Al Fine. [ episode ketigabelas - A ]

 

track 12: can't help falling in love
untuk terjatuh, aku ingin

 

Kalau disuruh sebut hal-hal yang dibenci di dunia ini, Utara pasti akan dengan tegas dan lantang sebut, kalau dirinya benci harus menghadapi orang-orang yang terlalu suka menyimpan segala sesuatu sendirian. Apalagi kalau itu berhubungan dengan kesehatan.

Karena semenjak ibu dan adiknya berpulang, ia tak lagi punya kuasa untuk temui kehilangan dengan hal serupa. Baginya, perasaan khawatir dan panik yang ada benar-benar menyiksa. Segala bentuk kemungkinan skenario terburuk sudah ia hafal betul di dalam kepala, bak pemeran utama di drama sinetron.

Meski acap kali merasa terlalu berlebihan, ia tetap takkan pernah lupa rasanya kehilangan karena harus dengar, pun lihat orang terkasih yang terbaring sakit. Mungkin, itu juga yang buat ia hampir kehilangan sabar dengan terus-menerus membunyikan klakson mobilnya, di tengah macet yang berjaya pada rush hour hari Jumat petang kali ini. Sejak pagi sejujurnya ia sadar bahwa Rasi terlihat sedikit pucat. Namun, ia coba kesampingkan pemikiran itu sebab derai tawa dan juga gerak aktif sang hawa sanggup tutupi hal tersebut.

Utara yang sejak tadi sudah tak sabar menunggu lift terbuka sejak di basement, saat ini sudah tiba di lobby dan berlari kencang menuju lift yang hampir saja tertutup. Tak ia hiraukan tatap bingung orang-orang terhadapnya. Karena yang ada di pikirannya saat ini hanya Rasi yang pasti sedang terbaring lemah di ranjangnya.

Kalau bukan Rasi orangnya, sudah pasti Utara takkan pernah mau membawa pekerjaan kantor ke rumah. Karena baginya, berada di rumah sudah sepantasnya perkenankan pekerjaan memenuhi isi kepala. Kalau bukan Rasi orangnya, sudah Utara takkan menyelesaikan pekerjaannya dalam kurun waktu satu jam. Karena baginya, menikmati pekerjaan adalah bagian dari hidup yang harus dilakukan dengan pelan-pelan, bukan buru-buru.

Tapi sayangnya kali ini takdir bawa ia untuk memilih di antara pekerjaan dan Rasi. Dan sudah tentu, seluruh insan yang pernah bersinggungan dengan adam ini pasti paham bahwa Rasi sepenuhnya akan jadi prioritas utamanya. Meski entah, apakah hal yang sama juga berlaku untuknya.

Sudah hampir tiga menit berlalu ia menunggu pintu dibuka, usai tangannya berkali memencet bel di depan pintu. Hingga ia akhirnya menyerah dan memanggil nomor sang puan, untuk pastikan keadaan. Tak ingin lancang membuka pintu, meski sepenuhnya dihajar cemas yang memburu.

Panggilan diangkat pada dering ke lima, membuat tuan yang kini sudah tak sabar itu langsung menyelanya dengan pertanyaan. “Tidur, Ras?”

“Iya. Kenapa, Dit?”

Suara yang begitu lemah terdengar di ujung panggilan, membuat Utara sedikit tergesa merogoh saku celananya mengeluarkan kartu key card miliknya. “Nggak bisa bangun, ‘kan? Aku izin masuk pake key card-ku, ya?”

Belum sempat sang puan menjawab, lelaki dengan kacamata yang masih melekat di wajahnya itu pun memutuskan panggilan, dan bergegas masuk ke dalam apartemen kepemilikan mendiang adiknya. Usai mencuci tangan dan meletakkan bubur ayam di kitchen set, ia bergegas menuju kamar Rasi, setelah sebelumnya mengetuk pintu bercat putih itu lebih dulu.

Rasi yang sejak siang tadi memang hanya mampu terbaring lemah di ranjang pun membulatkan mata indahnya ketika melihat Utara sudah berdiri di hadapannya, dengan kemeja putih yang sudah terlipat asal hingga siku.

“Kok, kamu di sini, Dit?”

“Kamu yang kenapa sih kalau sakit nggak bilang?” Utara membalas tanya Rasi dengan pertanyaan lain, sembari memeriksa kening, tangan, dan juga telapak kaki perempuan itu. “Ini juga, kamu kenapa bisa sakit sih? Pasti gara-gara kemarin tuh kamu lembur terus, pulang malam terus, makannya juga nggak dijaga. Heran kamu tuh suka banget nyusahin diri sendiri.”

Yang ditanya hanya diam, seolah mengizinkan Utara untuk curahkan semua khawatirnya lewat tanya tanpa jeda yang dilontarkan. “Udah? Masih mau marah? Kamu kalau ke sini cuma mau marah-marah, aku nggak sanggup deh, Dit. Serius,” akunya sembari memijit pelipis membuat Utara hanya menggeleng dan menghela kesal.

Aroma vanilla yang berasal dari lilin Bath and Body Works kepemilikan Rasi menguar memenuhi hidung keduanya. Berusaha mencari tenang di antara deru khawatir milik si lelaki, dan rasa pusing milik si perempuan.  

“Kamu udah makan lagi belum?” Utara kembali bertanya, usai mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. “Ngaku deh pasti belum, ‘kan? Ya gimana mau makan, bangun dari tempat tidur aja pasti udah nggak kuat.”

Rasi Alfa Karina hanya tersenyum. Sebab semua ucap Utara adalah benar yang tak lagi bisa dilawan. Perempuan yang kini tergolek lemah itu adalah satu dari sekian banyak orang yang jarang jatuh sakit. Namun apabila sakit sudah menyapanya, sudah bisa dipastikan untuk bergerak pun dia takkan mampu. Dan itu juga yang menjadi salah satu alasan Utara mengkhawatirkannya.

“Heran banget sama kamu, Ras. Kamu tuh suka nggak inget apa ya kalau sakit tuh pasti nggak bisa apa-apa. Sekarang kamu mau makan apa? Bubur ayam mau?”

“Apa aja, Aditya,” jawab Rasi sambil berusaha duduk, namun lekas ditahan oleh Utara.

“Kamu tidur aja, aku siapin makanannya dulu. Nanti kalau udah, baru aku bawain ke sini.”

Karena tak mampu lawan seluruh sakit di kepala dan juga perutnya, Rasi memilih untuk tak lagi tentang semua ucap yang keluar dari bibir Utara. Pun di lain sisi, ia sadar betul bila Utara sedang kalut dipeluk oleh seluruh khawatir dan juga amarah.

 

***

 

Biasanya sadar tak bisa dipeluk bila cairan yang dipenuhi kadar alkohol itu singgah di kerongkongan. Namun sayangnya, untuk Rasi, sadar takkan mampu dipeluknya dengan utuh bila sakit yang sudah singgah. Beberapa ucapnya akan menyakitkan, namun beberapa lainnya akan lebih jujur dari bocah umur lima tahun yang merengek dibelikan es krim, atau meminta dibelikan sepatu baru seperti yang dipakai teman sebayanya dengan warna favoritnya.

Rasi adalah murni apabila sakit berkunjung. Dan Utara yang kini duduk di sampingnya pada pukul sepuluh malam, adalah tempat pulang untuk semua kejujuran itu.  

“Kamu pernah nggak sih kayak gini pas di Aussie?”

Utara membuka obrolan malam ini, usai biarkan Rasi telan satu buah obat guna turunkan demamnya. Membuat sang puan menolehkan kepala, sembari tatap dwinetra legam milik Utara. “Maksud kamu sakit?”

“Ya iyalah, mau apaan lagi?”

Rasi tertawa kecil, “Ya pernahlah, Dit. Aku ‘kan juga manusia.”

“Terus? Kalau pas sakit gimana?”

“Gimana apanya?”

Kernyitan di kening Rasi membuat Utara menyentilnya dengan pelan. “Ya kamu kayak gimana kalau sakit?”

“Ya aku di kamar aja tiduran, Dit. Paling besoknya juga udah baikan.”

“Kamu nggak bilang mama papamu gitu?”

Satu pertanyaan Utara membuat Rasi melemparkan pandangnya pada langit-langit kamar, seraya ingat semua hari yang dilalui di Australia beberapa tahun kemarin. Rumah katanya perlu kata saling untuk jaga harmonis tetap setia. Tapi nyatanya, saling itu tak lagi bisa ditemukan Rasi bila berada bersama kedua orangtuanya.

Mereka ada, namun tak sepenuhnya tanyakan ingin paling jujur milik putri tunggalnya. Mereka ada, namun Rasi kerap kali kalah pada deret tugas yang diemban kedua malaikat yang dititipkan Sang Kuasa untuk jadi orangtuanya. Rasi ada, tapi sayangnya untuk penuhi semua keinginan yang jauh dari angan batinnya sendiri. Rasi ada, tapi sayangnya bukan saling yang dipupuk, tapi tuntutan yang tak kunjung selesai dituai.

“Hmmm, bilang ke Bintang sih biasanya. Itu juga kalau aku udah sembuh, Dit.”

Aditya Wira Utara masih rasa getir, bila nama Bintang diucapkan dari bibir wanita yang jadi pujaannya sejak di bangku kuliah itu. Apalagi, ia sendiri tak pernah tahu dengan pasti alasan kedua pasangan sempurna itu bisa kandas. Sebuah kejutan yang sejatinya bawa berkah, sebab ia bisa langkahkan kaki untuk mendekat. Tapi juga simpan banyak ragu, karena empat tahun bukan angka yang sebentar untuk rajut kata mesra.

Utara menghela napasnya dengan pelan, sambil pandangi Rasi seolah perempuan itu satu-satunya hal yang bisa ia lihat di dunia. “Ras, minta tolong tuh nggak dosa lho. Apalagi kalau di deket kamu, ada orang yang mau nolongin. Minta tolong aja nggak dosa, apalagi cuma bilang kalau kamu lagi sakit. Orangtua kamu pasti mau ngurusin kamu, Rasi.”

“Iya, tahu. Tapi semua orang ‘kan sibuk, Dit.”

“Tapi ‘kan kamu anaknya mereka.”

Kali ini Rasi hanya menundukkan kepala, untuk tatap jemarinya yang saling terkait. Ia sadar bila meminta bantuan bukanlah sebuah kesalahan. Namun jauh di sudut sadar lainnya lagi, ia telah lama terbiasa untuk tak merepotkan siapa pun, karena yang dimilikinya hanya diri sendiri.  

“Mulai besok, kalau kamu ada sakit apa pun, ya tapi amit-amit semoga nggak sakit lagi. Pokoknya kamu wajib kabarin aku, Ras. Inget ya, Ras, kabarin aku.”

Rasi ulas senyumnya, lalu berusaha ubah topik pembicaraan, “Kamu tadi bukannya mau lembur, ya?”

“Kerjaanku udah kelar, beberapanya dikerjain sama temenku, sebagiannya lagi aku bawa pulang.”

“Eh? Aditya, kamu nggak perlu ke sini harusnya, kamu ‘kan nggak suka bawa pulang kerjaan,” Rasi tak sanggup tutupi keterkejutannya sebab Utara yang ia kenal, tak pernah rela bila harus menyibukkan diri di depan laptop kala istirahat seharusnya dia nikmati.

“Emang nggak suka. Tapi kalau kamu sakit, terus kamu nggak diurusin, yang ada nanti malah makin parah terus malah masuk rumah sakit, gimana? Kamu mau emangnya?”

“Aditya, mulai deh lebay-nya. Nggak bakal sampai masuk rumah sakit juga. Apaan sih kamu, nggak usah berlebihan gitu.”

“Lebay? Kamu bilang lebay?” Utara berdecak dan menggelengkan kepalanya, “Kamu tuh sama aja ya kayak sahabatmu,” sindirnya lagi.

“Eh? Siapa? Shira?”

Tawa Utara membahana, temani bunyi detak jam yang isi hening malam keduanya. “Dih, dia kalau lagi sakit mah nggak usah ditanya juga udah otomatis heboh.”

“Terus siapa? Lintang?”

“Apa lagi itu! Followersnya juga pasti lebih dulu tahu, Ras.”

Rasi menautkan kedua alisnya, “Ya terus maksud kamu siapa?”

“Utari lah! Siapa lagi coba yang sakit, diam-diam eh masuk rumah sakit. Habis itu udah deh, sekalinya sakit parah, kita telat tahu, jadinya nggak pulang-pulang ‘kan tuh.”

Tangan kiri Rasi lekas mampir menepuk pelan lengan Utara, ketika ucapan lelaki itu selesai digemakan. “Apa sih, Dit, omongannya ih.”

“Bener nggak sih, Ras? Lagian sahabatmu tuh aneh tahu nggak, di rumahnya ada kasur, eh dia malah lebih suka tidur di tanah. ‘Kan kotor, emang dia nggak gatel apa?”

“Dit,” Rasi mengamati raut wajah Utara yang tak sedikit pun guratkan kesedihan. “Kamu tuh berubah banyak, ya?”

“Kamu kira aku power rangers bisa berubah?” tanya Utara kali ini setengah tertawa sambil teguk satu botol air mineral dingin yang ia bawa. “Aku tuh ngasih tahu kamu serius ya, Ras. Kalau ada apa-apa tuh kamu bilang. Kalau lagi sakit atau butuh apa pun, ya kamu telepon aku aja. Nggak susah ‘kan buat nelpon aku?”

“Aditya, kamu tuh nggak punya kewajiban untuk ada di sini sekarang. Kamu juga nggak punya kewajiban untuk ngeluangin waktumu buat aku, Dit.”

Hening terpanjang di malam ini jadi saksi Utara tengah coba telan semua ucap menyakitkan yang diucapkan Rasi. Ia jelas sadar betul, mengajak perempuan ini berbincang di saat sakit adalah sebuah tantangan besar, untuk biarkan luka kembali ditaburkan garam serta cuka.

Masih dengan senyum yang mengulas, serta tangan yang sengaja memukul dada berulang, Utara menatap Rasi penuh raut memelas. “Ini kalau kamu lagi nggak sakit, omonganmu tuh nyinggung aku lho, Ras. Sakit tahu! Untung aja nih aku tahu kamu lagi sakit, makanya omonganmu pasti akan sejujur ini. Jadi ya udahlah, ya, anggep aja tadi lagi ditampar kata-kata.”

“Dit, maaf.”

“Maaf buat apa coba?”

Untuk kali ke-sekian juwita yang jadi pujaan banyak sahabatnya ini hanya diam. Menimang jawaban, agar tak lagi perlu raut kecewa apalagi gores luka. Utara yang sudah terlalu hafal dengan sikap Rasi, seketika tepuk punggung tangan sang juwita untuk letakkan tenang di pikirannya. “Ras, kamu nggak berhak ngelarang orang buat perhatian sama kamu. Belajar buat diterima, toh perasaan itu tanggung jawab masing-masing orang, ‘kan?”

“Kamu tuh berubah banyak banget ya, Dit,” ungkap sang gadis sambil tersenyum malu.

Bukan kali pertama ia tahu sisi Utara yang ini. Yang penuh dengan pengertian dan tutur bijak, namun tak terdengar menggurui di telinga. Yang penuh dengan perhatian hingga sebabkan kepak kupu-kupu di dalam perut. Jauh sebelum hari ini, Rasi telah mengenal Utara pada bagian terbaiknya itu. Bagian yang pernah buatnya terjatuh dan juga berharap bisa bersatu. Bagian yang tak pernah ia sesali, tapi penuh dengan kata yang berujung penyesalan.

Utara kali ini tak dapat menahan gelak tawanya, hingga cetuskan kalimat-kalimat jahil yang akan menggoda sang hawa. “Iya deh iya aku berubah. Tapi kayaknya ada satu yang masih nggak berubah sih, Ras.”

“Aku harus tanya apanya nggak?”

“Siap nggak kamu sama jawabannya?”

Keduanya kini saling tatap untuk jeda yang rekahkan tawa yang saling bersahutan. Masing-masingnya punya pikiran yang sebetulnya serupa, namun sayangnya untuk sampai di titik satu, bukan perkara mudah yang bisa berikan kepastian.

“Jadi, tanpa aku kasih tahu, kamu pasti udah tahu ‘kan, Ras?”

“Hmmm,” Rasi hanya beri gumaman seadanya, sebab jauh di lubuk hatinya ia teramat tahu dengan rasa yang dimaksud oleh Utara.

“Hmmm apa?”

“Dit, aku tuh ngerti apa maksud kamu, aku ngerti kenapa kamu kayak gini. Aku paham banget. Cuma,” helaan napas sang juwita buat Utara seketika berhenti untuk lontarkan kalimat jahil.

“Cuma aku tuh bingung harus ngasih kamu respon kayak gimana. Aku nggak tahu, Dit. Aku tuh bingung, dan aku juga ngerti kalau sikap aku yang kayak gini juga bikin kamu ikutan bingung. Tapi jujur, aku nggak tahu harus gimana. Tahu sih, cuma di lain sisi juga ini tuh nggak gampang, Dit. Aku masih punya banyak ragu, takut, dan masih banyak pertanyaan yang….”

Rasi usap wajahnya dan letakkan kedua tangan di wajah, berusaha tenang namun sesak dan ragam pertanyaan melesak di antara pikir dan juga hatinya. “Aku bener-bener nggak tahu, Dit.”

Jika bisa, Utara pasti sudah akan peluk Rasi saat ini. Jika saja bisa, ia ingin bilang bahwa dirinya sanggup tunggu Rasi hingga usai dengan seluruh kebingungannya. Ia ingin sampaikan kalau sampai kapan pun, dirinya sudah sepenuhnya yakin bahwa Rasi yang selalu jadi tujuannya.

“Ras, Ras, kamu tuh ya, kalau lagi sakit besok-besok sama aku aja, oke?! Soalnya, aku nggak kebayang gimana coba kalau kamu jujur ke orang lain pas sakit gini, gimana?”

“Apaan sih, Dit?”

“Ini besok nih ya, kamu bakal nyesel nggak habis ngomong kayak gitu tadi?”

“Nggak tahu,” jawab Rasi masih dengan keraguan pada dirinya sendiri. Padahal saat ini, Utara justru tengah berusaha memangku semua rasa malunya agar bersembunyi dan tak mencetak rona merah di pipi.

“Tadi siang kamu pulang sama siapa? Sama itu ya yang kemarin ngasih kamu kopi di lobby?”

Keterkejutan di mata Rasi tak lagi bisa ditutupi ketika topik pembicaraan baru sedang dibangun oleh Utara. “Hah? Emang kamu lihat, Dit?”

“Ya lihatlah, orang aku punya mata,” gerak tangan Utara memancing senyum yang tergambar tanpa sadar sudah terpampang di wajah Rasi. “Dia tuh emangnya nggak tahu ya pagi-pagi nggak baik minum kopi? Kamu kalau pulang malam, dan nggak bareng sama aku tuh selalu sama dia, ya? Iya? Dia tinggal di mana sih emang? Kamu sakit ini jangan-jangan gara-gara dia juga, ‘kan?”

Rasi menutupi mulutnya dengan tangan kanan untuk cegah tawanya meledak. “Dit, satu-satu ih. Kamu nanya banyak banget. Lagian yang kamu maksud dia-dia tuh siapa? Javaskara?” tanyanya dengan kedua alis yang terangkat.

“Mana aku tahu namanya siapa? Dan nggak mau tahu juga namanya siapa.”

“Kamu cemburu, ya, Aditya Wira Utara?”

Kali ini gantian sang juwita yang lontarkan kalimat penuh godaan. Hingga berikan decakan kecil dari bibir Utara, “Hahaha, aku punya hak nggak buat cemburu, Rasi?”

“Hmmm, harusnya punya nggak sih, Dit?”

Utara lekas berdiri dari duduknya sambil menepukkan kedua tangan. Dia tahu bila Rasi benar-benar sudah benar-benar terkena efek obat, hingga buat dirinya juga ikut pancing obrolan, yang keesokan pagi bisa amat disesalinya. “Wah! Yuk tidur yuk, Ras. Mending kita tidur aja, daripada kamu makin ke mana-mana ngomongnya.”

Sang puan yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut, meski pendingin ruangan sudah berada di angka 27 hanya tertawa, tanpa berikan tanggapan apa-apa. Ia tatap sang tuan yang kini berkacak pinggang, dan tak henti menggelengkan kepala tak percaya.

“Oke gini, kamu mau tidur atau mau lanjut ngobrol nih? Kalau mau tidur ya aku pulang, kalau mau dilanjut, ya aku temenin kamu sampai besok pagi. Tapi jangan sampai dilupain apa yang kamu omongin. Jangan juga sok malu-malu, ya.”

“Tidur aja deh, Dit. Aku mending tidur aja, ngantuk,” elak Rasi sembari menurunkan bantalnya dan mengambil posisi untuk memejam.

“Beneran nih? Beneran gamau dilanjut aja? Aku masih mau lanjut lho padahal, Ras.”

Rasi menarik selimutnya untuk tutupi merah tomat yang ada di kedua pipinya. “Nggaaaaak, udahan. Aku mau tidur aja. Gih sana kamu keluar!” pintanya seraya mengintip Utara dari balik selimut, membuat Utara mendekat dan mengusap rambutnya.

“Haha ya udah.” Baru beberapa langkah ia ingin membuka pintu, Utara justru berbalik menatap Rasi. “Eh, Ras, kamu mau aku pulang atau tetap di sini aja?”

“Kalau aku jawab mau di sini, bakal diturutin nggak?”

“Oke, sekarang berarti kamu tidur. Kalau ada apa-apa panggil aja, aku di depan, ya.”

Rasi mengangguk, “Selamat tidur, Dit.”

“Night, cantik.”

 


Share:

0 comments:

Post a Comment