Al Fine. [ track 14 - C ]

 

Rasi's POV

"Ras, sejak kapan kamu punya kakak?"

Saya baru saja melangkahkan kaki menuju kitchen island untuk meletakkan barang belanjaan, ketika Utara sudah menatap saya dengan pertanyaannya yang membuat saya kebingungan. "Kakak? Kakak apa?"

"Kakak ya kakak, Ras."

"Dit, kamu tahu 'kan aku anak tunggal?"

Utara diam sambil menatap saya tepat di kedua manik mata. Membuat saya juga seketika bertanya-tanya apa yang kali ini ada di pikirannya, hingga menanyakan sesuatu yang membingungkan. "Mantanmu ada berapa deh? Selain Bintang ada siapa lagi aja?"

Kali ini saya menghentikan gerakan tangan saya untuk mengeluarkan sayur, buah, pun bahan makanan lainnya ketika dengar pertanyaannya yang semakin tak masuk akal. "Gimana, Dit?"

Utara melangkahkan kakinya mendekati saya, lalu memegang kedua lengan saya sembari bertanya pelan dengan tatapannya yang menenangkan namun dipenuhi pertanyaan. "Seriusan, gapapa kok kalau ada banyak. Tapi kamu masih berhubungan baik gitu ke mereka?"

Sungguh, untuk pertama kalinya semenjak mengenal Utara, rasanya baru kali ini saya kebingungan dengan pertanyaan yang dia ajukan. Kebingungan karena saya tak tahu asal usul pertanyaannya, juga kebingungan sebab tak tahu harus menjawab seperti apa, karena dia sendiri pun sudah tahu jawabannya.

"Bentar-bentar," saya menurunkan tangannya untuk kemudian saya genggam. "Mantan apa sih yang kamu maksud? Mantan gimana, Dit?"

Helaan napasnya terdengar, bersamaan dengan dia yang kini membantu saya memasukkan belanjaan ke dalam kulkas dan juga lemari penyimpanan. "Mantanmu ada yang orang keren banget, ya, Ras?"

"Keren?" saya sontak menaikkan sebelah alis, lalu menolehkan kepala kepadanya. "Mantanku bukannya emang keren?" jahil saya bertanya padanya demikian.

Utara yang semula hendak meneguk jus buah yang tadi pagi saya buat pun kini menolehkan kepala, seraya berdecak sebal. "Sombong!"

Saya tertawa melihat dia yang sebal dengan gurauan yang saya buat. "Lagian apa sih? Ini tuh kamu ngomongin siapa? Jangan cemburu-cemburu lagi, please. Kemarin udah lho kamu cemburu nggak jelas sama postingan ig doang."

Sungguh, bila ini harus dikaitkan dengan rasa cemburu yang Utara punya, rasanya saya harus angkat tangan. Karena saya memang tak pandai untuk mengurai kecemburuannya. Apalagi untuk memahami rasa cemburunya yang jujur kadang terasa tidak masuk akal. Kemarin saja, bisa-bisanya dia cemburu hanya sebab unggahan yang saya pun tak sadar, bahkan saya tidak tahu maksud dari unggahan itu apa.

Lantas, harus seperti apa saya meyakinkan dia bila saya saja tak paham dengan perilaku orang lain, yang dianggapnya tengah memancing perhatian saya?

Utara berjalan menuju sofa dan meninggalkan saya lebih dulu, "Kamu lagian mantannya banyak sih, Ras."

"Hahaha, perlu aku sebut list nama mantan dan korban kamu, Dit?"

Kini giliran dia yang menoleh, dan meletakkan dagunya di atas sofa sembari menatap saya dengan raut sedih di wajahnya. "Ya nggak gitu."

"Terus?" tanya saya sembari merapikan ecobag dan meletakkan di samping wastafel, lalu mencuci tangan untuk menyusul Utara beristirahat di sofa.

"Kamu punya mantan yang sekarang terkenal banget, ya? Chef? Restorannya banyak? Crazy Rich-nya Indonesia gitu nggak?"

Demi penguasa bumi dan bulan, saya tersedak ketika mendengar ucapan Utara barusan. Ingatan saya seketika berkelana pada chat Dewa yang sempat ia kirimkan kemarin, namun belum sempat saya balas hingga hari ini.

Saya duduk di samping Utara sambil tersenyum menatap dia yang masih menekuk wajahnya. "Kamu ketemu Mas Dewa di mana?"

"Beneran dia mantan kamu????" Utara lekas duduk menyerong menghadap saya dengan sebelah kaki yang ia naikkan. Membuat saya mau tidak mau akhirnya tertawa, sebab kecemburuannya yang lagi-lagi salah sasaran.

"Coba jawab aku dulu, kamu ketemu di mana, Dit?"

"Kamu dulu yang jawab, dia mantan kamu kapan? Sebelum sama Bintang, ya?"

"Dia bilang emang dia mantan aku?"

Utara menggaruk kepalanya, lalu menatap saya dengan tatapan yang begitu polos. "Nggak sih. Tapi dia ngaco banget, masa dia bilang dia kakakmu. Orang tuh ya kalau mau ngibul ya mikir dulu gitu, lagian kalau dia ngaku mantan kamu juga aku nggak masalah."

"Nah ya udah."

"Ya udah apa sih, Ras?"

Saya menoleh menatapnya yang kini terlihat gelisah. "Makanya aku tanya dulu, Dit. K amu ketemu Mas Dewa di mana? Terus ceritain dulu dia ngomong apa aja sama kamu?"

"Excited lagi 'kan 'kan 'kan," Utara melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap malas pada televisi yang baru saja ia matikan.

Jujur saya ingin sekali menjahili Utara atas tingkahnya ini. Tapi sayangnya, tawa saya lebih dulu hadir sebab tak sanggup lagi menahan diri atas hal lucu yang saat ini harus saya hadapi. Utara memicingkan matanya menatap saya yang tengah memegang perut, karena lelah tertawa. Membuat saya lekas beranjak mendekat ke arahnya, lalu memeluk lengannya erat dan menyandarkan kepala di pundaknya.

"Gausah cemburu, Dit. Mas dewa itu-"

"Gausah pake mas mas segala deh," potongnya membuat saya menatapnya dengan senyuman yang terulas di bibir.

"Aku pakai Mas itu karena emang dia mas buat aku, Dit. Dia udah kayak kakak aku sendiri," Utara menolehkan kepalanya menatap saya yang juga masih tetap melihat dirinya. "Serius, Dit. Dia itu udah kayak kakak buat aku. Kita tuh kenal dari kecil. Orangtua mas dewa itu sahabat papa mamaku."

Pandangan saya jatuh pada jemari Utara yang kini sudah saya kaitkan dan genggam dengan erat. Berusaha menyalurkan tenang padanya yang kini memangku resah. "Udah lama aku lost contact sama dia, apalagi sejak dia pindah-pindah juga karena orangtuanya pun punya kerjaan yang sama kayak papa mama. But turns out, kita ketemu lagi di Australia."

"Dia udah punya pacar? Atau udah punya istri?"

Refleks saya mencubit pipi Utara yang sejak tadi tak henti bertanya. "Kenapa emang? Kamu cemburu sama dia?"

Utara kali ini diam, hanya diam dan melepaskan jemari kanannya untuk kemudian membawa saya ke pelukannya. Saya balas mendekapnya erat, sembari menepuk pundaknya beberapa kali. "Gausah cemburu, aku nggak akan sama dia, Dit."

Utara melepaskan pelukannya, lalu menunduk menatap saya. "Kalau dijodohin?"

Pertanyaannya membuat saya tersenyum sebab ingat dengan ucapan Dewa di minggu lalu. "Kamu pasti cocok sama dia deh. Soalnya bercandaan kamu ini sama aja kayak dia tahu nggak?" balas saya seraya menyentuh hidung bangirnya.

"Itu bukan bercanda, Ras. Aku nanya serius."

Pandangan saya jatuh pada dwinetra Utara, lalu menyusuri setiap sudut wajahnya yang selalu berhasil kepakkan kupu-kupu di perut, tiap kali saya harus berhadapan dengannya apalagi dengan jarak sedekat ini. Saya tersenyum, sebelum kembali memeluknya dalam posisi menyamping. "Believe me, it's not gonna happen."

Utara masih diam dan mengelus rambut saya. "Dia belum punya pacar, Dit, Dia juga belum punya istri, and of course he's totally straight. Tapi ya emang nggak akan bisa sama aku, our parents know about it too."

Sisiran jemari Utara di rambut saya seketika berhenti, "Berarti dulu kalian pernah mau dijodohin?"

Ingatan saya kembali berkelana pada kejadian dua tahun silam. Pada satu waktu di mana saya dan Dewa tengah menikmati jamuan makan malam di kediaman orangtuanya. Malam di mana ketika kalimat itu terlontar sebagai candaan, yang jelas-jelas lekas kami tolak, sebab tak ingin gurauan itu berubah jadi boomerang bagi kami berdua bila akhirnya diseriusi oleh mereka.

"Hampir, but no. We're against them, Mas Dewa sih yang jelasin ke orangtuanya dan orangtuaku, kalau ya kita nggak bersedia buat dijodohin."

Kalau bukan karena Dewa, saya tidak pernah tahu bagaimana caranya melewati malam itu dengan tetap baik. Dewalah yang menyelamatkan saya, bahkan kami dari perjodohan omong kosong yang sudah tak selaiknya ada di zaman sekarang. Perjodohan yang mungkin bisa merusak hubungan saya dengan Bintang, yang ternyata tetap kandas meski tanpa ada perjodohan apa pun.

"Kamu sama dia sama kayak kamu ke Athaya, Ras?"

"It's a big different, Dit."

"Kalau sama Athaya, chance barengnya masih ada, ya? Tapi kalau sama Dewa Dewa ini nggak? Gitu, Ras?"

Saya tertawa lalu menangkup kedua pipinya dengan satu tangan, membuat bibirnya manyun karena tekanan yang saya berikan di pipi kanan dan kirinya. "Kamu tuh cemburu lagi, ya? Nggak usah mikir macem-macem deh, Dit."

Utara menarik tangan saya, lalu menahannya di udara sambil menatap saya begitu intens. Membuat degup di dada saya justru berpacu lebih cepat. "Ya gimana nggak mikir macem-macem coba, kalau ternyata kenyataannya emang gitu?"

Lekas saya menarik tangan dan sedikit menjauh dari Utara, dan mengambil sebotol air mineral di meja. Berusaha menenangkan diri atas sikapnya barusan, "Coba jelasin ke aku, kamu ketemu Mas Dewa di mana?"

"Di KResNus."

Saya mengerlingkan mata padanya, "Dia yang punya."

"I know," Utara merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam yang kini dia letakkan di atas meja. "Gara-gara dia kasih itu, makanya aku tau."

Senyum saya terkembang menatap nama Dewandaru dengan tinta emas di atasnya. Sikap antinya pada media, memang membuat orang-orang lebih mengenal nama lengkap dan sederet prestasinya, dibandingkan wajah dan sosoknya aslinya. "Terus dia bilang apa?"

"Dia kenalin dirinya sebagai kakak kamu, terus dia bilang kamu ceritain soal aku banyak ke dia. Like a lot, aku ngutip kata-katanya dia tuh."

Anggukan kepala saya hadir menyetujui ucapan Utara, "Emang."

"Emang apa?"

"Aku emang cerita soal kamu banyak banget ke dia. Dan kayaknya, rahasia aku sama dia semua deh, Dit." Saya mendekatkan diri pada Utara, lalu berbicara di telinganya tanpa berbisik. "Tapi kamu nggak boleh tanya-tanya ke dia!"

Utara sontak menoleh, menipiskan jarak di antara kami. "Why? Kamu cerita jelek ya soal aku?"

Pertanyaan Utara barusan membuat saya memiliki alasan untuk menjauh, dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. "Nih," saya menyerahkan ponsel kepada Utara, "Itu chat terakhir dia habis ketemu kamu, he likes you, Dit."

Beberapa menit kekosongan mengisi di antara kami, membuat saya hanya menatap Utara dengan bertanya-tanya, hingga ia kemudian letakkan ponsel saya kembali di atas meja. "Aku kayaknya banyak nggak tahu kamu ya, Ras?"

Saya mengernyit menatapnya bingung. "Aku nggak tahu kamu kenal sama siapa aja. Nggak tahu kamu deket sama siapa aja, dan aku kayaknya... Banyak nggak tahu soal hidup kamu pas di aussie."

Entah memang karena saya terlalu berlebihan dan perasa, tapi saya menangkap nada kecewa dan sedih dari ucapan Utara barusan. Namun enggan untuk buat percakapan ini semakin awkward, saya lekas menanggapinya ucapannya dengan senyum dan juga jawaban. "That's why kita pdkt nggak sih sekarang?"

Saya kembali mendekapnya erat, berusaha menenangkan khawatir yang dia punya semampu yang saya bisa. "Nanti kapan-kapan ketemu Mas Dewa deh. Bet you gonna likes him like Athaya. Dia aja sekarang suka banget sama Mas Dewa, he adores him so much."

Utara memegang dagu saya untuk kemudian mendongakkan kepala menatapnya, "Athaya?"

Kedua mata kami saling bertubrukan, membuat saya hanya sanggup mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya yang terdengar cukup terkejut.

***

Utara's POV

"Nanti kapan-kapan ketemu Mas Dewa deh. Bet you gonna likes him like Athaya. Dia aja sekarang suka banget sama Mas Dewa, he adores him so much."

"Athaya?"

Mata gue dan mata Rasi saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. Anggukan dia beri sebagai jawaban atas pertanyaan kaget gue barusan. Ya lo pikir aja sendiri, siapa yang nggak kaget kalau Rasi bawa-bawa nama Athaya. Bahkan ternyata Athaya udah lebih dulu kenal Dewa, dibandingkan dengan gue.

Lagi-lagi gue enggan melepaskan pelukan dari Rasi, dan dengan tololnya kali ini gue juga tidak bersedia memutus kontak mata kami. Bahkan hal berikutnya yang gue lakukan hanya meniadakan jarak di antara kami, dan mendaratkan kecupan di keningnya. Seraya bertanya di dalam hati...

Ini aku yang emang ngerasa kita asing. Atau, aku yang terlalu jauh dan udah lama nggak kenal kamu ya, Ras? Is it right, Ras? Hubungan ini beneran harus dilanjut 'kan, Ras?
Share:

0 comments:

Post a Comment