Keinginan Menyerah

November 21, 2019



Kota yang sama yang membuatku tegak berdiri
Kota yang sama yang membuatku merasa sepi

Tahu kan ya penggalan lirik lagu di atas punya siapa?

Iya, itu dari lagu Jakarta-Jakarta milik Mas Kunto—yang semoganya bisa live mendengar beliyo di tahun ini—lagu yang nggak sengaja keputar di pagi ini.

Pagi di bulan November yang kembali berhasil dilalui setelah badai menerpa. Apalah, sok puitis banget hehe. Setiap dengar lagu ini, saya selalu merasa punya kekuatan untuk tetap bertahan hidup meski lagi-lagi harus menyeret langkah.

Tenang, saya nggak akan pernah bilang Jakarta lebih baik dari kota lain, atau Jakarta lebih buruk dari kota lain. Buat saya setiap kota punya masalahnya, individu di dalamnya juga punya beban dan perjuangannya sendiri-sendiri. Jadi ya, setiap kota akan selalu punya sisi terbaik dan terburuknya.

Namun mungkin buat saya pribadi, karena ya saya jauh lebih lama tinggal di Jakarta, jadilah kota ini punya sisi magis yang luar biasa sering bikin saya pengen nangis. Mulai dari ramainya yang nggak pernah rehat, perjuangannya yang udah kayak kejar-kejaran sama entah apa, belum lagi sederet keresahan lain yang timbul karena gaya hidup yang luar biasa bikin sesak.

Pernah nggak sih kalian ngerasa capek yang ya udah capek aja, gatau penyebabnya apa, tapi tahu bahwa lelah udah merundung pundak dengan terlalu?

Kalau pernah, saya penasaran rasanya kayak apa? Mirip nggak kayak yang sering saya rasakan? Atau mungkin rasanya tuh kayak orang mau tenggelam, nggak?

Tadi pagi, sewaktu lagi siap-siap ke kantor, saya keinget satu waktu di mana saya udah hampir tenggelam. Ini maksudnya tenggelam yang beneran tenggelam di kolam renang lho ya hehe.

Rasanya gimana? Nggak enak, panik, takut.

Karena waktu itu, saya udah usaha minta tolong dan melambai-lambai, tapi nggak ada yang lihat. Padahal life guardnya ada, tapi tetap aja di saat itu nggak ada satu orang pun yang sadar kalau saya lagi butuh bantuan. Terus kalau sekarang diingat-ingat lagi, aneh juga kenapa saat itu saya bisa hampir tenggelam, padahal saya bisa berenang, ya walau nggak jago-jago amat, setidaknya bukan gaya batu yang pasrah tenggelam gitu ajalah pokoknya.

Terus gimana bisa selamat? Saya lupa jelasnya gimana, tapi saya ingat ada tangan yang bantu saya sedikit mengapung lalu dituntun buat ke pinggir. Saya nggak inget banyak kecuali kata-kata dia yang bilang, “Kram ya? Gapapa, mungkin tadi kurang pemanasan aja.” 

Lalu ya udah dia pergi tanpa sempat saya ucapin makasih. Karena sumpah saat itu saya kaget dan nggak bisa mikir sama sekali. Kosong yang sebenar-benarnya kosong. Dan terakhir kali sebelum diselamatin, saya sempet mikir udah waktunya kali ya. Udah cukup juga berjuangnya minta bantuan, tapi nggak ada yang ngeliat. Mungkin saya memang harus pergi sendirian. Pasrah aja deh, karena kalau memang udah saatnya berpulang, ya saya nggak bisa apa-apa.

Dan pagi ini saya teringat kalau saya pernah ada di titik perasaan seperti itu. Bahkan mungkin, saya masih sering mengulang perasaan itu ketika semua hal dirasa sia-sia. Ketika menemui kata gagal, ketika merasa dunia nggak pernah mengerti dan mau untuk berpihak.

Ajaib ya, dunia tuh senang banget ngasih ingat kita dengan kejadian yang udah lampau lewat macem-macem cara, hanya untuk memastikan bahwa kita pernah mengalami dan kita sanggup melewati.

Jadi ceritanya, kemarin sempat saya ingin pasrah, sepasrahnya hidup untuk akhirnya mengakhiri semuanya yang dirasa ya udahlah sia-sia. Dan ya, kata percuma itu berputar terus-terusan di kepala. Bahkan belum cukup hanya di kepala, akhirnya semua kata percuma itu kembali dilontarkan di hadapan saya. Merasa dipojokkan, merasa disalahkan, merasa nggak bisa pernah dimengerti di saat semua yang saya lakukan selama ini adalah upaya untuk mengerti.

Ya manusia mah memang gitu, selalu akan berakhir dengan merasa lebih super dari yang lain. Mengaku lebih cinta daripada yang lain, mengaku lebih suka dari yang lain, mengaku lebih berjuang dari yang lain, dan sederet pengakuan lain yang akan mengintimidasi lengkap dengan sederet bukti pembenaran.

Gapapa sih, wajar. Lalu kemudian, pagi ini saya diingatkan lagi dengan kejadian waktu hampir tenggelam dulu, dan akhirnya saya berpikir ulang dengan kejadian itu.

Saya jadi merasa, mungkin memang kita harus selalu punya waktu untuk sendiri, terlepas dari benar tidaknya kita sendirian. Mungkin memang kita selalu akan berjuang sendirian, terlepas dari ada atau tidaknya orang di sebelah. Mungkin, memang lagi-lagi kita yang harus lebih punya kekuatan bangkit, terlepas dari ada tidaknya tekanan dan semangat dari sekitar.

Mungkin, mungkin memang kita akan selalu merasa sendirian meski sebenarnya kita nggak benar-benar sendiri. Karena dari sejak lahir hingga nanti selesai pun, kita tetap akan mempertanggungjawabkannya sendirian.

Kalau boleh mengutip salah satu dialog di Kdrama Extraordinary You; Hidup adalah penderitaan.

Mau nggak mau saya setuju dengan kalimat itu, karena ya memang hidup isinya berjuang, berjuang, berjuang, dan terakhirnya bertahan. Mungkin itu juga yang sedang Tuhan ingetin ke saya di pagi hari tadi.

Bisa jadi saya sudah lelah, bisa jadi saya sedang merasa ingin menyerah, dan merasa lebih baik tenggelam saja. Tapi di akhir dari semua rasa itu saya harus ingat lagi kalau sekuat apa pun keinginan saya untuk menjadi selesai, kalau Tuhan masih bilang belum, ya tandanya saya harus cari cara untuk tetap bertahan. Entah dengan cara seperti apa, bahkan mau sampai ubah kaki jadi kepala bahkan  kepala jadi kaki sekalipun, intinya Tuhan bilang masih harus berjuang lagi.
Dan lagi-lagi, pertanyaan yang akan selalu kembali menghampiri di saat saya sudah mau menyerah masih akan tetap sama.


Kalau bukan kamu, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Nggak pernah ada orang yang benar-benar mengerti diri kita dengan baik, selain diri sendiri. Nggak pernah ada orang yang benar-benar ingin tetap ada tanpa rasa lelah, selain diri sendiri. Nggak akan ada orang yang sepenuhnya tulus mengulurkan tangan, kalau kita nggak teriak minta tolong dengan sekuat tenaga. Dan ya, nggak akan pernah ada yang mau bantu kita, kalau diri sendiri nggak mau untuk dibantu dan bangkit lagi.

Selamat hari-hari menjelang November berakhir temans!

Mungkin hari ini jauh lebih berat dari kemarin, tapi percaya aja, kita masih bisa melalui segalanya sendiri meski pulang nggak pernah mudah. Karena mereka—yang selalu ada di sebelah,  bisa jadi masih menunggu kita untuk kembali. Walau kelihatannya nggak ada, walau seringnya dianggap nggak ada.





You Might Also Like

0 comments

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella