Hidup Ini Tidak Seperti Makanan Cepat Saji

November 22, 2018


Kak, kakak sejak kapan punya tumblr? Waktu awal awal nulis di tumblr kan pasti masih sepi ya kak, nggak ada yg like atau komen apalagi reblog. Terus skrg tumblr nya jadi rame gini gimana caranya kak? Pakai hashtag kah?

Pertanyaan dari @vivirianii dan kebetulan juga banyak yang bertanya hal seperti ini, baik di inbox Tumblr pun pernah diajukan beberapa kali oleh Kak Ry ketika Talkshow #LetsPublishYourBook bareng GagasMedia beberapa waktu yang lalu. Dan yak, maka sekalian saja saya jadikan pembahasan kali ini!

Saya  aktif di Tumblr itu sejak November 2014, yang seperti sebelumnya saya ceritakan bahwa saya nulis pindah-pindah platform mulai dari Facebook Notes, Blogspot, Wordpress dan berakhirlah di Tumblr dan sekarang beralih di rumah baru ini~

Awal menulis di Tumblr mah iya  sepi. Nggak kenal siapa-siapa, gatau kalau pengguna Tumblr di Indonesia tuh banyak, gatau istilah macem seleb Tumblr, apalagi tulisan saya sampe di-likes, di reply comment lebih-lebih di-reblog. Intinya kosong dan bersih saat pertama kali saya main Tumblr.

Trus gimana caranya sekarang Tumblrnya jadi rame?

Kalau sedikit ngeliat ke belakang, jawabannya adalah… ini semua karena Writing Project @gowithepictThank you buat admin-adminnya, hehe much love untuk kalian!

Jadi dulu, setelah merasakan kelegaan yang luar biasa seusai menyalurkan apa yang dirasa dan dipikirkan, menulis tuh jadi kebiasaan bahkan kebutuhan. Pelarian yang amat menyenangkan ternyata, jika dan hanya jika dilakukan terus-menerus.

Sampai akhirnya saya ngerasa kalau sehari aja nggak nulis ada yang beda, ada yang bikin gelisah karena yang dialami enggak tersalurkan. Nah dari situ akhirnya nyari-nyari Writing Project yang bisa bikin makin semangat nulis. Setidaknya biar satu hari ada yang bikin mikir dan bisa menghasilkan tulisan.

Dari konsistensi ikut WP itulah saya punya pembaca, ya meskipun pembacanya admin @gowithepict sama peserta lain yang ikutan WP tersebut. Tapi, lambat laun followers bertambah dengan sendirinya, alasannya beragam. Ada yang karena suka tulisannya, ada yang karena mengalami hal serupa tapi gabisa mengungkapkan dan merasa terwakilkan, dan alasan-alasan lainnya.

Jadi, untuk pertanyaan gimana biar Tumblrnya rame, jawabannya adalah…

Jadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan.

Kalau ngeluhnya lagi gatau mau nulis apa, coba ikutan Writing Project. Gausah yang full 30 hari kalau belum sanggup, cari aja WP yang seminggu atau 2 minggu, yang penting inget untuk konsisten.

Pakai hastag-kah kak?

Woyajelas! Pakai hastag itu penting, sepenting pake hastag di Instagram. Hemm millenials pasti paham deh. Kalau dulu, saya pakai hastag tuh yang memang familiar dan nggak kayak sekarang. Misal nulis prosa tentang keluarga, hastag-nya #keluarga #family #prosa, ya semacam itulah. Pun untuk macem tulisan lainnya juga pakai hastag yang menggambarkan si tulisan.

Intinya, dulu saya selalu pakai gitu, sampe kemudian ngerasa bosen dan kayaknya lucu kalau punya hastag sendiri. Maka jadilah #hanyaberujar #untaianmimpi #writingsjourney #TRIF dan semacamnya.

Pertanyaannya terjawab sudah kan ya? Hehehe. Kalau gitu saya mau kasih tambahan~

Nah, kalau kalian yang menulis di Tumblr, Blog, Wordpress, atau mungkin Instagram ini memang berkeinginan untuk jadi penulis yang sesungguhnya, jangan ngerasa minder hanya karena followers sedikit. Jangan jadi males-malesan nulis karena engga ada yang baca!

Mau nerbitin buku tapi nulis masih males-malesan? Apa kabar kalau dikasih deadline terbit sama editor? Males itu kebiasaan manusia yang emang paling nikmat untuk dijalanin, yakan? Sebetulnya rasa males nulis itu bisa banget untuk dihilangkan. Caranya?

Punya komitmen dan memiliki rasa tanggung jawab!

Coba renungkan lagi, komitmen kalian menulis itu apa? Jadi penulis yang bisa menerbitkan buku, misalnya. Kalau gitu kita coba mulai studi kasusnya (lah ini ngomongin apaan deh haha), ini berandai-andai ya. Kalian ingin banget jadi penulis tapi karena sekarang belum punya pembaca dan followers maka kalian memutuskan untuk nyoba ikut Writing Project.

Maka, nanti ketika kalian sedang ikut Writing Project terus pas pertengahan jalan mulai males, inget lagi kalau kalian mau jadi penulis. Mana ada buku yang bisa jadi kalau nulis aja kalian males? Buku kan halamannya nggak hanya 10 lembar, tapi bisa ratusan, mana ada buku yang bisa jadi kalo nulis satu paragraf aja kalian males dan banyak alesan, yegak?

Penulis mau dijadiin profesi serius, boleh dong. Tapi inget, kalau setiap pekerjaan ada tanggung jawabnya. Penulis juga punya, tanggung jawab ke pembacanya, ke penggemar tulisannya, terlebih tanggung jawab ke editor yang kalian janjikan naskah kapan selesai. Nah itung-itung latihan menghadapi tanggung jawab itu,  kalian bisa mulai dengan menjadikan Writing Project itu tanggung jawab kalian ke si pembuat tantangan WP, sekalian kasih punishment ke diri sendiri juga boleh.

Keluhan yang sering mampir lagi adalah, nggak ada ide, belum dapat inspirasi, nggak mood.
Mau nerbitin buku tapi nunggu ide, inspirasi dan mood muncul? Mau sampai kapan satu buku yang isinya bisa beratus halaman itu selesai kalau masih nunggu aja? Yelah, nungguin jodoh aja katanya capek, kok ya ditambah dengan nunggu yang lain.

Buat saya, mood, ide, inspirasi tuh nggak muncul gitu aja, tapi dicari, ditemukan.

Caranya? Bisa dengan lebih peka terhadap sekitar; sedikit bicara tapi buka mata dan telinga lebar-lebar. Atau kalau kata Bang Raditya Dika, temukan kegelisahan!

Dalam satu hari kita yang profesinya pelajar, mahasiswa atau juga karyawan pasti berpindah dari satu tempat ke tempat lain, pasti bertemu dengan banyak orang—entah yang dikenal atau hanya orang asing yang berpapasan di jalan—betul? Rasanya mustahil kalau dalam satu hari itu kita nggak nemu atau mengalami kejadian yang bikin kita nggak mikir atau merenung.

Ambillah contoh, seharian ada temen kantor yang bawel banget curhat panjang lebar karena abis diputusin. Karena kita mau melatih kebiasaan menulis, kejadian itu bisa digunakan sebagai ide awal tulisan, curhatan temen kita itu bisa diumpamakan kita yang mengalaminya langsung. Atau bisa juga karena ngerasa gerah denger ceritanya yang seolah merasa paling tersakiti, kita bisa bikin opini tentang hal itu, bahwa masing-masing pihak bisa menjadi yang tersakiti.

Banyak, banyak hal yang bisa kita jadiin tulisan, bahkan macet sekalipun atau tersedak makanan juga bisa dijadiin tulisan. Balik lagi, mau enggaknya kalian menemukan ide-ide tersebut. Mau atau enggak kalian meluangkan waktu untuk nulis ide itu.

Nah ini juga penting, punya ide, tapi ngerasa nggak ada waktu luang, jadi idenya keburu ilang. Bisa diatasin kok tenang, tulis ide yang bersliweran itu di buku catatan atau mudahnya di HP! Kalau buku catatan kegedean dan ribet bawa-bawanya, nah gawai dipegang terus kan tuh, manfaatkanlah gawai itu untuk menulis ide yang bersliweran. Mau satu kalimat atau satu paragraf juga gapapa. Pokoknya, jadikan gawai atau buku catatan kalian sebuah bank ide. Yang nanti ketika ngerasa gatau mau nulis apa, bisa kalian buka lagi dan akhirnya menghasilkan satu tulisan utuh.

Akhir kata, udah punya komitmen tapi tanggung jawab untuk menulis masih kurang kalau cuma Writing Project aja (manusia mah gitu, selalu aja punya alesan hehe). Tenang, ada lagi cara mengatasinya. Gimana? Kolaborasi! Jangan salah loh, kolaborasi bisa banget jadi karya, tuh novel KALA contohnya~

Baiklah, semoga teman-teman semakin semangat menulis dan berkarya. Inget aja, setiap karya itu bertumbuh dan berproses.

You Might Also Like

0 comments

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella