Al Fine. [ episode ketiga ]


track 2: lose you to love me
tidak lagi bersama

 

September 2021

Jika jatuh cinta hadir sebagai kuasa untuk tentukan kata pertama harus tiba. Maka bukan dia jawaban yang jelma kata pertama untuk semua yang saya alami di dalam hidup.

Mungkin dia memang bukan yang pertama, lebih tepatnya bukan dia cinta pertama saya. Tapi bagi saya, semua pertama itu telah jadi jelmaan kata bersama yang saya lewati dengannya. Kebersamaan yang semua manusia juga tahu, bagaimana ketertarikan itu tercipta untuk kemudian mengisi dan juga menemani.

Bohong jika saya tak terbiasa akan hadirnya. Bohong juga jika saya tak akui semua yang ada di dirinya, ialah apa yang selama ini saya perlukan untuk membuat segala hal tetap waras dijalani. Meski ya, kesempurnaan takkan pernah ada, sebab prahara yang kecil-kecil itu juga perlu sesekali tiba di antara jarak yang terbentang.

Yaa, bagi saya semuanya masih cukup untuk disebut damai. Semuanya akan baik-baik saja, apalagi tahun keempat sudah hampir habis untuk dilalui. Tapi mungkin, muda-mudi anak adam dan hawa yang tertinggal di bumi ini, lekat dengan kata lupa pada wejangan lama yang selintas penuhi linimasa.

Mereka lupa jika empat tak pernah diakui sebagai angka yang baik. Mereka lupa bila empat adalah satu angka paling keramat untuk sebuah hubungan yang sedang dirajut. Dan saya, saya adalah satu di antara mereka yang melupa.

Coba beritahu saya, siapa yang berkata empat tahun adalah waktu penentuan? Karena sungguh, sembah sujud akan saya berikan padanya, sebagai jawaban bila setuju juga jadi bagian yang akan saya imani atas ucapnya itu.

Angka empat yang konon jadi simbol tak apik untuk dipakai, nyatanya juga tak lepas mengagalkan semua rencana yang saya punya di dalam kepala. Empat tahun kebersamaan saya harus habis tak bersisa. Sebab semua hal yang mati-matian pernah saya sumpahi, untuk menjauh dari pertanyaan yang mengganggu keturunan-keturunan surgawi yang saat ini tinggali bumi, kini jadi penyebab gagal mampir di antara cinta kasih saya.

Kapan? Ke mana? Seperti apa? Mau bagaimana? 

Tekanan-tekanan sama itu kembali. Berimpitan dengan semua beban yang lagi-lagi harus disesap pahitnya, oleh pria yang lahir dari perwujudan doa banyak insan penting di bagian hidupnya; termasuk saya bila ia juga sudi masukkan di dalam hitungan.

Jika saya boleh mengerang kecewa, ratusan malam yang jadi saksi cinta saya juga ada untuknya mungkin sudah turut jadi saksi, bahwa cuma saya dan dirinya yang tahu persis ini akan berujung ke mana. Yang memang benar belum akan tiba di ujung puja-puji malaikat di seluruh dunia.

Jika saya boleh haturkan marah, harusnya saya yang teriakkan kesal bila ini tak kunjung berakhir bahagia. Tapi apa? Nyatanya saya mafhum dan sudi tunggu ia, di antara semua gelisah dan yakinnya yang kontradiksi memenuhi hubungan kami.

Jika saya boleh ajukan keberatan, mestinya saya yang sumpahi ia dengan amarah, apabila pertanyaan itu sampai di benak saya juga ganggu hubungan kami yang katanya jalan di tempat. Namun nihil, tak ada satu saja gangguan yang bersinggungan dengan lelah saya, hingga harus pertanyakan keseriusannya atas hubungan yang kami pintal dengan penuh serasi juga khidmatnya welas asih.

Lalu di sini sudah tiba segalanya. Tumpukan beban itu meluap dan memohon untuk dimuntahkan. Menjadi sebuah kesimpulan paling menyakitkan, jika kepahitan ini bukan hanya untuk empat telinga yang mendengar. Tapi juga untuk lagu-lagu penuh cinta, yang kerap jadi saksi pijar mesra kami nikmati malam di Ibukota yang tak pernah kenal lelap.


credit

 

"Maaf, Ras. Aku minta maaf," ucapannya lolos berkali-kali pada rungu saya, dengan kedua tangannya yang memohon ampun di kedua tangan saya yang tergeletak di atas paha.

Napas saya pelan dan teratur. Berbeda jauh dengan isi kepala saya yang sejak tadi sudah rapalkan sumpah serapah, untuk semua sakit yang harusnya beri saya piala kemenangan di pekat kali ini. Sekali lagi saya hidu aroma parfumenya yang penuhi harum mobil, dan sukses jadi kesukaan milik saya.

Konklusinya tiba, namun tidak sebagai akhir yang diharapkan. Dan setelah ini, mungkin maaf akan mendera batin semua yang tahu bila kisah ini takkan berujung petikan bahagia penuh bunga baby's breath, yang sempat saya idamkan untuk genggam di hari penuh suci ikrar paling tinggi di muka bumi.

"Kamu berhak marah, Ras. Kamu boleh marah sama aku."

Lagi, lelaki yang saya sudah gelarkan kebaikan ialah kesatuan penyempurnanya itu, kumandangkan kalimat yang saya tahu betul adalah hak untuk saya di hari ini. Tapi maaf, saya lebih paham apa itu senyum untuk redam semua amarah. Saya lebih pandai lengkungkan semua khawatir agar tenang menjadi tameng kekuatan palsu.

Tak lagi kuasa saya belai surai hitam legamnya yang selalu tertata rapi, hingga saya paksakan diri untuk berani angkat kepalanya dengan dua tangan yang lekat di pipi.

"Kalau aku marah, kamu bisa buat ini semua berhasil, Mas?"

Itu saja. Itu saja kalimat terakhir yang mampu saya ucapkan, sebelum saya menyudahi seluruh rangkaian perpisahan ini dengan meninggalkannya sendirian di dalam mobil yang juga sempat jadi saksi, jika saya pernah pilih dia untuk jadi tempat pulang.

Dulu, empat tahun yang lalu.

Share:

0 comments:

Post a Comment