Hujan Bahagia yang Membahagiakan

November 17, 2018


Hallo again! Gimana kabarnya? Kali ini mau bahas tentang buku saya lagi, jadi jangan dulu bosan ya! 

Buku apa tuh? Buku karya kakak juga?

Yak, judulnya adalah “Hujan Bahagia” terbitan @qultummedia. Iya dong, pastinya buku karya saya juga. Bukan kolaborasi, bukan prosa, juga bukan novel.

Terus apa dong?

Makanya, yuk mari mulai kita bahas, hehe :)))

Mungkin bagi yang liat penerbitnya akan langsung berpikir wah isinya dakwah nih dan nuansa agamisnya kentel banget. Saya bisa yakinkan dan pastikan bahwa saya belum seberani itu untuk menuliskan hal tersebut. Naskah Hujan Bahagia sendiri jenis tulisannya seperti series YOLO saya di Tumblr. Lebih ke self reminder atau mungkin self motifesyen.

Mari kesampingkan dulu tentang isinya, sekarang bahas dulu tentang proses menulisnya.

Hujan Bahagia sendiri terbit 4 bulan setelah buku kedua saya--KALA--lahir. Mungkin buat temen-temen, saya dikiranya ngebut bikin buku ini, padahal kenyataannya nggak gitu. Karena, naskah Hujan Bahagia sendiri selesainya justru lebih dulu daripada naskah KALA.

Jadi, di awal Februari, berbarengan dengan finishing buku pertama saya--Sebatas Mimpi--di saat itu juga saya kembali mendapatkan tawaran untuk menerbitkan buku. Yaitu di Qultummedia ini. Jujur, di awal pertama kali ditawarkan untuk menulis di Qultummedia saya sampai berhari-hari mikir iya enggak, iya enggak untuk bilang, “Yuk digarap!”

Karena ya itu tadi yang saya bilang, dari nama penerbitnya dan track record buku-buku yang sudah diterbitkan, genre tulisan saya kayaknya nggak sanggup untuk berada di ranah itu, ilmu saya juga tidak semumpuni itu.

Hingga akhirnya dimulailah diskusi dengan Mas Agung (Redpel Qultummedia), mulai dari nyari konsep bareng-bareng, nyari tema juga, menentukan fiksi atau nonfiksi, terus ditanya udah ada naskah yang jadi atau mau mulai dari nol. Bahkan sampai dikirimin buku-buku terbitan Qultummedia sebagai bahan referensi dalam menentukan isi buku.

Saya sampai nanya ke kanan kiri, ambil atau tolak, iya atau enggak, berkali-kali kayak gitu. Sampai ke Mas Agung-nya sendiri saya selalu bilang, “Mas udah baca tulisanku? Emangnya bisa ya? Cocok fiksi apa nonfiksi, Mas?” atau “Mas ini enggak harus yang berat, kan? Aku belum seberani itu soalnya.”

Sampai kemudian Mas Agung bilang, “Iya aku udah baca. Enggak harus, cukup dengan nilai-nilai kemanusiaan atau motivasi yang sifatnya general aja.”

Akhirnya sampai sampai di titik, Allah sedang beri kesempatan, kenapa saya nggak ambil aja? Masih muda, explore diri itu kan perlu, toh? Itung-itung ladang amal juga, toh dari pihak penerbitnya  tidak memaksakan apa-apa ke saya. Mereka bahkan sebebas itu membiarkan saya menuliskan sesuatu yang menurut saya cukup dalam porsi versi saya.

Maka akhirnya, di awal Maret mulailah proses penulisan bab per babnya. Jujur dalam penulisannya sendiri, buku ini adalah buku yang sangat amat minim keluhan dari saya pribadi. Ngerjainnya bisa semenyenangkan itu, bisa sebahagia itu, bisa sesantai itu. Saya bahkan gatau alasan pastinya kenapa bisa demikian. Bahkan kalau sekarang  ditanya, saya ngerasa kayak enggak nyadar sudah merampungkan naskah Hujan Bahagia ini.

Jadi, naskah ini selesai tepat di pertengahan April, sedikit molor karena bab akhirnya itu dikerjakan bareng sama naskah KALA dan kebetulan kondisi saya saat itu sering banget tepar sampai harus bedrest. Di tengah kekacauan isi kepala yang kebagi antara kerja, promo buku Sebatas Mimpi dan juga nulis naskah KALA, mengerjakan naskah Hujan Bahagia semacam pelipur dan pelepas penat.

Nah, mengenai isi, Hujan Bahagia sendiri berisi kisah dan tulisan pendek tentang kehidupan dalam cara pandang yang positif. Ada tentang cinta, patah hati, kebahagiaan, duka serta rasa syukur atas segala hal di dunia.

Seperti hujan, kadang kita memaknainya sebagai keberkahan, kadang menganggapnya sebagai kondisi yang merepotkan. Begitu pun bahagia, tergantung perspektif kita dalam melihatnya. Ada yang merasa bahagia tinggal di rumah yang sederhana, ada juga yang tersiksa karena hanya itu yang menjadi miliknya. 

Allah memberikan sesuatu pada kita sesuai dengan porsinya. Dia juga telah menentukan siapa untuk peristiwa apa. Semuanya tentu saja yang terbaik untuk kita. Masalahnya, kita tak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita lebih mudah menerima apa yang kita inginkan, tapi tidak untuk sesuatu yang kita butuhkan.

Bahagia bukan melulu tentang meminta yang belum kita punya. Tapi lebih dari itu, menerima apa yang Dia berikan dan bersyukur dengan ketetapan-Nya itu. Beragam cerita di dalam buku ini semoga bisa menjadi penyejuk jiwa kita, sebagaimana hujan membasahi bumi dan segala isinya.

Naskahnya mengandung nilai-nilai bermakna akan kehidupan; kesadaran tentang menemukan jati diri kita sebagai hamba, menerima kehilangan dan kekecewaan bukan dengan drama air mata, tapi lewat doa dan keyakinan hati bahwa setiap apa pun yang Allah beri adalah yang terbaik untuk kita.

Yak, itulah sedikit blurb yang bisa menggambarkan isi Hujan Bahagia. Jangan dikira berat, percayalah, tulisannya tetap lekat dengan karakter Janpi :)))

Genre ketiga buku kakak isinya sama semua?

Sebagai jawaban dari pertanyaan itu saya cuma mau ngomong gini...

Jika saya sebagai pembaca maka, Sebatas Mimpi akan berulang kali saya baca lagi saat saya stuck nulis dan ngerasa hopeless untuk ngeraih impian-impian. Akan saya baca terus ketika banyak denger hal-hal yang tidak meng-enak-kan di sekitar.

Nah kalau KALA akan berulang kali saya baca saat ingin ngerasain manisnya hubungan dengan lawan jenis. Akan saya baca ketika saya butuh sesuatu hal yang sarat emosi dan bisa bikin nangis. Akan saya baca ketika saya butuh pemahaman tentang jarak dan penerimaan.

Sedangkan Hujan Bahagia akan berulang kali saya baca saat isi kepala sedang penuh, enggak tau harus ngapain dan harus cerita sama siapa. Akan saya baca saat saya berada di titik terbawah hidup, saat self-esteem sedang rendah sekali. Dan saat saya merasakan bahagia dengan semua hal yang sudah dialami dan terkait dengan seluruh penerimaan saya akan hidup, kebahagiaan yang sampe bikin gabisa berkata-kata.

So, udah paham kan gimana isi ketiga buku saya? Hehe.


You Might Also Like

0 comments

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella