Blyfe Update 2021: Moving On Is Never Been Easy

 

Sebagai janji pada diri sendiri yang sudah sering kali diingkari—terpujilah elo dengan omong kosong lo, Bell—mari perkenankan hari ini sedikit berbacoti ria entah dalam rangka apa. Mungkin dalam rangka isi kekosongan aja. Sok kosong padahal deadline di depan mata nggak pernah dipeduliin. Hahaha. Oke oke.

Jadi, sesuai judulnya; Moving On.

Gue ingin sedikit bercerita tentang perjalanan berpindah yang memang nggak pernah mudah. Dalam hal apa pun sih sebenarnya, tapi tenang, kali ini bukan tentang perasaan. Kenapa nggak soal perasaan? Karena udah lama rasanya kekeringan melanda. Cieilah. Skip aja, Chingu!

Iya, akhir tahun menjelang awal tahun gue disibukkan dengan pindahan.

Dan itu melelahkan. Sungguh-sungguh melelahkan.

Sampai-sampai gue bilang gini ke Nyokap, “Ma, nggak bisa apa ya ini barang-barang di tring langsung pindah tempat dan rapi lagi?”

Karena di antara semua hal melelahkan di rumah, yang bikin males adalah lo packing rapi barang-barang, terus udahannya ditata lagi. Nah itu yang bikin capek. Itu yang bikin pindahan jadi terasa double kill.

Lalu setelah dipikir-pikir, memang urusan berpindah tuh nggak pernah mudah, ya?

Ada sesuatu yang harus lo buang, agar tidak memberatkan. Ada sesuatu yang harus lo pilih dan pilah, penting atau nggaknya untuk kemudian dipertahankan. Ada sesuatu yang harus lo rapikan dan kelompokkan, agar kemudian lebih muda dicari dan ditemukan.

Hati juga kayak gitu nggak, sih?

Masa lalu deng. Kalau hati mah selalu gitu-gitu aja. Memori dan kenangan bersama seseorang yang seringnya harus dianalogikan seperti itu juga.

Nggak semuanya bisa dibawa ke tempat baru, karena nanti penuh. Nggak semuanya bisa dipertahankan untuk dibawa ke tempat baru, karena ternyata memang sudah usang dan waktunya pensiun. Nggak semuanya bisa dibawa bersama, karena ternyata lo udah nggak lagi merasa itu cocok dan penting.

See?

Kita pandai menilai kalau itu soal barang, tapi nggak kunjung pinter-pinter kalau urusannya soal manusia dan perasaan. Ya nggak masalah sih, lagian hidup meminta kita untuk terus-terusan belajar, apalagi soal melepaskan dan mengenali diri sendiri.

Dari awal tahun sampai detik gue menuliskan ini, gue masih dalam masa transisi untuk membiasakan diri. Selain pindahannya yang bikin ngomel-ngomel, ternyata mengganti kebiasaan juga cukup merepotkan.

Jujur, kalau urusan soal mengganti tujuan hidup gue kayaknya udah khatam di level tinggi. Tapi kalau urusan mengganti kebiasaan—yang harusnya sih ya levelnya lebih cetek—gue malah nggak khatam-khatam. Nggak tahu juga kenapa, tapi kayaknya sih ini perkara nyaman.

Duh, nyaman dibawa-bawa tuh emang susah.

Segala yang lucu-lucu jadi lewat kalau nyaman udah ditempel di kening. Benar atau betul?

Menyamankan diri untuk berada di semua hal yang baru tuh nggak pernah bisa singkat. Tapi sayangnya, di zaman sekarang ini semuanya dituntut serba cepat. Bahkan kayaknya dari awal tahun, gue masih belum punya ruang  untuk napas yang cukup banyak. Ya setidaknya untuk sedikit merasa tenang. Well, mungkin itu juga yang bikin agak kewalahan untuk bisa cepat menyesuaikan diri.

Heran, hidup makin ke sini kok ya makin rumit. Tapi anehnya, otak gue lebih kalem menyikapi semuanya. Kalau dianalogikan tuh kayak gue merasa, ya udah pelan-pelan aja, bisa sekarang Alhamdulillah, nggak bisa sekarang besok dicoba lagi.

Iya gue diburu-buru waktu. Iya gue dikejar-kejar banyak kepentingan dan penyelesaian. Tapi, iya di saat itu juga gue merasa kalau hidup nggak semestinya dibikin berat dengan cepat-cepat. Karena yang ada justru lupa untuk menikmati apa yang sedang ada. Oke, gue kayaknya mulai melebar ke mana-mana.

Tapi intinya sih, gue lagi-lagi disadarkan oleh keadaan dan kenyataan, jika memang betul banyak hal dalam hidup yang nggak bisa dengan mudah untuk berganti dan diganti. Semuanya butuh proses, semuanya butuh waktu, semuanya butuh disusun ulang, bahkan semuanya butuh untuk berpindah—dalam hal apa pun.

So, yeah!

Selamat datang lagi di kehidupan yang baru.

Untuk 2021 yang sudah hampir memasuki penghujung Maret, terima kasih sudah mengajarkan jika berpindah tidak pernah mudah dan butuh waktu, tapi sebenarnya bisa untuk dilalui dan dinikmati.



Share:

0 comments:

Post a Comment