Al Fine. [ episode kesembilan ]

 

track 8: reasons to fall in love
kembali menemukan diri

 

Rasi POV  
 
Dunia terus saja berputar, tanpa sekali saja hendak berjeda. Entah ketika manusianya sudah teriak kelelahan, atau bahkan ketika manusianya baru saja berduka, hari esok seolah tak pernah berhenti untuk sejenak bisa diistirahatkan.

Saya pernah begitu tidak nyaman lalui hari-hari di luar Senin hingga Jumat. Saya malas untuk kemudian berada di luar rumah untuk lihat kebersamaan keluarga lain. Saya juga malas untuk berdiam diri di rumah, bersanding dengan sunyi serta sepi milik saya sendiri. Kekosongan saya itu nyata dan bertahan hingga tahun terus berganti.

Tapi ketika seseorang itu hadir, saya kerap tidak sabar untuk temui Sabtu dan Minggu. Karena ya, hanya di dua hari itu saya bisa habiskan banyak waktu bersama dengannya. Entah hanya lewat sambungan telepon, video call, atau bahkan ia singgah sejenak ke kota di mana saya tempuh pendidikan.

Hampir satu tahun seseorang itu tak lagi pernah warnai Sabtu dan Minggu. Hampir satu tahun, saya kembali enggan untuk habiskan hari seorang diri, karena takut kenangan tentangnya masih penuhi semua memori di rongga kepala saya. Tapi beruntungnya, sejak saya memutuskan kembali ke Jakarta, hari-hari saya sedikit kembali ramai dan berwarna ditemani oleh wajah-wajah yang familiar, serta pernah isi semua masa muda saya.

Termasuk dengan hari ini.

Di hari Minggu yang semula ingin saya habiskan untuk berdiam diri sembari menonton acara televisi, ia tiba-tiba hadir dan mengajak saya pergi. Entah ke mana, tapi menariknya saya setuju saja untuk pergi.

Walau jujur, saya jadi sangat amat terkejut karena mata saya kini melihat hamparan pasir putih yang kontras dengan biru laut terpampang jelas di hadapan. Saya menoleh menatap lelaki yang mengenakan kaos berwarna putih, dengan jaket jeans yang melekat di tubuhnya. Ia membenahi rambutnya, lalu membuka laci dashboard di hadapan saya, dan mengambil kacamata hitamnya.

“Ini kamu ajak aku ke pantai tuh kenapa?” Satu tanya saya lolos ketika ia tatap saya dengan kacamata hitam yang sudah ia biarkan singgah di kepalanya.

“Ngikutin Thayanggg, biar bisa foto sama kamu juga,” jawabnya singkat.

“Dih? Apa sih, Utara.”

“Serius, Ras.”

Saya mengernyit heran karena masih tak mengerti dengan maksud ucapannya. “Ya buat apa deh?”

“Nggak mau kalah aja sama Thayanggg,” jelasnya sambil ulas senyum dan memundurkan kursi untuk kemudian tukar sepatu yang tadi sempat dia pakai dengan sandal jepit yang ia simpan di belakang kursinya.

“Kenapa harus ngerasa kalah?”

“Cukup sekali aja nggak sih aku kalah? Masa dua kali.”

Kalau saja saya sedang minum, sudah bisa dipastikan saya akan tersedak dengan celetuknya yang begitu ringan. “Bentar, ini arah omongannya ke mana, Utara?”

Utara hanya tersenyum, “Mending kita turun aja, yuk!” ucapnya seraya menggelung jaketnya hingga ke siku.

Bohong rasanya bila saya tidak melihat upaya Utara yang tengah coba dekati saya kembali. Mana mungkin ia rela luangkan waktunya setiap pagi untuk jemput saya, bahkan antar saya pulang walau alasannya hanya karena searah, jika ia tak punya maksud lain.

Belum lagi, ia selalu habiskan waktunya untuk nikmati sarapan dan makan malam bersama. Ditambah dengan semua ucapan-ucapan manisnya di antara jenaka yang ia lontarkan. Siapa juga yang akan pura-pura buta melihat bahwa semuanya sebatas hubungan baik antar sahabat?

Tapi sungguh, saya juga tak ingin untuk berikan Utara harapan apa-apa dengan menerima semua perlakuannya. Bukan saya tak pernah menolaknya, tapi sekuat apa pun saya menolak, Utara selalu punya cara untuk buat saya tak miliki alasan untuk bantah ucapannya.

“Aditya, jangan bilang kamu cemburu sama Athaya?”

Kali ini saya gunakan panggilan yang dulu sempat pernah akrab di telinga kami, untuk minta dia mengerti bahwa pertanyaan saya ini tidak ingin dijawab dengan gurauan belaka.

Utara sunggingkan senyumnya, lalu mematikan mobil, dan membuka mobil setelah ia ucapkan satu kalimat yang buat saya hanya sanggup menghela napas. “Aku? Cemburu? Ada hak nggak?”

Begitu saja, ia lantas melangkah keluar, membiarkan mentari menyapanya kulitnya, ditemani semilir angin yang juga menyapa rambutnya tebal hitamnya yang kini terlihat sudah cukup panjang.

 
***

 
Utara’s POV 


“Ras, sini ayooo!”

Gue berteriak setelah melihat Rasi masih betah berdiri di kejauhan, sedang gue sudah hampir tiba di bibir pantai. Samar gue melihatnya menggeleng, lalu kembali kerepotan memegang wedges dan juga dress panjangnya.

Jujur gue memang salah tidak memberitahunya ke mana tujuan kami hari ini, tapi siapa juga yang mau protes ketika Rasi muncul di lobby sudah dengan tampilan sempurna seperti itu? Yakali gue protes. Udah cantik-cantik begitu, masa iya gue protes? Kasihan dong effort yang dikeluarin buat dandan cantik. Ya walau baru bangun tidur, atau pakai piyama pun gue yakin dia tetap cantik. Tapi ya intinya, gue nggak tega kalau harus bilang mending lo ganti baju daripada salah kostum.

“Ras, siniiiii,” sekali lagi gue memanggilnya.

“Iya bentar,” teriaknya lalu mulai melangkah dengan hati-hati, membuat gue akhirnya kembali berlari ke arahnya untuk membantu dia mengurai semua kerepotannya.

Hanya satu helaan pelan yang gue keluarkan, ketika kini sudah berada di hadapan juwita cantik yang kerepotan dengan maxi dress floralnya. Jujur kadang gue bingung, Rasi tuh benar-benar nggak merasa butuh bantuan orang lain, atau dia segengsi itu untuk meminta bantuan, padahal ia setengah mati kesusahan sih?

Melihatnya yang hanya tersenyum menatap gue, refleks membuat tangan kanan gue lekas mengambil wedges yang ia tenteng, lalu menautkan jemari kiri gue dengan jemari kanannya. Tanpa obrolan apa-apa, kami berjalan berdampingan menuju bibir pantai yang kini diisi oleh anak-anak kecil yang tengah bermain bola dan juga membangun istana pasir.

“Sejak sama Bintang tuh kamu sampai segitunya berubah, ya, Ras?”

Perempuan di samping gue menoleh dengan matanya yang membulat penuh tanya. “Hah? Maksudmu?”

“Ini,” tunjuk gue pada baju yang ia kenakan. “Sejak kapan kamu suka pake dress sepanjang ini?”

Rasi mengikuti arah telunjuk gue, lalu cepat-cepat berpaling memandang ke arah lain. “Oh, nggak berubah, cuma terbiasa nyesuaiin aja.”

Gue tahu betul bukan kapasitas gue mengomentari caranya berpakaian. Tapi kadang gue juga penasaran, semenjak dia pernah berpacaran dengan Bintang seluruh yang bisa gue temui di dirinya perlahan memudar. Bukan gue nggak suka, tapi kadang gue ingin saja memastikan bila semua itu benar keinginannya.

“Menurutmu ini sesuai tempat nggak?”

Rasi menepuk pelan lengan gue, “’Kan aku gatau kalau kamu ajak ke pantai.”

Ia menjawab tanya gue dengan singkat, lalu mencebikkan bibirnya, dan mengambil wedges-nya dan melenggang pergi begitu saja seusai memakainya.

Lagi gue menghela napas melihat Rasi. Kelakuannya masih sama seperti dulu, akan impulsive melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, bila ia kehabisan kata-kata atau bahkan salting. Kalau ini sih namanya dia memang kehabisan kata-kata, sebab enggan membuat gue berpikir macam-macam, tapi juga tak ingin sampai harus berbohong.

Melihatnya yang berjalan menjauh, sambil sesekali menghindari sisa-sisa ombak yang menyapa daratan, membuat gue mengalihkan fokus untuk bermain dengan anak-anak kecil yang sejak tadi sejujurnya memancing perhatian gue.

Baru saja gue menendang bola, suara teriakan anak-anak kecil di depan gue membuat pandangan gue pun beralih ke belakang, menatap pada arah yang sama dengan mereka.
 
 
*** 


Rasi POV

“Yahhh kakak cantiknya jatuh, ayo tolongin.”

“Kakakkkkk!”

“Kakak nggak apa-apa?”

Pertanyaan yang bertubi-tubi membuat saya tersenyum, pandangi binar-binar khawatir paling murni yang dimiliki anak-anak kecil di hadapan saya.

“Kakak nggak apa-apa, sayang,” saya membalas mereka sambil genggam tangan seorang anak laki-laki yang ulurkan jemarinya guna bantu saya berdiri.

Dari sudut mata, saya tangkap Utara tengah jalan ke arah saya dengan tawa yang coba ia tahan. Sumpah demi apa pun, perasaan saya saat ini dipenuhi dengan rasa kesal juga malu. Pertama, saya malu karena harus terjatuh di depan Utara. Dan kedua, kesal karena ia bukan menolong saya, melainkan hanya menatap saya dengan wajahnya yang memerah menahan tawa.

“Sakit nggak?” Utara bertanya, sambil tatap saya jahil.

Saya hanya mendengus dan membuang muka mendengar suaranya, dan hal itu ternyata sukses membuat Utara tertawa. “Kakak cantiknya kasihan tau, kok kakak Utara malah ketawa sih?”

Saya memalingkan wajah menatap anak kecil yang tadi menggandeng tangan saya itu, ketika ia menyebutkan nama Utara. Ia menepuk paha Utara, dan seketika membuat lelaki itu berjongkok dan menatapnya dengan senyuman hangat. “Gilang, makasih ya udah bantuin kakaknya. Sekarang Gilang ajak temen-temennya main dulu boleh? Kakak mau obatin kakaknya dulu gapapa, ya?”

Anak yang bernama Gilang itu pun menganggukkan kepalanya, lalu mengajak temannya untuk kembali bermain bola. Mata saya masih lekat menatap punggung mereka yang kini berlari, ketika Utara menyentuh kaki saya untuk melepas wedges yang saya kenakan.

“Sendalnya aku bawain aja, gausah dipake, Ras.”

Saya menunduk dan menolak tangannya, “Gausah”

Utara menahan tangan saya, lalu ia dongakkan kepalanya untuk tatap saya dengan teduh. Tatapan yang dulu pernah buat perasaan saya selalu berdebar, dan anehnya kini juga picu detak jantung saya untuk berdetak kencang. Lekas saya lepas tangannya dan kembali tegak berdiri untuk putus tatapan kami.

“Jangan kepala batu ah kamu,” singkat Utara mengatakannya, lalu melepaskan kedua wedges saya dan meletakkannya di atas pasir lalu berdiri tepat menghadap saya.

“Ini pake di pinggang kamu, naikin dikit dress-nya terus diselipin ke jaketnya.”

Mata saya tatap tangannya yang kini tengah ulurkan jaket jeans yang tadi ia sampirkan di bahunya ketika bermain bola.

“Mau aku yang pakein atau kamu yang pake sendiri?” Utara kembali bertanya, sebab saya tak kunjung ambil jaket yang ia berikan. Lekas saya lakukan apa yang tadi ia sebutkan. Senyumnya terlukis jelas di wajah, hingga kemudian satu kalimat jahil kembali ia lontarkan.

“Kalau kayak gini sesuai nggak sama tempatnya?”

“Ini kalau kamu mau ajak debat lagi, aku mau jalan sendiri aja.”

Utara tertawa, “Seneng nggak, Ras?”

Saya meliriknya dengan gelengan kepala kesal. “Seneng apa? Jatuh? Ya nggaklah. Mana ada orang jatuh seneng sih.”

“Seneng nggak kamu pake baju kayak gini?”

Tangan kiri saya meremas maxi dress berwarna putih dengan corak bunga yang saya kenakan. Saya hanya diam, tak berikan jawaban apa-apa, bahkan saya pun tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Saya alihkan mata saya ke arah lain, dengan kedua tangan saya yang kali ini beralih membenarkan rambut yang bolak-balik berantakan tertiup angin.

Mulanya, saya kira hal itu sanggup buat Utara berhenti menanyakan hal-hal aneh, atau bahkan beralih ke topik lainnya. Namun kini ia justru memegang bahu saya, dan membuat kami mau tak mau kembali bertatapan.

Jemarinya sisiri rambut saya dengan pelan. “Kalau rambut kamu masih suka diiket, ya diiket aja, Ras. Kalau kamu suka pake jeans, ya pake aja. Kamu nggak perlu selalu nyesuaiin apa dan siapanya ras. Just be yourself, jangan takut.”

Napas saya tercekat dengar ucapannya. Bahkan lidah saya kelu ketika perhatikan sikapnya yang kini tengah mengikat rambut saya, dengan ikat rambut hitam yang selalu ada di lengan kirinya.

Aditya Wira Utara.

Satu-satunya manusia yang tidak akan pernah bisa saya bohongi, apa pun caranya. Satu-satunya manusia yang dulu saya izinkan untuk dengar semua keluh kesah saya pada dunia. Satu-satunya manusia yang pernah berhasil membuat saya tahu rasanya dijaga, tanpa perlu meminta untuk dijaga.

Aditya Wira Utara yang pernah saya kira sudah menghilang dari hidup saya ternyata masih ada. Dia masih berdiri di dekat saya. Dia masih perhatikan semua detail di diri saya, yang bahkan kadang luput dari kesadaran saya sendiri. Dan dia, masih sehangat itu untuk buat saya selalu merasa bila saya takkan pernah pantas untuknya.

Tidak dengan semua yang sudah saya lakukan padanya. Tidak setelah pikiran saya masih penuh dengan semua kenangan bersama Bintang, dan semua kemungkinan yang semestinya bisa diusahakan. Bahkan tidak dengan diri saya yang bahkan tak merasa mengenali diri.

Saya lepas pandangan kami, lalu menatap ke langit, untuk cegah airmata saya jatuh. Saya tidak bersedih, namun entah mengapa airmata sudah bertumpuk. Saya enggan untuk membuatnya melihat rapuh saya ini, namun Utara dengan semua kepekaan yang dia punya sudah bawa saya untuk berada dalam dekapnya. Hingga membuat saya berulang kali hembuskan napas lewat mulut, sebab sesak buat saya benar-benar dulang penuh.

 
***

 
Utara POV.

‘Ini nggak akan pernah mudah.’ 
 
Cuma hal itu yang berputar di kepala gue, berulang-ulang, ketika dengar hela napas Rasi yang kini berada dalam dekapan.

Demi Tuhan gue gapapa banget kalau ditampar karena memeluk dia sembarangan. Tapi orang waras mana yang bisa tahan, lihat seseorang yang dia sayang terlihat begitu rapuh sembunyikan tangisnya?

‘Sebenernya apa yang lo sembunyiin dan lo simpen, Ras? Apa yang bikin lo berubah dan kayak nggak kenal diri sendiri gini? Elo tuh kenapa sih?’

Gue mengusap punggungnya berkali-kali sembari melantunkan harap dan juga melangitkan doa. Bukan supaya gue nggak perlu lagi kehilangan Rasi. Tapi semoga Rasi nggak lagi perlu kehilangan nyaman bahkan dirinya sendiri. Nggak untuk hari ini, besok, bahkan seterusnya.
 
Share:

0 comments:

Post a Comment