Al Fine. [ track 14 - A ]

 

Rasi's POV

Buat saya, punya kesempatan untuk bisa bebas bercerita itu langka. Bukan karena tidak pernah percaya pada orang lain, tapi kadang kala saya merasa bila tak seharusnya membebani mereka dengan hal-hal yang saya punya. Sebab mereka sendiri pasti punya hal berat dan rumit di hidupnya. Mungkin, itu yang kemudian membuat saya jarang bisa berbagi keluh kesah. Membuat saya pada akhirnya hanya terbiasa mendengarkan, dan minim didengarkan.

Tapi, setelah berjumpa dengan Dewa, kesempatan itu ada untuk kemudian sedikit meringankan saya. Namanya Dewandaru, salah seorang sahabat atau mungkin lebih baik disebut kakak namun tak sedarah. Dengannya, banyak cerita saya bergulir begitu saja. Seolah memang semuanya ada untuk dibagikan, tanpa perlu takut bila memberatkan.

Saya sepenuhnya menantikan hari ini tiba, ketika beberapa waktu lalu ia mengabari saya tentang waktu luang yang ia punya. Yap, mungkin ini juga salah satu hal yang membuat saya juga suka bercerita padanya. Adanya waktu temu yang jarang tersedia, bahkan komunikasi yang tak selalu bisa terjaga, seperti membuat cerita-cerita saya berhamburan meminta dikisahkan.

"Kamu nunggu kelamaan nggak, Ras?"

Sapaan pertamanya terdengar begitu saya mendudukkan diri di mobilnya. Saya hanya menggeleng menatapnya, yang hari ini mengenakan kemeja coklat muda yang lengannya sudah dilipat asal hingga siku, dengan celana chino berwarna hitam andalannya. "Nggak kok, aku juga baru turun."

"Padahal tadi harusnya kamu tunggu aku sampe lobby dulu aja, Ras."

Saya tertawa menatapnya yang juga menatap saya dengan rekahan senyumnya. "Apa sih, Mas? Gausah lebay, oke?"

Ia menggelengkan kepala enggan mendebat, "So...you ready?"

"Kalau aku bilang nggak, berarti aku turun lagi aja kali, ya?"

Kali ini gantian dia yang tertawa, sembari menginjak gas dan melajukan kendaraan. "Nggaklah, aku culik aja kamunya."

"Aku lapor ibu Asa aja gimana?"

"Oh kalau itu aku yang langsung dicoret dari KK."

"Hahaha!"

Kami tertawa bersama, dan saya baru saja menyadari bahwa sudah lama rasanya tak tertawa seringan ini dan khawatirkan apa pun yang terjadi. Entah di hari esok, maupun di hari kemarin. Rasanya bertemu Dewa memang sebuah keputusan yang tepat, setelah sekian banyak drama berhasil saya lalu.

"How's life, Ras?" Dewa menyandarkan tubuhnya dan melepas kemudi, ketika kemacetan sempat-sempatnya menyapa kami di hari Sabtu pagi ini.

"So so?"

Ia menolehkan kepalanya, menyipitkan kedua mata, lalu menampilkan ekspresi tidak puas, "Kok nggak yakin gitu?"

Saya menghela napas. Menahan diri untuk tidak menyuarakan semua lelah, pada temu kami yang baru kembali tercipta, setelah hampir satu tahun kesibukan menghalangi kami untuk sekadar bertegur sapa. "Ya mau gimana lagi, karena emang selayaknya hidup aja sih, Mas. Kamu sendiri gimana? Gimana hidup dengan banyak kesibukan, Mas?"

Sebelah tangannya lekat memegang kemudi, sedang tangan satunya ia gunakan untuk mengacak rambut saya. "Makin dikejar buat nikah, hahaha." Dewa menggeleng, dengan senyum dan tatapan yang kali ini sedikit dipenuhi khawatir. "Kayaknya kalau tahun ini aku nggak ngenalin calon, udah pasti tahun depan aku dijodohin deh, Ras."

"For real? Mas, ih jangan ngaco, omongan tuh doa," saya menepuk lengannya pelan.

Bohong kalau saya tidak terperanjat atas ucapannya barusan. Karena di kepala saya tak sekalipun hal itu terlintas untuk diucapkan olehnya. Tapi melihat senyumnya lenyap, dengan tatapan yang tak berubah, membuat saya mengerti jika ia tidak sedang bercanda.

"Hal yang udah pasti nggak sih, Ras? Udah bukan doa ini tuh, udah lebih ke ikhlas aja sekarang."

"Rich people problems sih yaa. I can't relate, Mas."

Menjadi putra tunggal keluarga Gumilar, membuat Dewa tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab dan tuntutan untuk hidup baik bahkan mendekati sempurna. Termasuk soal memilih pasangan hidup, yang harus memenuhi ragam kriteria agar dianggap pantas sebagai pendamping. Sesuatu yang saya tak akan pernah bahkan enggan untuk saya rasakan.

Dewa menoleh pada saya sekilas, "Heh kamu juga pasti kayak gitu ujungnya, Ras. Udah ada penggantinya yang kemarin itu belum?"

Pertanyaan Dewa barusan sontak membuat saya terdiam sejenak, sebab teringat akan Utara dan keputusan yang saya ambil malam itu. Bagaimana akhirnya saya menerima uluran tangan Utara untuk membiarkannya masuk ke dalam hidup saya. Bagaimana Utara meyakinkan saya untuk pelan-pelan saling mengenal, tanpa tergesa terikat pada sebuah status, namun juga tak main-main dengan apa yang dijalani.

Bagaimana lelaki itu mengiyakan permintaan saya untuk tak mengumbar apa yang kami pilih sekarang, tanpa bertanya dan curiga dengan alasan yang tak saya ungkapkan. Bahkan bagaimana perubahan sikap saya dan dirinya beberapa hari belakangan, membuat saya mau tak mau tersenyum dan mearasakan hangat di pipi.

"Bentar-bentar," Dewa membuat saya menoleh, "Kok mukamu merah, Ras? Jangan bilang udah punya yang baru, ya? Iya?"

Sungguh, kali ini tawa saya kembali hadir usai lihat ekspresi Dewa yang kelewat penasaran. Kalau saya harus merahasiakan semua ini pada sahabat-sahabat saya, mungkin Dewa adalah pengecualian. Karena saya sungguh tak yakin bila sanggup membohonginya, apalagi harus berkilah pada dia yang sudah jauh lebih pandai berkilah.

"Heiiiiiiiiii! Tell me, sweet cheeks. Who's the lucky man?"

Ia tak henti bertanya, membuat saya kali ini duduk menyerong menghadapnya sambil memamerkan senyum yang sekiranya sanggup menggambarkan perasaan saya. "Sahabat lama aku, Mas."

Matanya membulat sempurna sambil menggeleng tak percaya, diikuti dengan senyum cerah yang juga tandakan bahagianya. "Who? Athaya?"

Lekas saya menggelengkan kepala ketika nama Athaya yang justru disebutkan. "Absolutely not, yakaliiiiii, Mas!"

"Why not?" Dewa menengadahkan tangan kirinya sambil melihat saya, "He's falling deep for you, Ras."

Kedua jemari saya saling tertaut untuk kemudian membuat saya menggenggamnya erat, sembari menatap Dewa yakin bahwa bukan Athaya orangnya. "Nggak ih,"

"Did you forget our last conversation after I met him at Sydney?"

Untuk pertanyaan ini jelas saya menggelengkan kepala dan menatap lurus pada jalanan. Saya ingat betul pertemuan Athaya dan Dewa kala itu. Pertemuan yang tidak pernah direncanakan, namun akhirnya terjadi dengan menyenangkan, sebab keduanya terlihat begitu akrab seperti karib lama.

Tak lama berselang setelah Athaya kembali ke Jakarta, saya ingat betul bila Dewa lekas menemui saya untuk ungkapkan semua pemikirannya soal Athaya. Tentang hal-hal yang akhirnya saya akui dan juga saya ceritakan pada Dewa. "We're not talking about it anymore, Mas."

Dewa tergelak, sambil mengetukkan jemari ketika lagu Youth milik Troye Sivan berputar, "Hahahaha, ya udah terus siapa?"

Saya tersenyum menatap layar ponsel yang kini menampilkan namanya tertera, berserta dengan pesan yang dia ucapkan sebagai sapaan di hari ini. Senyum saya jelas tak mungkin hilang setiap kali Utara mencurahi saya dengan perasaan yang dia punya, entah lewat tingkah laku, bahkan hanya sekadar kata-kata seperti saat ini.

"Ah I know! One of your bestfriend's brother, right?" Seruan Dewa membuat saya menatapnya dengan buncah senang yang tak bisa ditutupi. "Oh damn! Faktor umur kayaknya deh, aku sampe lupa namanya, siapa deh, Ras?"

"Hmmmm, siapa, ya?"

"Namanya siapa, Rasi?"

"Kepo!" Saya menanggapinya dengan candaan yang sontak membuatnya menoleh malas, dan fokus kembali menatap jalanan. "Kamu tuh ya, Mas, baru juga ketemu yang dibahas malah aku doang. Kapan cerita soal kamunya coba, Mas?"

"Hahaha, ask me then. Mau tahu apa?"

"Kamu cerita, aku males nanya."

"Sambil brunch deh yuk," ajaknya setelah menghentikan mobil tepat di sebuah kedai kopi yang cukup nyaman. Membuat saya mengernyitkan kening dan menatapnya dengan heran.

"Baru juga jalan bentar, udah mampir makan aja ih. Susah nih jalan sama chef, heran banget semua tempat kayaknya harus diicip."

"Job shaming nih kamu!" timpalnya sembari mengambil ponsel dan membuka kunci pintu.


***


Ada jeda panjang sejak saya dan Dewa memutuskan singgah untuk nikmati brunch favorit kami masing-masing. Saya dengan Croissant dan Iced Americano, sedang Dewa dengan Ginger Ale dan juga Blueberry Cheesecake-nya. Kami banyak bercerita soal hal-hal yang dirindukan dari Jakarta, hingga pesanan kami tiba dan Dewa membuka percakapan dengan satu tanya yang membuat saya lagi-lagi tercekat.

"Ras, kalau aku dijodohin gimana menurutmu?"

Dewa menatap saya lekat dengan air muka yang tak bisa saya tebak artinya dengan pasti. Selama saya mengenal Dewa, baru kali ini saya lihat dia tak tunjukkan wajah teduhnya seperti biasa. Ada guratan cemas yang juga terdengar dari tanyanya yang diliputi ragu.

"Mas?" Saya menatap tepat di matanya dengan penuh gamang. "Ini kamu beneran bahas ginian tuh serius, ya?"

Dewa tertawa setelah sesap minumannya. "Ya iya, Ras, masa aku bohongan sih."

"Emangnya bener-bener nggak ada yang mau sama kamu di dunia ini? Like dudeeeee, really?"

"Kenapa deh?"

Saya menyandarkan punggung pada sofa, lalu menggeleng tak percaya menatapnya. "You're perfect, Mas. Baik? Nggak usah ditanya. Sopan? Apalagi. Mapan? Itu juga seluruh dunia pasti tahu. Pinter? Capek banget kalau harus dijelasin, what else? Definisi mantu idaman nasional kamu tuh."

Bukannya mengada-ada, tapi bila harus gambarkan sosok pria sempurna yang sudah pasti diizinkan semua orangtua untuk pinang anak gadisnya, Dewa sudah pasti ada di deretan paling atas. Bukan hanya sebab latar belakang golden spoon yang dia punya, tapi pribadinya sendiri sudah sempurna sebagai manusia, anak, dan juga pria dewasa. Hingga rasanya tak mungkin bila tak ada seorang pun tak terpikat padanya, bila ia benar jatuhkan hati dan pilihan pada seseorang tersebut.

Dewa menatap saya intens, kali ini sembari menikmati cake yang dia bilang masih kalah dari buatannya itu. "Belajar sugarcoating dari mana tuh?"

"This is genuinely complimenting, Mas."

"Kinda fuss," jawabnya sembari mengedikkan bahu dan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu rambutnya berkali-kali diiringi hela napas yang cukup dalam.

"Tuh tuh kamu malah belajar suudzon sekarang."

Di antara semua doa yang saya panjatkan pada pemilik semesta, nama Dewa ada juga di sana, untuk semua bahagianya di dalam hidup. Doa yang saya berikan sebagai balasan atas hadirnya yang temani saat-saat paling rapuh saya selama di Australia, juga ketika hubungan saya dengan Bintang berakhir.

"Ketemu 'the' one tuh susah, Ras," ia melirik saya sembari memainkan garpunya dia atas piring.

"Emang."

"Tuh kamu setuju juga 'kan?"

Saya menganggukkan kepala. "Ya emang nyari 'the one' itu susah, apalagi kalau role modelnya kayak ayah ibu-nya, Mas. Itu sih makin susah banget. Tapi ya bukan berarti nggak ada, Mas."

Oh untuk hal yang satu ini saya berani bersumpah, bila kedua orangtuanya tunjukkan sebenar-benarnya harmonis keluarga pada dunia. Ayah dan Ibu Dewa adalah perwujudan sempurna untuk dua pasang insan yang dilimpahi banyak cinta, tak berkurang meski usia sudah menuju senja. Salah satu yang buat saya kerap tak percaya, bila Dewa juga alami apa-apa yang pernah saya temui dalam hidup, padahal kesempurnaan lekat di hidupnya.

"Ada, tapi nggak pernah ketemu sama aku, Ras."

Keluhan Dewa sontak membuat saya mengigit bibir bawah, dan tatap dirinya yang kini menengadahkan kepala untuk lihat langit-langit dengan tatapan menerawang. "Kamunya yang nggak sadar kali, Mas."

Lagu Mahalini berputar pelan dari sudut ruangan, membuat Dewa menghela napas panjang, lalu memanggil seorang waitress untuk kembali pesan minuman bagi kami. "Apa aku nunggu dijodohin sama kamu aja, ya?"

Sontak saya lekas menggelar tawa tanpa henti, hingga sudut mata basah sebab perut benar-benar dikocok oleh gurauannya. "Perlu aku bantu bilang ke Ibu Asa nggak?"

"Itu namanya kamu makin nyusahin aku, Ras."

Kalau saja ini bukan Dewa, sudah tentu dialog seperti ini takkan pernah berani saya lontarkan. Pertama, takut bila ditanggapi dengan serius. Kedua, karena tak enak rasanya mempermainkan perasaan seseorang, dengan candaan yang tak perlu dipikirkan hingga berlarut.

"Ya lagian kamu juga." Saya menyeka mulut dengan tisu, lalu kembali melemparkan pandangan padanya. "But seriously, Mas. What are you looking for? Kamu tuh cari tipe yang gimana?"

"Sederhana aja, Ras. Dia sayang orangtuanya, dia sayang Ayah Ibu, dan dia sayang sama aku. That's it. It's more than enough."

"Cantik? Baik? Pinter? Sepadan? Mapan? Gitu-gitu juga, 'kan?"

"Forget about it, Ras. Itu nggak penting dan nggak ada patokan khususnya."

"Ya nggak bisa," protes saya seraya mengucapkan terima kasih pada waitress yang baru saja antarkan sebotol air mineral. "Logikanya aja nih, Mas, nggak ada yang nggak kenal Trah Gumilar di seantero Nusantara ini. Yakaliiiii kriteria yang tadi dilupain."

Dewa tersenyum sembari menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan. "Hehehehehe, aku keluar dari KK aja apa?"

"Boleh," saya mengangguk setuju dan mengerling jahil padanya. "Aku yang gantiin kamu oke juga sih kayaknya."

Tawanya terdengar lepas kali ini. Bahkan membuat beberapa pasang mata melirik pada kami. Hal yang memantik lega pada diri saya, sebab ia tak lagi diselimuti cemas seperti sebelumnya. Saya menanti gelak tawanya reda, untuk kembali pertanyakan satu hal yang terus berputar di kepala. "Ini tuh masih karena mantan sahabatmu itu, ya, Mas?"

Dewa berdeham bersama dengan raut wajahnya yang berubah serius. Tawanya resmi menghilang, berganti dengan decakan dan helaan yang berpadu. "Maybe, I don't know, Ras."

Ia mengedikkan bahu, lalu menyuap satu potong terakhir cake-nya sembari tersenyum. "Mungkin emang belum ketemu yang cocok aja kali, ya? Udahlah skip dulu bahasannya," ia mengaduk minumannya.

"Kamu sendiri gimana? Pacarannya udah lama? Udah dikenalin orangtuamu belum? Eh tapi kalau kalian sahabatan, harusnya udah kenal dong, ya?"

Saya mengusap wajah dengan pelan dan memijat kedua alis untuk ciptakan tenang, sebelum menjawabnya. "Aku belum pacaran, Mas."

Dewa membelalakkan matanya, "Kamu gantungin?"

"Enak aja!"

"Ya terus apa? Pdkt? Malu sama umur, ma cherie!"

"Umur kamu lebih malu-maluin sih, Mas." Saya membalasnya setengah bercanda, lalu menghidu aroma kopi yang menaungi ruangan. "Aku takut yang dulu keulang lagi, Mas."

Lama Dewa tak merespon, membuat saya menatapnya namun justru dibalas dengan senyuman paling manis yang dia miliki. Yang bila sekarang kami tak ada di tempat umum, sudah pasti bisa buat saya menangis tersedu. Sadar dengan saya yang mungkin sudah berkaca-kaca, Dewa mengubah topik menjadi hal lain untuk mengalihkan sedih yang saya punya.

"Penasaran deh, mau ketemu dong sama orangnya."

"Aku kasih liat fotonya aja deh, ya."

Saya mengambil ponsel dari dalam tas, dan memilih satu foto Utara yang pernah saya ambil diam-diam ketika ia tengah mengemudi beberapa hari kemarin. Dewa menerima uluran ponsel saya, lalu memperhatikan potret itu dengan begitu lekat. "He's seems nice. Tapi," gantungan kalimat Dewa membuat saya berdebar. "Keliatannya playboy, ya?"

"Hahaha," saya tertawa dan menerima ponsel yang ia berikan, lalu tatap kembali wajah Utara yang ada di layar. "Little bit. Ya baik sama semua orang sih lebih tepatnya, Mas."

Tak mungkin saya pungkiri terkaan Dewa, sebab benar adanya bila Utara selalu dicap seperti itu. Apalagi mengingat deret wanita yang pernah mendekatinya, sejak dulu di kampus bahkan mungkin hingga saat ini. Yang kadang, buat saya pertanyakan diri sendiri, apakah pantas untuk dapatkan dirinya yang dielukan oleh banyak juwita.

"Seleramu, nggak berubah."

"Maksudnya apa tuh?" kedua alis saya bertaut mendengar cibiran Dewa.

Pria di depan saya ini hanya mencebikkan bibirnya, "Ya yang sebelum ini 'kan juga gitu, Ras. Tapi males ah bahas dia, so what's next?"

"What? Apanya yang what's next?"

"Mau apa lagi kamu habis ini? Pacaran? Langsung nikah? Atau kejar karir? Atau jangan bilang kuliah lagi, off limits deh aku kalau itu, nggak sanggup denger keluhanmu soal kuliah lagi."

Lagi-lagi saya tergelak mendengar ucapannya, teringat semua keluhan saya padanya tentang deretan rutinitas perkuliahan yang di beberapa waktu terasa menyebalkan. "Mau jualan S aja, S aku kebanyakan soalnya, Mas."

Dewa menepukkan kedua tangannya sekali dengan menatap tak percaya pada saya. "Hell, Ras! Balik sana kamu ke rumah, kering banget itu jokesnya. Tahu nggak, kayak bapak-bapak yang pakai emoji jempol doang ituloh."

Gelengan kepalanya membuat saya tak bisa menghentikan tawa. HIngga satu tanyanya sontak membuat saya mematung, dan menghentikan gerak tangan yang sejak tadi memainkan ponsel di pangkuan.

"Gimana kalau Bintang balik dan kasih penjelasan, Ras?"

Share:

0 comments:

Post a Comment