Al Fine. [ episode kesebelas - B ]

 

Rasi's POV

 

"Ini beneran bisa nih Kresnus di tanggal 30 ini?"

Saya tolehkan kepala pada sosok Javaskara yang saat ini tengah memutar kemudinya untuk keluar dari parkiran. "Yaaa ini kita ke sana 'kan, Mas?"

Demi seluruh penghuni semesta, saya ingin jujur bahwa berada satu mobil dengan Javaskara hanya berdua seperti ini buat saya tak bisa sepenuhnya nyaman.

Pertama, ia adalah karib dari atasan saya yang tentu saja lingkup pergaulannya tak pernah ada di ruang yang sama dengan saya. Kedua, caranya bertutur memang lugas, santai, dan terkesan friendly, namun sosok dan kehadirannya adalah intimidasi paling ampuh yang sanggup buat ciut semua nyali. Dan ketiga, aroma mobil ini terus buat saya ingat dengan sosok yang seharusnya tak lagi pernah saya ingat.

Decit ban mobil terdengar nyaring ketika ia belokkan mobil dengan tajam, lalu berikan karcis parkir pada petugas yang terkejut tatap personanya. "Maksud gue kok bisa? Setau gue dia nggak suka ada unsur nepotisme deh."

"Nggak ada nepotisme, Mas. 'Kan tadi saya udah bilang kalau alasan booked itu bukan karena ada acara, tapi memang karena mereka habis ada acara, dan mereka nggak siap untuk harus ada acara dalam waktu yang dekat. Karena Gazebo Rahajeng itu sulit untuk dibersihkan dengan cepat," terang saya dengan harapan ia tak lagi ajukan banyak pertanyaan.

"Ya tapi buktinya bisa sama lo."

"Oh maaf, ini kayaknya yang saya lupa bilang."

"What?" ada raut penuh khawatir yang kini tampak di wajahnya, ketika ia lihat saya menepukkan telapak tangan pada kening.

"Saya nggak bilang kalau Mas nanti bisa pakai Gazebo Rahajeng itu gitu aja hanya dengan mengandalkan karyawan Kresnus yang cleaning. Tapi, karyawan Mas juga harus ikut, atau mungkin sewa jasa pembersihan gitu untuk bantu cleaning the areas."

Java tersenyum, sambil sandarkan tangan kanannya pada jendela lalu tatap saya begitu lekat. "Oalah, itu gampang. By the way, lo kenal Dewa udah lama?"

"Lumayan."

"How long?"

Tatapan saya sedikit menerawang untuk kenang semua cerita yang ada, dan menyampaikannya dengan singkat, namun cukup jelas untuk dipahami. "Sebetulnya, saya kenal Mas Dewa udah dari kecil, cuma memang nggak yang akrab banget. Tapi waktu saya kuliah di Aussie, Mas Dewa kebetulan lagi bikin restoran juga di sana. Jadi yaa, dari situ sih baru yang deket dan sering ngobrol."

"Kok bisa kenal dari kecil? Tetangga?"

"Orangtua kami sahabatan, Mas."

Javaskara menyalakan musik, dan membiarkan suaranya berada pada volume yang cukup, tak mengganggu percakapan, juga tak mengizinkan sepi mengisi. "Bukannya orangtua Dewa tuh di Ministry? Berarti orangtua lo juga?" pertanyaannya kembali.

"Hm, iya," jawab saya singkat, berharap ia tak bertanya lebih lanjut soal orangtua saya.

"Oalah. Eh tapi Dewa tuh gimana sih anaknya? Media kayaknya sering bilang dia judes dan ansos deh setahu gue."

Setengah mati saya bersyukur ia menghentikan tanya jawabnya perihal orangtua, namun saya juga mengutuk dalam hati sebab Javaskara selalu ciptakan hal lain untuk kemudian dibicarakan. Belum lagi pertanyaannya sungguh ingin membuat saya tertawa, sebab Dewandaru yang saya kenal tak pernah seperti yang ia sebutkan.

"Mas Dewa itu baik banget. Sangat amat baik dan sopan malah. Tapi yaaa namanya juga media, mungkin mereka begitu karena Mas Dewa selalu tolak semua interview, karena ya dia emang nggak suka spotlight aja."

Javaskara masih tatap jalanan dengan serius, meski kepalanya beri anggukan pada semua ucap yang saya lontarkan. Dari jarak sedekat ini, saya tahu betul presensinya benar-benar sanggup buat siapa pun manusia yang bersitatap dengannya akan suguhkan kata sungkan, untuk sanggah ucapannya.

Ponsel saya berbunyi tepat ketika Javaskara menoleh, "Mas, maaf saya angkat telepon, boleh?"

"Go on," jawabnya dengan senyuman yang saya pastikan buat seluruh juwita yang mengenalnya akan luluh.

 




"Lah, bisa nggak kaku lo?"

Saya baru saja hendak memasukkan ponsel ke dalam tas, ketika Javaskara sudah mengagetkan saya dengan pertanyaannya. "Maksudnya, Mas?"

"Dari tadi pas masuk mobil, sampai detik ini lo ngomong sama gue tuh kaku banget. Emang lo nggak nyadar?"

"Hmmm..."

"Gue bukan boss lo! Jadi santai aja, pakai lo gue aja lebih enak daripada harus saya-saya gitu," lanjutnya lagi.

"O... oke."

"Terus itu tadi Dewa, Ras? Nama lo Rasi 'kan bener?"

"Iya betul, Mas."

Ia menghela sambil menggelengkan kepalanya, "Javaskara, Ras. Panggil gue Java aja, nggak usah Mas Mas gitu. Terus kenapa tuh Dewa nelepon lo? Kresnus nggak bisa dipakai?"

"Bukan, itu tadi Mas Dewa cuma bilang kalau nggak bisa nemuin kita nanti."

"Yah," ia menoleh sekilas, "Gagal dong gue kenalan. Emang kenapa?"

"Ada keperluan katanya."

"Tapi ini yakin bisa, 'kan?"

"Hahahaha," saya lekas tutup mulut seusai satu tawa lepas dari bibir dengan tanyanya yang begitu meragu. "Ini tuh masih nggak percaya juga, ya?"

Javaskara tampilkan smirk-nya, lalu menyigar rambutnya yang agak kecokletan agar anak-anak rambutnya tak menghalangi pandangan. "Nggak gitu. Gue tuh takut aja nanti di-prank."

"Trust in me, Jav. Lagian Mas Dewa udah bilang ke karyawan juga kok."

"Well, okay?! Okay," jawabnya diikuti dengan tawa yang bantu urai ragu serta canggung. Sebab tak lama berselang sesudahnya, Kahiyang Respati Nusantara sudah tampak di pelupuk mata dengan keanggunan dan kemegahan yang dia miliki di tengah padatnya Jakarta.


***


Saya tengah menikmati semangkuk wedang ronde, ketika Javaskara tertawa, dan membuat saya kembali melirik dia yang kini duduk di seberang saya.

"Sumpah! Hoki banget gue hari ini," jelasnya sambil lihat ke sekeliling yang dipenuhi oleh orang-orang yang tengah santap hidangan mereka.

"Kenapa?"

Tuhan mungkin benar sedang berbahagia ketika ciptakan beberapa umatnya di dunia, sebab senyum Javaskara sanggup berikan bahagia untuk siapa pun yang melihat. "Beban gue buat pesan tempat ini udah beres. Terus sekarang gue bisa makan di sini, tanpa perlu reservasi, bahkan gratis pula. Blessing banget deh lo, Ras."

Saya tertawa dengar jawabannya yang cukup panjang sambil gelengkan kepala.

"Resign aja deh lo dari tempatnya Kenzo, Ras. Terus lo kerja di tempat gue gimana? Eh nggak deng, jadi partner kerja gue aja."

"Bilang gitu langsung ke boss gue berani nggak?" pelan saya bertanya dengan biasakan diri untuk gunakan 'gue-lo' sesuai permintaannya. Sebab bila tidak begitu, saya enggan untuk berdebat lagi dengannya seperti di Gazebo Rahajeng tadi.

"Nggak sih," ia menggeleng masih dengan tawa yang tergambar jelas di wajah. "Bisa dihajar gue kayaknya sama Kenzo. Soalnya dia muji lo terus, like a lot."

"Eh, gimana?"

"Jadi, dia tuh suka banget muji karyawan-karyawannya, especially elo. Katanya, lo tuh anak baru tapi gokil banget otak dan kinerjanya. Dan setelah gue lihat hari ini, ya emang bener, apalagi tadi pas lo bantu gue arrange dadakan for the event. So, meski gue udah merasa cukup sama karyawan gue sekarang, tapi buat elo kayaknya lowongan di EO gue terbuka lebar, Ras."

Beruntungnya saya sudah terbiasa dengan kata-kata manis yang sering diucapkan Athaya dan Langit, sebab kalau tidak, bisa-bisa muka saya akan memerah usai dengar semua tutur pujian yang Javaskara berikan. "It's a compliments, right?"

"Of course. Gue nggak pernah ngibul."

"Tapi sering ghosting?"

Tawanya tercipta dan menembus koklea saya dengan pelan. "Damn! It hurts me anyway hahaha. Jangan percaya media ah."

Saya menggeleng, "Well, i'm not. Since I don't know you, Jav. Dan gue juga nggak pernah tahu berita di media Indonesia, karena emang nggak ngikutin."

"Terus kenapa lo bilang gitu ke gue?"

Sendok dan pisau yang tadi saya gunakan untuk memotong lumpia goreng, saya letakkan di atas piring dengan menghadap ke arah kanan, lalu menyeka mulut sebelum biarkan es beras kencur yang saya pesan membasahi kerongkongan. "Javaskara, semoga lo nggak lupa ya kalau tadi itu kita ngecek Gazebo Rahajeng sama Mbak Manajer yang udah bolak-balik blushing karena terus lo godain ya."

"Hahahaha, nggak, Ras. Gue cuma praising her. She deserve the praise and appreciation for what she has done, right? And if she is very easily flattered by eloquent compliment, terus salah gue?"

"Pujian yang terlalu banyak tuh jadinya sugarcoating. Mohon maaf aja nih, Javaskara."

"And surprisingly enough you are eyeing on me."

"No, i'm not. Gue cuma lihat apa yang ada di depan mata gue, Jav."

"It's a yes, Ras," jawabnya dengan penuh kemenangan yang terukir di bibir dan juga sinar matanya. Membuat saya hanya sanggup mengedikkan bahu dan enggan terjerat lebih dalam, dari pesona yang terbiasa ia umbar itu.

"Lo tinggal di mana?"

"Eh?"

"Sering banget sih lo ngomong eh, Ras."

"My bad, maaf," ucap saya sedikit terkejut karena ia perhatikan kebiasaan saya yang tak banyak orang tahu. "Nanti pisah di sini aja, gue pulang sendiri gapapa kok, Jav," lanjut saya.

"Emang gue nanya tuh mau nganter ya, Ras?"

Sontak saya lirik ia yang tengah menahan tawa, lalu memutar mata ke arah lain untuk menghindarinya.

"Hahaha cute! Kenapa lo gemesin kalau lagi muter bola mata gitu, Ras?"

"I'm not interested, sweet talker. But I really appreciate you."

"Terus apa yang bisa bikin lo tertarik?"

"Nggak ada," sanggah saya untuk hentikan semua upayanya memberikan bualan manis.

"Hahahaha. Oke serius, lo tinggal di mana? Gue anter baliknya, Ras. Udah malem juga ini, nggak baik cewek pulang sendiri."

"Bukannya malah bahaya kalau pulang sama lo?"

"I'll take it as a compliment, Ras. Serius lo tinggal di mana?"

"Apartemen Terracota, deket sama kantor."

"Oh ya udah gue anter aja."

Saya mengernyitkan dahi menatapnya bingung. "Emang lo tinggal di mana?"

"Senopati."

"Hah?" saya membelalakkan mata begitu dengar ia ucap salah satu kawasan di Jakarta Selatan. "Itu akan muter nggak sih, Jav? Gue sendiri aja gapapa."

Javaskara menenggak habis Ginger Ale yang dia pesan, lalu menyeka sudut-sudut bibirnya. "Lo tahu nggak, gue lebih baik muter dan ngadepin macet, daripada besok gue tinggal nama doang karena Kenzo ngamuk, soalnya dia harus kehilangan karyawannya yang paling berharga."

"Lebay!"

"Yeee lo nggak tahu aja Kenzo kalau udah marah kayak gimana."

Saya menganggukkan kepala enggan untuk menyanggah ucapannya. "Kalau gitu, semoga gue nggak pernah tahu marahnya deh, ya!"

"Amin. Anyway, Ras," Tatapannya lekat dijatuhkan pada saya "Do you have a boyfriend?"

Biasanya, saya akan tersinggung ketika dengar pertanyaan yang sudah menyangkut ranah pribadi dari orang-orang yang tidak saya kenal dengan baik. Biasanya, saya akan langsung menilainya sebagai seseorang yang tak semestinya dikenali lebih baik. Namun entah kenapa pertanyaan Javaskara, justru picu tawa saya untuk hadir, meski ada keterkejutan juga di antaranya.

"Wow that's so.... Lo tuh to the point banget, ya, Jav?"

Javaskara hanya berikan senyumannya. "Gue mau coba daftar kalau belum ada. Cause i never imagine that you're really really gorgeous."

"Besok coba lagi, ya, sugarcoating-nya. Tapi sama perempuan lain aja, gue nggak minat dimanisin sama lo, Jav," tukas saya sebelum akhirnya berdiri untuk lekas pulang sebab notifikasi di ponsel sudah tunjukkan beberapa pesan dari Utara.

"Mulai hari ini gue maunya ke elo aja, Ras."

"Berhenti sekarang atau gue pulang sendiri, Jav?"


***


Untuk kali ini, saya biarkan Javaskara mengantarkan saya, daripada harus temui perdebatan dan juga perselisihan yang justru akan membuat hubungan kami menjadi canggung. Javaskara menghentikan mobilnya tepat di depan lobby apartemen, membuat saya juga lekas melepaskan seatbelt lalu bersiap turun dari kendaraannya.

"Nggak ngajak gue mampir nih, Ras?"

Pertanyaan Javaskara masih saja membuat saya menggelengkan kepala, sebab usahanya yang kini kembali, padahal sejak tadi sudah banyak obrolan yang saya pikir akan buatnya tak perlu lancarkan aksi serupa yang sering dia beri untuk deret wanita-wanita di hidupnya. "Makasih banyak udah dianter pulang ya, Jav."

"Hahahaha," tawanya terdengar lebih rileks dan juga lepas. "Kok langsung tanpa jawaban banget sih, Ras?"

"Lo hati-hati, ya. Makasih sekali lagi karena udah mau anter gue balik.

"Iya sama-sama."

Saya baru saja membuka pintu mobil, saat Javaskara kembali membuat saya menoleh sebab panggilannya. "Eh Ras Ras."

"Hm?"

"Nggak perlu dikabarin udah sampe atau belum gitu?

Lagi-lagi saya abaikan pertanyaannya dan lebih memilih untuk turun dari mobil, lalu berdiri tepat di samping pintu kemudi.

"Gue tanya nomor lo ke Kenzo boleh nggak?"

"Enggak."

"Buat jawaban yang mana tuh?"

"Dua-duanya."

"Okay, i'll try again nih ya berarti."

Kalau dipikir-pikir lagi, Javaskara dan Langit sepertinya cocok untuk berteman. Sebab keduanya benar-benar hobi memancing emosi, terlebih pada orang-orang yang tak berselera untuk dengar semua bualan manis yang sudah mendarah daging pada lidah dan bibirnya.

Lambaian tangan saya berikan, sembari ucapkan kalimat yang jadi pamungkas percakapan malam ini. "Selamat malam, Mas Javaskara."

"Oh c'mon. Don't set the boundaries again, Ras."

"I'm not. But this is me trying to be profesional as one of your buddy workers, Jav."

Javaskara tampilkan senyumnya yang saya jamin terlihat rupawan dan juga memesona. Sebelum ia naikkan jendela dengan sepenuhnya, ia kembali pandangi saya lalu lontarkan satu kalimat penutup yang entah mengapa buat saya percaya, bahwa ucapannya bukan sekadar bualan. "I promise you, after this we'll meet me everyday. Good night, gorgeous."



Share:

0 comments:

Post a Comment