Al Fine. [ episode ketujuh ]


track 6: teman bahagia
pelan-pelan saja



Setelah obrolan dengan Athaya beberapa waktu lalu, gue jadi kepikiran untuk nggak ngapa-ngapain. Eh nggak gitu, lebih tepatnya gue jadi kepikiran untuk mulai melancarkan aksi gue dengan terang-terangan. Karena ya, buat apa lagi mau sembunyi dan pura-pura? Toh dia single, toh dia putus udah lumayan lama juga.

Urusan dia belum move on, atau masih gimana-gimana ke mantannya ya biar itu jadi urusan dia. Seenggaknya kalau sekarang ya gue usaha aja untuk beneran kasih lihat ke dia, kalau gue ada. Kalau gue tuh masih sama kayak dulu. Gue masih suka di dekat dia, masih mau di dekat dia, bahkan masih banget merasa deg-degan tiap kali lihat dia senyum.

Anjir, segitunya dia buat gue.

Pernah nggak sih orang-orang di luar sana juga merasa kayak gue ini? Atau ini cuma karena gue kelewat bucin aja? Tapi gue yakin sih, ada banyak orang di luar sana yang sekalinya udah suka, ya sampai janur kuning belum melengkung, rasa sukanya masih akan awet. Mau itu patah hati, mau itu nyesek, pokoknya kalau dia belum sama siapa-siapa, perasaan sukanya nggak akan hilang.

“Aku jemput, ya.”

“Gausah. Aku bisa sendiri.”

Suaranya di ujung saluran telepon jujur kelihatan banget nggak nyaman. Tapi kalau gue boleh jadi sok tahu, rasa nggak nyamannya itu sebatas nggak mau merepotkan gue. Biasalah, tim manusia nggak enakan, leader-nya gue rasa sih dia.

“Tapi akunya mau,” gue mengakuinya tanpa ada upaya untuk menutupi apa pun. Karena ya kantor gue memang akan melewati apartemen Utari—yang kini dia tinggali—pun arah kantor gue dengannya searah.

“Stop babying me, Dit.”

Ini gue jujur aja agak berantakan sih. Bingung mau merasakan perasaan yang mana. Di satu sisi gue seneng banget, tiap kali dia mulai membiasakan dirinya memanggil gue dengan nama depan. Rasi tuh satu-satunya manusia yang gue izinkan, dan membuat gue jatuh cinta sama nama depan gue sendiri.

Tapi di sisi lain, gue juga agak sedikit kecewa karena perhatian yang coba gue berikan justru dapat salah pengertian.

Gue menghela napas, sebelum membuka suara. “Ini aku jagain kamu, bukan anggep kamu anak kecil, Ras. Ini caraku buat ngasih tahu aku ada, dan nyempetin waktu buat ada.”

Hening. Rasi diam, menyisakan deru napas yang jadi satu-satunya suara yang gue dengar.

“Aku udah mau berangkat, Dit.”

Lagi-lagi mengelak, tapi bukan Utara namanya kalau nggak pernah melakukan sesuatu dengan totalitas. “Aku udah di lobby, Ras.”

“Hah? Gimana?”

Gue yakin betul, matanya kini membulat sempurna dengan kepanikan yang juga ikut tampil di wajahnya. “Kamu mau turun atau aku yang naik?”

“Oke aku turun,” jawabnya cepat dan membuat senyum gue merekah tanpa bisa dikendalikan.

“Pelan-pelan aja, cek semua barangnya lagi.”

“Iya, Dit.”

Sumpah, Rasi Alfa Karina masih sebegitunya punya magis yang membuat gue nggak punya kuasa apa pun atas reaksi di tubuh gue. Bahkan sampai ke-random-an yang gue lakukan di pagi ini. Subuh-subuh, setelah selesai ibadah dan beberes, gue bisa-bisanya udah ada di Rawa Belong untuk beli bunga mawar.

Alasannya?

Gatau gue pengin aja membuat Rasi tersenyum hari ini. Gue mau untuk membuat dia merasa bahwa hadirnya ditunggu banyak manusia. Lagian juga, ini hari pertamanya masuk kerja, sedikit apresiasi kecil semoga bisa membuat mood-nya baik seharian penuh.

Lagu Teman Bahagia dari Jaz sudah mulai tiba di akhir alunannya, ketika Rasi muncul dengan setelan kerjanya yang berwarna coklat muda, juga heels berwarna hitam yang gue yakini tak pernah buatnya nyaman melangkah. Sialan, lagu-lagu di pemutar musik gue kenapa suka kelewat acak, tapi bisa tepat seperti ini sih?

“Morning, gorgeus.”

Rasi menatap gue sambil menggelengkan kepalanya, dan meletakkan tasnya di paha, “Morning, Dit.”

“Tasnya taro di belakang aja, Ras. Nggak baik dipangku gitu. Ada laptopnya ‘kan?”

Masih belum melajukan kendaraan, gue meminta izinnya untuk meletakkan tasnya ke jok belakang. Rasi tersenyum, lebih cerah dari mentari yang tadi pagi lebih dulu menyapa gue. Satu buket bunga mawar berwarna putih yang juga berpadu dengan warna biru, serta satu paper bag kecil gue letakkan di pangkuannya.

“Eh?”

Rasi menautkan kedua alisnya. Dahinya mengernyit, membuat gue refleks menyentuh keningnya. “Kamu udah dandan, jangan dibiasain kayak gitu, nanti cracking.”

“Kok tahu sih cracking gitu-gitu?” Rasi bertanya di antara tawanya yang menyusup merdu di telinga gue.

“Lintang? Shira? Temen-temenku juga ada perempuan sih, Ras, kalau kamu lupa,” jawab gue seraya melajukan mobil untuk membelah Jakarta yang semoganya tak perlu macet di hari ini.

“Terus ini maksudnya apa, Dit?” Rasi melongok isi paper bag yang gue berikan, “Ada buku juga?”

Kali ini gantian gue yang tersenyum, sembari menatapnya. “Ada almond milk juga,” jemari gue mengetuk satu cup yang ada di tengah-tengah kursi gue dengannya.

“Aku udah lama nggak minum susu pagi-pagi, Dit.”

“Mulai sekarang dibiasain. Jangan kebanyakan kopi, kasian lambung kamu Ras.”

“Kamu aja nggak kasian sama paru-parumu, Dit.”

Iya, skak mat. Mati kutu gue kalau Rasi udah bilang kayak gini. Tapi gue hanya sanggup menanggapinya dengan derai tawa tak berkesudahan, hingga membuatnya kembali bersuara. “Ini aku bukan ngelarang, ya. Aku cuma bales kamu yang sok-sokan nasehatin aku.”

“Udah sarapan?” gue mengalihkan cemberut di pipinya dengan sebuah tanya. Karena bila tidak gue alihkan, bisa-bisa gue lancang ingin mencubitnya. Bukannya mendapat senyum, yang ada satu pukulan melayang di bahu gue. Mending sih kalau pukulan, kalau dia malah minta berhenti di sini, gue yang panik malahan.

Rasi mengambil cup susu almond miliknya, seraya membaca tulisan untuk cup kepemilikan gue, lalu menganggukan kepala seperti kehabisan topik untuk membantah gue. Sebab hanya tulisan hot chocolate yang ia temukan.

“Tadi aku bikin toast sih. Jadi yaaa, jawabannya aku udah sarapan,” ia menjawabnya sembari menatap gue.

“Kok aku nggak dibikinin?”

“Aku gatau kamu mau dateng,” balasnya singkat.

Gue menoleh menatapnya sekilas, lalu kembali menatap jalanan yang cukup padat di hari ini, “Mulai besok dibikinin, boleh nggak?”

“Besok kamu jemput aku lagi?” nada suaranya berubah, bercampur dengan keterkejutan yang sudah pasti akan ia tunjukkan.

“Setiap hari aku anter jemput kamu, Ras,” ringan gue menjawabnya tanpa perlu berpikiran dua kali.

“Aditya.”

Panggilannya bertepatan dengan lampu berwarna merah yang muncul, dan membuat gue terpenjara di antara ruang dan waktu bersama Rasi sedikit lebih lama. Gue menarik rem tangan, lalu menoleh menatapnya, “Hm?”

Ia masih bergeming, mencoba mencari celah jawaban, karena mengira ucapan gue tadi hanya bualan. Sehingga membuat gue mau tak mau juga menatapnya tepat di manik mata. “Aku serius, Ras. Lagian ini jalanannya juga tiap hari aku lewatin, kenapa nggak sekalian buat anter jemput kamu coba?”

Besok-besok gue kayaknya harus lamar kerja jadi cenayang yang jago membaca isi kepalanya Rasi deh. Karena saat ini dia hanya diam, seraya mengusap bekas susu yang ada di sudut bibirnya. Salah satu kebiasaan Rasi ia lebih suka membuka penutup cup-nya, dibandingkan harus mengenakan sedotan.

“Kamu bikinin aku sarapan tiap hari, sama temenin aku dindin tiap hari aja bayarannya, gimana?”

Gue membantu menguraikan rasa tidak enaknya, dengan memberikan penawaran lain yang sesungguhnya jadi celah keberuntungan untuk gue sendiri. Lumayan nggak sih waktu dia dengan gue jadi semakin panjang? Dari mulai sarapan, hingga makan malam, gue setidaknya tak lagi perlu melewatinya sendirian.

“Dindin? Dinner maksudmu?”

“Nah itu pinter!” 

Rasi sedikit bimbang, dari sudut mata gue melihatnya tengah bolak-balik menatap gue dan juga jalanan. “Bills on me?”

Tawa pelan gue menyambut pertanyannya. “Iya, kecuali,” ada jeda yang gue berikan untuk curi tatap melihatnya yang kini fokus menantikan kalimat gue. “Kecuali lagi mau makan di luar, tetep aku yang bayar, apalagi kalau aku yang BM.”

Rasi menggeleng cepat. “Aku aja, Dit. Kalau kamu nolak, aku juga nolak buat dianter jemput kamu.”

“Oke deal,” jawab gue sembari memberikannya kelingking kiri untuk dikaitkan.

Gapapa, biarin aja gue deal sama ucapannya sekarang. Urusan nanti, biar gue yang pikirin gimana cara ngelesnya buat bikin dia nggak bisa mengeluarkan uangnya sepeser pun. Ya sebetulnya nggak apa-apa sih, hanya saja untuk Rasi, gue ingin memberikan semua yang gue punya tanpa sedikit pun timbal balik.

Kayak…ya ini semua tuh murni karena gue yang mau, dan dia nggak seharusnya merasa nggak enak apalagi harus sampai hutang budi ke gue.

Satu belokan terakhir sebelum gue akan menurunkan Rasi di kantor barunya. Rambutnya yang dia biarkan tergerai kini mulai ia rapikan, lalu melongokkan kepalanya ke jok belakang untuk mengambil tasnya.

“Nanti aja aku yang ambilin kalau udah sampe, Ras. Atau kalau kamu mau ngambil sekarang, mundurin kursinya, jangan muter-muter gitu badanmu, nanti malah keseleo nggak lucu.”

Dengan malu-malu Rasi kembali menegakkan tubuhnya dan menatap ke depan, membiarkan gue langsung tersenyum melihat rona merah jambu di pipinya itu.

Usai menghentikan kendaraan di depan lobby kantornya, gue membiarkan Rasi memundurkan jok mobilnya untuk mengambil tas. Biar saja, gue enggan menolaknya karena tak ingin dia merasa risih, apalagi sampai membuatnya kembali berpikiran bahwa gue masih menganggapnya anak kecil apabila membantunya.

Rasi terlihat ragu untuk membawa bunga dan juga paper bag yang tadi gue berikan, beberapa kali ia menatap gue, namun buru-buru menggelengkan kepalanya ketika manik kami bertubrukan. “Gamau dibawa? Ya udah taruh aja di situ gapapa. ‘Kan pulangnya nanti sama aku juga.”

“Gapapa? Kamu nggak marah?”

“Bintang sering marah emangnya sampe kamu takut aku marah?”

Raut wajahnya berubah, namun gue enggan meminta maaf sebab menyebut nama itu kembali di hadapannya. Walau sebenarnya gue juga malas, tapi sesekali gue juga ingin tahu seperti apa reaksi Rasi bila nama mantan pujaannya itu gue gemakan.

Ia tak menjawab pertanyaan gue. Anak rambutnya ia bawa ke balik telinga, lalu mengambil buku di dalam paper bag dan memasukkannya ke dalam tas. “Aku titip bunganya aja kalau gitu, ya. Jangan dikembaliin ke abangnya!

Gue tertawa mendengar gurauannya yang dibalasnya dengan satu cengiran. Belum sempat ia membuka pintu, gue mencegahnya dengan kembali mengunci mobil, membuatnya menoleh dan mengernyit heran.

“Ini gamau salim atau kecup kening dulu gitu, Ras?”

Matanya membulat sempurna dengan tangan kanannya yang gue pegang, sebab hampir mencubit lengan kiri gue. “Aditya Wira Utara!”

“Ya kalau di film-film ‘kan gitu, Ras,” tawa gue memancingnya untuk menggeleng tak percaya akan gurauan yang gue lontarkan.

“Di film-film kayak gitu, ya karena mereka emang pasangan, Dit,” jawabnya sambil menarik pergelangan tangannya dari jemari gue.

Gue membuka kunci, “Ya udah ayo, kita jadi pasangan juga.”

Rasi memicingkan matanya, juga mengernyitkan hidung bangirnya, dengan dua gelengan tak percaya. “Udah ah. Aku duluan, ya. Nanti kalau kamu udah sampe, kabarin. Makasih ya, Dit.”

“Sama-sama, cantik!”

Ia turun dari mobil, lalu tetap berdiri menunggu gue melajukan kendaraan. Gue menurunkan jendela seraya memanggilnya, “Eh, Ras?”

“Hm?”

“Kalau ada yang genit sama gangguin, bilang pawang kamu nyeremin,”

“Emangnya hujan?” Rasi tertawa, membuat lega membawa lapang di hati gue. Ini gue yakin banget kalau tiap pagi asupan gue secerah ini, nggak akan ada tuh namanya keluhan meskipun kerjaan gue segambreng. “Udah sana hati-hati. Gausah ngebut, Dit!”

“Jalanannya macet, mana bisa ngebut, Ras? Yang ada aku nabrak mobil orang hehe.”

Tangan kanannya melambai, meski ada banyak barang bawaan yang sedang ia pegang. Gue membiarkan jendela tetap terbuka, namun kini membawa Hyundai Genesis GV80 gue kembali sibuk bertarung dengan macetnya ibukota.
Share:

0 comments:

Post a Comment