Al Fine. [ episode ketujuh ]


track 6: teman bahagia
pelan-pelan saja



Setelah obrolan dengan Athaya beberapa waktu lalu, gue jadi kepikiran untuk nggak ngapa-ngapain. Eh nggak gitu, lebih tepatnya gue jadi kepikiran untuk mulai melancarkan aksi gue dengan terang-terangan. Karena ya, buat apa lagi mau sembunyi dan pura-pura? Toh dia single, toh dia putus udah lumayan lama juga.

Urusan dia belum move on, atau masih gimana-gimana ke mantannya ya biar itu jadi urusan dia. Seenggaknya kalau sekarang ya gue usaha aja untuk beneran kasih lihat ke dia, kalau gue ada. Kalau gue tuh masih sama kayak dulu. Gue masih suka di dekat dia, masih mau di dekat dia, bahkan masih banget merasa deg-degan tiap kali lihat dia senyum.

Anjir, segitunya dia buat gue.

Pernah nggak sih orang-orang di luar sana juga merasa kayak gue ini? Atau ini cuma karena gue kelewat bucin aja? Tapi gue yakin sih, ada banyak orang di luar sana yang sekalinya udah suka, ya sampai janur kuning belum melengkung, rasa sukanya masih akan awet. Mau itu patah hati, mau itu nyesek, pokoknya kalau dia belum sama siapa-siapa, perasaan sukanya nggak akan hilang.

“Aku jemput, ya.”

“Gausah. Aku bisa sendiri.”

Suaranya di ujung saluran telepon jujur kelihatan banget nggak nyaman. Tapi kalau gue boleh jadi sok tahu, rasa nggak nyamannya itu sebatas nggak mau merepotkan gue. Biasalah, tim manusia nggak enakan, leader-nya gue rasa sih dia.

“Tapi akunya mau,” gue mengakuinya tanpa ada upaya untuk menutupi apa pun. Karena ya kantor gue memang akan melewati apartemen Utari—yang kini dia tinggali—pun arah kantor gue dengannya searah.

“Stop babying me, Dit.”

Ini gue jujur aja agak berantakan sih. Bingung mau merasakan perasaan yang mana. Di satu sisi gue seneng banget, tiap kali dia mulai membiasakan dirinya memanggil gue dengan nama depan. Rasi tuh satu-satunya manusia yang gue izinkan, dan membuat gue jatuh cinta sama nama depan gue sendiri.

Tapi di sisi lain, gue juga agak sedikit kecewa karena perhatian yang coba gue berikan justru dapat salah pengertian.

Gue menghela napas, sebelum membuka suara. “Ini aku jagain kamu, bukan anggep kamu anak kecil, Ras. Ini caraku buat ngasih tahu aku ada, dan nyempetin waktu buat ada.”

Hening. Rasi diam, menyisakan deru napas yang jadi satu-satunya suara yang gue dengar.

“Aku udah mau berangkat, Dit.”

Lagi-lagi mengelak, tapi bukan Utara namanya kalau nggak pernah melakukan sesuatu dengan totalitas. “Aku udah di lobby, Ras.”

“Hah? Gimana?”

Gue yakin betul, matanya kini membulat sempurna dengan kepanikan yang juga ikut tampil di wajahnya. “Kamu mau turun atau aku yang naik?”

“Oke aku turun,” jawabnya cepat dan membuat senyum gue merekah tanpa bisa dikendalikan.

“Pelan-pelan aja, cek semua barangnya lagi.”

“Iya, Dit.”

Sumpah, Rasi Alfa Karina masih sebegitunya punya magis yang membuat gue nggak punya kuasa apa pun atas reaksi di tubuh gue. Bahkan sampai ke-random-an yang gue lakukan di pagi ini. Subuh-subuh, setelah selesai ibadah dan beberes, gue bisa-bisanya udah ada di Rawa Belong untuk beli bunga mawar.

Alasannya?

Gatau gue pengin aja membuat Rasi tersenyum hari ini. Gue mau untuk membuat dia merasa bahwa hadirnya ditunggu banyak manusia. Lagian juga, ini hari pertamanya masuk kerja, sedikit apresiasi kecil semoga bisa membuat mood-nya baik seharian penuh.

Lagu Teman Bahagia dari Jaz sudah mulai tiba di akhir alunannya, ketika Rasi muncul dengan setelan kerjanya yang berwarna coklat muda, juga heels berwarna hitam yang gue yakini tak pernah buatnya nyaman melangkah. Sialan, lagu-lagu di pemutar musik gue kenapa suka kelewat acak, tapi bisa tepat seperti ini sih?

“Morning, gorgeus.”

Rasi menatap gue sambil menggelengkan kepalanya, dan meletakkan tasnya di paha, “Morning, Dit.”

“Tasnya taro di belakang aja, Ras. Nggak baik dipangku gitu. Ada laptopnya ‘kan?”

Masih belum melajukan kendaraan, gue meminta izinnya untuk meletakkan tasnya ke jok belakang. Rasi tersenyum, lebih cerah dari mentari yang tadi pagi lebih dulu menyapa gue. Satu buket bunga mawar berwarna putih yang juga berpadu dengan warna biru, serta satu paper bag kecil gue letakkan di pangkuannya.

“Eh?”

Rasi menautkan kedua alisnya. Dahinya mengernyit, membuat gue refleks menyentuh keningnya. “Kamu udah dandan, jangan dibiasain kayak gitu, nanti cracking.”

“Kok tahu sih cracking gitu-gitu?” Rasi bertanya di antara tawanya yang menyusup merdu di telinga gue.

“Lintang? Shira? Temen-temenku juga ada perempuan sih, Ras, kalau kamu lupa,” jawab gue seraya melajukan mobil untuk membelah Jakarta yang semoganya tak perlu macet di hari ini.

“Terus ini maksudnya apa, Dit?” Rasi melongok isi paper bag yang gue berikan, “Ada buku juga?”

Kali ini gantian gue yang tersenyum, sembari menatapnya. “Ada almond milk juga,” jemari gue mengetuk satu cup yang ada di tengah-tengah kursi gue dengannya.

“Aku udah lama nggak minum susu pagi-pagi, Dit.”

“Mulai sekarang dibiasain. Jangan kebanyakan kopi, kasian lambung kamu Ras.”

“Kamu aja nggak kasian sama paru-parumu, Dit.”

Iya, skak mat. Mati kutu gue kalau Rasi udah bilang kayak gini. Tapi gue hanya sanggup menanggapinya dengan derai tawa tak berkesudahan, hingga membuatnya kembali bersuara. “Ini aku bukan ngelarang, ya. Aku cuma bales kamu yang sok-sokan nasehatin aku.”

“Udah sarapan?” gue mengalihkan cemberut di pipinya dengan sebuah tanya. Karena bila tidak gue alihkan, bisa-bisa gue lancang ingin mencubitnya. Bukannya mendapat senyum, yang ada satu pukulan melayang di bahu gue. Mending sih kalau pukulan, kalau dia malah minta berhenti di sini, gue yang panik malahan.

Rasi mengambil cup susu almond miliknya, seraya membaca tulisan untuk cup kepemilikan gue, lalu menganggukan kepala seperti kehabisan topik untuk membantah gue. Sebab hanya tulisan hot chocolate yang ia temukan.

“Tadi aku bikin toast sih. Jadi yaaa, jawabannya aku udah sarapan,” ia menjawabnya sembari menatap gue.

“Kok aku nggak dibikinin?”

“Aku gatau kamu mau dateng,” balasnya singkat.

Gue menoleh menatapnya sekilas, lalu kembali menatap jalanan yang cukup padat di hari ini, “Mulai besok dibikinin, boleh nggak?”

“Besok kamu jemput aku lagi?” nada suaranya berubah, bercampur dengan keterkejutan yang sudah pasti akan ia tunjukkan.

“Setiap hari aku anter jemput kamu, Ras,” ringan gue menjawabnya tanpa perlu berpikiran dua kali.

“Aditya.”

Panggilannya bertepatan dengan lampu berwarna merah yang muncul, dan membuat gue terpenjara di antara ruang dan waktu bersama Rasi sedikit lebih lama. Gue menarik rem tangan, lalu menoleh menatapnya, “Hm?”

Ia masih bergeming, mencoba mencari celah jawaban, karena mengira ucapan gue tadi hanya bualan. Sehingga membuat gue mau tak mau juga menatapnya tepat di manik mata. “Aku serius, Ras. Lagian ini jalanannya juga tiap hari aku lewatin, kenapa nggak sekalian buat anter jemput kamu coba?”

Besok-besok gue kayaknya harus lamar kerja jadi cenayang yang jago membaca isi kepalanya Rasi deh. Karena saat ini dia hanya diam, seraya mengusap bekas susu yang ada di sudut bibirnya. Salah satu kebiasaan Rasi ia lebih suka membuka penutup cup-nya, dibandingkan harus mengenakan sedotan.

“Kamu bikinin aku sarapan tiap hari, sama temenin aku dindin tiap hari aja bayarannya, gimana?”

Gue membantu menguraikan rasa tidak enaknya, dengan memberikan penawaran lain yang sesungguhnya jadi celah keberuntungan untuk gue sendiri. Lumayan nggak sih waktu dia dengan gue jadi semakin panjang? Dari mulai sarapan, hingga makan malam, gue setidaknya tak lagi perlu melewatinya sendirian.

“Dindin? Dinner maksudmu?”

“Nah itu pinter!” 

Rasi sedikit bimbang, dari sudut mata gue melihatnya tengah bolak-balik menatap gue dan juga jalanan. “Bills on me?”

Tawa pelan gue menyambut pertanyannya. “Iya, kecuali,” ada jeda yang gue berikan untuk curi tatap melihatnya yang kini fokus menantikan kalimat gue. “Kecuali lagi mau makan di luar, tetep aku yang bayar, apalagi kalau aku yang BM.”

Rasi menggeleng cepat. “Aku aja, Dit. Kalau kamu nolak, aku juga nolak buat dianter jemput kamu.”

“Oke deal,” jawab gue sembari memberikannya kelingking kiri untuk dikaitkan.

Gapapa, biarin aja gue deal sama ucapannya sekarang. Urusan nanti, biar gue yang pikirin gimana cara ngelesnya buat bikin dia nggak bisa mengeluarkan uangnya sepeser pun. Ya sebetulnya nggak apa-apa sih, hanya saja untuk Rasi, gue ingin memberikan semua yang gue punya tanpa sedikit pun timbal balik.

Kayak…ya ini semua tuh murni karena gue yang mau, dan dia nggak seharusnya merasa nggak enak apalagi harus sampai hutang budi ke gue.

Satu belokan terakhir sebelum gue akan menurunkan Rasi di kantor barunya. Rambutnya yang dia biarkan tergerai kini mulai ia rapikan, lalu melongokkan kepalanya ke jok belakang untuk mengambil tasnya.

“Nanti aja aku yang ambilin kalau udah sampe, Ras. Atau kalau kamu mau ngambil sekarang, mundurin kursinya, jangan muter-muter gitu badanmu, nanti malah keseleo nggak lucu.”

Dengan malu-malu Rasi kembali menegakkan tubuhnya dan menatap ke depan, membiarkan gue langsung tersenyum melihat rona merah jambu di pipinya itu.

Usai menghentikan kendaraan di depan lobby kantornya, gue membiarkan Rasi memundurkan jok mobilnya untuk mengambil tas. Biar saja, gue enggan menolaknya karena tak ingin dia merasa risih, apalagi sampai membuatnya kembali berpikiran bahwa gue masih menganggapnya anak kecil apabila membantunya.

Rasi terlihat ragu untuk membawa bunga dan juga paper bag yang tadi gue berikan, beberapa kali ia menatap gue, namun buru-buru menggelengkan kepalanya ketika manik kami bertubrukan. “Gamau dibawa? Ya udah taruh aja di situ gapapa. ‘Kan pulangnya nanti sama aku juga.”

“Gapapa? Kamu nggak marah?”

“Bintang sering marah emangnya sampe kamu takut aku marah?”

Raut wajahnya berubah, namun gue enggan meminta maaf sebab menyebut nama itu kembali di hadapannya. Walau sebenarnya gue juga malas, tapi sesekali gue juga ingin tahu seperti apa reaksi Rasi bila nama mantan pujaannya itu gue gemakan.

Ia tak menjawab pertanyaan gue. Anak rambutnya ia bawa ke balik telinga, lalu mengambil buku di dalam paper bag dan memasukkannya ke dalam tas. “Aku titip bunganya aja kalau gitu, ya. Jangan dikembaliin ke abangnya!

Gue tertawa mendengar gurauannya yang dibalasnya dengan satu cengiran. Belum sempat ia membuka pintu, gue mencegahnya dengan kembali mengunci mobil, membuatnya menoleh dan mengernyit heran.

“Ini gamau salim atau kecup kening dulu gitu, Ras?”

Matanya membulat sempurna dengan tangan kanannya yang gue pegang, sebab hampir mencubit lengan kiri gue. “Aditya Wira Utara!”

“Ya kalau di film-film ‘kan gitu, Ras,” tawa gue memancingnya untuk menggeleng tak percaya akan gurauan yang gue lontarkan.

“Di film-film kayak gitu, ya karena mereka emang pasangan, Dit,” jawabnya sambil menarik pergelangan tangannya dari jemari gue.

Gue membuka kunci, “Ya udah ayo, kita jadi pasangan juga.”

Rasi memicingkan matanya, juga mengernyitkan hidung bangirnya, dengan dua gelengan tak percaya. “Udah ah. Aku duluan, ya. Nanti kalau kamu udah sampe, kabarin. Makasih ya, Dit.”

“Sama-sama, cantik!”

Ia turun dari mobil, lalu tetap berdiri menunggu gue melajukan kendaraan. Gue menurunkan jendela seraya memanggilnya, “Eh, Ras?”

“Hm?”

“Kalau ada yang genit sama gangguin, bilang pawang kamu nyeremin,”

“Emangnya hujan?” Rasi tertawa, membuat lega membawa lapang di hati gue. Ini gue yakin banget kalau tiap pagi asupan gue secerah ini, nggak akan ada tuh namanya keluhan meskipun kerjaan gue segambreng. “Udah sana hati-hati. Gausah ngebut, Dit!”

“Jalanannya macet, mana bisa ngebut, Ras? Yang ada aku nabrak mobil orang hehe.”

Tangan kanannya melambai, meski ada banyak barang bawaan yang sedang ia pegang. Gue membiarkan jendela tetap terbuka, namun kini membawa Hyundai Genesis GV80 gue kembali sibuk bertarung dengan macetnya ibukota.
Share:

Al Fine. [ episode keenam ]

track 5: if u could see me cryin' in my room
untuk berakhir

 

Canberra, tiga hari menuju kepulangan.

 

Pernah tidak punya perasaan jengah untuk berada di satu kota? Pernah tidak punya rasa ingin pergi, tapi kembali pada tempat lain yang sebetulnya juga menyakitkan? Pernah tidak? Saya pernah, dan sedang merasakannya. Dari kemarin hingga hari ini, dan mungkin hingga nanti akan berulang lagi perasaannya.

"Rasi, kamu beneran mau tahun baru di Jakarta?"

Ibu berada di ambang pintu kamar, menatap saya yang kini sembunyikan helaan napas, dari panca inderanya. "Iya, Ma," lirih saya menjawab tanyanya.

"Bareng temen-temenmu? Atau ba—"

"Sendirian, Ma," potong saya dengan cepat, sebab tahu pernyataannya hanya akan mengarah pada satu nama. "Lagian aku 'kan harus karantina dulu."

Sudut mata saya menangkap Ibu tengah menggeleng dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Mungkin saya yang terlalu pintar menangkap gelagatnya, tapi firasat saya sudah tentu benar, Ibu akan lakukan banyak cara untuk tunda saya berangkat.

Kalau saja Ibu tahu, saya ini mati-matian ingin pulang atas alasan apa, mungkin tidak ya ia masih akan tetap berbicara tenang seperti ini?

"Tuh 'kan, kalau gitu mending di sini dulu aja, berangkatnya setelah tahun baru."

Satu kalimat ucapannya membuat gemuruh di dada saya bergejolak. Tapi kepalang tanggung bila saya harus luapkan perasaan itu. Sebab sejak dahulu Ibu tahu, saya tak pernah tentang inginnya akan sesuatu.

Hanya satu gurat senyum yang otomatis tergambar di wajah saya, diikuti dengan omong kosong yang saya jamin akan ditertawakan oleh dunia. "Kangen Jakarta, Ma. Kangen tahun baru di sana."

Balas saya berusaha sesingkat mungkin, namun tetap padat dan jelas, berharap bisa diterima oleh Ibu sebagai alasan yang kuat.

Jemari saya bergerak memegang gelas kosong di sudut meja belajar. Sama kosongnya dengan tawa yang tersungging di bibir saya, usai ucapkan alasan paling tak masuk akal untuk diri sendiri. Kangen katanya. Ya, memang itu tadi yang saya lantunkan. Tapi kalau harus akui kenyataan, sudah pasti kalimat itu jadi kebohongan terbesar yang saat ini sedang saya yakini.

Lancang rasanya bila saya agungkan rindu, tapi saya tak benar-benar tahu apa itu rindu dengan kota yang penuh kenang dan juga genang airmata. Saya sesungguhnya masih tak bisa paham, kenapa harus saya sebut rindu padahal saya tahu itu omong kosong yang seharusnya Ibu pun mengerti saya tengah mengada-adakan alasan. Saya berbalik, memutar gelas yang saat ini tengah saya genggam beberapa kali, lalu alihkan pandangan padanya, sebelum memutuskan melewatinya untuk keluar dari kamar.

"Ras, Mama lagi mau ajak kamu ngobrol lho!"

Saya tahu ada sedikit emosi di antara ucapannya. Tapi saya juga malas untuk mengobrol, bila ujungnya akan dibasuhkannya satu kalimat tanya yang sudah muak saya dengarkan. "Be right back, Ma. Rasi haus, mau ambil minum dulu."

Hanya itu yang saya utarakan. Dengusan kesal terdengar di antara napas dan juga decakan bibirnya.

Ironis, ya?

Dulu saya selalu berharap bisa berkumpul bersama kedua orangtua. Untuk habiskan kebersamaan di meja makan, yang sering tak saya miliki sejak usia tumbuh kembang. Untuk lewati waktu dengar cerita mereka diiringi tawa yang penuhi ruang keluarga. Untuk menikmati rasa penuh, sebab bertahun saya temui kosong di rumah yang temani sepi masa remaja saya.

Dulu, itu dulu. Sebelum saya mengenyam kuliah lanjutan yang saya putuskan di negeri ini. Sebelum saya menyadari bahwa hidup sendiri dan mandiri di Jakarta, terasa jauh lebih menenangkan dibandingkan harus berdekatan dengan mereka di sini. Sebelum saya menyadari, bahwa pertanyaan-pertanyaan kedua orangtua saya justru mencekik napas kebebasan saya.

"Nanti di sana dijemput siapa?"

Lamunan saya buyar, ketika Ibu sudah berdiri di samping saya, dan kembali hadiahkan pertanyaan. Saya tersenyum, berusaha maklum, dan kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang masih akan berlanjut.

"Ma, taksi banyak. Apa pun tuh ada di Jakarta. Lagian, Rasi udah lama tinggal di sana, it's not my first time, Ma."

"Ya siapa tahu nanti kamu dijem—"

"Aku bisa jaga diri aku sendiri, Ma. Dulu 'kan Rasi juga semuanya serba sendiri, Ma."

Saya tahu ucapan saya tadi itu berisikan sindiran, tapi saya juga lebih tahu Ibu semestinya paham jika saya tak suka gantungkan sesuatu pada orang lain. Tidak dulu ketika saya sendiri, atau kini saat saya sudah memiliki seseorang yang berada di samping.

Ibu masih menatap saya. Tegas seperti biasanya, namun ada sedikit keluh yang juga ingin disampaikan. Saya diam, meliriknya beberapa kali lalu memutuskan untuk beranjak kembali ke kamar. Mungkin bagi Ibu saat ini, saya bukanlah Rasi yang dahulu. Yang tetap bersedia menanti Ibu berkata, sudah sana ke kamarmu, baru kemudian beranjak menyudahi obrolan.

Tapi sungguh, anak berbakti pun pasti punya rasa lelahnya. Ada banyak resah dan hilir mudik kekesalan yang juga saya genggam di kepala. Yang mungkin akan meledak sewaktu-waktu, bila sederet pertanyaan selalu jadi jamuan di antara obrolan yang semestinya menghangatkan.

"Rasi, kalau nanti Bintang telepon kamu, bilang Mama mau bicara."

Kalimat itu lolos menemani perjalanan saya menuju kamar. Lepas kendali sudah rasanya emosi saya untuk sekadar jawab iya bagi retorika itu. Saya tutup pintu kamar dengan sedikit suara yang mengagetkan, lalu rebah jadi pilihan utama untuk saya berkutat dengan isi kepala yang itu-itu saja.

Bicara soal isi kepala, saya jadi teringat di tahun-tahun awal saya tinggal dengan kedua orangtua, usah ditanya bagaimana bahagianya saya selalu tatap manik mata mereka. Tapi kini, setiap kali saya terbangun dari lelap, satu-satunya hal yang terlintas di benak saya hanya, bagaimana lagi cara saya melewati deret pertanyaan mereka yang tiada berujung.

Sejujurnya, saya takkan peduli bila pertanyaan itu hanya pertanyaan biasa yang tak sentuh hubungan saya. Tapi ini berbeda, orangtua saya lewati garis batas itu, hingga berkali-kali ciptakan renggang di antara hubungan saya dengan dia.

Sudah sejak awal saya bilang, prinsip saya itu enggan untuk gantungkan hidup pada siapa pun. Tidak soal rasa, juga tidak soal bahagia. Tapi bagi orangtua saya, mereka perlu itu untuk wujudkan impian mereka pada putri semata wayangnya.

Xaviero Bintang Pradana.

Satu nama yang sering saya sebut dalam doa itu, jelas-jelas selalu jadi bulan-bulanan pertanyaan 'kapan' dari Ibu dan Ayah. Pertanyaan yang saya, atau lebih tepatnya kami pun belum bisa tentukan jawabannya. Karena untuk menjadi yakin, bukan hanya sekadar jumlah uang di rekening, kestabilan hidup yang tampak, dan juga latar belakangnya yang dirasa baik juga sempurna. Sebab untuk urusan serius, ada luka yang harus sembuh dan juga berani untuk dihadapi.

Sedang baginya, kesiapan itu belum ada, dan ketakutan itu memenjarakan. Lantas saya harus berbuat apa bila demikian adanya? Saya lelah berkonfrontasi dengan kedua orangtua, untuk bela ia tanpa perlu jelaskan duduk masalah. Saya juga lelah berdebat dengannya, untuk beri paham bahwa orangtua saya hanya inginkan abu-abu berubah jadi hitam atau putih. Saya bosan berada di tengah, saya bosan untuk memahami, bahkan saya kelelahan untuk sekadar duduk dan pahami maunya diri.

Tanya saja pada muda-mudi di luar sana. Siapa yang tak ingin bina hari tua dengan seseorang yang dirasa yakin dan benar, untuk berikan semua sisa usia? Siapa yang tak bersedia untuk jalin bahagia, tanpa dosa yang sering warnai nafsu di tengah banyaknya temu?

Saya tak ingin kedua orangtua saya sesali pilihannya, untuk lahir dan besarkan saya di dunia ini. Saya juga tak ingin bila harus sesali pilihan, sebab yakin bahwa ia yang akan jadi satu-satunya, tanpa harus memilih serta dijadikan deret pilihan di antara banyak pilihan. Tapi lagi-lagi saya juga harus berani tatap fakta yang ada. Saya tak bisa paksakan kehendak, sebab abu-abu juga penuhi ruang-ruang penantian.

Oleh karenanya saya putuskan sudah. Sudah untuk terus hidup di sini, di dekat kedua orangtua saya. Sudah untuk dengar semua pertanyaan itu, dengan melarikan diri ke kota yang pernah jadi juara untuk semua dilema saya di masa muda.

Ini pelarian. Jelas saya tahu.

Ini hanya menghindari dan bukan menyelesaikan. Jelas betul saya pahami itu.

Tapi apalagi pilihan saya untuk bawa damai bagi diri? Di saat tuan yang saya kagumi hingga lelah penuhi penantian serta doa, belum juga bisa beri jawaban. Di saat kedua malaikat di hidup saya, terus-menerus beri tuntutan yang sebetulnya juga jadi pertanyaan untuk saya. Apalagi yang bisa saya lakukan selain berlari dan juga menghindar? Apalagi?


***

Kepada jengah di puncak lelah,
bisakah lepas jadi bebas yang diimpikan?

Kepada tanya di perantara sapa,
bisakah jawaban berikan kepuasan?

Kepada salam di sudut hari,
bisakah jarak redakan segala pertentangan?

Kepada kamu di semua rasa percaya,
bisakah kita lalui segalanya bersama?

Share:

Al Fine. [ episode kelima ]


track 4: angel baby
langkah pertama

 

Tes tes tes.

Udah, ya? Oke nih?

Oke kalau gitu sekarang gantian gue yang cerita. Karena kayaknya kemarin gue yakin betul, lo semua udah lelah dibuat mendayu dan sesak oleh jelita cantik—harusnya punya gue—bersama dengan mantan kekasihnya. Tolong digarisbawahi, ya, mantan.

Tolong juga, berhenti berpikiran bahwa gue yang dipanggil mas oleh dia. Karena sampai nanti ayam berkokok di jam 12 siang pun, gue nggak akan pernah dipanggil kayak gitu sama Rasi. Yaaa, mentok juga paling dia akan memanggil gue dengan sebutan bang.

Itu aja sebenarnya udah bisa banget bikin gue sakit hati. Karena sejak kapan elah gue jadi abangnya? Bisa-bisanya dipanggil abang, meronta betulan batin gue tiap kali dia memanggil gue dengan sapaan seperti itu.

Oke udahlah, udah cukup ini intro gue yang makin ke mana-mana. Sekarang lo duduk diam aja, yang nyaman, terus fokus ke cerita gue dengan dia. Tenang aja, setiap kali gue bercerita, gue tidak akan meminta dunia beserta seisinya untuk memihak gue. Karena ya emang ini bukan pembelaan juga, toh dari awal lo udah kelewatan demen menghujat gue dengan banyak makian, dan juga gurauan ditikung.

Yak! Mamam tuh ditikung, kalau ujungnya gagal juga ya sama aja bohong.

Gue yang tadinya mau bilang kalah telak juga jadi males bilang kalah. Karena ya apa yang mau dibilang kalah, kalau ujungnya mereka bubar?

Aduh demi apa pun hal yang bisa dijadikan bahan sumpah, gue ngomong begini kalau di depan dia sih kayaknya nggak berani. Karena yang ada gue sama aja menyerahkan diri untuk dimusuhin sama dara—cielah dara—cantik, pujaan hati yang belum juga tergapai sampai detik ini.

Udahlah belum tergapai, move on juga nggak bisa-bisa, mau lo tuh apa sih, Utara?

Mau gue sih dia. Sampai kapan juga gue maunya dia. Nah yang gue nggak tahu, dia mau juga atau nggak. Nanti deh dicoba dicari tahu, pelan-pelan aja. Gue sih ikhlas ya menunggu dia sampai nanti. Sampai siapa tahu aja berkenan membuka hati buat gue. Ya pokoknya kalau buat Rasi, gue siap lahir dan batin menunggu.

Asallllll, nunggunya juga bukan nungguin dia sampai pelaminan bersama yang lain.

Nah kalau yang itu sih kayaknya gue izin pulang duluan. Mending gue tidur terus mikirin besok makan pakai apa, walau ini sama susahnya karena laper mata adalah nama lain gue, tapi seenggaknya gue sedikit terbiasa, dibanding harus lihat dia sama laki-laki lain, lagi.

Ini gue yakin sih, ketika lo baca, lo pasti akan mengira gue bucin setengah mati sama dia. Apalagi setelah empat tahun berlalu, bahkan ada beberapa wanita yang silih berganti gue icipin—aduh jelek ya bahasanya icipin, ya maksudnya tuh diicip sayangnya, mesranya, perhatiannya, gitu deh—nah ujungnya tetap aja balik ke dia.

Tapi coba deh lo pikir lagi, gimana mungkin gue nggak balik ke dia dia dia lagi, kalau kesempatannya selalu kelihatan ada?

Empat tahun hampir gue udah sampai di titik, yes, bisa nih gue move on. Rasi makin adem ayem sama Bintang, akur banget tiap kali ketemu mereka, bahkan gue menyadari dengan sangat betapa sayangnya Bintang ke Rasi, begitu juga sebaliknya. At least, kalau gue jadi netizen sih, gue bisa melihat itu walau nggak ada tuh unggahan mesra di akun mereka. Poin bagusnya, gue sedikit aman nggak perlu kebakar api cemburu.

Lo bayangin, empat tahun lo melihat itu, di pikiran gue cuma satu, ending-nya udah kelihatan. Mereka bersama, hidup bahagia, punya anak-anak yang lucu. Gitu nggak? Eh tapiii, dunia emang suka kelewatan bercandanya. Tiba-tiba aja, nggak lama setelah Rasi pindah ke Jakarta, gue dan sahabat-sahabat yang lain tahunya dia udah nggak bareng sama Bintang.

Alasannya? Nggak ada yang tahu, dan kita nggak juga coba tanya kalau dia nggak cerita.

Karena kalau dia nggak cerita, ya pasti ada alasan besar dan mungkin berat untuk dia ceritakan. Yang bisa jadi lagi dia usaha untuk ikhlaskan juga. Mau gamau, gue dan yang lain hanya bisa menunggu, lagi-lagi menunggu. Menunggu sampai dia siap cerita.

Sama kayak sekarang ini. Nggak sekarang sih, tapi beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, gue dan dia kalah main stacko, dan mau gamau kami yang harus mencuci piring. Dan ya udah, tinggallah gue dengan dia berdua di dapur. Oh nggak usah tanya gimana perasaan gue saat itu. Kayak elo nih lagi berdiri di depan speaker, terus lagu yang keputer ajeb-ajeb. Gimana rasanya? Deg-degan nggak tuh jantung? Nah sama, gue juga kayak gitu.

Sampai akhirnya dia nanya soal apartemen Utari. Yang out of nowhere mau dia sewa. Kayak...sewa? Sewa? Rasi nyewa apartemen? Buat apa? Dia punya rumah, rumahnya besar dan semua fasilitas ada. Buat apa sampai harus pindah? Kalau alasannya kerjaan, udah jelas nggak mungkin, karena dia aja belum dapat pekerjaan.

Sumpah, gue mau banget bertanya, apalagi sebagai seorang Taurus garis keras, kepo gue udah ada di ujung tebing kayak Wanda waktu mau jatuh didorong sama America. Keponya udah maksimal banget. Cuma karena yang sedang gue hadapi adalah Rasi, tanpa diminta pun gue hanya bisa sabar menunggu sampai dia sendiri yang cerita.

Walau kalau boleh jujur ya, gue kayaknya juga harus kasih alarm di kepala sih. Supaya gue sadar, meski dia belum cerita, bukan berarti gue harus lupa juga kalau gue udah kasih izin dia mau pindah kapan pun. Tanpa harus laporan sama gue, dan membuat gue diam mematung sekaligus diserbu perasaan malu dan awkward karena sekarang gue dan dia saling bertatapan bingung.

"Ras, aku..."

"Gapapa, wajar kamu lupa, Utara."

Wajar? Sebelah mananya wajar elah, kalau gue nyelonong masuk gitu aja ke apartemen Utari, sambil menenteng satu bungkus martabak manis, dan mendapati dia hanya berbalut kaus belel kebesaran yang hampir menutupi celana pendeknya, dengan rambut yang digelung handuk.

Lo pikir coba, sebelah mananya gue bisa jadi wajar dan waras?

Satu, pemandangan di depan gue tuh Rasi. Dua, dengan tololnya gue udah tahu tadi kartu akses di dompet gue nggak ada, tapi gue malah pakai kartu akses di belakang case hape gue. Kayak...tolol 'kan?

Terus tiga, Rasi tuh masih perempuan yang diciptain Tuhan pas lagi bahagia-bahagianya Dia, dan sekarang ini perempuan ada di hadapan gue. Dengan tatapan polos dan wajah naturalnya, menatap gue yang berdiri tegap seakan-akan baru balik dari kerja, terus mau pulang ketemu istri eh kejauhan, mau ketemu pacar. Lo bayangin aja, bagian mananya yang wajar?

"Ya nggak gitu juga sih, Ras. Otakku kayaknya pusing sama kerjaan deh, dan biasanya selalu ke sini tiap kali suntuk, karena deket juga dari kantor. Makanya, aku beneran lupa banget kamu bisa aja udah tinggal di sini."

"Aku yang lupa, Utara. Aku belum sempet bilang ke kamu," Rasi menatap gue sambil menuangkan segelas air.

"Kamu pegang semua aja deh kartu aksesnya, Ras. Takut banget aku lupa lagi, terus malah nyelonong gitu aja ke sini. Yang ada malah aku jadi ngeganggu. Iya kalau kamu..."

Rasi tertawa, manis banget sumpah, sampai-sampai membuat gue enggan buat lanjut ngomong, dan tetap betah berdiri di depan pintu yang sudah tertutup. "Udah, masuk dulu aja, Utara. Kamu mau bengong di situ aja emangnya?" panggil Rasi dengan tenang, dan juga masih dengan senyumannya.

Kalau gini caranya sih, gue mau minta tolong banget sama elo semua yang baca. Please, kali ini aja, gue butuh bantuan doa dari kalian semua untuk ingat bahwa ini statusnya Rasi masih sahabat gue, dan dia baru patah hati.

Tolong jangan tolol ya, Utara!

 

 

 






Share:

Al Fine. [ episode keempat ]

 

track 3: when it ends
untuk memulai



Jakarta, 2022

Rumah itu katanya tempat untuk pulang dan melepas lelah. Tapi, bagaimana kalau rumah yang seperti itu tidak pernah benar-benar ada? Bagaimana kalau yang ditemui saat kembali ke rumah hanya ruangan-ruangan kosong tanpa penghuni. Bahkan deru napas saja, hanya milik diri sendiri, berdampingan dengan detak jarum jam yang saling bersahutan satu dengan lainnya.

Rasi Alfa Karina kembali meletakkan gawainya seusai membalas pesan dari salah satu manusia baik hati, yang kerap kali muncul tanpa permisi dan selalu diiringi kejutan. Seseorang yang amat menyenangkan untuk dijadikan sahabat, tanpa harus diikuti dengan keterlibatan rasa yang merumitkan banyak jalinan isi kepala.

Beberapa hari ini, perempuan yang tak pernah memotong pendek rambutnya itu memang disibukkan dengan kegiatan laiknya orang dewasa. Mencari pekerjaan, untuk keberlangsungan hidupnya sendiri. Yang katanya sih, ingin segera usai dari titah dan titipan amanat tiada berkesudahan, dari dua malaikat yang menghadirkannya di muka bumi.

Rasi masih saja tak beranjak dari sofa, meski ia tahu karibnya sebentar lagi akan tiba. Ia justru memilih untuk kembali larut, pada tayangan di televisi yang bolak-balik ia ubah sesuka hati, karena tak temukan satu pun yang menarik. 

Empat puluh lima menit berselang, denting suara bel berbunyi dari pelataran rumahnya. Rasi sedikit berlari kecil untuk membukakan pintu, karena ia yakin betul siapa yang ada di baliknya. 

“Surprise!”

Baru saja pintu dibuka, teriakan nyaring terdengar dari beberapa manusia yang kini sudah tersenyum cerah menatapnya. Dengan tatapan yang juga hangat, namun ada sedikit tanda tanya, Rasi menoleh pada Langit yang justru tengah tertawa tanpa dosa.

“Kok jadi banyak, Ngit?” tanyanya selagi mempersilakan Lintang, Shira dan juga Fajar untuk segera masuk ke dalam rumah.

“Biar nggak sepi. Nggak boleh? Atau emang lo mau berdua aja?” tanya Langit sedikit menundukkan kepala, untuk berbisik di telinga juwita yang belakangan ini kerap ia hadiahi tutur penuh kalimat-kalimat manis yang berbalut gombalan.

Rasi meliriknya sekilas, “Ya ya gapapa sih.”

“Ya gapapa apa? Gapapa berdua aja?” Langit menaikkan sebelah alisnya dengan sunggingan di ujung bibir yang ikut merekah. “Kalau itu sih biasanya yang ketiga setan, Ras. Yakin emangnya gapapa?”

Rasi berdecak sebal karena tak lagi tahu harus membalas ucapan sahabatnya itu seperti apa. 

“Udah! Ayo masuk, nggak enak itu sama yang lain,” ajak pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam dan putih itu sembari menggandeng tangan Rasi.

“Ras, gue tadi beli sushi tuh abangnya bisa anter sampe dalem nggak sih?” kali ini Shira bersuara setelah membaringkan badannya di sofa ruang tamu.

“Order online?”

“Iya.”

Rasi mengganggukkan kepala. “Bisa kok, paling nitip KTP doang abangnya. Lagian kenapa tadi nggak mampir dulu?”

Dengan cepat Shira melayangkan telunjuknya pada Langit yang baru saja mengambil posisi duduk dan membuka ponsel. “Tuh Langit! Males mampir-mampir katanya.”

Menyadari dirinya disebut, Langit langsung layangkan netranya menatap Rasi yang kini tengah terdiam, seolah menanti penjelasan. “Gue males ya kalau nanti pada mampir beli ini itu. Lo tau sendiri cewek gimana, Ras? Lama! Mana di luar panas.”

Fajar yang sejak tadi masih diam, kini ikut melontarkan kalimat membalas ucapan sahabat prianya itu. “Gue liat-liat Langit makin tolol ya kebanyakan di hutan.”

“Kenapa sih?” 

“Elo ngomong gitu ke Rasi, terus Rasi juga cewek, maksudnya gimana dah? Berharap dibela sama Rasi?”

“Eh iya, anu...”

Rasi tertawa. Setidaknya untuk kali ini urat-urat tegangnya lumayan mengendur karena kedatangan mereka. “Bilang aja emang lo males, Ngitngit.”

“Rasiiiiii, masih bikin jus nggak?”

Perempuan yang hari ini memakai baju kaus berwarna putih, dengan celana pendek berbahan denim itu menolehkan kepala, ketika suara Lintang menyela langkahnya. “Ada kok di kulkas, tapi tadi cuma bikin jus apel sama jeruk. Eh ada stroberi juga sih kayaknya. Mau?”

Lintang mengangguk dengan cepat, dan berlari menyusul Rasi. “Mauuuuuu! Lintang bantuin ambil, ya?” 

Rasi tersenyum dan menyambut Lintang dengan uluran tangan kanannya, yang kini digenggam oleh perempuan yang setelah tahun berlalu, kini semakin terlihat lihai memainkan pulasan rona merah di pipi, dan menambah cantik rupanya.

“Hari ini nontonnya pilihan gue!” Fajar yang saat ini tengah berada di ruang keluarga kediaman Rasi sudah mengambil alih remote televisi. Membawanya ke dalam dekapan, dengan kedua kaki yang ditekuk dan bersandar santai pada sofa.

Langit yang tadi masih menemani Shira di ruang tamu pun kini beranjak, sambil meneriakkan kalimat-kalimat penuh kata tidak setuju. “Ogah! Apaan deh, harusnya pilihan Rasi dong,” sambungnya lalu duduk di samping Fajar.

“Iya Rasi aja yang milih,” ungkap Shira yang tak lama ikut bergabung. “Eh, tapiii jangan deh! Dia yang milih mah ujungnya nonton Friends lagi.” Tatapnya pada Rasi dan Lintang yang baru saja kembali dari dapur dengan beberapa botol berisikan jus juga air mineral. “Lo aja deh kalau gitu yang milih, Jar. Kalau Langit yang milih yang ada kita disuruh nonton national geography.”

“Eh bagus anjir natgeo tuh! Berfaedah. Lumayan bikin mikir, jadi lumayan deh tuh mengurangi kemungkinan kena Alzheimer.”

Fajar menoleh menatap Langit yang baru saja bersabda, “Lo beneran kesurupan ya pas di hutan? Kenapa makin sok bener gitu dah omongan lo?”

Langit tertawa dan beranjak membantu Rasi, yang saat ini masih sibuk bolak-balik ke dapur mengambil beberapa camilan. “Justru karena kemarin kebanyakan gaul sama lo makanya otak gue pas abis masuk hutan tercerahkan.”

“Monyet! Lo kira gue apaan?”

“Manusia, Jar. Ih suudzon aja. Kalau gue bilang mending lo melukat deh di Bali.”

“Apaan lagi itu ya Tuhan. Lo tuh ya istilahnya makin aneh-aneh deh, Ngit.”

Langit yang baru saja meletakkan piring berisi buah yang sudah dikupas oleh Rasi—kebiasaan bila berkumpul di rumah perempuan ini memang demikian—hanya tertawa, “Nanti liburan ke Bali deh yuk. Rame-rame, gimana Shi, Tang, Ras?” tanya Langit bergantian menatap ketiga sahabat perempuannya.

“Gue sih ayo aja.”

“Lintang ayo aja asal sama Shishi sama Rasi.”

Langit mengacungkan jari telunjuknya, lalu beralih menatap Rasi yang kini duduk di sampingnya. “Elo gimana, Ras?”

“Ya ayo aja kalau waktunya pas.”

“Cakep! Gini dong baru namanya sobi gue!” Langit lekas merangkul Rasi, seusai mendengar jawabannya. Sedang yang dirangkul hanya mengisi tenaganya dengan tawa yang terus hadir, ketika dengar perdebatan-perdebatan kecil di antara sahabat-sahabatnya.

Satu gelas air mineral yang baru akan disesap oleh Rasi berhenti mengalir di kerongkongan, ketika satu suara Langit melesak menembus kokleanya dengan lembut. “You’re not alone, Ras. Kita tetep ada sama-sama buat nemenin lo. You deserve to be happy.”

Gelas yang tadi ia pegang kini ia letakkan, lalu ia ulas sebuah senyum tulus sebagai rangkaian terima kasih untuk semua usaha yang Langit berikan untuknya. “I owe you,” tanpa suara Rasi mengatakannya di sela tatapan mereka.

“Cium dong kalau gitu,” goda Langit yang seketika dibalas satu tepukan halus dari Rasi. “Minta sama cewek-cewek lo sana!”

“Hahaha, i love you too, babyyyy!”

Saat tengah asyik bercengkrama dan meleburkan tawa di antara mereka, satu denting bel di pintu masuk kembali berteriak. Keadaan rumah yang hari ini kosong dan hanya diisi oleh Rasi beserta sahabat-sahabatnya itu, sontak membuat si perempuan tergesa berdiri dari duduknya dan berlari untuk menilik siapa yang datang.

Baru saja Rasi membuka pintu, dua orang karibnya yang sejak tadi memang tak tampak kini sudah berada di ambang pintu. 

“Anak setan mana, Ras? Bisa-bisanya gue nggak diajak.” Utara menyapa Rasi dengan berapi-api, sedang Rasi hanya tertawa menatapnya, juga menatap satu sosok lainnya di belakang Utara.

“Langit mana lo!?” teriak Utara seusai Rasi mempersilakan mereka masuk dan juga menutup pintu.  Lelaki yang mengenakan kaos polos berwarna biru dengan gambar kuda di dadanya—katanya sih salah satu brand kecintaannya—itu sudah melangkah masuk mendahului Rasi dan Athaya yang mengekorinya.

“Berisik, Nyet,” balas Langit yang menatap Utara tiba. “Lo kira ini di hutan main teriak-teriak gitu? Nggak sopan sama yang punya rumah,” tunjuknya pada Rasi yang berdiri di belakang Utara.

Utara menatap Rasi sekilas, lalu kembali menggelengkan kepala dan mendekat pada Langit dengan bantal yang sudah ia ambil untuk mendekap sahabatnya itu. “Ya elo bisa-bisanya nggak ngajak gue. Coba tadi gue nggak sama Thaya, gue pasti taunya dari stories lo doang!”

“Emang sengaja!” jawab Langit usai melepaskan diri dari bekapan Utara, dan sekarang berganti duduk di samping Shira di atas sofa. Lelaki itu tahu, Utara takkan mungkin mengejarnya bila ia berdampingan dengan Shira. “Lagian nih ya, gue males ngajak lo. Soalnya kita nanti bukannya seru-seruan, lo malah sibuk caper ke Rasi. Ogah ya gue!”

Utara berdecak, “Dih suudzon.”

“Yang lain setuju gue suudzon, apa gue bener?” tanya Langit tak mau kalah sembari mengambil beberapa potong semangka untuk dilahap.

Rasi yang masih berdiri menyaksikan itu semua hanya tertawa. Sebagian hatinya terasa ringan, sebab sepi yang bisa memeluknya digantikan canda tawa di hari ini. Begitu pula lelaki yang kini berdiri di samping Rasi, ia hanya sanggup menggelengkan kepalanya dan membenahi kacamatanya sebelum kembali menatap Rasi yang tengah menyunggingkan tawa.

“Gapapa kalau pada dateng, Ras? Papa Mamamu nggak di rumah?”

Rasi menoleh, “Gapapa, daripada aku doang sendirian. Malah seneng kayak gini jadi rame, Tha,” ujarnya dengan tulus, dan memancing tangan kanan Athaya untuk mengusap puncak kepalanya.

“Gabung kali ke sini. Jangan modus aja tuh tangan lo, Thayangggg,” sela Utara yang sejak tadi memusatkan perhatiannya pada Rasi dan Athaya, yang berdialog pelan namun sanggup membuat panas seisi ruangan. 

Sepertinya kali ini semua tahu, Utara sedang berusaha untuk kembali menempatkan diri pada apa yang sebelumnya sempat ia relakan. Terlebih, setelah kandas hubungannya dibina, juga kandasnya hubungan sang juwita yang sejak duduk di bangku perkuliahan sudah sanggup mencuri hatinya.




Share:

Al Fine. [ episode ketiga ]


track 2: lose you to love me
tidak lagi bersama

 

September 2021

Jika jatuh cinta hadir sebagai kuasa untuk tentukan kata pertama harus tiba. Maka bukan dia jawaban yang jelma kata pertama untuk semua yang saya alami di dalam hidup.

Mungkin dia memang bukan yang pertama, lebih tepatnya bukan dia cinta pertama saya. Tapi bagi saya, semua pertama itu telah jadi jelmaan kata bersama yang saya lewati dengannya. Kebersamaan yang semua manusia juga tahu, bagaimana ketertarikan itu tercipta untuk kemudian mengisi dan juga menemani.

Bohong jika saya tak terbiasa akan hadirnya. Bohong juga jika saya tak akui semua yang ada di dirinya, ialah apa yang selama ini saya perlukan untuk membuat segala hal tetap waras dijalani. Meski ya, kesempurnaan takkan pernah ada, sebab prahara yang kecil-kecil itu juga perlu sesekali tiba di antara jarak yang terbentang.

Yaa, bagi saya semuanya masih cukup untuk disebut damai. Semuanya akan baik-baik saja, apalagi tahun keempat sudah hampir habis untuk dilalui. Tapi mungkin, muda-mudi anak adam dan hawa yang tertinggal di bumi ini, lekat dengan kata lupa pada wejangan lama yang selintas penuhi linimasa.

Mereka lupa jika empat tak pernah diakui sebagai angka yang baik. Mereka lupa bila empat adalah satu angka paling keramat untuk sebuah hubungan yang sedang dirajut. Dan saya, saya adalah satu di antara mereka yang melupa.

Coba beritahu saya, siapa yang berkata empat tahun adalah waktu penentuan? Karena sungguh, sembah sujud akan saya berikan padanya, sebagai jawaban bila setuju juga jadi bagian yang akan saya imani atas ucapnya itu.

Angka empat yang konon jadi simbol tak apik untuk dipakai, nyatanya juga tak lepas mengagalkan semua rencana yang saya punya di dalam kepala. Empat tahun kebersamaan saya harus habis tak bersisa. Sebab semua hal yang mati-matian pernah saya sumpahi, untuk menjauh dari pertanyaan yang mengganggu keturunan-keturunan surgawi yang saat ini tinggali bumi, kini jadi penyebab gagal mampir di antara cinta kasih saya.

Kapan? Ke mana? Seperti apa? Mau bagaimana? 

Tekanan-tekanan sama itu kembali. Berimpitan dengan semua beban yang lagi-lagi harus disesap pahitnya, oleh pria yang lahir dari perwujudan doa banyak insan penting di bagian hidupnya; termasuk saya bila ia juga sudi masukkan di dalam hitungan.

Jika saya boleh mengerang kecewa, ratusan malam yang jadi saksi cinta saya juga ada untuknya mungkin sudah turut jadi saksi, bahwa cuma saya dan dirinya yang tahu persis ini akan berujung ke mana. Yang memang benar belum akan tiba di ujung puja-puji malaikat di seluruh dunia.

Jika saya boleh haturkan marah, harusnya saya yang teriakkan kesal bila ini tak kunjung berakhir bahagia. Tapi apa? Nyatanya saya mafhum dan sudi tunggu ia, di antara semua gelisah dan yakinnya yang kontradiksi memenuhi hubungan kami.

Jika saya boleh ajukan keberatan, mestinya saya yang sumpahi ia dengan amarah, apabila pertanyaan itu sampai di benak saya juga ganggu hubungan kami yang katanya jalan di tempat. Namun nihil, tak ada satu saja gangguan yang bersinggungan dengan lelah saya, hingga harus pertanyakan keseriusannya atas hubungan yang kami pintal dengan penuh serasi juga khidmatnya welas asih.

Lalu di sini sudah tiba segalanya. Tumpukan beban itu meluap dan memohon untuk dimuntahkan. Menjadi sebuah kesimpulan paling menyakitkan, jika kepahitan ini bukan hanya untuk empat telinga yang mendengar. Tapi juga untuk lagu-lagu penuh cinta, yang kerap jadi saksi pijar mesra kami nikmati malam di Ibukota yang tak pernah kenal lelap.


credit

 

"Maaf, Ras. Aku minta maaf," ucapannya lolos berkali-kali pada rungu saya, dengan kedua tangannya yang memohon ampun di kedua tangan saya yang tergeletak di atas paha.

Napas saya pelan dan teratur. Berbeda jauh dengan isi kepala saya yang sejak tadi sudah rapalkan sumpah serapah, untuk semua sakit yang harusnya beri saya piala kemenangan di pekat kali ini. Sekali lagi saya hidu aroma parfumenya yang penuhi harum mobil, dan sukses jadi kesukaan milik saya.

Konklusinya tiba, namun tidak sebagai akhir yang diharapkan. Dan setelah ini, mungkin maaf akan mendera batin semua yang tahu bila kisah ini takkan berujung petikan bahagia penuh bunga baby's breath, yang sempat saya idamkan untuk genggam di hari penuh suci ikrar paling tinggi di muka bumi.

"Kamu berhak marah, Ras. Kamu boleh marah sama aku."

Lagi, lelaki yang saya sudah gelarkan kebaikan ialah kesatuan penyempurnanya itu, kumandangkan kalimat yang saya tahu betul adalah hak untuk saya di hari ini. Tapi maaf, saya lebih paham apa itu senyum untuk redam semua amarah. Saya lebih pandai lengkungkan semua khawatir agar tenang menjadi tameng kekuatan palsu.

Tak lagi kuasa saya belai surai hitam legamnya yang selalu tertata rapi, hingga saya paksakan diri untuk berani angkat kepalanya dengan dua tangan yang lekat di pipi.

"Kalau aku marah, kamu bisa buat ini semua berhasil, Mas?"

Itu saja. Itu saja kalimat terakhir yang mampu saya ucapkan, sebelum saya menyudahi seluruh rangkaian perpisahan ini dengan meninggalkannya sendirian di dalam mobil yang juga sempat jadi saksi, jika saya pernah pilih dia untuk jadi tempat pulang.

Dulu, empat tahun yang lalu.

Share:

Al Fine. [ episode kedua ]

 track 1: 7 days
saat bersama


Jakarta, 2022

Hidup itu banyak bercandanya, termasuk di hidup gue yang katanya sempurna. Yang dari aspek mana aja kalau dilihat pasti sempurna. Dari orangtua, dari pendidikan, dari pekerjaan, bahkan dari paras yang katanya rupawan. Termasuk, urusan percintaan juga katanya sempurna.

Iya katanya. Karena memang yang dinilai itu hanya berdasarkan apa yang bisa diterawang oleh kedua bola mata. Nggak perlu sampai tahu perasaan, apalagi semua hal yang sebetulnya terjadi. Padahal ya, beberapa hal itu kebalikan dari yang sebenarnya terjadi. Termasuk apa yang mereka lihat di gue dan hidup gue ini.

Sekarang gue tanya, apa yang paling menyenangkan dari menjalin hubungan? 

Tentu aja perasaan berbalas, 'kan? 

Perasaan bahwa lo juga dicintai sebagaimana elo mencintainya. Perasaan yang tidak hanya menuntut, tapi juga bisa dipenuhi. Perasaan yang nggak hanya milik sendiri, sebab semuanya bisa dibagi. Perasaan yang nggak lagi perlu ditutupi, karena ada yang bersedia menemani.

Dan mungkin, itu juga yang sempat jadi sumber perasaan bahagia gue tahun-tahun yang lalu. 

Perasaan yang gue harap bisa abadi, tapi ternyata nggak bisa. Udah bukan belum bisa, tapi emang beneran nggak bisa. Ya karena mau nggak mau semuanya harus diakhiri. Bukan karena perasaan yang usai, tapi karena ada hal-hal yang nggak lagi bisa dijalani dengan tujuan yang sama.

Atau lebih tepatnya, bukan nggak lagi sama, tapi memang nggak lagi bisa diusahakan untuk jadi sama.

Gue dengan semua kesempurnaan yang orang lihat punya beribu alasan untuk memilih berhenti. Memilih nggak lagi bersedia melanjutkan sesuatu karena nyatanya gue terlalu pengecut untuk menghadapinya. Gue terlalu takut dan khawatir. Perasaan-perasaan itu berkumpul jadi satu dan merusak semuanya. Harapan gue, harapan dia yang gue kasihi, bahkan harapan orang-orang yang sebut nama kami di dalam doanya.

Dengan bangga dan gagahnya gue memutuskan itu semua untuk disudahi. Untuk nggak lagi dilanjutkan. Bahkan enggan rasanya gue memberitakan alasannya pada siapa pun, sampai-sampai padanya aja gue hanya sanggup meminta maaf.

Meminta maaf karena gue jelas-jelas melukainya secara terang-terangan. Menghancurkan semua impiannya, juga membuatnya kembali harus menjadi seseorang yang mungkin jauh lebih susah dijangkau--sebelum bertemu dengan gue.

Sombong, ya? 

Gue amat sangat sombong dan tidak tahu diri untuk menceritakan ini. Begitu sombong membanggakan perpisahan yang sudah melukainya. Begitu sombong merasa semua akan baik-baik saja, padahal diri gue saat ini tidak lagi punya kendali atas diri sendiri. Tidak lagi punya jalinan emosi yang bisa gue rasakan, sebab kosong benar-benar sudah mengisi hari-hari gue belakangan ini.

Buat gue, semuanya hilang seiring dengan dia yang semula gue pilih sebagai satu, namun nyatanya harus juga berujung pisah. 

Bohong luar biasa jika gue merasa bahagia melihatnya tersenyum. Karena sejak awal, gue berharap senyum itu berasal dari gue, bahkan bisa dibagi dengan gue. Bohong juga kalau gue percaya senyum itu berarti bahagia. Karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, gue tahu dia tengah memanggul lukanya seorang diri.

Rasi Alfa Karina.

Bagi gue, sosoknya sudah teramat cukup untuk mendampingi semua kurang dan juga hari-hari di hidup. Senyumnya jadi penawar paling ampuh untuk semua lelah, walau jarak kerap jadi juara di antara kami. Belum lagi tawanya, lo pasti akan candu dengar ia tertawa meski hanya sebab celoteh asal dari bibir gue. 

Oh lo juga harus tahu, peluknya jadi satu-satunya hal yang selalu gue butuhkan tiap jarak bisa kami hilangkan. Nggak usah juga lo tanya soal kecup hangatnya yang selalu bisa beri rasa bangga, sebab ia pilih gue jadi yang pertama untuk semua hal romantis baginya. 

Udahlah, gue nggak tahu lagi harus bawa celoteh ini ke mana. Sebab nyatanya gue hanya pecundang yang saat ini cuma mampu tatapnya dari kejauhan. Dan satu-satunya hal yang ada di benak gue saat ini hanya sebuah pertanyaan...

Apakah mungkin, nantinya gue siap lihat dia bersanding dengan yang lain? Kalau saat ini aja, gue sudah hampir kehabisan napas ketika melihat dia tatap seorang dengan senyum yang biasanya hanya jadi milik gue seorang. 

Share: