Al Fine. [ episode kesebelas - A ]

 

track 10: memulai kembali
untuk mengenal dan dikenal

 

 

Rasi's POV

Saya tidak akan pernah bilang, bahwa saya tidak menyukai bekerja di tempat saya saat ini menikmati koin-koin yang mengisi rekening setiap bulannya. ALIVE. adalah satu dari sekian banyak social startup yang juga tengah berkembang di Jakarta.

Alasan saya memilih tempat ini sebetulnya hanya satu, ALIVE. tidak bekerja untuk kepentingan pribadi. Ia tumbuh dan hadir untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Sebuah hal yang wajar, mengingat CEO-nya termasuk dalam dua puluh besar orang terkaya di Asia. Untuk apa mereka mencari keuntungan, bila dalam tidurnya pun rupiah sudah terus mengisi tabungan?

Namun kemudian, alasan-alasan saya untuk bertahan di ALIVE. pun kian bertambah, salah satunya ialah suasana kekeluargaan yang melingkupi. Mungkin penyebabnya adalah Nayaka Kenzo Hutomo; sang founder yang alih-alih dipanggil Pak, ia justru selalu membiasakan kami untuk memanggilnya 'Mas' dan dan melarang kami untuk bersikap formal di luar jam kerja.

Meski di sudut-sudut pikiran pun kami acap kali merasa sungkan, sebab mengerti bahwa circle-nya bukanlah sesuatu yang bisa ditembus oleh manusia-manusia biasa, tanpa label nama besar keluarga di deretan asma yang tercetak di kartu tanda pengenal.

Bahkan saya, yang masih terhitung anak baru pun sudah dipercaya menjadi IT Project Manager, dan tak timbulkan kesenjangan di antara karyawan lainnya. Berulang kali saya haturkan terima kasih pada Tuhan dalam semua sujud yang ada, sebab diberikan berkah yang berbalut keluarga, meski tak harus mengalir darah yang sama pada nadi. Sesuatu yang sempat hilang, sebab rumah tak ubahnya kosong yang nyata menyambut saya setiap waktunya.

"Zo, gue nyerah! Kresnus mau pakai duit berapa pun nggak akan tembus. Bikin acara di tempat lain deh."

Pintu terbuka dengan lantunan keluhan yang menelusup, membuat saya dan Kenzo menoleh, untuk lihat siapa yang hadir.

"Kebiasaan banget! Ketok pintu dulu kek, Jav. Bentar dulu bahasnya, ini gue masih ada kerjaaan."

"Makan siang kali, Zo."

Lelaki yang baru tiba dengan kemeja putih yang sudah tak lagi terkancing rapi itu, langsung menempati sofa kosong tempat Kenzo biasa menjamu beberapa relasi. Menatap tak peduli pada racau atasan saya yang sudah hela napas lelahnya.

"Ya udah, Ras," saya kembali menatap Kenzo. "Detailnya bisa kamu kirim by email hari ini juga, 'kan?"

Saya berikan anggukan dan juga senyuman padanya. "Bisa, Mas. Setelah ini langsung saya kirim, ya."

"Thank you, Ras," untaian sakral itu tak pernah absen dari tutur kata Kenzo.

"Kalau gitu saya permisi, Mas," pamit saya dan membuatnya lekas berdiri menghampiri kawannya.

"Jadi gabisa banget nih pake Kresnus? Bayar berapa pun?"

"Hm, kecuali ada orang dalam yang lo kenal, eh nggak deh, dia anti jalur nepotisme. Ya kecuali lo keluarganya, pasti bisa-bisa aja."

"Tapi gue bukan keluarganya."

"Ya udah, gausah berharap."

Percakapan mereka jujur saja mengusik saya yang sebetulnya familiar dengan Kresnus. "Maaf sebelumnya," saya berbalik menatap mereka tepat sebelum membuka pintu ruangan. "Maaf juga kalau saya menyela. Ini maksudnya Kresnus itu, Kahiyang Respati Nusantara 'kan, ya?"

"Iya, lo tahu, Ras?"

"Eh?"

Kenzo tertawa mendapati saya yang terkejut dengar pertanyaannya. "Udah jam istirahat, Ras. Pakai lo gue aja."

Saya melirik jam tangan, lalu mengangguk paham dengan perubahaan pilihan katanya. "Yang ownernya Mas Dewa, 'kan?" sekali lagi saya coba memastikan.

"Tahu?"

"Kenal sih, Mas," jawab saya dengan senyum yang juga tutupi canggung.

Kali ini kawannya yang bereaksi dan mengubah duduknya dengan tegak. "For real?"

"Iya, Mas. Tapi maaf sebelumnya, emang ada masalah apa, ya? Mungkin saya bisa bantu."

Kenzo menggulung lengan sweater coklat yang hari ini dia pakai. "Gini, gue, bukan gue sih tapi nyokap gue ada acara anniversary, dan maunya cuma di situ. Sebenarnya dari awal tahun dia udah bilang maunya di situ. Tapi gue lupa untuk booking tempatnya. Terus," Kenzo menjeda kalimatnya dan melirik karibnya yang saat ini sudah menggelengkan kepala. "Gue 'kan punya sahabat nih, namanya Javaskara Khyaatama Loka yang katanya sih, katanya punya side bisnis EO paling kece se-Indonesia, katanya."

Saya mengangguk sambil tetap perhatikan ia untuk dengar kelanjutan penjelasannya. "Nah gue mikirnya ya udah aja, dia aja kalau gitu yang urus. Secara track recordnya juga oke."

"Tapi bukan buat dadakan ya, Zo."

"Iya itu salah gue, tapi 'kan elo Java, ya gue mikirnya mah bisa. Tapi ternyata, Ras, Kresnus tetap nggak bisa dipakai karena waiting list mereka masih panjang."

Saya baru akan bersuara ketika Kenzo kembali berdeham dan memberikan kalimat pamungkasnya. "Ya intinya, bayar berapa pun katanya gamau dan emang nggak bisa."

"Ya emang wajar, 'kan?" kali ini Javaskara bersuara dengan berapi-api. "Lo tahu sendiri waiting list di sana sepanjang apa. Kalau lo mau, ya lo urus deh tuh sana sendiri . Gue sih mending mundur ajalah urus acara lo and your classy fancy fams."

Anggukan saya berikan sebagai respon, sebab Kenzo kembali tatap saya seolah ingin jawaban. "Boleh tahu acaranya tanggal berapa, Mas?"

"Sepuluh hari dari sekarang." Javaskara lebih dulu bersuara, "Gila nggak bos lo? We talk about Kresnus yaaaa Nayaka Kenzo Hutomo. Dan lo, nyuruh gue reservasi di saat dadakan? Lo nyuruh gue jual ginjal pun, tetep nggak bisa ditembusin itu tempat."

"Acaranya butuh a whole Kresnus, Mas?"

"Nggak, Ras."

"Ralat," mata saya beralih menatap Javaskara. "Boss lo yang nggak tahu diri ini, emang nggak minta a whole Kresnus, tapiii dia minta yang gazebo belakang, yang demi apa pun request-nya paling susah se-ujung dunia."

Ada jeda yang menggantung usai Javaskara berbicara. Saya sedikit menimbang, ada ragu namun juga keinginan untuk membantu. "Kasih waktu saya 15 menit boleh ya, Mas? Saya coba bantu hubungi Kresnus."

"Hah? Yakin bisa, Ras?"

Saya sambut tanyanya dengan senyuman. "Saya coba dulu ya, Mas. Permisi sebentar."

Rasanya bohong bila seluruh warga Jakarta, bahkan Indonesia, hingga mungkin mancanegara tidak tahu dengan tempat yang bernama Kahiyang Respati Nusantara. Restoran mewah nan elegan yang berada di jantung pusat Ibukota ini.

Restoran yang mengusung tema Indonesia, yang dibalut dengan ragam etnis serta citarasa yang dimiliki negeri ini merupakan kepemilikan Dewandaru Imba Gumilar. Salah satu kebanggaan Indonesia yang sepak terjangnya di dunia kuliner tak perlu diragukan lagi. Dan juga, salah satu kawan saya sejak duduk di bangku sekolah dasar, namun baru terjalin komunikasi apik ketika kami sama-sama melewati hidup di Australia.

"Halo, Mas Dewa," saya langsung menyapanya ketika panggilan sudah terhubung.

"Rasi!!! Duh girl i miss you so much. How's life?"

"Baik, seperti biasa. I hope you too."

"I am."

"Anyway kamu sibuk nggak, Mas?"

"Buatmu nggak akan ada sibuk."

Saya tersenyum dengan tutur manisnya yang tak jua hilang, meski kami sempat lama tak saling tukar kabar. "Kalau gitu aku tambah lagi sibuknya!"

Tawanya terdengar merdu di ujung saluran telepon. "Hahaha boleh. Kenapa kenapa?"

"Lagi di mana?"

"Baru banget sampai Kresnus. Biasalah, mau control."

"Kebetulan banget!" rona bahagia pasti sudah penuhi manik mata saya saat dengar jawabannya tadi.

"Waduh kenapa nih?"

"Hmmm. Gazebo Rahajeng full booked ya, Mas buat tanggal..." saya lirik tanggal di jam tangan dan menghitung hari yang tadi sempat disinggung Javaskara. "Tanggal 30 Juni."

"Sebentar, coba aku cek dulu, ya."

Deru napasnya tak lagi terdengar pada panggilan, digantikan dengan suara keyboard yang terdengar. Lucu ya, menunggu ternyata selalu picu debar untuk datang. Padahal penantian kali ini hanya soal tanggal, yang besar harapan saya tak berikan kata kecewa.

"Hmmm. Tanggal 30 itu penuh sampai jam lima sih, Ras."

"Terus malamnya kosong?"

"Kresnus tutup jam sembilan, ma chérie. Kamu tahu Rahajeng seluas apa, 'kan? Nggak mungkin bisa dibersihin dalam waktu satu jam. So yeah, jawaban paling mudahnya booked till close."

Saya embuskan napas kecewa, usai dengar jawabannya yang semula sempat bangkitkan harapan. "Yah, Mas."

"Kenapa? Kamu mau pakai?"

"Bisa diusahain nggak sih, Mas? Ini atasanku mau pakai buat acara anniversary orangtuanya. BM kayaknya sama restomu."

Tawanya hadir meluruhkan sedikit kecewa. "Hahahaha, gimana, ya. Tapi, kalau dekorasi nggak di-handle Kresnus, terus cleaning-nya juga dibantu, bisa nggak? Since you know, karyawanku di Kresnus nggak banyak."

"Tetep yaaaa quality over quantity," gurau saya untuk turunkan semua tegang yang tengah saya miliki saat ini.

"Of course, ma chérie."

"Hmmm, kalau aku jawab oke aku yang urus semuanya, gimana?"

"Then, Gazebo Rahajeng totally yours."

"Serius, Mas?"

"Bohong sama kamu itu bikin orang-orang ngerasa bersalah berkepanjangan, Ras. Aku nggak mau deh kayaknya ambil resiko itu."

Gantian saya yang sambut ucapannya dengan tawa pelan, sambil sesekali lirik ruangan Kenzo dan juga jam di tangan. "Oke berarti deal, ya! Awas kalau tiba-tiba cancel, aku bilang ke Ibu Asa supaya kamu disuruh balik tinggal di Australia."

"Itu jauh lebih seram sih, Ras. Kalau gitu nanti aku bilang ke Manajer Kresnus ya, kamu datang aja untuk ketemu sama mereka. Kalau kamu mau datang hari ini sih boleh banget, mumpung aku ada di Kresnus sampai sore nanti. Tapi kalau nggak bisa, ya gapapa, sesempatnya kamu aja."

"Mau banget ketemu kamu. I have a super duper long story ever, Mas!"

"Well, i would love to hear your story, ma chérie."

Dewandaru adalah sahabat yang saya temukan di antara semua resah untuk habiskan waktu selama hidup dengan orangtua di Australia. Cita-cita yang sempat saya inginkan, namun terpaksa patah karena leher sepertinya habis dijerat semua titah yang tak pernah sepakat bisa diterima, membuat dekat itu singgah untuk kemudian dipadu dalam cerita yang saling kami bagikan.

Karena nyatanya, tak hanya latar belakang pekerjaan orangtua yang serupa yang kami miliki. Sebab rasa kesepian, kecewa, bahkan jengah yang saya rasa juga mirip dengan kepemilikan laki-laki yang pandu semua teduh untuk reda dalam wajah juga tuturnya.

Saya tersenyum setiap kali ingat dengan Dewandaru yang sudah jelma kakak bagi saya yang sendirian. "Soon, oke? Tapi pokoknya, makasih banyak ya, Mas. Aku mau bilang ke atasanku dulu kalau gitu. Talk to you later, okay?"

"Yap. See you, Ras."

Panggilan ditutup dengan saya yang juga bawa lega serta ulas bahagia, sebelum sampaikan berita baik untuk Kenzo dan juga karibnya; Javaskara.

Pintu ruangannya saya ketuk, lalu terdengar suara Kenzo yang izinkan saya masuk ke dalam. "Mas, acaranya tanggal 30 ini berarti, ya?"

Kenzo anggukan kepalanya dengan alis sebelah kirinya yang tampak ingin dengar kabar yang saya bawa. "Kalau acaranya mulai di jam tujuh, dan selesai di jam sembilan, is that okay?"

"Gimana maksud lo?" Javaskara buat saya tolehkan kepala dan juga mata untuk memandangnya. Belum sempat saya menjawab, Kenzo lebih dulu meminta saya untuk mendekat, lalu izinkan saya duduk bergabung di antara mereka.

"Gimana gimana maksudnya, Ras?" Kali ini Kenzo yang gaungkan penasarannya.

"Begini, kalau memang mau acaranya bisa di jam segitu, reservasi di Kresnus masih aman dan bisa diusahakan, Mas," pelan-pelan saya jelaskan jawaban atas ucapan Dewa lewat sambungan telepon tadi.

Seolah tak percaya, Kenzo yang tadi duduk bersandar, kini tangkupkan kedua telapak tangannya, lalu duduk menyamping menatap saya penuh telisik. "Bentar dulu, maksud lo gimana, Ras?"

Sikap dan tanyanya membuat saya tersenyum maklum sebelum kembali menjelaskan. "Begini, Mas, kalau acaranya di Kresnus di tanggal 30, di jam tujuh malam sampai dengan sembilan malam, Mas Kenzo bisa pakai Gazebo Rahajeng yang di belakang itu."

"KOK BISA?" Sontak saya dan Kenzo terkejut dengar satu oktaf suara pria yang bernama Javaskara itu bertanya.

"Tadi saya sudah bicara langsung ke Mas Dewa. Dan dia bilang, Gazebo Rahajeng bisa digunakan karena di tanggal itu sebetulnya hanya ada acara sampai jam lima sore. Tapi karena Gazebo Rahajeng itu luas, proses cleaning-nya nggak bisa sebentar. Dan itu yang membuat Gazebo Rahajeng nggak memungkinkan untuk dibuka lagi, mengingat mereka pun sudah harus tutup di jam sembilan. Jadi memang semua reservasi di atas jam lima, ditolak oleh Kresnus, Mas."

"Wait," Javaskara memicingkan matanya. "Elo? Nelpon dewa? Ownernya Kresnus?"

"Iya, Mas."

"Lah lo kenal, Ras? Bukannya dia anti buat dihubungi buat kerjaan lewat jalur pribadi kalau sama orang lain? Dan, aduh I dont get the point, Ras."

"Gausah ngertiin pointnya dong, Zo. Itu tuh nggak penting. Karena yang penting sekarang tuh," Javaskara menepis pertanyaan Kenzo untuk saya, lalu kali ini ia berikan sepenuhnya tatap legamnya untuk saya. "It's a yes buat tanggal 30 ini di Kresnus, di Gazebo Rahajeng?"

Tanyanya penuh penekanan di tiap kata, membuat saya juga berikan tatap yakin. "Iya betul, Mas."

Kenzo sembunyikan senyumnya dengan binar ceria pada dwinetranya, "Beneran, Ras?"

"Iya. Nanti sepulang kerja atau besok saya bantu untuk reservasi langsung ke sana, Mas."

Javaskara lekas menyela, "Lo pulang cepet deh kalau gitu. Siapa tadi nama lo?"

"Rasi, Mas."

"Zo, gue pinjem karyawan lo kalau gitu abis makan siang ini."

Saya dan Kenzo sama-sama menoleh dengar pernyataan sepihaknya. "Gabisa, Jav. Rasi masih ada kerjaan dan rapat habis makan siang ini."

Javaskara berdecak sambil memasangkan kembali jam tangannya yang tadi sempat ia letakkan di meja. "Lo take over dong, Zo. Lo mau acara nyokap lo lancar nggak?"

"Ya mau."

"Ya udah, kalau gitu biarin dia pulang, gue mau ajak dia langsung ke Kresnus, hari ini, siang ini."

Kenzo menggelengkan kepalanya sembari bersandar. "Gabisa. Kerjaan ya tetep kerjaan. Urusan nyokap gue ya beda lagi."

"Fine, gausah suruh lembur tapi! Tenggo ya ini anak, biar bisa langsung urus Kresnus sama gue."

"Tanya Rasinya dulu kali, Jav." Kenzo mengalihkan tatapnya pada saya. "Ras gimana? Bisa ikut Java?"

"Hmm. Sebetulnya nanti biar saya aja yang ke Kresnus sendiri gapapa, Mas"

"Gabisa. Gue tetap harus ke sana juga buat cek langsung."

Kalau saja bisa jujur, kepala saya saat ini penuh dengan alasan yang harus saya berikan pada Utara, untuk tolak ia dan agenda pulang bersamanya. Tapi kalau saya tak iyakan ajakan Javaskara, sudah pasti akan lebih lama lagi saya harus terlibat dengan mereka, yang sejatinya belum bubuhkan nyaman untuk didulang.

"Ras?"

Panggilan Kenzo memecah lamunan saya, "Hm kalau gitu sepulang kerja bisa kok, Mas," keputusan itu yang kemudian saya ambil. Meski belum tahu nanti akan jelaskan apa pada Utara yang selalu tak ingin ucapannya ditolak, tanpa alasan yang masuk akal juga bisa diterima.

"Good then," Javaskara tersenyum untuk pertama kalinya setelah sejak tadi hanya suguhkan wajah lusuh yang pusing dengan semua permintaan karibnya.

Share:

0 comments:

Post a Comment