I Love You, Nevertheless... [K-Drama Review]

 "I hate to admit it, but I can't take my eyes off him once he comes into my sight." - Yoo Na-bi

Annyeong, chingudeul dan bestie-bestie!

Kembali lagi dalam episode k-drama review yang kali ini akan membahas tentang nevertheless

Yang sesungguhnya kalau lihat salah satu penggalan dialognya seperti yang gue sebut di awal tuh udah bikin mules. Iya, mules beneran.

Tapi sebelumnya mari mulai dengan membahas k-drama ini secara generalnya dulu...


Nevertheless adalah yang mengusung genre romance, life, dan juga kehidupan perkampusan ini sejatinya memang dilabeli rating 21++ karena dari episode pertama aja nih, lo udah dihadapkan dengan fantasi eh bukan fantasi, alias mimpi liarnya mbak yoo na-bi.

Kalau baca sinopsis dari AsianWiki,

"Park Jae-Eon (Song Kang) is a university student, majoring in art. He seems nice to everyone and he is usually cheerful. Yet, he is really indifferent to others and he doesn't want to have a romantic relationship. Unexpectedly, he falls for Yoo Na-Bi (Han So-Hee) and begins to change. Yoo Na-Bi is an art student at the same university as Park Jae-Eon. In her past, she broke up with her first love due to his unfaithful ways. After that, decided to become unswayed by love. She then meets Park Jae-Eon and develops feelings for him."

sebetulnya sih lo udah bisa kebayang cerita ini akan seperti apa, dan bagaimana dekatnya cerita ini dengan apa-apa yang sering dihadapi muda mudi di zaman ini. Benar atau betul? Ngaku aja deh~

sumber: jtbc still cut

Jatuh cinta pada lelaki yang populer dan tampan, tapi nggak punya status apa-apa. 

Webtoon dan drama banget nggak sih? Tapi emang kenyataannya demikian, apalagi kalau si lelaki ini didapuk dengan kemampuan yang juga berlebihan. Dalam hal ini, si Park Jae-eon memang pintar di bidang akademik, pun melekat dengan label bad boy. Walau kata temen-temen gue sih udah lebih atas lagi levelnya daripada f*ck boy.

Kalau boleh jujur, gue emosi banget nonton k-drama ini.

Bukan karena aktingnya jelek atau sinematografinya nggak bagus. Melainkan karena karakter Yoo Na-bi yang digambarkan di sini tuh yoghurt banget. Asli! Lebih mudah rapuh daripada tahu susu yang sering lo makan.

Apakah gue tetap menontonnya sampai episode 10?

Iya, karena gue berharap setidaknya k-drama ini membawa pencerahan dan bisa menyadarkan orang-orang yang mungkin mengalami hal seperti yang dialami mbak Yoo Na-bi.

Pun karena nggak bisa bohong, sinematografinya aesthetic dan eye pleasing banget!

sumber: jtbc still cut

"Mau lihat kupu-kupu?"

Gue rasa udah jadi salah satu tren kalimat baru selain ajakan makan ramyeon, untuk mengisyaratkan nunaninu, semenjak k-drama ini tayang.

Karakter Park Jae-eon di sini buat gue memang berkembang, namun tetap aja tidak menunjukkan perkembangan signifikan yang bikin gue merasa lega menatap pertumbuhannya. 

Jangan tanya sama mbak Yoo Na-bi yang gue nggak tahu kenapa perkembangan karakternya dibuat sangat amat lambat, pun tidak mencapai goal yang melegakan.

sumber: jtbc still cut

Sesungguhnya, plot dari k-drama ini membuat banyak orang, termasuk teman-teman gue menyerah untuk melanjutkan menonton. Terlalu lama dan berputar di situ-situ aja. Apalagi dua karakter utamanya ini seolah hanya menjalani hidup seputar kamar-kampus semata.

Justru lebih meriah dan lebih berisik hidup si pemeran pendukungnya.

Ada kisah cinta yang bersemi antara senior-junor. Ada kisah antar pasangan sesama jenis. Dan ada juga kisah cinta si mbak playgirl yang akhirnya sadar kalau juga suka banget sama sahabatnya.

sumber: jtbc still cut

Like...ya we know both of you have a 'special' relationship. Tapi bukan berarti kuliah lo diabaikan, bahkan buat sekadar haha hihi sama temen aja nggak ada waktu. Sebab isi kepala lo cuma dia dia dia yang bikin terpesona, pun sekalinya ada di depan mata malah jadi menggoda buat diajak pulang ke rumah dan bobok bareng aja.

Gue tidak memungkiri ada orang-orang yang mungkin ketika sudah jatuh cinta ya memang sampai sebegitunya. Tapi ayolah, hidup nggak hanya itu aja. Ketika dosen lo sudah menegur tugas besar lo yang harus dirampungkan, nggak ada kemajuan, ya lo seenggaknya sadar dan fokus ke situ dulu. Atau ketika lo ada kesempatan untuk haha hihi sama temen-temen lo, ya dipakai waktunya untuk itu, jangan malah buru-buru mau balik ke kamar aja.

sumber: jtbc still cut

Iya, sebagai penonton gue memang banyak bacotnya. Karena memang jujur, gue ingin sekali k-drama ini setidaknya menjadi buku panduan untuk terlepas dari toxic relationship yang dialami banyak orang. Bukan panduan buat ngamar aja ehehehe~

sumber: jtbc still cut

Karakter Yang Do-hyeok di sini buat gue justru lebih mengalami perkembangan yang baik dan signifikan. Meski memang gue tim Mas Kentang, tapi tetap aja, gue sangat amat setuju ketika dia berhasil memisahkan cinta dan tujuan hidupnya.

sumber: jtbc still cut

As you can see, di k-drama ini Yang Do-hyeok tuh memang dibuat cinta mati sama Yoo Na-bi dari kecil. Dibuat sakit dan patah hati juga lihat mbaknya sama si mas kupu-kupu. But... logikanya masih dibikin waras dan nggak tumpul-tumpul amat gituloh. Dia masih tetap mengejar keinginannya tanpa terganggu sama percintaannya. Dia tetep ngejar impiannya melanjutkan usaha restoran mi dan penginapan, bahkan merambah jadi youtuber juga. Di gue sih itu jauh lebih makes sense.

sumber: jtbc still cut

Karena gimana lagi pemirsa, hidup memang melibatkan cinta, tapi kalau semuanya dikaitin ke masalah cinta yang lo alami aja, ya nggak jalan-jalan hidup lo. Yang ada cuma ngedeprok di pojokan kamar dan nangis bombay macem mbak Na-bi.

Boleh cinta, tapi logikanya jangan tumpul. 

Dan ya, untuk ending dari k-drama ini yang memang berbeda dari webtoon-nya. Maka mari senyumin aja. Karena meski katanya berakhir end game alias happy ending, gue juga punya sedikit kekhawatiran jika banyak penonton yang kemudian akan berpikir bahwa jadi seperti mbak Na-bi akan membuat seseorang yang lo sayang akhirnya sadar dan berubah, pun memandang lo.

Karena masalahnya, nggak semuanya begitu, bestie.

Yang mau berubah mah gausah nunggu apa-apa juga berubah. Yang nggak mau berubah, tetep aja kan mbulet tiada berkesudahan dan membuat jengah.

Mungkin ya mungkin...

Itu juga salah satu alasan dan tujuan dari adanya k-drama ini.

Tidak menyiratkan pesannya secara langsung, tapi membuat kita sebagai penonton berpikir setidaknya lebih jernih dan waras. Sebab biasanya sih kalau ada di posisi dua pemeran utamanya mah, semuanya jadi nggak kelihatan dan nggak bisa dipikir dengan tepat.

sumber: jtbc still cut

 Well, gue pribadi banyak belajar dari nevertheless....

  1. Jangan sampai membiarkan diri lo terjebak di hubungan yang membuat lo merasa bersalah adalah hal yang wajar. Membuat lo dikit-dikit feeling guilty, padahal ya bukan lo yang salah
  2. Apa enaknya hubungan tanpa status? FWB? Mau cemburu nggak bisa, marah nggak berhak, emosi juga nggak pantes. Lah wong bukan siapa-siapa~
  3. Selesaikanlah masalah dengan diri lo sendiri, baru memulai dan membuka lembaran baru. After all, buat gue, akan jauh lebih baik kalau mbak Na-bi bisa pahami dirinya dengan lebih dulu baru kemudian mikir ulang tentang hubungan percintaannya. Secara yakan, di sini dia punya trauma dan masalah dengan masa lalu pun orangtuanya
  4. Jujur sama diri sendiri, tahu apa maunya diri, dan coba beragam hal baru yang mungkin nggak pernah lo coba sebelumnya (in a positive way tentu saja)
  5. Berani untuk bilang nggak, berani untuk membela diri lo, dan berani untuk menyudahi apa-apa yang memang tidak lagi baik untuk dilanjutkan.

Akhir kata...

Buat gue pribadi, mian kalau hanya bisa memberi bintang 2.8-3/5 untuk nevertheless sebab alur dan plotnya yang kelewat lambat dan sana sini yang belum dapet aja feel pun tujuannya, menurut gue sebagai penonton.

Oke ya?!

Selamat menonton dan misuh-misuh juga bagi kalian yang mau nyobain k-drama ini!

Share:

0 comments:

Post a Comment