Sekelumit Kisah Sebatas Mimpi

November 16, 2018

Sesuai janji, hari ini saya mau sedikit cerita-cerita tentang pengalaman menulis. Agak bingung sih mau mulai dari mana saking banyaknya yang ada di kepala. Tapi, mari diurai sedikit demi sedikit.

Pertanyaan pertama yang sering banget diajuin ketika temen-temen mulai tahu kalau saya sudah punya buku “Sebatas Mimpi” yang nangkring di rak Gramedia adalah, “Gimana caranya bisa tembus ke penerbit major atau Gagas Media?”

Dan satu-satunya jawaban yang saya bisa utarakan hanya, “Aku ditemukan oleh editornya—yang sekarang jadi editor+teman kesayangan—karena konsisten nulis di Tumblr.”

Ditemukan? Yap, saya memang ditemukan dan di-chat duluan oleh Kak Ry (editor Gagas Media). Hal pertama yang saya rasain pas itu tuh super duper excited, mau nangis bahagia sekaligus dilemma takut-takut kalau itu boongan *enggak lebay tapi beneran deg-degan.

Inget banget waktu itu beliyo perkenalan nama dan ngasih tahu kalau beliyo dari penerbit Gagas Media. Trus doi bilang, “Sudah pernah nerbitin buku? Aku mau ngajak kamu nulis di Gagas Media.” Selama beberapa menit saya cuma nge-read doang saking gataunya harus bereaksi apa. Karena gamau diboongin dengan percaya gitu aja *astagfirullah, maafkan kesuudzonan ini.

Akhirnya saya stalking buat nyari tahu ini beneran nggak sih? Asli orang Gagas Media nggak sih? Karena yang saya tahu mereka tuh salah satu penerbit yang udah punya nama di Indonesia, secara ya teenlit bahkan novelnya aja sering banget saya baca pas SMP, dan mereka teh ngehubungin saya? Da aku mah siapa sih, masa iya ujug-ujug mereka nawarin nulis.

Sampai kemudian saya nemu twitternya dan langsung nge-add line officialnya Kak Ry, lalu saya menemukan dia pernah nulis tentang Ditawari Editor untuk Bikin Buku. Saya baca tulisan itu sampai akhir dan merasa yakin bahwa ini bukan tipu-tipu. Kemudian pembicaraan berlanjutlah dengan konsep dan outline.

Setelah saya cerita kayak gitu, mungkin saja muncul pernyataan dan pertanyaan, “Enak banget bisa kayak gitu! Caranya gimana?”

Saya pribadi percaya, setiap tulisan akan menemukan pembaca dan jalannya masing-masing, tapi yang pasti untuk menjadi seseorang yang pada akhirnya bisa menerbitkan buku yang diperlukan itu adalah konsisten. Yak, konsisten untuk terus menulis!

Mungkin banyak yang mengira saya enak banget bisa ditawarin nulis gitu aja, nggak perlu susah-susah untuk nunggu 1-3 bulan yang belum tentu naskahnya diterima. Wajar, komentar yang sudah lumrah akan timbul di masyarakat kita zaman sekarang. Mungkin, teman-teman yang berkomentar gitu lupa untuk melihat prosesnya. Sering kali kita memang lebih suka melihat hasil tanpa mengetahui prosesnya.

Percaya atau tidak, saya butuh waktu kurang lebih sembila tahun hingga akhirnya bisa menerbitkan buku. Yak, sembilan tahun kalo punya anak udah kelas berapa tuh? Hmmm nggak kode kok nggak, hehe. Saya sudah suka sekali membaca dari SD (anaknya doyan minjem buku di perpustakaan tapi lupa dibalikin) dan jatuh cinta dengan kegiatan menulis sejak SMP. Awal mulanya tuh karena dipilih sama guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk ikut lomba puisi di Dinas Kota Yogyakarta (iya saya SMP di Jogja hehe). Padahal mah nggak jago-jago amat nulisnya da:(

Nah tapi dari situ ketagihan untuk terus-terusan menulis, mulailah nulis-nulis di platform yang beragam—sengaja engga nulis diary karena takut dibaca orangtua haha—mulai dari nyerpen di facebook note (sampai dengan belagunya ngetag editor-editor majalah yang kalau jaman dulu gampang banget tuh buat temenan sama seleb-seleb atau orang terkenal di facebook yang penggunanya masih itungan jari) terus pindah ke blogspot, wordpress sampai akhirnya di 2014 jatuh hati sama Tumblr.

Jangan dikira selama sembilan tahun perjalanan saya nulis-nulis tuh mulus dan dapet dukungan dari banyak pihak, karena itu sangat amatlah salah. Tahu nggak kenapa saya akhirnya nggak menggunakan nama asli di Tumblr ini? Karena oh karena saya ingin melarikan diri dari orang-orang yang bilang, “Apasih nulisnya mellow banget? Galau mulu deh! Itu tulisan kenapa melankolis banget dah?” dan segala macam ejekan lainnya. Bahkan orang lain, yang umurnya jauh di atas saya dari dulu bahkan sampai detik ini masih aja bisa ngomong, “Emang kalau nulis bisa jadi apa? Emang nulis itu pekerjaan?”

Ya, saya tidak menyalahkan siapa pun atas hal tersebut, karena memang profesi sebagai penulis sampai detik ini di Indonesia masih dipandang sebelah mata, belum didambakan oleh orangtua, seperti mereka mendambakan anak-anaknya menjadi dokter, polisi, insinyur dan sederet pekerjaan lainnya.

Tapi dengan perkataan teman bahkan orang-orang terdekat saya yang seperti itulah, saya jadi semakin yakin untuk mengubah pandangan mereka. Bahwa manusia terlahir dengan hobi dan kesukaan yang sebetulnya bisa untuk dijadikan sebuah karya kalau mereka serius mau menekuninya. Apa pun itu, nggak hanya menulis tentunya.

Dari situ saya mikir, kalau saya nggak bisa sebebas itu menulis dengan menggunakan nama Stefani Bella kenapa saya nggak mencari cara lain untuk tetap bebas menulis? Maka, begitulah nama pena Hujan Mimpi tercipta~

Sembilan tahun saya juga pasti jenuh dan sempat bosen untuk nulis, sempet males untuk berjuang sama kesukaan saya ini. Tapi, bener apa kata orang-orang zaman dulu, Tuhan selalu bersama dengan hamba-Nya yang sabar dan mau berusaha. Di setiap kebosanan selalu ada aja cara yang Tuhan berikan untuk ngasih semangat, salah satunya respon dari orang-orang yang menemukan dan membaca tulisan saya. Pembaca itu teman baik! Respon pembaca adalah asupan motivasi tertinggi buat saya pribadi.

Nah kalau habis ini masih ada yang nanya, “Jadi Kak kalo aku mau nerbitin buku enaknya gimana? Nunggu ditawarin atau gimana nih?”

Jawaban saya adalah… Konsisten nulis dulu aja! Untuk menerbitkan buku banyak jalannya, betul? Bisa lewat penerbit indie, bisa juga di major, semua balik lagi ke usaha dan jalan yang sudah Tuhan pilihkan untuk kita.

Yang memilih menerbitkan buku di penerbit indie banyak loh yang sukses. Sebut saja Mas @kurniawangunadi atau Mbak @karenapuisiituindah yang buku KPII nya bisa sampai 3 di indie atau Mas @azharnurunala. Mereka adalah contoh orang-orang ketje yang berhasil menemukan pembacanya sampai ke pelosok negeri seberang dengan jalur penerbitan indie. Keren? Iya banget!

Atau mau ke penerbit major? Langsung print naskahmu, kirimkan ke alamat redaksinya. Tapi, pintar-pintarlah memilih penerbit. Kalau naskahmu genrenya romance-komedi, kamu cari buku yang serupa dengan naskahmu, lalu lihat penerbitnya apa. Barulah kamu memasukkan naskahmu ke sana. Jangan sampai penantian 3 bulanmu sia-sia hanya karena kamu memasukkan genre romance ke penerbit yang hanya menerima naskah-naskah komedi atau horror. Ya atuh gimana mau diterima –“

Tapi kalau kamu masih belum seberani itu untuk memasukkan naskah ke penerbit, mulailah dengan menggunakan sosial media yang kamu miliki. Bisa di tumblr, facebook notes, twitter, ask.fm, Instagram, blogspot, wordpress, medium, wattpad, atau bahkan storial dan segala macam media lainnya. Konsistenlah untuk menulis, jadwalkan misal sehari harus ada 1 tulisan, atau seminggu harus ada minimal 2 tulisan yang mengudara.

Sosial media adalah cara tercepat untuk kamu memiliki pembaca dan mendapatkan respon dari pembaca untuk semakin memperbaiki tulisanmu. Dan percayalah, banyak penerbit yang mencari karya-karya popular dari sosial media. Jadi, jangan pernah takut bersuara apalagi jadi jiper hanya karena satu dua orang yang meremehkan. Dunia nggak lantas runtuh hanya karena satu dua orang yang berbeda pendapat atau selera denganmu :)

Saya aja berjuang sembilan tahun sambil jatuh bangun dan tertatih-tatih untuk kemudian bisa menerbitkan buku. Kamu, yakin gamau ngotot memperjuangkan mimpimu sampai akhirnya bisa membuktikan ke dunia bahwa cita-cita dan mimpimu bukan hanya Sebatas Mimpi?!


You Might Also Like

0 comments

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella