Al Fine. [ episode kedua ]

 track 1: 7 days
saat bersama


Jakarta, 2022

Hidup itu banyak bercandanya, termasuk di hidup gue yang katanya sempurna. Yang dari aspek mana aja kalau dilihat pasti sempurna. Dari orangtua, dari pendidikan, dari pekerjaan, bahkan dari paras yang katanya rupawan. Termasuk, urusan percintaan juga katanya sempurna.

Iya katanya. Karena memang yang dinilai itu hanya berdasarkan apa yang bisa diterawang oleh kedua bola mata. Nggak perlu sampai tahu perasaan, apalagi semua hal yang sebetulnya terjadi. Padahal ya, beberapa hal itu kebalikan dari yang sebenarnya terjadi. Termasuk apa yang mereka lihat di gue dan hidup gue ini.

Sekarang gue tanya, apa yang paling menyenangkan dari menjalin hubungan? 

Tentu aja perasaan berbalas, 'kan? 

Perasaan bahwa lo juga dicintai sebagaimana elo mencintainya. Perasaan yang tidak hanya menuntut, tapi juga bisa dipenuhi. Perasaan yang nggak hanya milik sendiri, sebab semuanya bisa dibagi. Perasaan yang nggak lagi perlu ditutupi, karena ada yang bersedia menemani.

Dan mungkin, itu juga yang sempat jadi sumber perasaan bahagia gue tahun-tahun yang lalu. 

Perasaan yang gue harap bisa abadi, tapi ternyata nggak bisa. Udah bukan belum bisa, tapi emang beneran nggak bisa. Ya karena mau nggak mau semuanya harus diakhiri. Bukan karena perasaan yang usai, tapi karena ada hal-hal yang nggak lagi bisa dijalani dengan tujuan yang sama.

Atau lebih tepatnya, bukan nggak lagi sama, tapi memang nggak lagi bisa diusahakan untuk jadi sama.

Gue dengan semua kesempurnaan yang orang lihat punya beribu alasan untuk memilih berhenti. Memilih nggak lagi bersedia melanjutkan sesuatu karena nyatanya gue terlalu pengecut untuk menghadapinya. Gue terlalu takut dan khawatir. Perasaan-perasaan itu berkumpul jadi satu dan merusak semuanya. Harapan gue, harapan dia yang gue kasihi, bahkan harapan orang-orang yang sebut nama kami di dalam doanya.

Dengan bangga dan gagahnya gue memutuskan itu semua untuk disudahi. Untuk nggak lagi dilanjutkan. Bahkan enggan rasanya gue memberitakan alasannya pada siapa pun, sampai-sampai padanya aja gue hanya sanggup meminta maaf.

Meminta maaf karena gue jelas-jelas melukainya secara terang-terangan. Menghancurkan semua impiannya, juga membuatnya kembali harus menjadi seseorang yang mungkin jauh lebih susah dijangkau--sebelum bertemu dengan gue.

Sombong, ya? 

Gue amat sangat sombong dan tidak tahu diri untuk menceritakan ini. Begitu sombong membanggakan perpisahan yang sudah melukainya. Begitu sombong merasa semua akan baik-baik saja, padahal diri gue saat ini tidak lagi punya kendali atas diri sendiri. Tidak lagi punya jalinan emosi yang bisa gue rasakan, sebab kosong benar-benar sudah mengisi hari-hari gue belakangan ini.

Buat gue, semuanya hilang seiring dengan dia yang semula gue pilih sebagai satu, namun nyatanya harus juga berujung pisah. 

Bohong luar biasa jika gue merasa bahagia melihatnya tersenyum. Karena sejak awal, gue berharap senyum itu berasal dari gue, bahkan bisa dibagi dengan gue. Bohong juga kalau gue percaya senyum itu berarti bahagia. Karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, gue tahu dia tengah memanggul lukanya seorang diri.

Rasi Alfa Karina.

Bagi gue, sosoknya sudah teramat cukup untuk mendampingi semua kurang dan juga hari-hari di hidup. Senyumnya jadi penawar paling ampuh untuk semua lelah, walau jarak kerap jadi juara di antara kami. Belum lagi tawanya, lo pasti akan candu dengar ia tertawa meski hanya sebab celoteh asal dari bibir gue. 

Oh lo juga harus tahu, peluknya jadi satu-satunya hal yang selalu gue butuhkan tiap jarak bisa kami hilangkan. Nggak usah juga lo tanya soal kecup hangatnya yang selalu bisa beri rasa bangga, sebab ia pilih gue jadi yang pertama untuk semua hal romantis baginya. 

Udahlah, gue nggak tahu lagi harus bawa celoteh ini ke mana. Sebab nyatanya gue hanya pecundang yang saat ini cuma mampu tatapnya dari kejauhan. Dan satu-satunya hal yang ada di benak gue saat ini hanya sebuah pertanyaan...

Apakah mungkin, nantinya gue siap lihat dia bersanding dengan yang lain? Kalau saat ini aja, gue sudah hampir kehabisan napas ketika melihat dia tatap seorang dengan senyum yang biasanya hanya jadi milik gue seorang. 

Share:

1 comment: