Al Fine. [ episode ketigabelas - B ]

 

Rasi’s POV

Terbangun dengan semua ingatan yang begitu jelas, membuat saya berulang kali merutuki diri yang membiarkan mulut berbicara di saat sadar sudah tak penuh. Mau berpura tak pernah berucap, sudah pasti Utara akan bawa semuanya hingga berhari-hari ke depan. Mau coba dihadapi, saya harus lebih dulu pastikan supaya diri tak perlu umbar semua malu di hadapannya. Hingga bisa membuat dia salah menafsirkan, bahkan menumbuhkan benih harapan yang saya sendiri belum sanggup antarkan kepastian.

Usai membasuh wajah dan menyikat gigi, saya melangkahkan kaki keluar kamar dan mendapati Utara tengah sibuk di dapur. Entah apa yang ia lakukan, tapi ia tampak begitu serius, hingga tak menyadari kehadiran saya yang sudah duduk menatapnya seraya teguk sebotol air mineral.

“Ini kalau gue tiap pagi masak begini lucu kali, ya? Tapi masaknya buat Rasi aja,” mata saya mengikuti gerak tangannya yang saat ini tengah coba cicip masakannya, sambil terus berdialog dengan dirinya sendiri.

“Ini enak sih, tapi menurut Rasi enak juga nggak, ya? Ini kalau udah matang, gue bangunin dia nggak, ya? Apa tunggu dia bangun sendiri aja, nanti diangetin lagi? Duh elah, bingung lagi aja setiap hari Utara.”

Saya tersenyum mendengar semua monolognya. “Gausah bingung-bingung. Aku udah bangun kok, Dit.”

Utara sontak menolehkan kepalanya, menatap saya dengan wajah yang begitu terkejut. “Lho lho lho. Ngapain kamu di sini? Balik ke kamar, Ras. Kamu ngapain sih di sini?”

Ia mengecilkan kompor, lalu beranjak mendekat ke arah saya dengan air muka yang berubah khawatir. Usahanya untuk mengajak saya pindah, berujung dengan saya yang letakkan tangan di lengannya. “Aku di sini aja ya, Dit. Udah enakan kok. Nggak enak juga di kamar mulu.”

Saya tolehkan kepala untuk tengok kompor yang ada di belakangnya, agar ubah fokusnya supaya tak lagi khawatirkan saya. “Itu udah matang belum? Itu sana lihatin dulu, Dit. Anggap aja aku belum bangun. Kamu lanjut aja kayak tadi, ngobrol sama diri sendiri. Lucu tahu,” goda saya pada dia yang saat ini masih berdiri di hadapan saya.

“Mulai deh ngeledeknya!”

Tawa saya mengikuti balas ucapannya, “Mending nanti kamu kalau masak tuh aku tidur aja, atau aku lihatin kayak gini?”

Utara tertawa sembari acak rambut saya. “Wahhh! Belum sembuh kamu, Ras! Beneran belum sembuh kamu kalau kayak gini. Yang semalam ingat nggak?”

Demi apa pun, saya rasanya ingin mengurung diri di kamar, dan tarik semua ucapan saya menjahilinya tadi. Karena bukannya mundur dan menjauh, Utara justru menarik saya untuk berada pada jarak yang lebih dekat. “Kamu mau dekat-dekat gini terus?”

“Masak sana masak, Dit!”

“Ini kapan dilepasnya tangan aku? Katanya disuruh lihat masakannya, kalau kayak gini sih akunya lihatin kamu terus, Ras.”

Saya kedipkan mata beberapa kali saat menyadari tangan saya yang tadi ada di lengannya, justru sudah berada di genggamannya. Bukannya membiarkan saya melepaskan tangannya, ia malah semakin erat menggenggam. “Mau dilepas? Nggak mau dekat-dekat gini aja, Ras?”

“Kalau iya mau dekat-dekat gini, kenapa?” tanya saya sembari bangkit dari kursi, untuk berdiri sejajar dengan dirinya.

Lelaki yang kini ada di hadapan saya justru dengan cepat mundur sambil menggelengkan kepalanya. “Wah beneran bahaya kamu, Ras. Habis ini periksa ke dokter yuk, beneran sakit parah kayaknya kamu,” pungkasnya sambil melangkah kembali ke kompor.

“Ras, ini tuh harusnya yang malu aku apa kamu sih?” Utara kembali menoleh kepada saya, “Yang harusnya deg-degan tuh aku atau kamu, ya?”

Tawa saya sambut pertanyaannya yang terlalu jujur tanpa sedikit pun malu. “Nggak taaaauuuuu, Dityaaaaa!” jawab saya yang kemudian buat seisi ruangan ini diguyur gelak tawa kami berdua.

Mungkin, ini yang kerap membuat saya rindu akan momen-momen bersama Utara. Saat di mana saya dan dia bisa tertawa bersama, tanpa khawatir untuk melukai siapa pun. Saat di mana saya dan dirinya bisa bebas bercerita, tanpa takut mengganggu atau dianggap buaya, karena sejujurnya kami sama-sama tahu ke mana maksud ingin mengarah.

Saya masih mengamati ia yang saat ini kembali berkutat dengan setumpuk peralatan masak yang membuat dapur teramat berantakan, dan membuat saya beranjak dari duduk untuk mendekatinya. “Kamu tuh masak apa sih sebenernya? Kok berantakan gini, Dit?” tanya saya seraya melongok ke dalam panci yang tengah ia aduk.

“Ras, pernah ada yang bilang nggak sih kalau muka bangun tidurmu tuh cantik banget? Sumpah, cantik!”

Pantas rasanya bila Utara sempat sabet gelar lelaki paling digilai di seantero kampus, bila ucap manis bibirnya bisa buat saya merona seperti sekarang. Saya tertawa cukup kencang untuk kesampingkan semua salah tingkah yang kian membuncah, namun sayangnya kepala saya juga ikut berputar dan sebabkan pusing yang tak tertahankan.

“Eh…ehh… Kamu kenapa, Ras?” tangan kanan Utara sudah berada di punggung saya menahan limbung diri. Membuat saya berusaha untuk tetap berdiri tegak, agar tak perlu jatuh dalam dekapan Utara, sembari tenangkan diri.

“Gapapa, Dit, agak pusing aja tadi.”

“Makanya jangan banyak gerak. Kamunya sih ngeyel, ya udah ayo ke kamar lagi aja. Atau mau dipeluk aja biar pusingnya berkurang?”

Belum sempat saya membalas gombalannya, suara bel berbunyi membuat kami berdua saling melemparkan pandangan. “Kamu ada tamu, Ras?”

“Nggak, Dit. Aku lihat dulu deh,”

“Kamu duduk aja, biar aku yang lihat ke depan.”

Utara beranjak menuju pintu, sedang saya dibiarkan duduk sembari membuka bungkus keju yang ada di atas meja. Belum selesai semua pusing yang ada di kepala, saya dibuat kian semakin pusing ketika melihat Shira, Lintang, dan Fajar sudah melangkah masuk dengan beberapa paper bag yang dibawa.

Pandangan Utara dan saya beradu dengan kebingungan yang mengikuti, “Kamu kasih tahu mereka, Dit?” bisik saya ketika Utara kembali berdiri di samping saya tatap tiga sahabat kami itu sibuk membongkar barang bawaan mereka di ruang tv.

“Nggak.”

“Kamu bikin story nggak?”

“Iya,” angguknya yang seketika buat saya menggeleng dan mengerti mengapa ketiga orang ini sudah ada di hadapan kami. Sebuah hal yang sudah bisa dipastikan akan mereka lakukan, sebab saya berani jamin usai lihat story Utara, mereka akan hubungi ponsel saya yang sejak kemarin belum lagi saya hidupkan. Rasa-rasanya, persahabatan ini memang sudah terlampau dekat untuk buat satu sama lain paham, meski hanya ada beberapa hint yang diberikan.

 

***

 

Ke-lima anak adam dan hawa yang sedang nikmati sarapan pagi masing-masing itu tengah asyik saling lempar topik pembicaraan ketika Fajar meletakkan ponselnya, “Ut, buka pintu gih! Langit bentar lagi sampai tuh, katanya dia bawa banyak tentengan.”

“Ya kenapa bukan elo aja yang berdiri terus bukain? Gue mau cuci piring elah,” omel Utara sambil mengangkat piringnya ke hadapan Fajar.

“Aku aja yang buka,” Rasi menyela pembicaraan sambil berdiri, namun lengannya lekas ditarik Lintang untuk tetap duduk dan tak beranjak.

“Rasi sini aja, biarin Fajar yang buka. Rasi tuh mending bantuin Lintang habisin salad-nya.”

Tanpa harus berlama berdebat, Fajar hanya mengangguk pasrah membiarkan ketiga sahabat perempuannya kembali larut dalam percakapan yang menurutnya tak benar-benar penting. Karena sejak kapan bisa penting, bila Lintang yang sudah memimpin obrolan?

“Ini lama-lama kayak kambing nggak sih kita kalau makannya sayur beginian?” Rasi berseloroh usai telan satu garpu penuh sayur berwarna hijau yang ada di kotak mika Lintang.

Shira tertawa, “Lintang dengan semua agenda diet-nya emang bagus banget disebut hewan, Ras.”

“Iya ya, kalau dipikir-pikir kenapa ini isinya sayuran semua sih?”

Shira sontak mendongakkan kepala dan menatap Lintang lalu Rasi bergantian, “Terus lo maunya apa? Daging?”

Utara yang baru saja menyelesaikan cuci piringnya kini berdiri di samping Rasi, seraya meneguk satu gelas air mineral, dan menggoda Lintang dengan ucapannya. “Lintang mah maunya sama Langit. Iya nggak, Tang?”

Pertanyaan itu membuat mereka terbahak tepat ketika Langit sudah berteriak di ambang pintu. “Welcome home!”

“Lo ngigo? Rumah lo bukan, malah main welcome home aja,” Fajar menyambar beberapa green bag yang dibawa Langit, meski bibirnya lontarkan pertentangan pada kalimat Langit.

“Rasi ‘kan rumah gue, ya, Ras? Bener nggak?” pertanyaan itu sontak membuat Utara pandangi kawan karibnya, juga jatuhkan tatap pada Rasi yang hanya menggeleng malas dengar celoteh Langit.

Belum ada semenit berselang, bel kembali berbunyi untuk bawa Athaya menjadi yang terakhir bergabung dengan yang lainnya. Athaya yang baru saja tiba hanya menyapa semuanya sekadarnya, lalu lekas menuju Rasi. “Little pony, udah lengkap semua, nggak usah beli lagi, ya.”

“You! Aaaaa, Athaya makasih banyak. Baik banget,” teriak Rasi langsung memeluk Athaya setelah melihat Chaki Meal kesukaannya—lebih tepatnya mainan yang lekat menjadi bagian dari promo restoran ayam cepat saji merah putih itu.

Athaya balas memeluk Rasi, seraya mengusap punggung sahabat perempuan yang berhasil sita semua perasaan dan perhatiannya selama ini, diikuti dengan tatapan karibnya yang ikut tersenyum lihat pemandangan keduanya. Sebetulnya, hanya empat orang yang tersenyum, sebab Utara lebih memilih mengalihkan pandangan pada televisi yang kini ia nyalakan.

Memang sudah bukan hal yang aneh melihat kedekatan Rasi dan Athaya, yang kadang sanggup buat orang lain pertanyakan hubungan mereka. Tapi bagi Utara, masih tersisa sedikit rasa yang tak bisa ia jabarkan sebab posisinya pun tidak ada pada kejelasan.

Ia ingin sebut cemburu, tapi punya hak saja ia tak pernah, bahkan cemburu pun takkan pernah pantas untuk diletakkan pada dua karib yang saling bergantung itu. Bila cemburu saja tak bisa, marah pun dia tak punya kuasa, sebab sejak awal semuanya juga tahu bila Athaya takkan pernah izinkan perasaan miliknya untuk jadikan Rasi kepemilikan.

Rasi tak pernah paham dengan isi kepalanya saat ini. Tidak ketika ia menyadari Utara memilih diam usai kehadiran Athaya. Sebagian diri Rasi sadar, bisa jadi lelaki yang sejak kemarin temani dirinya sedang dilanda banyak pemikiran tentang bagaimana hubungan mereka. Namun sayangnya, Rasi juga tak kuasa beri banyak penjelasan, sebab ia masih punya beberapa hal yang jadi pertanyaan tanpa jawaban.

Kiranya jika Rasi harus disebut egois, maka ia terima semua hujatan yang ada untuk semua ketidakpastian yang berasal dari sikapnya. Sasimo alias sana sini mau, katanya muda-mudi zaman sekarang lekatkan label itu pada mereka yang dekat dengan semua orang, bahkan berani urai peluk tanpa status. Sepertinya Rasi takkan pernah coba mengelak bila label itu juga melekat padanya, karena ia lebih dari sekadar paham bahwa perangainya pada Athaya dan Utara bisa buatnya dicap seperti itu.

Tapi biarlah, biar saja bila dunia harus mencaci karena Rasi pun tak punya waktu jelaskan perasaan dan pikirannya, yang dipenuhi banyak abu-abu semenjak Bintang menghilang seolah tak pernah jalin apa pun. Padahal semestinya empat tahun bukan perkara mudah untuk lepaskan semua kebiasaan, ‘kan?

 

Share:

0 comments:

Post a Comment