Cukup itu Nggak Bisa Dipaksa

Heiho Maret!

Bulan ini sedang ingin memulai lagi rajin nulis blog ah, ya semoga nggak wacana. Semoga memang benar niatannya baik, jadi dimudahkan dan dimampukan sama Tuhan.

Oke, hari ini kayaknya mau cerita tentang sesuatu yang pernah gue bahas di Instagram. Sayangnya waktu itu nggak disimpan di highlight jadi banyak yang masih bertanya hal serupa. So, mending sekalian aja gue jadikan bahan blog, yegak?

Gini-gini, waktu itu ada yang DM:

"Kak Bel pernah suka sama orang tapi ngerasa minder nggak? Minder dalam banyak hal (lingkungan, gaya hidup, kerjaan, gelar, dsb.)"

Dan jawaban gue masih sama sampai sekarang. 

Iya pernah, dan iya sempat mengalami hal seperti itu.

To be honest ya, mungkin banyak orang yang melihat gue sekarang adalah tipikal perempuan yang totally positive, cuek banget sama strata, kasta dan segala rentetan penilaian kehidupan manusia lainnya. Ya mungkin memang itu gue yang sekarang. Setelah berbelas dan berpuluh tahun hidup, gue akhirnya bisa sampai di titik itu.

Tapi tenang, dulu gue juga pernah kok jadi orang yang insecure-nya luar biasa parah. Pernah merasa minder sama diri sendiri, penampilan, kehidupan, pergaulan, kerjaan, gelar, lingkungan, dan sederet hal lain yang memang bisa bikin minder. Ya pokoknya terus-terusan merasa malu dan hanya ingin mengurung diri di kamar. Manusiawi-lah ya merasa jiper tuh. 

Nggak hanya dulu sih, sampai sekarang juga masih pernah kok mengalami hal-hal seperti itu. Apalagi ketika self esteem-nya sedang rendah luar biasa, pun pressure dari luar juga sedang gila-gilanya. Alhasil terciptalah perasaan jiper dan minder itu. 

Lalu pertanyaan berikutnya, "Apakah perasaan gue yang sekarang itu masih berlangsung lama seperti dulu?"

Ya tentu saja saudara-saudara jawabannya sudah tidak. Alhamdulillah, ya~ 

Gimana bisa gitu? Mmmm, mungkin jawabannya karena kalau sekarang, gue sudah jauh lebih sadar diri dan sudah jauh lebih tahu bahwa nggak akan pernah ada yang menghargai gue, sebelum gue-nya sendiri yang mampu menghargai diri.

Bicara tentang perasaan minder. Kalian yang pernah nonton Crazy Rich Asians--eniwei ini rekomen lho filmnya buat yang merasa sedang minder karena kasta--ingat nggak sama kata-katanya Astrid?

Doi dalam dialognya bilang gini, "It's not my job to make you feel like a man. I can't make you something you're not."

Nah! Hal ini menurut gue nggak hanya berlaku untuk cowok atau cewek, keduanya berlaku hal serupa. Sederhananya begini, nggak ada seorang pun yang bisa ubah kita, kalau kitanya memang nggak mau berubah dan selalu bilang nggak bisa berubah.

Dude, udah ngertilah ya kalau masa lalu nggak bisa diubah? Udah tahu bangetlah kalau masa lalu itu sangat amat nggak bisa diubah dan diganti. Tapi untuk masa depan, kita masih punya kesempatan dan masih bisa mengusahakannya. 

Sebenarnya rasa minder gimana sih terbentuknya? Ya kalau menurut kesotoyan gue, rasa minder tuh ada ketika elo tahu bahwa memang lo punya kekurangan. Lo tahu kalau diri lo itu tidak bisa,  tidak mampu atau tidak punya apa yang dimiliki orang lain.

Terus kalau udah gitu, apakah rasa minder itu nggak bisa disudahi? 

Ya bisalah! Hal termudahnya adalah dengan elo mau untuk menerima kekurangan itu. Kalau elo nggak mau untuk terima, nggak mau untuk mengakui, dan malah sibuk berteriak nggak dihargai, nggak dianggap ada, nggak bisa menandingi, nggak mampu ini, nggak mungkin itu, dan sederet kata 'nggak' lainnya. Ya mohon maaf duluan aja kalau rasa minder itu nggak akan berakhir.

Tahu kenapa? Karena lo hanya sibuk nunjuk ke orang lain. Sibuk menyalahkan keadaan serta sibuk menyalahkan orang lain tanpa pernah mau koreksi diri sendiri. Padahal, bisa banget kalau mau koreksi diri dengan bertanya, "Kira-kiranya berjuangnya udah cukup belum ya? Usahanya udah cukup belum ya?"

Rachel Chu pernah bilang, "I'm not leaving because I'm scared, or because I think I'm not enough. Because maybe for the first time in my life, I know I am."

Giniloh sayang-sayang, menjadi sadar diri tuh perlu, tapi bukan berarti setelah itu diam berpangku tangan dan meratapi nasib. Ya kalau memang elo mau sama dia, usaha dong. Kalau sekarang udah usaha, tapi hasilnya masih nggak kelihatan, ya usaha lagi lebih keras. Berdoa dan berbuat baik jangan lupa.

Mungkin memang ada orang yang sejak lahir sudah 'kaya' tujuh turunan nggak habis-habis. Tapi kan dunia nggak hanya satu sisi aja. Di luar sana, ada juga yang terlahir dari keluarga sederhana bahkan kurang berkecukupan. Tapi apakah mereka terus-terusan gitu? Nggak kok. Ada yang akhirnya justru melejit dan sukses. Kan semuanya balik lagi, kita mau hidup seperti apa, tergantung dari usaha yang dilakukan.

Gue percaya kalau nggak semua orang memandang status. Tapi gue nggak munafik dan menutup mata juga kalau banyak orang masih menilai sesuatu dengan harga dan atau uang. Masih banyak orang yang memandang materi.

Tapi....gue ingat ada kalimat bijak yang pernah bilang, "We were buying things we actually loved, not things to show off."

Buat gue, nggak ada yang nggak bisa dilakukan dengan hubungan cinta beda kasta. Lain halnya dengan cinta beda agama. Kalau itu mah mentok banget kebingungan cari jalan keluar. Nah kalau kita bicara soal cinta beda kasta, kalem aja, semua masih bisa diusahakan, asal..... dua-duanya saling cinta dan mau usaha.

Misal nih, elo suka tapi dianya enggak. Ya percuma, sampai di titik mana pun pencapaian lo, baginya akan tetap nggak sepadan. Atau sampai di mana saja usaha yang sudah dilakukan, bagi dia dan bagi diri lo sendiri pasti semuanya nggak akan pernah cukup. Kenapa gitu? Karena keduanya nggak berjalan menuju hal yang sama, karena salah satunya nggak merasa perlu dan butuh untuk mempertahankan serta memperjuangkan. Masih ingat kan ya kalau berjuang dan bertahan itu butuh kata 'saling?'

Mungkin yang lagi-lagi harus diingat adalah mindset yang perlu diubah. Jangan sampai mindset lo dari awal terus-terusan hanya berputar di kalimat, "Gue kurang, gue nggak cukup, gue tuh nggak ini itu, gue blablablabla."

Kalau isi kepala kalian hanya berputar di situ terus, mau sampai gajah bisa bertelur pun lo nggak akan bisa menerima diri sendiri beserta kekurangannya. Berubah pun nggak akan mungkin bisa, karena kerjaan lo hanya denial terus-terusan, berpura-pura mampu dan kuat, serta terus-terusan membohongi diri sendiri. Coba deh dipikir, mau sampai kapan kayak gitu?

Jodoh nggak pernah ada yang tahu kapan datangnya, siapa orangnya, di mana bertemu dan akhirnya berlabuh. Nggak bisa buat diprediksi dari awal, semuanya itu udah dituliskan Tuhan dari sebelum elo napas di bumi ini. 

Jadi, kalau memang elo merasa dia the one, usahain aja terus-terusan, yakinkan diri sendiri untuk berubah--tapi jangan berubah buat orang lain, sadar berubah karena memang lo pengin untuk memantaskan diri dia pantas dapat versi terbaik dari lo. Usaha sampai lelah, usaha sampai bosan, usaha terus sampai nanti Tuhan sendiri yang bilang dia atau bukan dia orangnya.

Tahu nggak, hal yang nggak bisa berubah di dunia ini hanya ada dua; kamu jadi Tuhan dan kamu makan kepala sendiri.

Jadi temans, minder mah wajar, sadar diri perlu, tapi usaha juga butuh dilakukan dan dijalani.

Kalau hanya sekadar minder, sadar diri, nyalahin orang tapi nggak berusaha apa-apa. Melainkan hanya marah, kesal, kecewa, serta diam meratapi nasib, ya nggak akan ada yang berubah dari hidup kalian.  

Please ingat, gaya hidup bisa diubah kalau memang elo sudah bisa mencukupi segala kebutuhan. Asal jangan ngutang hanya untuk terlihat keren doang, ya gapapa sih hutang selama mampu untuk melunasi. Dan jangan juga bohong demi ubah gaya hidup seolah-olah memiliki tapi tidak memiliki. Please ingat, kerjaan bisa naik kelas dan pangkat, gelar bisa di-up kalau dananya ada. Wajah rupawan bisa dimiliki kalau kamu sanggup keluarin biaya. Well, kita bicara pakai logika aja deh, nggak semua kulit wajah bisa bersih hanya dibilas dengan air, kan?

Memang, semua butuh cuan pada akhirnya. Tapi ingat satu hal lagi, rejeki udah diatur Tuhan, tinggal elonya aja mau berusaha untuk ambil rejeki itu atau nggak. Selama kita berbuat baik dan tidak menghambat rejeki orang, apalagi berbuat jahat dan menusuk orang, gue rasa semua hal akan bisa berjalan baik dan dimampukan oleh Tuhan. 

Ah ya, satu yang perlu diingat juga, merasa cukup adalah sebaik-sebaiknya rasa menerima yang membuatmu tenang dan bahagia.

"Tapi Kak Bel, kalo posisi Kak Bel jadi orang yang disuka sama seseorang tapi orang itu suka minder karena Kak Bel penulis, punya wawasan luas tentang beberapa hal, dsb, gimana?"

Well, selama gue napas masih butuh oksigen, selama gue masih butuh makan dan minum untuk bertahan hidup, dan selama gue masih manusia. Gue rasa, gue nggak ada bedanya sama orang lain.

Jujur, gue nggak bisa mengubah mindset siapa pun kalau dia sendiri nggak mau mengubah itu. Karena yang ada, kalau dipaksa untuk berubah, nanti sampai ibaratnya kami bersama pun, pikiran-pikiran merasa kurang itu terus yang akan jadi masalah. Karena dia berubah bukan karena inginnya, tapi sebab paksaan dari gue.

Jadi andai, gue memang sudah menerima dia apa adanya, semestinya sih itu udah cukup untuk membuat dia percaya diri bahwa dia sudah sangat gue hargai hadirnya. Tapi, kalau udah dipilih pun dia masih aja tetap insecure, ya itu udah bukan tanggung jawab gue lagi untuk membuat dia merasa cukup. Orangnya sendiri yang mau begitu, gue bisa apa coba?

Sederhananya aja, berarti bukan dia orang yang akan berjuang dengan gue dan mau memperjuangkan kami dengan tujuan yang sama. Bikin gampang aja kayak gitu, capek kalau harus mikir andai-andai kebanyakan mah, realistis juga kan sekarang perlu, toh? 

So, semoga yang saling mencintai lekas dijadikan satu, semoga yang sedang berusaha lekas tercapai, semoga yang sedang kelelahan lekas usai dan bangkit. 

Aku sayang kamu, kamu sayang dirimu, Tuhan juga sayang kamu. 

Salam sayang banyak-banyak untuk kalian,


Share:

1 comment: