Al Fine. [ episode keduabelas - A ]

 

track 11: sweet creatures
menarik, sepertinya

 

Jam makan siang hampir akan usai ketika Rasi dan teman-temannya melangkah masuk ke dalam lift, yang sejatinya tak pernah jadi kesukaan milik perempuan ayu yang hari ini memakai turtleneck berwarna hitam itu.

"Hi, Ras."

Baru saja ia hendak memejamkan mata, untuk hilangkan pusing yang sering menyita, seseorang panggil namanya dengan cukup akrab. Kepalanya sedikit ia tolehkan ke belakang untuk lihat sosok lelaki yang saat ini tengah menyandar pada dinding lift, dengan dua tangan yang menyilang di dadanya; Javaskara.

"Eh? Iya halo, Mas," balasnya dengan anggukan kepala, lalu kembali menatap lurus ke depan.

"Nggak nanya gue ke sini ngapain?"

Satu senggolan dari temannya mampir di lengan kiri, setelah Javaskara lontarkan pertanyaan itu. "Mau ketemu sama pak boss, 'kan?" jawabnya singkat, berusaha untuk putus percakapan di antara mereka. Sebab enggan interaksi ini justru picu banyak curiga serta tanya, sebab yang lainnya hanya diam menyaksikan, walau netra tak terang-terangan menatap.

Javaskara tertawa kecil, "Ya bener sih. But anyway, nanti pulangnya sekalian gue anter balik ya, Ras."

Rasi sontak tersedak atas lontaran kalimat yang tidak dibubuhi pertanyaan oleh Javaskara, "Eh?"

"Eh eh mulu, kebiasaan deh."

"Tapi hari ini saya masih a—"

"Nanti gue yang izinin ke Kenzo. See you at five, ya, Ras!"

Begitu saja, lelaki itu menutup percakapan di antara mereka usai pintu lift terbuka dengan dua tepukan di pundak Rasi, sebelum melangkah menjauh dan berikan senyum pada beberapa manusia lain yang juga ada di antara mereka. Meninggalkan Rasi yang saat ini dengar bisik dan juga teriakan tertahan dari teman-temannya.

"Rasiii, bilang sama gue tadi itu bukan Javaskara, the most wanted man in Jakarta yet laki-laki yang paling harus dijauhin semua perempuan juga, because he's the walking red flag. Goddamnit!"

"Ya sayangnya itu emang Javaskara."

Salah seorang temannya menggamit lengan Rasi, "Lo berdua gimana bisa kenal?"

Rasi menimang banyak jawaban untuk tanya yang sejujurnya tak mudah dijelaskan. "Kebetulan? Gimana ya, ya kenal karena dia temennya Mas Kenzo, dan gue habis bantuin dia buat acara di EO-nya."

"How come?"

Rasi mengedikkan bahu seraya mengambil langkah panjang untuk kembali di mejanya, berharap pertanyaan-pertanyaan itu usai. "Panjang sih ceritanya. Intinya ya kayak gitu."

"So kalian di phase apa sekarang?"

Gerakan tangan Rasi yang baru akan mengulas lipbalm seketika terhenti, ia menatap satu persatu teman-temannya yang sejak tadi mengajukan tanya tak berkesudahan. "What kind of phase, deh? Gue temen doang, ya. Malah nggak bisa dibilang temen sih, soalnya emang cuma kenalan doang, dan kebetulan gue bantuin," jelasnya mengklarifikasi tanya yang mengarah curiga.

"Nggak bakal temenan doang, Ras. Nggak ada satu pun perempuan yang dideketin Java terus nggak pacaran sama dia."

Rasi tertawa. Ia letakkan lipbalm di sudut mejanya. Menatap ponsel yang menampilkan notifikasi pesan dari operator telepon, lalu melirik tiga temannya yang masih tak lepas menatapnya. "So, maybe i'm gonna the first one. I'm gonna break that rules."

Satu teman perempuannya melongok dari balik meja, menatap jahil pada Rasi, sebelum menyapukan bedak di wajah. "Berarti bisa jadi lebih dari kenalan doang dong, Ras?"

Rasi menghela napasnya, lalu mengambil laptop dan juga buku dari dalam lacinya. "Mending kita siap-siap rapat yuk ibu-ibu, daripada keburu ditegur sama pak boss," ucapnya dengan senyum, lalu lekas beranjak menuju ruang meeting.

***

Jarum jam di segala penjuru meja pun dinding sudah menunjuk ke angka lima dan dua belas dengan tepat. Rasi masih tekun menatap komputer dengan kedua tangan yang bergerak lincah di atas keyboard, ketika seseorang sudah berdiri tepat di depan mejanya.

"Jam lima, Ras. Kenzo udah bilang kalau lo boleh pulang sekarang. Jangan pura-pura gitu ah."

Rasi mengalihkan pandangannya, lalu terkejut dengan kehadiran Javaskara di hadapannya, dan sontak membuatnya juga berdiri. "Aduh, kenapa ke sini ya, Pak?" ia bertanya lalu mengedarkan pandang ke seluruh ruangan dan mendapati semua mata tertuju pada mereka berdua.

"Mau ngajak lo balik, emang kenapa?"

"Maaf nih, semua orang liatin Bapak soalnya."

"Sejak kapan gue jadi bapak lo? Salah sendiri nggak ngasih tahu nomor lo ke gue, ya gue samperin lah." Javaskara menoleh ke sekeliling, lalu tersenyum pada beberapa tatap yang bertubrukkan dengan netranya. "Lagian mereka lihatin gue wajar, Ras. Mereka punya mata, dan gue, I'm very attractive, right?"

Meski enggan mengakui karena memang tak harus untuk diakui, semua orang juga pasti anggukan kepala setuju apabila dengan pertanyaan Javaskara tadi. Presensinya yang sedikit mengintimidasi, memang tetap takkan ubah seluruh manik mata terpaku melihatnya. Namun sayangnya, hal itu tak berlaku untuk Rasi yang kini justru menghela napas kesal karena harus jadi pusat perhatian teman-temannya.

"Saya pulang sama temen, Mas Java," ungkapnya berusaha menolak halus ajakan Javaskara.

"Temen lo udah jalan?"

Lagi-lagi Rasi menggeleng, dan buat si lelaki yang sudah sentuh usia dua puluh delapan itu sunggingkan senyum, "Ya udah chat sekarang, terus bilang gausah jemput. Karena lo balik sama gue. Oke?"

Mungkin Rasi sudah dibuat sedikit gila, sebab ia tak tunjukkan takutnya sama sekali. Atau mungkin karena kesal sudah menguasai emosinya, yang buat ia kini justru menatap berani manik mata adam itu, sembari bertanya dengan tegas, "Kenapa saya harus bilang oke?"

Adegan klasik yang sering ditampilkan dalam layar kaca maupun ponsel kini digelar di hadapan Rasi. Javaskara yang baru ia kenal kemarin sudah tersenyum, sambil menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana. "Kalau gitu, gue bakal tunggu lo di sini, sampai semua orang bisik-bisik dan nanya sebenernya ada apa di antara kita."

Kedua tangan Rasi mengepal kesal, namun belum sempat bilah bibir sang jelita merespon, sebuah suara memanggil namanya dan mengalihkan tatapan kesalnya dari Javaskara.

"Rasi," Kenzo atasannya sudah berdiri di antara mereka, buat semua persona kini tatap curiga ke meja perempuan itu. "Kamu pulang sekarang aja gapapa. Tadi Java bilang ke saya, dia minta tolong dibantu untuk cari dekorasi buat acara orangtua saya. He told me kalau kamu punya banyak kenalan, apalagi soal florist juga kamu katanya tahu."

Bila diizinkan berteriak tanpa hilangkan sopan santun, saat ini teriakan itu pasti sudah mampir di bibir Rasi, karena ia tak pernah ceritakan apa pun pada Javaskara. Bercerita dengan sahabat terdekat saja butuh waktu lama untuk Rasi bisa terbuka, apalagi ini sampai bercerita pada seseorang yang baru dikenal dalam waktu kurang dari 24 jam.

Rasi palingkan tatapannya pada Javaskara yang kini sudah menaikkan kedua tangannya agar sejajar dengan bahunya yang lebar, "See? Dibolehin pulang, 'kan?"

"Saya hitung lemburan kok, Ras," Kenzo kembali bersuara, membuat Rasi lekas menggelengkan kepala dan menggerakkan kedua tangannya, untuk menjelaskan jika bukan itu maksud dari diamnya.

"Eh bukan itu Mas Kenzo, tapi, tapi saya nggak pernah bilang kal—"

"Buruan," Javaskara memotong ucapan Rasi, agar perempuan itu tak perlu menjelaskan satu kebohongan yang tadi lelaki itu sampaikan pada Kenzo. "Ayo cabut sekarang, keburu malem. Cinderella kayak lo nggak bisa pulang malem, 'kan?"

Checkmate.

Sepertinya memang Rasi sudah tak lagi bisa untuk menghindar, apalagi menolak Javaskara dengan alasan-alasan yang terus dia miliki. Daripada harus berlama di ruangan yang seluruhnya fokus menatap mereka, Rasi memilih untuk segera membereskan meja, juga mematikan komputernya untuk kemudian pergi bersama Javaskara. Meski ia belum mengerti akan dibawa ke mana dirinya kali ini.

***

Berada dalam satu ruang sempit bersama kerap picu canggung yang jadi juara. Sedang dua anak manusia yang kini berada di dalam mobil itu sama-sama tak suka dengan hening yang sanggup memenjarakan. Mungkin, itu juga yang jadi alasan Rasi meluruhkan semua kesalnya, ketika ban mobil Javaskara sudah tepat keluar dari kantornya.

"Gue nggak pernah bilang ya kalau gue punya banyak kenalan," Rasi memulai percakapan di antara mereka dengan sedikit ucapan yang tegas, namun tetap dengan intonasi yang diusahakan tenang agar tak menyinggung. "Bahkan, gue tuh nggak tahu urusan florist-florist gitu, Jav. Kok lo bisa sih sembarangan bilang gitu ke Mas Kenzo?"

"Suka bunga 'kan tapinya?" Javaskara bertanya, sambil sesekali memperhatikan Rasi yang tengah menatapnya kesal.

Rasi diam, tak ingin berikan jawaban apa pun. Sebab ia memang suka dengan bunga, namun tak bisa juga dikatakan andal untuk tahu hal-hal indah seperti dekorasi. Javaskara berdeham, usai injak rem saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah. "It's a yes, right? Since di meja lo selalu ada buket bunga. And you, you always smell like jasmine, Ras."

Sudah bisa dipastikan Javaskara memang mahir pilih kalimat untuk buat lawan bicaranya diam, bahkan tak lagi punya kemampuan untuk memilah deretan huruf yang selama ini dikenal sejak bangku sekolah.

Hening, sepersekian detik mengisi di antara mereka, sebelum Rasi kembali menggelar perayaan kesalnya di hadapan lelaki yang kini menyetir mobil dengan satu tangan secara santai. "The point is, kenapa lo sembarangan bilang sama Mas Kenzo hal-hal yang gue nggak bilang sih?"

Kekehan pelan terdengar diikuti dengan jemari Javaskara yang tengah genggam ponselnya memilih lagu untuk didengar. "Tadi aja pas di kantor pakainya saya sama mas, nah sekarang aja gii ili, ikrib bingit nih kiti?"

Selama Rasi hidup, baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang sanggup buat seluruh emosinya keluar tanpa malu-malu. Bahkan amarah yang dia miliki juga masih sanggup dihitung dengan jari, karena sejatinya Rasi tak pernah biarkan kata jadi senjata untuk melukai. Namun untuk kali ini, rasanya seluruh sel-sel darahnya tengah picu emosi itu naik ke kepala, seolah ingin meledak bila terus dibiarkan dengar jawaban-jawaban Javaskara.

"Ini mau ke mana?" Rasi bertanya dengan mengganti topik obrolan.

"Ya kayak kata Kenzo tadi, temenin gue cari dekorasi."

"Bukannya lo punya karyawan untuk urus ini?"

"Emang jadi boss harus diem ongkang-ongkang kaki aja? Lo nggak belajar dari lihat Kenzo yang selalu turun di lapangan?"

Javaskara sepertinya punya seribu satu cara untuk pancing amarah hadir di antara lawan bicaranya. Bukan sebab ucapan yang menyinggung, tapi karena ia sering sampaikan kebenaran meski tak selamanya harus ditujukan dengan lugas. Seharusnya itu semua takkan jadi masalah, bila yang duduk di sampingnya ialah mereka yang sudah lama dikenal dan mengenal, pun mereka yang dengan senang hati ikut ke mana saja lelaki itu melangkah.

Namun sayangnya, perempuan yang kini duduk di sampingnya adalah Rasi. Seseorang yang kerap simpan duka dan amarahnya sendiri, hanya untuk lindungi hati orang lain agar tak terluka, padahal dirinya sendiri kerap mengemban duka.

Sadar tak ada jawaban dari bibir cantik, milik perempuan yang sejak kemarin buat dirinya tertarik akhirnya buat Javaskara tertawa. "Kesel ya? Jangan kesel-kesel ah, nanti suka sama gue, Ras. Tapi kalau dipikir-pikir ya gapapa sih, gue seneng malah kalau lo yang suka sama gue. Cause i'm ready to make you happy, Ras."

Ia tak mengada-ada, ia benar merasa senang bila sanggup buat orang lain juga senang. Javaskara mungkin dikenal sebagai seseorang yang patut dijauhi, karena gemar buat patah bersarang di hati banyak perempuan, tapi ia juga sanggup bela dirinya bila semua ia lakukan semata hanya karena baik yang sering disalah tafsirkan. Dan mungkin kiranya Rasi sudi berpikiran luas, Javaskara ingin kenalkan perempuan itu dengan kebaikan-kebaikan yang sanggup ia berikan, tanpa harus melukai siapa pun.

Rasi memutar bola matanya dengan cepat, lalu palingkan kepala menatap jendela yang menampilkan banyak kendaraan yang juga sibuk berpacu di jalanan.

"Lo tuh jangan keseringan muter bola mata kayak gitu di depan gue, Ras. Karena lo lucu banget sumpah. Not funny yang bikin ngakak, tapi lucu yang gemesin tahu nggak sih?"

Kali ini, untuk kali pertama di hidupnya Rasi menghela napas dengan kencang, lalu menoleh pada Javaskara dengan sebal. "Can you stop being flirty, Jav?"

Kalau boleh bersaksi, jagat raya ini memang simpan beraneka ragam kejutan bagi umat manusia. Dan bagi Javaskara, kejutan itu menjelma seorang perempuan bernama Rasi yang selalu tolak kalimat-kalimatnya yang bisa buat seluruh juwita bertekuk lutut, dan memohon untuk diajak habiskan waktu bersama.

Tawanya menggema dalam kurun lima detik, lalu ia lihat Rasi yang sudah kembali menatap jalanan dengan kedua tangan yang erat menggenggam tasnya. "Hahhaha oke oke, jadi tadi mau dijemput temen apa temen, Ras?" ia coba ajukan tanya yang sekiranya tidak cukup formal, tapi semoganya masih bisa diterima.

"None of your business, Mas Java."

"Business banget nih?"

Rasi menganggukkan kepalanya, "Iya, karena sekarang ini dihitung lembur, Mas."

"Kaku lagi deh kaku. Lo mau gue setelin lagu apa?" tanya Javaskara mencoba mencairkan suasana, setelah ia dapati Rasi sepertinya tengah memangku kesal yang teramat akan ucap bibirnya.

"Karena ini mobil lo, silakan setel apa pun yang lo suka."

"Tapi 'kan ada lo juga, Ras. Lo suka lagu apa sih?"

Senja yang biasa Rasi nikmati dengan tenang, ketika Utara selalu mengantarkannya pulang, kini berubah menjadi senja yang harus melihatnya hidu begitu banyak oksigen, untuk antarkan hela napas yang berkali muncul. "Apa aja, Mas Java."

Javaskara masih tetap tersenyum usai melirik Rasi yang saat ini tengah menunduk, memijat jemari lentiknya yang dirasa mampu untuk urai semua kesal. Javaskara ialah pemerhati. Dan baginya saat ini, Rasi adalah satu-satunya orang yang sanggup tahan kesal dengan tetap perhatikan intonasi suara, juga pemilihan kata. Menurut tebakannya, Rasi memang tak terbiasa menyinggung orang lain, apalagi sampai tega menyakiti. Namun sayangnya, semua emosi itu hanya akan rusak dirinya, jauh lebih dalam, karena tak pernah disalurkan dengan tepat.

Alunan lagu kembali berputar dari pilihan random—yang sejujurnya tak terlalu acak, sebab ini adalah salah satu lagu favoritnya—Javaskara. Lagu Dilemma milik Nelly bergema, membuat Rasi tanpa sadar ikut menyenandungkan lagu yang banyak anak muda di usianya juga tahu. Suara merdu Rasi membuat Javaskara menolehkan kepalanya, dengan senyum yang kembali terkembang. "Wow! Lo bisa nyanyi, Ras?"

"Eh?"

"Lo beneran deh kebiasaan banget ngomong eh eh eh."

"My bad. Maaf."

"Maaf mulu."

"Baru juga sekali minta maafnya. Eh tapi jujur gue nggak nyangka sih lo nyetel lagu ini, Jav."

Javaskara tertawa, "Emang kenapa? Image gue nggak cocok denger lagu kayak gini?"

"Maybe," jawab Rasi sembari mengedikkan bahunya.

"Lagunya enak, Ras."

Untuk kali ini, Rasi sepakat akan ucapan Javaskara. Moodnya sedikit membaik, sebab Javaskara tak lagi mencoba merayunya dengan kata-kata manis yang biasa ia lontarkan. Bahkan kali ini, keduanya sudah larut dan saling bertukar informasi soal taste musik satu sama lain.

***

Usai perjalanan panjang yang dilalui, kedua muda-mudi itu akhirnya tiba di salah satu florist di daerah Pantai Indah Kapuk. Kebetulan, tempat ini pernah direkomendasikan oleh seseorang pada Rasi beberapa tahun lalu. Langkah mereka terhenti ketika sesosok wanita paruh baya yang anggun menyambut keduanya dengan sapaan yang begitu lembut.

Tanpa perlu diutarakan, Rasi Alfa Karina benar-benar terjatuh pada seisi ruangan, yang begitu memanjakan matanya. Ia tak hentinya bertanya dan juga dengar cerita dari ibu Aruna; pemilik La Madame ini. Setelah panjang bercerita, Aruna yang masih setia dengan senyumannya kini menatap keduanya untuk tanya maksud dari kedatangan mereka.

"Jav, jadinya mau cari bunga apa buat dekorasinya?"

Rasi bertanya dengan pelan, membuat si lelaki yang ditanya menolehkan kepala, menatap Rasi lalu juga sunggingkan senyum pada perempuan paruh baya yang kini juga tengah tatap dirinya tanpa jeda.

"Pokoknya nih, harus ada bunga apa ya, aduh bentar gue lupa, ada di hape kok bentar," bicaranya tuai banyak kata lupa, dengan dua gerak tangan yang keluar masuk periksa kantung yang ubah bingungnya jadi kepanikan paling meriah. "Lho, hape gue di mana, ya?"

"Di mobil mungkin," kali ini Rasi menimpali usai lihat gelisah Javaskara.

Lelaki yang kenakan kemeja berwarna kuning gading itu pun menengadah, menatap Rasi, sambil membiarkan separuh isi kepalanya juga berjuang mengingat. "Iya kali, ya? Tapi gue nggak pernah ninggalin hape deh."

"Coba cari dulu aja, Jav."

Javaskara mengedikkan bahu, lalu melenggang pergi meninggalkan Rasi, untuk cari ponsel yang simpan sebagian memori di kepalanya.

Lima menit berlalu dengan Javaskara yang sudah membongkar seluruh bagian dalam mobilnya, namun nihil yang juara untuk dia raih. Fokusnya tak lagi bisa diraih, hingga ia tak sadar bila Rasi yang hari ini ia paksa untuk ikut sudah berdiri di sampingnya, dihalangi oleh pintu yang terbuka.

"Ketemu, Jav?"

Ia gelengkan kepala, tanpa sedikit pun menoleh. Cemas meradang di hatinya, "Lo telepon nomor gue deh, Ras."

Rasi mengernyitkan kening dengar perintah yang tak bisa ia telaah, sebab ia saja tak pernah miliki nomor lelaki itu. "Eh? Gimana?"

Laki-laki itu menutup pintu dan mendekat ke arah Rasi. Ia senderkan punggungnya pada pintu mobil, lalu ungkap angka-angka yang dengan sigap langsung ditekan Rasi pada layar telepon genggamnya.

Lima kali dering panggilan terdengar dari speaker ponsel Rasi yang sedang memanggil nomor yang katanya kepemilikan Javaskara. Namun tak ada jawaban yang diterima, hingga kemudian Java kembali memintanya melakukan panggilan ulang.

Tepat pada dering ketiga, panggilan diangkat. "Halo."

"Sorry, ini hape gue ada di mana, ya?"

"Ketinggalan di kantor gue."

"Ini si— ini Kenzo?" Dengan cepat Javaskara raih ponsel di tangan Rasi, lalu berteriak memaki tuan di ujung panggilan. "Bener-bener lo, ya, kenapa nggak bilang hape gue ketinggalan sih?"

"Gue aja nggak tahu kalau hape lo ada di sini, kalau ini hape nggak bunyi, Jav. Gimana gue mau ngasih tahu?"

"Ah elah, gue butuh banget soalnya! Ini menyangkut hidup mati acara nyokap lo nih."

Rasi masih diam dengar percakapan dari ponsel yang di-speaker oleh dua karib yang hobi menarik urat leher, di saat genting seharusnya dijamu oleh tenang.

"Kenapa emang? Lo butuh apa?"

"Banyak, tapi ini deh yang penting dulu, nama bunga favorit nyokap lo apaan?"

"Arumdalu?"

"Nah iya bener-bener!" Javaskara menoleh pada Rasi, berharap jelita yang dianggapnya tahu banyak hal tentang bunga itu membantu ingatannya. "Arum, Arum apa, Zo?"

Rasi tertawa sebelum biarkan suaranya juga terdengar. "Arumdalu. Sedap malam, 'kan, Mas?" tanya Rasi pada Kenzo yang juga merupakan atasannya di kantor.

"Iya bener, Ras. Tuh Rasi aja tahu, Jav. Lo tuh ya mestinya—"

"Hah? Namanya sedap malam?" Javaskara memekik, menaikkan suarannya hingga buat beberapa orang yang kebetulan melintasi jalanan ikut menoleh, mencari tahu pekik itu berasal dari mana. "Kenapa sok-sokan Arumdalu sih, Zo, kalau ternyata ada yang lebih gampang. God, lo beneran menguji kesabaran gue sih kayaknya, ya?"

"Ya emang namanya Arumda—"

Belum sempat Kenzo tuntaskan ucapannya, Javaskara mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia juga kembalikan ponsel Rasi yang sudah hampir ia lemparkan, atas kesal yang didapat dari Kenzo.

Rasi hanya menggelengkan kepalanya dengan tawa yang masih tersisa ketika lihat adu ucap yang dilakukan kedua lelaki itu. Sebab di kepalanya saat ini, ada cuplikan ingatan serupa di antara keempat karib yang juga dia miliki.

Javaskara menyeka bulir keringat di dahinya yang bersih dengan saputangan, lalu kembali mengajak Rasi untuk ke dalam, dan menyelesaikan segala keperluan mereka di hari ini.

 

Share:

0 comments:

Post a Comment