Have I ever tried that hard before?

Paginya pagi di bulan Oktober yang sudah masuk pertengahan.

Gila nggak sih? Tahun ini tuh jadi tahun paling susah untuk dilewati tapi nyatanya kita udah hampir sampai di penghujung tahun. 

Well, sebelum gue mulai berceloteh, gue hanya ingin mengingatkan jika unggahan kali ini sepenuhnya akan berisi hal-hal nggak penting. Jadi kalau mau di-skip, silakan. Kasihan waktu lo habis untuk baca sepatah dua patah kalimat gue yang very emotionally-unstable ini.

"Have I ever tried that hard before?"

Kalimat itu mendadak berputar seharian di kepala gue sejak tadi malam hingga pagi tadi. Pemicu atau alasannya apa? Karena ada sebuah pertanyaan yang masuk di question box gue yang intinya dia berkeluh, "jika hidup teramat susah untuk dijalani. Usaha udah mati-matian, tapi zonk yang didapat. Sedangkan orang lain yang nggak melakukan usaha semati-matian dia, tapi hasilnya selalu lebih dari ekspektasi."

Jujur gue diam.

Diam karena gue lebih banyak mikirin kalimat itu dibanding mikirin jawaban penenang untuk membalas curhatannya. Karena lagi-lagi, hidup emang seenggak adil itu, kan?

Ada orang yang sampai terkantuk-kantuk berusaha mati-matian, bahkan keringat bercucuran, tapi hasil yang didapat nggak seberapa. Di lain sisi, dda juga orang yang iseng-iseng, eh tapi hasilnya nggak kira-kira. Bahkan mengalahkan mereka yang usahanya udah sampai di batas ingin menyerah.

Okelah kalau ada banyak kalimat bijak yang bilang, usaha tiap orang berbeda-beda. Okelah kalau ada banyak manusia bijak yang bilang, syukuri apa yang udah ada di hidupmu kali ini, nggak usah ngebanding-bandingin dengan kehidupan orang lain. Dan sederet kalimat bijak nan syahdu lainnya.

Iya kalimat-kalimat itu benar. Iya kalimat-kalimat itu nggak salah. Tapi kalau kita mungkin dihadapkan pada kenyataan yang nggak sesuai dengan kalimat itu, yakin deh, nggak semua orang bisa berpikir sebaik dan sebijak itu. Karena coy, emang susah untuk terus berpikiran positif. Benar, nggak?

Kasarnya nih, setiap orang yang ada di titik terendahnya akan selalu bertanya, "kapan giliran gue? mau sabar sampai kapan lagi? mesti usaha selama apa lagi?"

Semakin kita memikirkan hal tersebut, semakin stres juga isi kepala kita karena memang nggak ada jawaban pasti untuk tanya itu. Karena nyatanya memang ucapan bijak tersebut benar, tapi kita juga nggak bisa memungkiri jika kita juga inginkan keadilan. 

Hhhhh.

Jujur-jujuran nih ya, gue juga beberapa kali masih mikir gitu kok. Namanya juga masih manusia, ngeluh, sedih, mikir negatif mah wajar. Asal nggak dipelihara terus-terusan, dan berlanjut sampai bikin dunia kita makin nyusruk.

Sungguhlah, gue nggak pernah memahami cara kerja semesta, yang kadang memang membuat sebagian orang yang sudah terpuruk jadi semakin terpuruk. Nggak bisa bohong dan menutup mata juga kalau hidup memang sesulit dan sekeras itu. Ada manusia yang udah kerja keras, tapi hidupnya masih gitu-gitu aja. Ada juga manusia yang licik dan nggak bersikap baik sama orang lain, tapi hidupnya lancar dan teramat bahagia. Bukan hanya terlihat di luar, tapi memang nyatanya sebahagia itu.

Mungkin memang iya, kita sebagai manusia diciptakan untuk tahan banting. Bolak-balik jatuh bangun, bolak-balik menyerah, dan harus bolak-balik usaha untuk membaik lagi. Sendirian. Nggak bisa ramai-ramai, karena isi kepala kita nggak akan bisa dipengaruhi siapa pun. Apalagi ketika lagi jelek, rasa-rasanya semua omongan orang juga hanya omong kosong. Nggak bisa dicerna, dan akan selalu mental ke luar. Benar nggak?

Sering banget gue dengar ada banyak orang yang mengeluh, "kenapa harus gue? kenapa harus gue yang capek? kenapa gue udah ibadah dan usaha, tapi tetap aja hasilnya nihil? kenapa gue udah bersikap baik, tapi tetap aja gue yang kecewa?"

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus berulang bagi mereka yang berteriak dunia nggak adil. Pertanyaan-pertanyaan kayak gitu bukan lagi hal yang aneh untuk diajukan oleh mereka-mereka yang terus-terusan merasa dihajar semesta. Walau gue sebenarnya yakin, ada banyak hal di hidupnya yang masih bisa disyukuri. Tapi mari kita bicara dari hati ke hati, lo pasti tahu kan gimana rasanya manusia yang udah ingin menyerah, dan hanya punya 10% kesempatan di hidupnya, tapi kesempatan itu hilang juga dan nggak pernah menunjukkan titik terang?

Ya gitu, hidup memang susah. Hidup memang keras dan kadang nggak adil.

But man, this is life. 

The real life.

Yang nggak semua orang bisa mencapai impiannya. Yang nggak semua orang bisa ada di atas. Yang nggak semua orang perlu usaha keras. Yang nggak semua orang bisa hidup dengan nyaman.

Hidup ya kayak gini. Nggak mudah, nggak gampang. Nggak jahat, tapi nggak juga bisa dibilang baik. 

Hidup tuh keras, tapi elo harus lebih keras.

Hidup tuh jahat, dan mungkin elo harus lebih jahat--tapi bukan ke manusia lain, ngeri juga karma yakan.

Hidup tuh memuakkan, tapi ya telan aja sampai semua rasa jadi nggak lagi punya rasa.

Hidup tuh bikin capek, dan mungkin elo memang salah satu yang dipilih Tuhan buat ngerasain semua capek itu.


Life is hard,
but, have i ever tried that hard before?

 

Share:

0 comments:

Post a Comment