Gendutan?

November 16, 2018



Saya baru saja benar-benar beranjak dari tempat tidur beberapa jam lalu, setelah menamatkan membaca sebuah cerita yang sukses membuat saya menangis menuju akhirnnya. Pagi-pagi sudah salah pilih bacaan, good start saya rasa. Karena sekarang, sehabis menangis saya malah ingin sekali menuliskan sesuatu yang belakangan membuat saya merenung (?)

Intro-nya kelamaan woy! Baiklah, mari bercerita tentang sebuah pertanyaan–lebih cocok jadi sindiran deng–yang ditakuti dan yang sering sekali mampir di muka bumi setelah pertanyaan, “Kapan menikah?” yaitu adalah… “Kok makin gendut?” atau “Ih gendutan! Galau ya? Atau terlalu bahagia?”

For goodness sake! Saya nggak tahu kenapa pertambahan berat badan seseorang–terlebih wanita–begitu menjadi sasaran empuk untuk dipertanyakan setiap seseorang melihat dari foto atau saat baru bertatap muka lagi dalam rentang waktu yang cukup lama tak bersua.

Kalau pertanyaan itu dilempar ke saya, jelas itu hal yang biasa aja untuk kemudian saya anggap lalu, tertawa dan tidak saya pikirkan. Tapi sayangnya, saya mengenal beberapa orang yang begitu diberi pertanyaan demikian–oh oke saya lebih senang menyebutnya pernyataan–malah akan panik dan kemudian mengumpat dalam hati. Kemudian esoknya alih-alih kehilangan nafsu makan dia malah diet habis-habisan, bahkan tak ingin makan nasi. Saya menyayangkan itu tentu saja.

Kita ini hidup untuk siapa sih sebetulnya? Memuaskan keinginan orang lain untuk melihat kita sebagai apa yang ingin dia lihat? Kalau iya kayak gitu saya mau teriak kencang-kencang rasanya, “Coy, lo bakal capek! Karena nggak akan ada habisnya muasin mereka semua!”

Ya! Itu adalah hal yang mau saya sampaikan, kenapa demikian? Karena, manusia yang kita kenal itu kan nggak cuma satu, tapi ada banyak, dan mereka semua punya ekspektasinya masing-masing. Yakin mau memenuhi itu semua? Hari ini ketemu si A dibilangnya gendutan, esok mati-matian diet. Besok ketemu si B terus dibilang bagusan rambut panjang, lusa sudah extension potongan rambut yang baru aja kemarin dibentuk. Belum lagi kalau dalam sehari ketemunya 3 orang atau lebih yang komentar dengan penampilan kita.

Wow! Seberapa banyak kita harus mengubah penampilan untuk kemudian mewujudkan kata sempurna di setiap mata yang kita temui?

Menjalani hidup dengan semua aktivitas, entah sekolah, kuliah, bekerja, dan hal-hal lainnya sudah cukup menguras tenaga, ini ditambah lagi dengan hal-hal yang nggak seharusnya merasuk di kepala juga diribetin? Sekarang lari ke cermin deh, perhatiin diri lekat-lekat. Tuhan sudah menciptakan kita sebaik mungkin dengan beragam tujuannya, tapi kenapa kita sibuk memikirkan apa kata orang lain demi seonggok pujian. Bukan sibuk memikirkan bagaimana kita membalas kebaikan Tuhan dengan merasa cukup, bersyukur dan memaksimalkan semua titipan yang saat ini diberikan pada kita?

Sudah mulai terlihat kesal belum saya? Haha, mari kembali bersantai dulu. Sebetulnya tulisan ini berdiri bukan karena hal itu saja sih, tulisan ini juga timbul sebab ada pertanyaan tentang, “Kak gimana caranya bisa tetap sehat sih padahal kakak sering begadang?” lalu “Bell, kok lo bisa sih tetap bisa kerja sambil ngejalanin hobi sambil ngelakuin ini itu juga? Nggak pernah sakit? Nggak pernah tepar?”

Sebelum menjawabnya, saya mau tanya dulu, tahu nggak dengan ini



Iya, makanan sehat yang sekarang lagi nge-tren, lagi sering di-upload di kalangan selebgram atau siapalah itu orang yang kalian follow. Waktu saya tahu makanan ini lagi hitzzzz, saya cuma tersenyum sambil bilang ke Mama, “Banyak yang suka ya sekarang, Ma!” dan Mama saya hanya tertawa sambil bilang, “Kamu udah berapa lama tahan makan begitu?”

Iya, saya sudah lama mengonsumsi hal-hal seperti itu sejak 2013 lalu, ya sekitar lima tahun kurang lebih. Kepo kan ya saya gimana bisa tetap (katanya) sehat? Mari saya coba ceritakan~

Tapi sebelumnya mohon diingat bahwa ini adalah hasil riset saya terhadap ketahanan tubuh saya sendiri. Saya bukan dokter, bukan ahli gizi, jadi saya tidak menganjurkan ini untuk ditiru. Saya hanya ingin berbagi dan bercerita, semoga tidak membawa kalian tersesat ya hehe:))))

Dan semua kebiasaan ini saya lakukan ketika saya di rumah, karena saya mengaku bahwa saya masih kesulitan menjalankan ini ketika bepergian. Godaan untuk icip kuliner kan nggak bisa terbendung haha. Jadi, kira-kira apa saja yang saya konsumsi? Cekidot~
  • Setiap pagi saya menghabiskan waktu di tempat tidur selama 20 menit, tanpa menyalakan gawai sama sekali. Saya hanya melakukan gerakan yoga ringan, lalu melakukan pernapasan 478.
  • Untuk sarapan, saya sudah sejak lama meninggalkan sarapan pagi dengan nasi, menggantinya dengan fruit bowl atau smoothies bowl ya apa pun itu namanya seperti dengan gambar di atas. Kadang juga hanya sebatas sayur mayur yang direbus, atau kalau butuh lebih banyak energi ya kentang rebus. Perdebatan tentang pentingnya sarapan bergizi dengan karbohidrat atau nasi atau apalah itu memang nggak akan ada habisnya. Saya juga bukan ahli gizi atau dokter, jadi tidak tahu mana yang baik. Saya makan apa saja yang penting itu buah dan atau sayur, mau itu dari pepaya sampai jus sayur macam pokcay.
  • Air mineral jadi faktor penting untuk saya konsumsi setiap harinya. Saya menggunakan rumus 33 dikalikan berat badan saya, maka hasil dari itulah yang saya pakai untuk batas minimal konsumsi air mineral. Saya menghindari soda, untuk minum teh dan kopi akan dilanjutkan dengan konsumsi air mineral sebanyak itu juga. Sering ke kamar mandi karena hal itu? Iya memang, tapi daripada saya sakit pinggang dan kekurangan cairan, lebih baik saya bolak-balik kamar mandi, kan?
  • Total saya makan nasi itu hanya sekali sehari, hanya siang. Kalem, jangan kaget, serius ini tuh haha. Tapi tenang, saya kadang masih suka makan snack kok. Macem gado-gado, siomay, atau apa pun itu pokoknya selain nasi.
  • Olahraga? Saya melakukan yang ringan-ringan saja, seperti skipping, push up, sit up. Sejujurnya saya suka renang dan lari, tapi dengan waktu yang saya miliki, kesempatan itu agak susah saya dapatkan. Iya selain saya juga sudah mulai malas untuk berlari, keseringan lari dari perasaan sendiri soalnya, EHGMNHAHAHA. Sedang ingin bercita-cita bisa latihan muaythai tapi entah kapan, lihat saja nanti. Jika boleh jujur saya rindu dengan kegiatan yang menguras keringat ketika karate dulu atau ketika dihukum sewaktu paskibra dulu. Hal-hal yang jarang sekali saya lakukan beberapa waktu belakangan ini.
  • Mie instan? Saya hanya memakannya sebulan sekali, bahkan kadang dua bulan sekali. Itu juga terpaksa jika tak ada stok sayur dan buah. Saya ketagihan dengan sayur dan buah, padahal dulu saat masih sekolah saya setengah mati tak suka dengan beberapa macam buah dan sayur, tapi sekarang, saya suka semuanya. Ini karena Mama saya, the power of mamak-mamak yang suka sekali memaksa anaknya makan sayur dan buah.
  • Saya juga sedang menghindari konsumsi ayam serta daging merah beberapa bulan belakangan ini, saya lebih memilih ikan.
  • Saya menghindari konsumsi obat jika sedang sakit. Saya bertahan dengan susu–biasanya salah satu produk susu kaleng yang inisialnya BB atau susu kemasan kotak 1L–sebagai katakanlah dopping kesehatan saya. Saya ini punya maag yang akan kambuh jika stres. Dan juga vertigo yang akan kambuh dengan perubahan cuaca drastis pun ketika banyak pikiran dengan terlalu.
  • Malam hari pun ditutup dengan 20 menit di tempat tidur dengan kebiasaan serupa di pagi hari, kemudian minum kira-kira 200ml air mineral. Kalau lapar di tengah malam saya biasanya akan mencari buah, lebih seringnya pisang. 
  • Ah ya hampir lupa, saya suka green smothies untuk toxic-toxic di tubuh. Macam-macam; seledri, pokcay, pokoknya daun-daun hijau. Rasanya? Jangan ditanya, di awal mencoba saya enek setengah mati. Tapi saya punya buah kesayangan yang selalu membuat semuanya menjadi enak, pisang! Serius deh rasa pisang dijus itu, masyaaAllah, seger.
Oh baiklah, itu saja nampaknya hal-hal (yang katanya) sehat dan membuat saya bisa bertahan terjaga berhari-hari, tidur terlalu larut kemudian bekerja di pagi hari, masih menghabiskan waktu untuk berpikir ini itu dan lainnya, yang sudah menjadi kebiasaan selama beberapa tahun belakangan.

Lalu, apakah saya sengaja melakukan itu semua? Tidak sama sekali! Saya melakukan itu untuk menyeimbangkan pikiran saya dan kesehatan saya. Sebab saya tahu, saya tidak suka berada di tempat tidur dan doing nothing. Dan ya, saya melakukan itu tidak langsung serta merta begitu saja. Saya melakukan perubahan itu dengan pelan-pelan dan satu-satu. Seperti sarapan buah, dulu saya menyelinginya dengan sehari sarapan nasi, esok baru buah, bertahap.

Kemudian jika ada yang melontarkan pertanyaan atau pernyataan, “Kok gendutan?” atau “Jir gendut lo!” atau "Bell, sekarang kurusan?" Ya, saya hanya akan berkata bahwa “I'm happy!“

Karena ya saya sebahagia itu, karena saya tahu tidak ada yang salah dengan apa yang saya konsumsi. Saya mengerti apa yang dibutuhkan tubuh saya, saya tahu sebaik apa saya bisa beraktivitas, saya mengerti apa yang tubuh saya minta dan rasakan ketika sedang baik dan tidak baik-baik saja.

Untuk urusan berat badan, fyi saja saya baru saja menimbang berat badan saya ada di berat 52 kg. Apakah itu termasuk gendut? Mungkin buat kamu iya, tapi buat saya, itu baik-baik saja karena saya menerima saya seperti apa pun adanya saya.


You Might Also Like

0 comments

Followers

Like us on Facebook

Be Friend, Want You?!

All around the world, all i want is you. To be here, to read, to listen, to know me as long as i live. May all the blessing always by your side. Sincerely yours, Stefani Bella