanding-bandingkan hari ini dengan hari kemarin. Berhenti mencari media-media pembenaran yang semakin membuatmu terus berkubang dengan kesedihan dan membuatmu semakin dalam tenggelam pada keterpurukan. 

Kamu harus ingat bahwa perubahan itu mutlak ada, entah semakin mendekatkan dengan mimpi atau menjauhkanmu dengan mimpi. Entah menjauhkanmu dengan orang-orang di sekitarmu atau bahkan mendekatkanmu dengan mereka-mereka yang sebelumnya tidak pernah kamu sangka akan bisa menjadi dekat. Bukan hanya ingat bahwa perubahan mutlak ada, tapi kamu harus lebih ingat bahwa apa yang Tuhan berikan di hidupmu memang itulah yang kamu butuhkan dan yang terbaik untukmu.

Hampa yang mungkin hadir ketika ada perubahan yang menyapa atau ada banyak kegagalan yang dirasakan adalah hampa yang bersifat relatif-bisa diukur oleh dirimu sendiri. Hampa berdasarkan upaya-upaya kita mengejar sesuatu yang kita harapkan bisa dilihat oleh orang lain tapi membuat kita lalai memaknai hal-hal mutlak yang terjadi berdasarkan kehendak-Nya.

Perubahan akan selalu ada, entah ke arah yang tak baik atau ke arah yang jauh lebih baik. Yakinkan dirimu agar segala bentuk perubahan yang terjadi di hidupmu adalah perubahan yang menuju kebaikan mutlak yang hakiki. Apa yang kamu inginkan hanya akan tetap menjadi mimpi yang menggantung bila kamu tak segera memutuskan untuk bergerak dan beranjak menggapainya. Yang hadir akan terus berganti, entah cepat atau lambat. Bukan bagaimana kita menyesali yang sudah lewat, tapi bagaimana kita memaknai sebuah pertemuan dan mengambil hikmah dari setiap perubahan yang terjadi kemudian. 

Jadi tunggu apalagi, let’s make a move, cause You Only Live Once :))


You Might Also Like

2 comments

  1. Aku juga ingin berubah kak,bergerak dan beranjak untuk menggapai sesuatu. Tapi kenapa ya kak, terkadang jika sudah bersusah payah menjadi lebih baik, tetap saja masih ada orang- orang yang seakan tak mengerti betapa sulitnya untuk berubah itu. Mereka berkata ingin membantu tetapi malah menyudutkan. Hehe,maaf kak aku jadi curhat disini. Apa kakak juga pernah merasakan hal yang sama?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu pernah, dan buat saya itu memang akan selalu dan harus ada. Saya selalu percaya, Tuhan memberikan rintangannya untuk menguji mental kita. Kalau belum sanggup melewati ya nantinya akan berulang lagi. Jadi, tetap berusaha dan berserah pada Tuhan. Minta kesabaran dan kekuatan untuk sanggup menjalaninya :)

      Mungkin omongan saya kedengarannya mudah, tapi percayalah saya bisa ngomong gini karena saya sudah pernah mengalaminya lebih dulu :)

      Delete

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella