Al Fine. [ episode kelima ]


track 4: angel baby
langkah pertama

 

Tes tes tes.

Udah, ya? Oke nih?

Oke kalau gitu sekarang gantian gue yang cerita. Karena kayaknya kemarin gue yakin betul, lo semua udah lelah dibuat mendayu dan sesak oleh jelita cantik—harusnya punya gue—bersama dengan mantan kekasihnya. Tolong digarisbawahi, ya, mantan.

Tolong juga, berhenti berpikiran bahwa gue yang dipanggil mas oleh dia. Karena sampai nanti ayam berkokok di jam 12 siang pun, gue nggak akan pernah dipanggil kayak gitu sama Rasi. Yaaa, mentok juga paling dia akan memanggil gue dengan sebutan bang.

Itu aja sebenarnya udah bisa banget bikin gue sakit hati. Karena sejak kapan elah gue jadi abangnya? Bisa-bisanya dipanggil abang, meronta betulan batin gue tiap kali dia memanggil gue dengan sapaan seperti itu.

Oke udahlah, udah cukup ini intro gue yang makin ke mana-mana. Sekarang lo duduk diam aja, yang nyaman, terus fokus ke cerita gue dengan dia. Tenang aja, setiap kali gue bercerita, gue tidak akan meminta dunia beserta seisinya untuk memihak gue. Karena ya emang ini bukan pembelaan juga, toh dari awal lo udah kelewatan demen menghujat gue dengan banyak makian, dan juga gurauan ditikung.

Yak! Mamam tuh ditikung, kalau ujungnya gagal juga ya sama aja bohong.

Gue yang tadinya mau bilang kalah telak juga jadi males bilang kalah. Karena ya apa yang mau dibilang kalah, kalau ujungnya mereka bubar?

Aduh demi apa pun hal yang bisa dijadikan bahan sumpah, gue ngomong begini kalau di depan dia sih kayaknya nggak berani. Karena yang ada gue sama aja menyerahkan diri untuk dimusuhin sama dara—cielah dara—cantik, pujaan hati yang belum juga tergapai sampai detik ini.

Udahlah belum tergapai, move on juga nggak bisa-bisa, mau lo tuh apa sih, Utara?

Mau gue sih dia. Sampai kapan juga gue maunya dia. Nah yang gue nggak tahu, dia mau juga atau nggak. Nanti deh dicoba dicari tahu, pelan-pelan aja. Gue sih ikhlas ya menunggu dia sampai nanti. Sampai siapa tahu aja berkenan membuka hati buat gue. Ya pokoknya kalau buat Rasi, gue siap lahir dan batin menunggu.

Asallllll, nunggunya juga bukan nungguin dia sampai pelaminan bersama yang lain.

Nah kalau yang itu sih kayaknya gue izin pulang duluan. Mending gue tidur terus mikirin besok makan pakai apa, walau ini sama susahnya karena laper mata adalah nama lain gue, tapi seenggaknya gue sedikit terbiasa, dibanding harus lihat dia sama laki-laki lain, lagi.

Ini gue yakin sih, ketika lo baca, lo pasti akan mengira gue bucin setengah mati sama dia. Apalagi setelah empat tahun berlalu, bahkan ada beberapa wanita yang silih berganti gue icipin—aduh jelek ya bahasanya icipin, ya maksudnya tuh diicip sayangnya, mesranya, perhatiannya, gitu deh—nah ujungnya tetap aja balik ke dia.

Tapi coba deh lo pikir lagi, gimana mungkin gue nggak balik ke dia dia dia lagi, kalau kesempatannya selalu kelihatan ada?

Empat tahun hampir gue udah sampai di titik, yes, bisa nih gue move on. Rasi makin adem ayem sama Bintang, akur banget tiap kali ketemu mereka, bahkan gue menyadari dengan sangat betapa sayangnya Bintang ke Rasi, begitu juga sebaliknya. At least, kalau gue jadi netizen sih, gue bisa melihat itu walau nggak ada tuh unggahan mesra di akun mereka. Poin bagusnya, gue sedikit aman nggak perlu kebakar api cemburu.

Lo bayangin, empat tahun lo melihat itu, di pikiran gue cuma satu, ending-nya udah kelihatan. Mereka bersama, hidup bahagia, punya anak-anak yang lucu. Gitu nggak? Eh tapiii, dunia emang suka kelewatan bercandanya. Tiba-tiba aja, nggak lama setelah Rasi pindah ke Jakarta, gue dan sahabat-sahabat yang lain tahunya dia udah nggak bareng sama Bintang.

Alasannya? Nggak ada yang tahu, dan kita nggak juga coba tanya kalau dia nggak cerita.

Karena kalau dia nggak cerita, ya pasti ada alasan besar dan mungkin berat untuk dia ceritakan. Yang bisa jadi lagi dia usaha untuk ikhlaskan juga. Mau gamau, gue dan yang lain hanya bisa menunggu, lagi-lagi menunggu. Menunggu sampai dia siap cerita.

Sama kayak sekarang ini. Nggak sekarang sih, tapi beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, gue dan dia kalah main stacko, dan mau gamau kami yang harus mencuci piring. Dan ya udah, tinggallah gue dengan dia berdua di dapur. Oh nggak usah tanya gimana perasaan gue saat itu. Kayak elo nih lagi berdiri di depan speaker, terus lagu yang keputer ajeb-ajeb. Gimana rasanya? Deg-degan nggak tuh jantung? Nah sama, gue juga kayak gitu.

Sampai akhirnya dia nanya soal apartemen Utari. Yang out of nowhere mau dia sewa. Kayak...sewa? Sewa? Rasi nyewa apartemen? Buat apa? Dia punya rumah, rumahnya besar dan semua fasilitas ada. Buat apa sampai harus pindah? Kalau alasannya kerjaan, udah jelas nggak mungkin, karena dia aja belum dapat pekerjaan.

Sumpah, gue mau banget bertanya, apalagi sebagai seorang Taurus garis keras, kepo gue udah ada di ujung tebing kayak Wanda waktu mau jatuh didorong sama America. Keponya udah maksimal banget. Cuma karena yang sedang gue hadapi adalah Rasi, tanpa diminta pun gue hanya bisa sabar menunggu sampai dia sendiri yang cerita.

Walau kalau boleh jujur ya, gue kayaknya juga harus kasih alarm di kepala sih. Supaya gue sadar, meski dia belum cerita, bukan berarti gue harus lupa juga kalau gue udah kasih izin dia mau pindah kapan pun. Tanpa harus laporan sama gue, dan membuat gue diam mematung sekaligus diserbu perasaan malu dan awkward karena sekarang gue dan dia saling bertatapan bingung.

"Ras, aku..."

"Gapapa, wajar kamu lupa, Utara."

Wajar? Sebelah mananya wajar elah, kalau gue nyelonong masuk gitu aja ke apartemen Utari, sambil menenteng satu bungkus martabak manis, dan mendapati dia hanya berbalut kaus belel kebesaran yang hampir menutupi celana pendeknya, dengan rambut yang digelung handuk.

Lo pikir coba, sebelah mananya gue bisa jadi wajar dan waras?

Satu, pemandangan di depan gue tuh Rasi. Dua, dengan tololnya gue udah tahu tadi kartu akses di dompet gue nggak ada, tapi gue malah pakai kartu akses di belakang case hape gue. Kayak...tolol 'kan?

Terus tiga, Rasi tuh masih perempuan yang diciptain Tuhan pas lagi bahagia-bahagianya Dia, dan sekarang ini perempuan ada di hadapan gue. Dengan tatapan polos dan wajah naturalnya, menatap gue yang berdiri tegap seakan-akan baru balik dari kerja, terus mau pulang ketemu istri eh kejauhan, mau ketemu pacar. Lo bayangin aja, bagian mananya yang wajar?

"Ya nggak gitu juga sih, Ras. Otakku kayaknya pusing sama kerjaan deh, dan biasanya selalu ke sini tiap kali suntuk, karena deket juga dari kantor. Makanya, aku beneran lupa banget kamu bisa aja udah tinggal di sini."

"Aku yang lupa, Utara. Aku belum sempet bilang ke kamu," Rasi menatap gue sambil menuangkan segelas air.

"Kamu pegang semua aja deh kartu aksesnya, Ras. Takut banget aku lupa lagi, terus malah nyelonong gitu aja ke sini. Yang ada malah aku jadi ngeganggu. Iya kalau kamu..."

Rasi tertawa, manis banget sumpah, sampai-sampai membuat gue enggan buat lanjut ngomong, dan tetap betah berdiri di depan pintu yang sudah tertutup. "Udah, masuk dulu aja, Utara. Kamu mau bengong di situ aja emangnya?" panggil Rasi dengan tenang, dan juga masih dengan senyumannya.

Kalau gini caranya sih, gue mau minta tolong banget sama elo semua yang baca. Please, kali ini aja, gue butuh bantuan doa dari kalian semua untuk ingat bahwa ini statusnya Rasi masih sahabat gue, dan dia baru patah hati.

Tolong jangan tolol ya, Utara!

 

 

 






Share:

0 comments:

Post a Comment