Al Fine. [ episode keempat ]

 

track 3: when it ends
untuk memulai



Jakarta, 2022

Rumah itu katanya tempat untuk pulang dan melepas lelah. Tapi, bagaimana kalau rumah yang seperti itu tidak pernah benar-benar ada? Bagaimana kalau yang ditemui saat kembali ke rumah hanya ruangan-ruangan kosong tanpa penghuni. Bahkan deru napas saja, hanya milik diri sendiri, berdampingan dengan detak jarum jam yang saling bersahutan satu dengan lainnya.

Rasi Alfa Karina kembali meletakkan gawainya seusai membalas pesan dari salah satu manusia baik hati, yang kerap kali muncul tanpa permisi dan selalu diiringi kejutan. Seseorang yang amat menyenangkan untuk dijadikan sahabat, tanpa harus diikuti dengan keterlibatan rasa yang merumitkan banyak jalinan isi kepala.

Beberapa hari ini, perempuan yang tak pernah memotong pendek rambutnya itu memang disibukkan dengan kegiatan laiknya orang dewasa. Mencari pekerjaan, untuk keberlangsungan hidupnya sendiri. Yang katanya sih, ingin segera usai dari titah dan titipan amanat tiada berkesudahan, dari dua malaikat yang menghadirkannya di muka bumi.

Rasi masih saja tak beranjak dari sofa, meski ia tahu karibnya sebentar lagi akan tiba. Ia justru memilih untuk kembali larut, pada tayangan di televisi yang bolak-balik ia ubah sesuka hati, karena tak temukan satu pun yang menarik. 

Empat puluh lima menit berselang, denting suara bel berbunyi dari pelataran rumahnya. Rasi sedikit berlari kecil untuk membukakan pintu, karena ia yakin betul siapa yang ada di baliknya. 

“Surprise!”

Baru saja pintu dibuka, teriakan nyaring terdengar dari beberapa manusia yang kini sudah tersenyum cerah menatapnya. Dengan tatapan yang juga hangat, namun ada sedikit tanda tanya, Rasi menoleh pada Langit yang justru tengah tertawa tanpa dosa.

“Kok jadi banyak, Ngit?” tanyanya selagi mempersilakan Lintang, Shira dan juga Fajar untuk segera masuk ke dalam rumah.

“Biar nggak sepi. Nggak boleh? Atau emang lo mau berdua aja?” tanya Langit sedikit menundukkan kepala, untuk berbisik di telinga juwita yang belakangan ini kerap ia hadiahi tutur penuh kalimat-kalimat manis yang berbalut gombalan.

Rasi meliriknya sekilas, “Ya ya gapapa sih.”

“Ya gapapa apa? Gapapa berdua aja?” Langit menaikkan sebelah alisnya dengan sunggingan di ujung bibir yang ikut merekah. “Kalau itu sih biasanya yang ketiga setan, Ras. Yakin emangnya gapapa?”

Rasi berdecak sebal karena tak lagi tahu harus membalas ucapan sahabatnya itu seperti apa. 

“Udah! Ayo masuk, nggak enak itu sama yang lain,” ajak pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam dan putih itu sembari menggandeng tangan Rasi.

“Ras, gue tadi beli sushi tuh abangnya bisa anter sampe dalem nggak sih?” kali ini Shira bersuara setelah membaringkan badannya di sofa ruang tamu.

“Order online?”

“Iya.”

Rasi mengganggukkan kepala. “Bisa kok, paling nitip KTP doang abangnya. Lagian kenapa tadi nggak mampir dulu?”

Dengan cepat Shira melayangkan telunjuknya pada Langit yang baru saja mengambil posisi duduk dan membuka ponsel. “Tuh Langit! Males mampir-mampir katanya.”

Menyadari dirinya disebut, Langit langsung layangkan netranya menatap Rasi yang kini tengah terdiam, seolah menanti penjelasan. “Gue males ya kalau nanti pada mampir beli ini itu. Lo tau sendiri cewek gimana, Ras? Lama! Mana di luar panas.”

Fajar yang sejak tadi masih diam, kini ikut melontarkan kalimat membalas ucapan sahabat prianya itu. “Gue liat-liat Langit makin tolol ya kebanyakan di hutan.”

“Kenapa sih?” 

“Elo ngomong gitu ke Rasi, terus Rasi juga cewek, maksudnya gimana dah? Berharap dibela sama Rasi?”

“Eh iya, anu...”

Rasi tertawa. Setidaknya untuk kali ini urat-urat tegangnya lumayan mengendur karena kedatangan mereka. “Bilang aja emang lo males, Ngitngit.”

“Rasiiiiii, masih bikin jus nggak?”

Perempuan yang hari ini memakai baju kaus berwarna putih, dengan celana pendek berbahan denim itu menolehkan kepala, ketika suara Lintang menyela langkahnya. “Ada kok di kulkas, tapi tadi cuma bikin jus apel sama jeruk. Eh ada stroberi juga sih kayaknya. Mau?”

Lintang mengangguk dengan cepat, dan berlari menyusul Rasi. “Mauuuuuu! Lintang bantuin ambil, ya?” 

Rasi tersenyum dan menyambut Lintang dengan uluran tangan kanannya, yang kini digenggam oleh perempuan yang setelah tahun berlalu, kini semakin terlihat lihai memainkan pulasan rona merah di pipi, dan menambah cantik rupanya.

“Hari ini nontonnya pilihan gue!” Fajar yang saat ini tengah berada di ruang keluarga kediaman Rasi sudah mengambil alih remote televisi. Membawanya ke dalam dekapan, dengan kedua kaki yang ditekuk dan bersandar santai pada sofa.

Langit yang tadi masih menemani Shira di ruang tamu pun kini beranjak, sambil meneriakkan kalimat-kalimat penuh kata tidak setuju. “Ogah! Apaan deh, harusnya pilihan Rasi dong,” sambungnya lalu duduk di samping Fajar.

“Iya Rasi aja yang milih,” ungkap Shira yang tak lama ikut bergabung. “Eh, tapiii jangan deh! Dia yang milih mah ujungnya nonton Friends lagi.” Tatapnya pada Rasi dan Lintang yang baru saja kembali dari dapur dengan beberapa botol berisikan jus juga air mineral. “Lo aja deh kalau gitu yang milih, Jar. Kalau Langit yang milih yang ada kita disuruh nonton national geography.”

“Eh bagus anjir natgeo tuh! Berfaedah. Lumayan bikin mikir, jadi lumayan deh tuh mengurangi kemungkinan kena Alzheimer.”

Fajar menoleh menatap Langit yang baru saja bersabda, “Lo beneran kesurupan ya pas di hutan? Kenapa makin sok bener gitu dah omongan lo?”

Langit tertawa dan beranjak membantu Rasi, yang saat ini masih sibuk bolak-balik ke dapur mengambil beberapa camilan. “Justru karena kemarin kebanyakan gaul sama lo makanya otak gue pas abis masuk hutan tercerahkan.”

“Monyet! Lo kira gue apaan?”

“Manusia, Jar. Ih suudzon aja. Kalau gue bilang mending lo melukat deh di Bali.”

“Apaan lagi itu ya Tuhan. Lo tuh ya istilahnya makin aneh-aneh deh, Ngit.”

Langit yang baru saja meletakkan piring berisi buah yang sudah dikupas oleh Rasi—kebiasaan bila berkumpul di rumah perempuan ini memang demikian—hanya tertawa, “Nanti liburan ke Bali deh yuk. Rame-rame, gimana Shi, Tang, Ras?” tanya Langit bergantian menatap ketiga sahabat perempuannya.

“Gue sih ayo aja.”

“Lintang ayo aja asal sama Shishi sama Rasi.”

Langit mengacungkan jari telunjuknya, lalu beralih menatap Rasi yang kini duduk di sampingnya. “Elo gimana, Ras?”

“Ya ayo aja kalau waktunya pas.”

“Cakep! Gini dong baru namanya sobi gue!” Langit lekas merangkul Rasi, seusai mendengar jawabannya. Sedang yang dirangkul hanya mengisi tenaganya dengan tawa yang terus hadir, ketika dengar perdebatan-perdebatan kecil di antara sahabat-sahabatnya.

Satu gelas air mineral yang baru akan disesap oleh Rasi berhenti mengalir di kerongkongan, ketika satu suara Langit melesak menembus kokleanya dengan lembut. “You’re not alone, Ras. Kita tetep ada sama-sama buat nemenin lo. You deserve to be happy.”

Gelas yang tadi ia pegang kini ia letakkan, lalu ia ulas sebuah senyum tulus sebagai rangkaian terima kasih untuk semua usaha yang Langit berikan untuknya. “I owe you,” tanpa suara Rasi mengatakannya di sela tatapan mereka.

“Cium dong kalau gitu,” goda Langit yang seketika dibalas satu tepukan halus dari Rasi. “Minta sama cewek-cewek lo sana!”

“Hahaha, i love you too, babyyyy!”

Saat tengah asyik bercengkrama dan meleburkan tawa di antara mereka, satu denting bel di pintu masuk kembali berteriak. Keadaan rumah yang hari ini kosong dan hanya diisi oleh Rasi beserta sahabat-sahabatnya itu, sontak membuat si perempuan tergesa berdiri dari duduknya dan berlari untuk menilik siapa yang datang.

Baru saja Rasi membuka pintu, dua orang karibnya yang sejak tadi memang tak tampak kini sudah berada di ambang pintu. 

“Anak setan mana, Ras? Bisa-bisanya gue nggak diajak.” Utara menyapa Rasi dengan berapi-api, sedang Rasi hanya tertawa menatapnya, juga menatap satu sosok lainnya di belakang Utara.

“Langit mana lo!?” teriak Utara seusai Rasi mempersilakan mereka masuk dan juga menutup pintu.  Lelaki yang mengenakan kaos polos berwarna biru dengan gambar kuda di dadanya—katanya sih salah satu brand kecintaannya—itu sudah melangkah masuk mendahului Rasi dan Athaya yang mengekorinya.

“Berisik, Nyet,” balas Langit yang menatap Utara tiba. “Lo kira ini di hutan main teriak-teriak gitu? Nggak sopan sama yang punya rumah,” tunjuknya pada Rasi yang berdiri di belakang Utara.

Utara menatap Rasi sekilas, lalu kembali menggelengkan kepala dan mendekat pada Langit dengan bantal yang sudah ia ambil untuk mendekap sahabatnya itu. “Ya elo bisa-bisanya nggak ngajak gue. Coba tadi gue nggak sama Thaya, gue pasti taunya dari stories lo doang!”

“Emang sengaja!” jawab Langit usai melepaskan diri dari bekapan Utara, dan sekarang berganti duduk di samping Shira di atas sofa. Lelaki itu tahu, Utara takkan mungkin mengejarnya bila ia berdampingan dengan Shira. “Lagian nih ya, gue males ngajak lo. Soalnya kita nanti bukannya seru-seruan, lo malah sibuk caper ke Rasi. Ogah ya gue!”

Utara berdecak, “Dih suudzon.”

“Yang lain setuju gue suudzon, apa gue bener?” tanya Langit tak mau kalah sembari mengambil beberapa potong semangka untuk dilahap.

Rasi yang masih berdiri menyaksikan itu semua hanya tertawa. Sebagian hatinya terasa ringan, sebab sepi yang bisa memeluknya digantikan canda tawa di hari ini. Begitu pula lelaki yang kini berdiri di samping Rasi, ia hanya sanggup menggelengkan kepalanya dan membenahi kacamatanya sebelum kembali menatap Rasi yang tengah menyunggingkan tawa.

“Gapapa kalau pada dateng, Ras? Papa Mamamu nggak di rumah?”

Rasi menoleh, “Gapapa, daripada aku doang sendirian. Malah seneng kayak gini jadi rame, Tha,” ujarnya dengan tulus, dan memancing tangan kanan Athaya untuk mengusap puncak kepalanya.

“Gabung kali ke sini. Jangan modus aja tuh tangan lo, Thayangggg,” sela Utara yang sejak tadi memusatkan perhatiannya pada Rasi dan Athaya, yang berdialog pelan namun sanggup membuat panas seisi ruangan. 

Sepertinya kali ini semua tahu, Utara sedang berusaha untuk kembali menempatkan diri pada apa yang sebelumnya sempat ia relakan. Terlebih, setelah kandas hubungannya dibina, juga kandasnya hubungan sang juwita yang sejak duduk di bangku perkuliahan sudah sanggup mencuri hatinya.




Share:

1 comment: